Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Pesan Ayah Mertua


__ADS_3

Paginya Beauty sudah asyik memasak makanan untuk sarapan di dapur milik sang ayah di rumahnya yang sederhana.


Meski hanya menggunakan satu tungku kompor, Beauty mampu memasak berbagai menu makanan untuk suami beserta ayahnya.


Begitu semua lauk selesai Beauty masak, ia hidangkan diatas meja makan. Kini hanya tinggal menunggu nasinya masak dari penanak nasi.


Sambil menunggu nasi masak, Beauty terduduk di ambang pintu menatap hamparan sawah yang hijau serta tampak asri di pandang oleh mata.


Kebetulan tadi pagi sekali ada tukang sayur mangkal di perempatan jalan. Sudah menjadi naluri Beauty semenjak menikah dengan Cleo, rutinitas seperti itu bukanlah hal yang pertama untuknya.


Kala itu ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga Cleo. Beauty jadi teringat kala adik iparnya Sisie selalu memusuhinya. Melemparkan kalimat-kalimat yang tak pantas untuknya hanya karena ia salah memasak makanan.


Tanpa terasa buliran air asin itu kembali mengalir. Masa lalunya dengan Cleo cukup membuatnya trauma. Memiliki saudara ipar dan mertua yang toxic membuatnya sempat tak ingin menikah untuk kedua kalinya.


Namun perasaan bimbang kini kembali mendera. Pernikahan dadakannya bersama Juna juga sama sekali tak di ketahui oleh keluarga pemuda itu.


Lalu apakah saat ini ia masih tidak boleh bahagia? Ia hanya ingin bahagia bersama orang yang mencintai begitu sebaliknya.


"Suamimu belum bangun Beauty?" sapa pak Heru yang baru saja keluar dari bilik kamarnya.


Beauty yang tiba-tiba saja di tegur sang ayah membuat wanita itu gelapan. Buru-buru ia menghapus jejak air matanya yang sempat menggenangi pelupuk mata.


"Belum ayah, tadi Juna tidur lagi selepas subuh."


"Begitu."


Pak Heru pun mendekat kearah putri semata wayangnya, peninggalan satu-satunya dari almarhum sang istri.


Senyum Beauty, tawa Beauty sangat mirip dengan almarhum mendiang sang istri. Pak Heru baru menyadari semua itu sekarang. Bahwa dalam sebuah keluarga itu tidak akan pernah ada namanya mantan anak meski banyaknya mantan istri.


Karena bagaimana pun anak tetaplah akan menjadi anak sampai kapanpun. Pak Heru baru menyesalinya sekarang.


Selepas istrinya meninggal, kala itu ia malah terjerat dengan daun muda yang bisa memberikan dan memenuhi hasrat jiwa mudanya yang masih tersisa. Sampai ia harus mengabaikan anak semata wayangnya.


Sambil memandangi putrinya yang kini tumbuh jauh lebih dewasa, pak Heru pun bertanya.


"Beauty, jujur apa kamu bahagia dengan pernikahanmu bersama Juna?" tanya pak Heru begitu mendapati wajah sang anak yang nampak sembab.


Beauty pun menatap kosong hamparan persawahan hijau yang luas nan nampak segar di pandang mata di hadapannya. Lalu pandangannya pun jatuh menatap kosong kedua kakinya.


"Beauty, tidak tahu ayah."

__ADS_1


"Lalu apalagi yang kamu khawatirkan saat ini? Sedangkan kalian sudah menikah sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Apapun yang kalian lakukan sudah halal di mata Tuhan."


Beauty pun semakin menunduk tak berani menatap mata teduh milik sang ayah. Hatinya tak tega jika harus berbagi keluh kesahnya, karena itu hanya akan menambah beban pria paruh baya itu.


"Tidak ada ayah, semuanya baik-baik saja."


"Apa kamu yakin? Jujur ayah sangat terkejut saat nak Juna meminta ijin ayah untuk mempersuntingmu Beauty.."


Pak Heru pun menjeda kalimatnya untuk menghela nafasnya yang sedikit agak terasa berat.


"Ayah sempat ragu, bagaimana mungkin orang penting seperti nak Juna meminta putri ayah yang hanya seorang wanita yang sudah berstatus janda? Namun, berkat kegigihannya waktu itu nak Juna memohon-mohon kepada ayah. Bahkan ia bersimpuh di bawah kaki ayah ini agar ayah merestui hubungan kalian."


Beauty masih mendengarkan penjelasan ayah dengan seksama. Ia sendiri tak menyangka jika Juna pernah melakukan hal seperti itu di hadapan ayahnya.


"Juna adalah pria yang baik, selama ini ia sudah membantu ayah. Oleh karena itu ayah merestui hubungan kalian. Tapi, apa keluarga Juna tahu hal ini?" tanya pak Heru dengan tatapan intens.


Beauty pun samar-samar menggeleng pelan membuat pak Heru hanya bisa menghembuskan nafasnya.


"Sudah ayah duga, lebih baik kalian secepatnya bertemu keluarga Juna untuk memberi tahu pernikahan kalian kepada mereka."


"Baik ayah, tapi Beauty tidak tahu harus bagaimana_"


"Maksudnya? apanya yang bagaimana?" tanya pak Heru mengulang kata anaknya lagi.


Semua itu semata-mata mereka lakukan untuk tak membuat ayah Beauty mengalami serangan jantung secara tiba-tiba.


Karena menurut riwayat dokter, pak Heru mengidap gejala jantung stadium 2.


"Tidak ada apa-apa ayah, hari ini juga kita akan menemui orang tuaku untuk mengabarkan tentang pernikahan kita. Iya kan Beauty? " sela Juna yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.


Juna pun mengerlingkan sebelah matanya kearah Beauty untuk memberi kode kepada wanita itu agar mengiyakan ucapannya.


"I..iya ayah, itu benar ayah," jawab Beauty pelan.


"Lebih cepat lebih bagus, ayah hanya tidak ingin apa yang ayah alami dulu terjadi pada rumah tangga kalian."


"Maksud ayah?" tanya Beauty terlihat menautkan kedua alisnya


"Hubungan ayah dulu rumit, ya sudah lebih baik kalian segera sarapan. Pagi-pagi begini, ayah hanya ingin makan singkong rebus saja karena kolesterol ayah tinggi."


"Kebetulan tadi Beauty sudah memasaknya untuk cemilan ayah. Ini yah!" ucap Beauty sambil meletakkan semangkuk singkong rebus yang sudah ia masak.

__ADS_1


"Ini bukan cemilan lagi, tapi ini memang sudah jadi makanan utama ayah beberapa bulan ini. Ya sudah, ayo makan nak Juna!" seru pak Heru mempersilahkan anak mantunya untuk makan bersama.


"Baik, ayah."


Setelah mereka menyelesaikan sarapannya, Beauty pun bergegas untuk membereskan sisa-sisa piring kotor ke dalam ember untuk di cuci.


"Ayah, kami berdua akan kembali ke kota. Beauty sudah memasak makanan untuk ayah makan siang dan malam. Nanti tinggal hangatkan saja. Kami pergi tidak akan lama kok," pamit Beauty kepada sang ayah.


"Kamu jangan khawatir, di sini ada saudara-saudara ayah. Mereka selalu membantu ayah."


"Baik lah, kami pergi dulu yah. Jaga diri ayah baik-baik."


"Sebentar nak Juna, bapak ingin bicara sebentar denganmu."


Juna pun jadi merasa gugup diajak bicara empat mata oleh ayah mertua. Nampaknya sesuatu hal yang penting akan beliau utarakan kepada Juna.


Juna pun mulai mendekat dan menunduk untuk menyetarakan tinggi pak Heru yang tengah terduduk di kursi roda.


"Ayah ingin berpesan padamu nak Juna, tolong jangan sakiti Beauty. Beauty sudah cukup menderita selama ini. Buatlah dia bahagia dan selalu tersenyum. Terlepas ada atau tidak adanya keturunan diantara kalian, usahakan tetaplah mengasihinya. Beauty sudah cukup trauma dengan pernikahannya dulu bersama Cleo. Jika nak Juna sudah merasa bosan kepadanya, tolong kembalikan kepada ayah. Ayah akan menerimanya kembali. Jangan kau abaikan apalagi tak memperdulikannya lagi," ucap pak Heru sambil terisak.


Juna pun menggenggam tangan sang ayah mertua dengan erat. Sebagai pria sejati, ia harus bisa di pegang ucapannya.


"Ayah tenang saja, Juna akan berusaha membuat Beauty bahagia. Saling mengasihi dan menyayangi. Membina rumah tangga dan membesar anak-anak kita bersama. Dan sebentar lagi ayah akan mendapatkan cucu dari kita berdua, karena kemarin Juna sudah menanamkannya benih kecebong ke dalam rahim Beauty," ujar Juna tanpa malu.


"Junaaaaa!" pekik Beauty.


Rasanya Beauty ingin menyelam ke dasar samudra pasifik mendengar kata-kata Juna yang terdengar sangat frontal bahkan saat berbicara dengan orang tua seperti ayahnya sekalipun.


Pak Heru yang tadinya sempat menangis pun jadi tergelak. Mantunya kali ini memang beda daripada yang lain.


"Ya sudah ayah, kami harus pergi sekarang."


Beauty pun segera menyudahi percakapan mereka, sebelum Juna berkata absur kembali kepada ayahnya.


"Assalamu'allaikum."


"Wa'allaikumsalam."


Kedua pasangan suami istri itu memasuki mobil. Sampai mobil sudah melaju menjauhi gubuk sederhana itu, pak Heru masih mematung di ambang pintu rumahnya.


"Semoga di pernikahan yang kedua ini Beauty memperoleh kebahagiaan yang sangat ia inginkan, ya semoga saja," gumam pria paruh baya itu.

__ADS_1


...Sekedar mengingatkan, hari ini kan hari senin ya? Ya barang kali readers ingin berdonasi vote sama author. Author sangat berterima kasih🤗.(edisi maksa) 🤭😅😅...


__ADS_2