Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Tipu Daya


__ADS_3

Dalam keheningan malam, seorang wanita yang terbaring lemah mulai mengerjap-ngerjapkan bulu mata lentiknya secara perlahan.


Lengannya yang tak tertancap selang infus mulai meraba-raba dahinya yang terasa pening.


"Aku dimana?" lirihnya.


Tak berselang lama terdengar pintu berdecit menandakan seseorang memasuki ruang rawat wanita itu.


Seorang perawat berpakaian serba putih datang membawa beberapa sebotol infus dan berniat untuk menggantinya.


"Kak Beauty, anda sudah sadar?" pekik sang perawat bersuara imut itu.


Ya wanita itu bernama Beauty. Ia tengah terbaring lemah akibat insiden beberapa hari lalu. Ingatannya belum sepenuhnya pulih. Namun ia masih mengingat saat kepalan tinju milik Anjar berhasil melumpuhkan kesadarannya.


Sedikit demi sedikit tenaganya kembali terisi. Wanita itu mencoba memahami keadaan sekitar. Di samping brankarnya, berdiri seorang perawat yang terbilang masih muda. Pantas saja ia memanggilnya dengan sapaan kakak.


"Suster siapa yang membawaku kesini?"


"Saya tidak tahu persis, sepertinya ia adalah teman kakak ini. Bagaimana keadaan kakak, aku harus panggilkan dokter segera? Jangan banyak bergerak ya kak."


Tanpa persetujuan darinya, perawat muda itu melesat keluar ruangan untuk memanggil dokter yang bertugas. Tak berlangsung lama datanglah seorang dokter paruh baya bersama perawat muda tadi.


"Syukurlah anda sudah sadar nyonya, saya akan memeriksa kondisi kesehatan anda terlebih dahulu," kata sang dokter.


"Silahkan dok," balas Beauty dengan suara lemah.


Dengan sungguh-sungguh dokter itu pun mulai memeriksa keadaan kesehatan Beauty.Tak berlangsung lama senyum terbit dari kedua sudut bibir dokter paruh baya itu.


"Syukurlah, keadaan nyonya sepertinya sudah membaik. Luka memar pada wajah nyonya akibat pukulan juga sudah agak membaik. Mungkin nanti sore anda sudah di perbolehkan pulang."


Beauty pun merasa lega setelah mendengar penuturan sang dokter. Namun ia memberanikan diri untuk menanyakan kepada dokter tersebut tentang sesuatu hal yang mengganjal hatinya selama ini.


"Maaf dok, saya hanya ingin bertanya. Emm...Apakah saya ini hamil?" tanya Beauty dengan suara lirih di akhir kata.


"Hamil? Apakah anda merasakan tanda-tanda hamil? Seperti mual dan muntah? Memangnya kapan terakhir kali anda melakukan hubungan dengan suami anda?" tanya sang dokter bertubi-tubi.


Beauty merasa malu untuk menjelaskannya. Bagaimana pun statusnya saat ini adalah seorang janda. Namun ia hanya ingin mengetahui kebenarannya.


"Emm...sudah lama dok, sekitar beberapa bulan lalu," terangnya singkat. Beauty memilih bungkam, ia tak ingin orang lain mengetahui masalah hidupnya.


"Sebentar saya periksa ya nyonya."


Dokter paruh baya itu pun tampak manggut-manggut dengan hasil pemeriksaan yang ia lakukan.


"Begini nyonya, berdasarkan pemeriksaan yang saya lakukan nyonya sedang tidak hamil. Rasa mual dan muntah yang nyonya alami itu mungkin akibat gejala asam lambung yang berlebih dalam tubuh anda. Saya sarankan untuk kurangi makanan yang asam dan pedas karena sangat mudah memicu munculnya gejala asam lambung tersebut."


Mendengar penuturan panjang dari sang dokter membuat Beauty sedikit merasa kecewa. Padahal jika memang ia terbukti hamil, ia akan merawat anak itu dengan sepenuh hati. Ternyata benar apa kata orang, ia benar-benar hanya seorang wanita mand*l.


"Tapi kenapa sampai saat ini saya masih juga belum haid ya dok? Mungkin terhitung sudah 3 bulan ini saya belum haid."

__ADS_1


"Apa anda sudah mengecek menggunakan tespack?"


Beauty pun tampak menggeleng pelan.


"Karena kadang telat haid bukan berarti anda hamil, bisa jadi karena efek penggunaan alat kontrasepsi atau karena memang siklus haid anda tidak lancar," terang sang dokter yang langsung di mengerti oleh Beauty.


"Kalau begitu ada bisa melakukannya nanti dirumah saja, jika hasilnya positif anda boleh kembali kesini dan akan saya rekomendasikan dengan dokter kandungan terbaik."


"Baiklah dok, terima kasih atas penjelasannya. Apa saya sudah di perbolehkan pulang sekarang? Karena saya sudah merasa baik-baik saja?"


"Sebentar lagi nyonya, nyonya harus menghabiskan infus anda yang terakhir terlebih dahulu. Agar tenaga anda cepat pulih."


"Baik lah dok, terima kasih."


"Sama-sama."


Saat dokter itu akan keluar, buru-buru seseorang yang sedari tadi mendengarkan penjelasan dokter yang ada dalam ruangan menjauh dari daun pintu.


Lalu rombongan dokter dan perawat itu berlalu melewati orang bermasker hitam yang berpura-pura sedang menelepon seseorang.


"Untung saja! huh...Jika bukan Beauty yang hamil lalu siapa? s*alan buang-buang waktu saja!" umpatnya sebelum pergi meninggalkan ruangan rawat tersebut.


***


Di Sel Tahanan


Cleo tampak meringkuk dalam sel tahanan yang berisikan 3 orang itu. Namun tiba-tiba seorang sipir menghampirinya dan memberi tahu bahwa ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.


"Tere! kamu menjenguk mas?!"


Rasa bahagia tak mampu Cleo sembunyikan, setidaknya salah satu dari keluarganya ada yang menjenguk di penjara.


Tere hanya tersenyum datar. Wanita berambut cranberry red itu hanya pasrah saat Cleo memeluk tubuhnya dengan erat.


"Mas! lepaskan!" rengek Tere dengan cemberut.


"Maafkan aku, aku merindukanmu Re. Apa kamu tidak merindukan mas lagi?"


Cih ! siapa juga yang merindukanmu. Diam-diam kamu ternyata juga mempunyai perempuan lain selain diriku. Brengs*k kamu mas!


"To the point aja ya mas, aku pengen kita cerai!" balas Tere dengan ketus.


"Cerai? Apa maksudmu Re? Mas nggak paham." tanya Cleo tak mengerti.


"Mas tanda tangani ini saja, pokoknya Tere mau cerai!" ucap Tere bersungut-sungut.


"Mas tidak akan menanda tanganinya kalau kamu nggak mau cerita dulu ke mas Re, katakan apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu minta cerai dari mas?!" ucap Cleo sedikit emosi.


Tere mencoba memutar otaknya sembari mencari alasan yang masuk akal agar ia bisa menceraikan suaminya itu dan membawa semua harta warisan Cleo pergi.

__ADS_1


"Ada perempuan yang mengaku hamil anakmu mas! Kamu jahat mas! pokoknya aku ingin kita cerai!"


Ucap Tere asal. Karena sampai saat ini ia belum mengetahui wanita mana yang kini tengah mengandung anak dari Cleo. Oleh sebab itu ia memilih cerai sebelum wanita itu muncul, berhubung kini semua harta keluarga Cleo sudah berada dalam genggamannya.


"Apa?! Itu tidak mungkin! aku sedang tidak menjalin hubungan serius dengan wanita lain Re. Percayalah!"


"Kamu lupa bagaimana hubungan kita dulu mas?! bagaimana kamu mengkhianati kak Beauty sudah pasti itu terjadi padaku juga. Karena kamu laki-laki yang tidak bisa bertahan dengan 1 wanita!" ucapnya dengan nada tegas namun terisak menahan tangis.


Ucapan Tere membuat Cleo seketika bungkam. Ia memang laki-laki brengs*k mempunyai istri secantik Beauty saja ia tidak bisa setia. Akan tetapi ia tidak ingat perempuan mana yang kini mengaku hamil anaknya. Mengingat begitu banyak wanita cantik mengelilingi hidupnya.


Meski Cleo meragukan alasan Tere, akan tetapi berpisah dari Tere memberikan peluang besar bagi Cleo untuk bisa kembali bersama Beauty.


Dalam lubuk hatinya terdalam, hanya Beauty wanita yang benar-benar ia cintai namun malah ia sendiri yang menyakiti wanita berlesung pipi itu.


"Lalu bagaimana dengan anak kita Re? Apa kamu membiarkannya tumbuh tanpa seorang ayah?"


Kini Tere yang masih memakai aksesoris hamil di depan Cleo tampak mengelus-ngelus perut palsunya.


"Masalah anak ini mas tidak perlu khawatir, tapi Tere minta bagian warisan untuk anak kita ini! Dan ini mas tinggal tanda tangan saja, Tere sudah menyiapkan berkasnya."


Bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, tanpa membaca berkasnya terlebih dahulu. Cleo mulai menanda tanganinya dengan yakin. Lalu menyerahkan kembali berkas-berkas tersebut beserta balpoinnya kepada istrinya Tere.


Bod*h kamu mas! Dengan tanda tanganmu ini, sekarang seluruh harta milik keluarga Sinatrya telah jatuh ke tanganku. Kini kamu hanya laki-laki tampan yang miskin mas! ckckk..


"Re! Hello Re! kamu baik-baik saja ? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu? Apa kamu bahagia bercerai dariku?" tanya Cleo membuyarkan lamunan Tere.


"Eh..enggak anu, bukan mas. Bagaimana pun aku sedih kita harus berpisah seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi aku tak ingin berada di posisi kak Beauty seperti dulu mas. Aku harap mas Cleo mengerti," ungkap Tere dengan raut sedih.


"Aku mengerti Re, karena aku juga tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Siapapun wanita itu aku akan berusaha bertanggung jawab begitu pula dengan anak kita."


Senyum menyeringai terbit dari sudut bibir Tere.


"Terima kasih mas, terima kasih sudah mempercayaiku selama ini. Aku harap kamu tidak akan pernah menyesal!"


"Menyesal? Maksudnya apa Re? Aku akan tetap bertanggung jawab kepada anak kita!"


"Ccckkk! menyesal karena kini semua harta milik keluargamu telah jatuh ke dalam genggamanku mas," bisik Tere lirih tepat di telinga Cleo.


Mata Cleo membulat tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


Cleo pun meraih kedua bahu Tere dan sedikit menekannya.


"Maksudmu apa Re?! Tolong jelaskan sama mas!"


Tere pun menepis kasar genggaman Cleo pada bahunya. Dan berjalan sedikit mundur untuk menjauhi Cleo. Rencananya setelah ia mendapatkan tanda tangan pengalihan ahli waris dari Cleo, ia akan membuka jati dirinya yang sebenarnya.


"Kau selama ini tak pernah menanyakan jati diriku yang sebenarnya mas?"


"Memangnya siapa kamu? Katakan!" desak Cleo tak sabaran.

__ADS_1


Tere pun mulai tersenyum mengejek kearah Cleo.


"Sebenarnya aku ini adalah___"


__ADS_2