Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Melumpuhkan Musuh


__ADS_3

“Eng.....” Beauty melenguh tertahan dan mencoba untuk mengumpulkan segenap kesadarannya. Deburan ombak air laut sontak memaksa wanita hamil itu untuk membuka matanya lebar-lebar.


“Aku..aku dimana?!” gumam Beauty lirih. Beauty mencoba mengedarkan pandangannya, dan sesuatu berhasil membuat nafasnya tercekat.


“Sri ?”


“Kau sudah sadar Bee?” ucap wanita yang duduk di kursinya sambil meneguk wine dalam botol.


“Sri apa maksudnya semua ini?” tanya Beauty kalut.


Ya Beauty kalut saat ia baru tersadar dalam keadaan kaki dan tangan terikat. Dan lagi ada Sri yang tersenyum penuh seringai di depannya. Dan membuatnya semakin terkejut, di tempat itu ada pria yang sangat ia benci kehadirannya.


“Anjar!”


“Kamu sudah bangun honey? Lihat sekarang tubuhmu semakin berisi, aku menyukainya,” goda Anjar seraya menoel dagu belah Beauty dan mencium tangannya sendiri. Seolah harum Beauty tertempel pada jari jemarinya.


“Apa yang kamu lakukan bersama Sri? Apa mau kalian?!” sentak Beauty berusaha berani.


“Sri? Kamu yakin tak mengenali wanita ini? Apakah karena gue tak menggunakan riasan? Dan bentuk rambut gue yang berubah? Sehingga lo dengan mudah percaya dan menganggap gue ini benar-benar Sri? Lo buduh Beauty! Sri yang sebenarnya sudah mati di tangan gue!” ucap Tere dengan senyu mengejek.


Tepat sehari sebelum Sri asli mendatangi rumah Beauty, Tere sudah menghabisinya dan membuat penampilannya semirip mungkin dengan Sri.


“A..apa?! jadi.. Jadi kamu sebenarnya siapa?!” Suara Beauty terdengar bergetar dan tergagu saat mendengar bahwa wanita di hadapannya sudah menghabisi Sri yang asli.


Tere pun menunjukkan tatoo bunga yang ada pada tengkuk belakang. Tatoo yang selama ini tersembunyi berkat potongan rambut bob nya. Suara Beauty pun tercekat di tenggorokan. Ia tak mampu bersuara lagi.


“Sekarang lo tahu kan siapa gue? Jangan pura-pura buduh deh!” olok Tere.


Beauty masih tak mampu berkata-kata. Ternyata orang yang menculiknya adalah mantan madunya sendiri.


Beauty fikir msalahnya dengan Tere akan selesai begitu saja, setelah ia mengalah dan mengiklaskan Cleo dulu. Ternyata tidak.

__ADS_1


Setelah lama hidup tenang, kini Tere datang dan mengusik hidupnya kembali.


Beauty tampak meringis tertahan, saat rasa kram itu kembali meremat perutnya. Beauty takut sesuatu hal buruk terjadi pada kandungannya.


“Sayank kenapa kamu menangis, kamu tahu. Tubuhmu sekarang tampak menggiurkan di mata lelaki. Aku jadi pengen tahu, rasanya bercinta dengan wanita hamil itu seperti apa?” ujar Anjar yang baru datang lalu meremas paha Beauty yang terbuka.


Beauty pun meronta sebisa mungkin. Sedangkan di tempat lain, Juna sudah tak tahan. Api cemburunya sudah naik ke ubun-ubun. Melihat istrinya di sentuh oleh laki-laki seperti Anjar. Membuat jiwa iblis Juna ingin lepas. Persetan dia sepupu Cleo, yang ingin Juna lakukan mematahkan lengan pria itu dan melemparkan ke lautan biar di makan ikan hiu.


“Gue nggak bisa berdiam diri seperti ini?! Gue harus tolong Beauty!”


Juna pun menerobos masuk ruangan yang dijaga 2 orang itu. Dua orang itu di robohkannya dengan mudah. Sedangkan Cleo dan anak buahnya mengurus anak buah Tere yang lain.


“Brengs*k! Lepasin istri gue!” teriak Juna dengan mengepalkan tinju andalannya kearah Anjar yang mencoba mengendus-ngendus aroma tubuh Beauty. Sedangkan Beauty pun hanya bisa menangis saat Anjar dengan berani meraba-raba tubuhnya.


Melihat kedatangan Juna, Tere pun kabur lewat pintu belakang dengan membawa sebuah pistol.


“Rikas Joni! Tolongin gue!” teriak Tere kepada sebagian anak buahnya.


Bukannya Rikas maupun Joni yang datang, melainkan Beny dan anak buahnya.


Jika Beny ada disini berarti mas Cleo juga ada disini? Dimana dia?! Batin Tere.


Setahu Tere, Beny memang anak buah mantan suaminya itu. Pria itu memang tampan, hanya saja hidupnya terlalu kaku. Tere sempat menaruh hati pada Beny, namun ternyata Beny tak mempan oleh rayuannya.


“Senang bertemu kembali nyonya Tere,” sapa Beny sambil mengulas senyum.


“Apa mau lo? Mending lo gk usah ikut campur, ini bukan urusan lo?!” gertak Tere seraya menodongkan pistolnya.


“Tere benar Beny, lebih baik kamu mengurusi kecoak-kecoak yang lainnya saja. Tere biar jadi urusanku!” sela Cleo yang baru saja masuk dari belakang Beny.


“Baik tuan.”

__ADS_1


Beny dan anak buahnya pun kembali beradu otot dengan anak buah Tere. Ternyata anak buah Tere sangat banyak. Ditto hampir saja kewalahan menghadapi pria-pria bertubuh gempal itu.


#


#


“Cckk! Lo suami barunya ya? Cckk..sayang sekali lo hanya dapat bekas orang. Dulu gue sudah sempat menikmati bibir manisnya itu, dan barusan gue pengen nikmati tubuhnya yang sexy ini. Tapi lo tiba-tiba datang dan rusak semuanya!” pancing Anjar.


“Bed*bah! Gue patahin tulang bibir lo ya!” balas Juna penuh emosi.


Juna yang sudah di landa emosi pun memukul Anjar dengan membabi buta. Tak peduli berapa kali pria itu meminta tolong untuk menyudahi aksinya. Rasa marah melihat pria lain sudah berani menyentuh istrinya, membuat otak Juna hanya bisa merespon satu kata yaitu Membunuh.


“Ampun! Ampun! tolong maafin gue! biarkan gue hidup?” rintih Anjar saat menyadari seluruh wajahnya penuh dengan darah. Bahkan kini tulang hidungnya patah untuk yang kedua kalinya.


“Hidung gue akkkh!” Anjar pun berteriak histeris saat menyadari hidungnya sudah hampir terlepas dari kulitnya.


Dalam sekejap Juna pun menendang tubuh Anjar ke lautan.


Byuur!!


Tubuh Anjar yang pingsan pun masuk ke dalam air laut dan tenggelam.


“Makan tu hidung palsumu! Dasar pria brengs*k!” umpat Juna kearah Anjar yang mulai tenggelam.


Lalu kesadaran Juna pun kembali. Ia mengusap tangannya yang penuh dengan darah Anjar pada kemejanya.


Jasnya yang melekat ia lepas dan mengalungkannya pada tubuh sang istri.


“Sayang, Tenang, aku ada disini. Kamu sudah aman sekarang,” ucap Juna menenangkan Beauty yang masih menangis tak peduli luka pelipisnya yang terus mengucurkan darah.


Juna pun melepaskan ikatan tangan dan kaki Beauty.

__ADS_1


“Juna.”


Beauty menatap nanar kearah wajah tampan suaminya. Wajah yang di penuhi luka lebam dan darah itu tapi masih bisa tersenyum kearahnya. Jari jemari Beauty bergetar mengusap lembut luka suaminya yang terus mengalir.


__ADS_2