Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Terabaikan


__ADS_3

Malam semakin larut namun tak membuat Juna jemu memandang kecantikan alami dari seorang Beauty.


"Apa lihat-lihat!" ketus Beauty yang kini tengah menikmati semangkuk mie rebus, karena jatah makan malamnya dihabiskan oleh Juna yang kelaparan.


"Ya ampun, judesnya. Jangan judes-judes napa nanti nggak ada yang mau loh," goda Juna.


"Biarin, lagian saat ini aku sedang tidak ingin menjalin sebuah hubungan. Aku hanya ingin menikmati kebebasanku sebagai single."


Waduh!!


"Eh..nggak kok, kamu kan baik.. hehe."


Apaan sih loe Juna garing banget tahu nggak? batin Juna.


Tiba-tiba ada seorang pria paruh baya datang bertamu di rumah kontrakan Beauty.


"Malam, maaf mengganggu waktunya sebentar teteh sama aa'nya. Apakah yang mengontrak disini teh Beauty ya?"


"Iya benar, saya yang mengontrak disini pak. Ada apa ya?" jawab Beauty ramah.


"Begini teh, saya cuma ingin menyampaikan menurut peraturan rukun warga disini. Seorang tamu tidak di perbolehkan bertamu lebih dari jam 10 malam apalagi tamu tersebut seorang pria. Dan jika ada sanak saudara yang ingin menginap harus lapor ke ketua RT (Rukun Tetangga) setempat."


Mendengar penjelasan dari pria paruh baya yang ternyata adalah bapak RT setempat, membuat Beauty dan Juna manggut-manggut tanda mengerti.


"Baik pak, sebentar lagi teman saya juga akan pulang. Iyakan Juna?" tanya Beauty seraya menatap kearah Juna.


Juna hanya bisa menghela nafas pasrah. Padahal ia ingin sekali berlama-lama bersama Beauty.


"Baiklah, kebetulan saya juga ingin pulang pak. Karena besok harus kerja, permisi!" pamit Juna kepada pria paruh baya tersebut beserta Beauty.


"Ya sudah teh Beauty, saya minta maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya ya. Ini juga demi kebaikan teteh, karena takutnya ada yang merasa terganggu, hehe.." ucap pak RT.


"Tidak apa-apa pak, saya menghargainya. Terima kasih atas tegurannya. Setidaknya saya kan jadi tahu mengenai peraturan tinggal di tempat ini."


"Oiya..yasudah saya pamit ya teh. Semoga betah tinggal disini. oiya..kalau boleh tahu berapa nomor handphone teteh ya? Nanti jika ada kegiatan warga kan saya bisa memberi tahu teteh gitu," tanya pak RT yang ternyata modus terhadap Beauty.


"Ini pak silahkan dicatat."


Dengan riang pria paruh baya itu mencatat nomor ponsel Beauty. Namun tiba-tiba sebuah suara menghardiknya.


"Yah! apa yang kamu lakukan disini yah! Bertamu malam-malam mau modus ya ke tetangga baru?!" teriak seorang wanita berumur 40-an yang sepertinya istri dari bapak RT.


Hardikan itu sukses membuat bapak itu terkejut lalu menjatuhkan ponselnya tanpa sadar.


"Eh..mama, ini mah cuma menyampaikan peraturan warga sini sama teh Beauty ini."


"Halah! modus kamu yah! cepat pulang atau mama kunci ayah diluar ya?!" ancam sang istri.


"Ya jangan gitu dong ma, malu atuh sama teh Beauty, maaf ya teh."


Beauty pun hanya bisa meringis melihat pemandangan perdebatan kedua pasangan paruh baya itu.


"Udah sana pulang!" gertak sang istri lagi.


"Saya dan istri pamit ya teh, duh jadi nggak enak saya." pamit pak Rt tersebut.


"Iya pak silahkan," balas Beauty dengan tersenyum.


"Teh, kalau ada yang bertamu laki dari daerah sini jangan terlalu ditanggapi ya apalagi sampai minta nomor handphone. Jangan di kasih! Mereka disini pada genit semua!" celoteh ibu-ibu tersebut sepertinya terlihat kesal.


"Baik bu, terima kasih atas sarannya."


Kedua pasangan paruh baya itu pun akhirnya menghilang dibalik pagar pembatas.


Begitu pula dengan Beauty, wanita berlesung pipi itu memilih masuk ke dalam rumah kontrakannya karena udara malam diluar sangatlah dingin.

__ADS_1


"Untung saja ada bapak RT tadi, kalau tidak Juna nggak bakalan pulang-pulang. Tapi aku jadi sedikit khawatir sama apa yang di bilang ibu RT tadi? hem." gumam Beauty sebelum beranjak tidur.


"Lebih baik aku tidur, besok hari pertamaku kembali bekerja. Semoga semuanya baik-baik saja."


...💐💐...


Di sebuah mansion yang mewah tampak seorang wanita paruh baya yang masih sangat bugar tengah berkacak pinggang.


Wanita paruh baya itu masih tampak menawan sisa-sisa kecantikannya di masa muda. Meski beberapa kerutan menghiasi wajahnya.


Juna baru sampai di mansion keluarganya. Lalu ia menepikan mobilnya dan dengan santai melemparkan kunci kearah penjaga rumahnya. Seperti biasa, sang penjaga rumah akan memarkirkan mobil majikan mudanya itu ke dalam garasi.


"Dari mana saja kamu Arjun Narendra?!" hardik mami Lola dengan aura penuh kemarahan.


"Bukannya mami sudah tahu, tadi Juna pergi kemana? Juna habis dinner sama Betty," balas Juna dengan tenang.


"Jangan bohongi mami Juna! kamu fikir mami tidak tahu apa yang kamu lakukan sama Lova?! Tega kamu ya!"


"Mam."


"Tolong jawab! kenapa kamu tega melakukan itu sama Lova Juna ?! Lova itu gadis terbaik yang mami pilihkan untukmu !"


"Tapi mam, Juna tak menyukai apalagi mencintainya. Tolong jangan paksa Juna seperti ini ma."


"Kamu harus belajar menerimanya Juna! Mami tak ingin menerima gadis mana pun kecuali Betty Lovanka! Ini demi masa depanmu! mami tak ingin kamu mendapat jodoh yang salah, yang hanya menginginkan jabatan dan hartamu saja!" ucap mami Lola dengan suara menggelegar memenuhi segala penjuru ruangan.


"Mi, sudah mi. Jangan marah-marah terus. Entar kerutan mami bertambah loh. Lihat tuh beneran bertambah kan!" seru papi Tulus Narendra yang baru saja turun dari lantai atas.


"Papi ini bagaimana! mana tahu perasaan wanita! papi biarin anak papi nyakitin hati wanita pilihan mami. Dasar semua laki-laki itu sama buaya! aahh!" seru mami Lola dengan kesal lalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ampun salah lagi deh. Lebih baik kamu turutin saja permintaan mami Juna, sekali-sekali buatlah mamimu senang," ucap papi Tulus memberi saran.


"Baiklah, Juna akan fikirkan lagi pi. Makasih sarannya."


"Yasudah, papi harus membujuk mami dulu. Pasti nanti urusannya panjang kalau sudah merajuk begini."


Papi Tulus pun terlihat mengikuti sang istri pergi ke lantai atas. Sedangkan Juna kini tampak gusar.


"S*al! apa gadis itu yang mengadu kepada mami? Kalau memang benar berarti dia itu gadis yang berbahaya," gumam Juna pada diri sendiri.


...💐💐...


Keesok harinya, pagi-pagi sekali Juna tampak sudah rapi dengan setelan jas dan tatanan rambul bergelnya.


Sebelum maminya turun ke ruang makan untuk bersiap-siap, Juna lebih dulu mencomot sepotong roti dengan selai kacang.


Kali ini ia tak boleh kepergok maminya. Karena maminya pasti akan menyuruhnya menjemput wanita pilihan maminya itu. Siapa lagi kalau bukan Betty.


Begitu mendengar derap suara langkah kaki, dengan buru-buru Juna menelan seluruh rotinya. Tak lupa ia juga meminum susu dengan terburu-buru hingga tandas.


"Bi nanti kalau mami nanyain, bilang aja Juna sudah berangkat duluan pagi-pagi ya."


"Oh..baik den," balas sang pembantu.


Lalu Juna buru-buru berlari ke arah garasi dan langsung di sambut oleh pembantu yang bertugas memanasi kendaraannya.


"Berangkat tuan muda?"


"Iya saya buru-buru, tolong bukain pintu gerbangnya!"


"Baik tuan muda."


Tak berlangsung lama kendaraan yang Juna kemudikan melesat menuju jalanan yang ramai. Ia sengaja mengendap-ngendap untuk menghindari maminya yang selalu menyuruhnya untuk menjemput Betty untuk berangkat kerja bersama.


Kendaraan roda empat berwarna metalik itu kini terparkir di sebuah rumah sederhana. Bersamaan dengan penghuninya keluar dari rumah.

__ADS_1


"Bee, kita berangkat bersama ya?" sapa Juna kearah wanita yang belum sadar akan kedatangannya.


"Eh...kamu sudah ada disini? Sejak kapan?" tanya Beauty dengan wajah nampak keheranan.


"Sejak aku mulai jatuh hati padamu."


Ucap Juna tanpa sadar, karena terhipnotis akan kecantikan Beauty di pagi hari ini.


"Astaga! mulai deh ini anak membualnya."


Pagi ini Beauty nampak cantik menggunakan blouse berwarna pink dibalut dengan blazer berwarna hitam serta rok span selutut berwarna senada.


Rambut panjangnya ia kumpulkan dan ikat menjadi satu ke belakang dengan ikat rambut sederhana. Menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus.


Glek!


Apakah ini godaan di pagi hari? Pemandangan ini sungguh menggoda iman.


Gumam Juna yang tanpa sadar kini Beauty sudah duduk di sebelahnya.


"Bos! kamu kesurupan ya?!" tegur Beauty asal.


"Eh...sembarang, aku masih waras ya."


"Habis bengong gitu, aku kan takut kamu jadi khilaf lagi."


Senyum menyeringai terbit dari bibir tipis pemuda itu.


"Jadi kamu mau lagi? hem." goda Juna sambil membasahi bibirnya sendiri.


"Juna! jangan ngaco deh, aku teriak nih!" ancam Beauty balik.


Juna hanya bisa tertawa lepas menyaksikan wajah panik dari wanita yang kini duduk di samping kemudinya.


Lalu ia pun mulai menjalankan kemudinya secara perlahan menuju kantor dimana mereka bekerja.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman parkir perusahaan. Tak sedikit pasang mata memperhatikan mobil itu. Karena seisi kantor tahu, mobil siapa yang baru saja terparkir.


Dan saat pintu mobil terbuka, menampakkan pemuda dan wanita cantik keluar dengan penuh kharisma dari keduanya.


Semua orang yang saat itu berada disekitar mereka pun mulai berkasak kusuk.


"Apa? pak Juna berangkat bersama sekretarisnya lagi? aku fikir wanita itu sudah mengundurkan diri."


"Apa mereka selingkuh ya? lihat saja pak Juna begitu perhatian kepada wanita itu!"


" Kalau benar mereka selingkuh, betapa kasihannya bu Betty ya sebagai calon sah istrinya."


Beberapa karyawan tampak berkasak kusuk menyaksikan pemandangan yang tentu saja mengejutkan itu.


Pasalnya seluruh penghuni perusahaan tahu, bahwa atasan mereka itu sudah di jodohkan dengan wanita yang masih satu perusahaan dengan mereka.


Sampainya di lobi, Beauty dan Juna berpapasan dengan Betty yang ternyata sama terkejutnya dengan karyawan lain.


Namun beberapa menit kemudian, wanita bergaya rambut shaggy tersebut mulai menyadarkan diri.


Lalu dengan anggun ia berjalan menghampiri keduanya.


"Pagi Juna! jangan lupa makan siang nanti ya?"


Juna nampak tak menanggapi. Ekpresi wajahnya datar dan ekpresi tak suka. Sedangkan Beauty nampak penasaran, kenapa tiba-tiba Betty menjadi berani menyapa Juna?


"Pagi juga Betty, kamu nampak cantik sekali?" balas Beauty menggantikan bosnya.


Dan wanita yang kini berpenampilan cantik itu pergi dengan acuhnya tanpa menyapa atau memandang l kearah keberadaan temannya Beauty.

__ADS_1


Ada apa dengan Betty? Kenapa sekarang sikapnya jadi berubah? Apa aku sudah membuat salah kepadanya?


To be continue_


__ADS_2