Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Persaingan dingin


__ADS_3

Setelah kepergian Juna dan Papi Tulus, Beauty memilih menghampiri mama Lola yang masih betah berdiam di kamarnya.


Semenjak sakit, tak banyak yang wanita paruh baya itu lakukan. Selain berdiam di dalam kamar dan sesekali bersantai di taman belakang mansion menggunakan kursi roda.


“Nyonya.” sapa lembut Beauty ketika ia sudah berhasil memasuki pintu kamar wanita paruh baya itu.


Mami Lola pun nampak membuka matanya kembali yang sempat terpejam. Lalu ekor matanya mencoba menelusuri dimana asal suara itu.


Saat matanya menangkap bayangan Beauty yang masih mematung di depan pintu. Dengan malas, mami Lola pun menutup matanya kembali.


“Ada perlu apa kamu kesini!?” tanya mami Lola ketus dengan mata masih terpejam.


“Nyonya, Saya membawakan sarapan untuk nyonya. Saya masuk ya?”


“Letakkan saja di atas nakas,” sahut mami Lola dengan mata masih terpejam.


Perempuan paruh baya itu sudah tahu jika kini Beauty mulai tinggal di mansionnya, karena kesepakatan yang Juna dan suaminya lakukan.


Demi memiliki mantu seperti Betty, mami Lola membiarkan Beauty tinggal dan berkeliaran di mansionnya asal Juna mau menikahi Betty, menantu idamannya.


“Kenapa kamu masih mematung di situ?! Cepat keluar!” usir mami Lola kepada Beauty.


Mendapat kalimat usiran dari mami mertuanya membuat hati Beauty terasa nyeri. Namun ada sesuatu yang membuatnya harus bertahan.


Karena memang naluri Beauty yang lembut dan penyayang, entah tiba-tiba saja wanita berlesung pipi itu ingin sekali memijit kaki mertuanya. Namun, Beauty masih agak ragu untuk mengutarakannya.


“Nyonya.” panggilnya Beauty lembut.


“Apa?!” ketus mami Lola.


“Nyonya.”


“Iya apa katakan?!” sentak mami Lola dengan kesal.


Namun sentakan itu justru membuat boomerang untuk wanita paruh baya itu. Tiba-tiba saja, nafasnya terasa sesak. Dan merasakan nyeri yang sangat di anggota tubuhnya bagian dada sebelah kiri atas.

__ADS_1


Nafas wanita paruh nampak tersengal-sengal seraya memegangi dada atas sebelah kiri. Melihat mami Lola yang nampak kesulitan saat bernafas membuat Beauty seketika panik.


“Nyonya! Nyonya ! Nyonya kenapa?” panik Beauty.


“Ambil...ambil...obat!” ucap mami Lola dengan terbata.


Nafas mami Lola nampak tersengal-sengal seolah ada sesuatu yang menghimpit rongga paru-parunya dan membuat wanita itu sulit bernafas.


Dengan panik Beauty mulai mencari-cari obat yang mertuanya maksud di atas nakas mau pun di dalam laci.


Saat sudah menemukan sebuah inhaler, langsung Beauty arahkan inhaler itu untuk di hirup oleh mami Lola.


Setelah pernafasan mami Lola sudah stabil, baru Beauty memberikan obat berbentuk butiran yang sudah tersedia diatas nakas.


Barulah mami Lola bisa bernafas kembali dengan tenang. Beauty pun masih berjaga di samping mami Lola.


“Maaf nyonya, karena saya nyonya hampir mengalami sesak nafas,” lirih Beauty penuh sesal.


Mami Lola masih terdiam, ekor matanya enggan menatap kearah wanita yang hampir membuat penyakit jantungnya kumat.


“Kalau begitu, Beauty suapi makannya ya nyonya? Keburu buburnya dingin,” celoteh Beauty lagi.


Beauty pun mulai menyendokkan setengah bubur dan mengarahkan ke mulut mami Lola. Belum sampai mendekat, tangan mami Lola sudah menepis kasar suapan yang Beauty berikan.


Klontang!


Sendok bubur itu terlepas dan terjatuh di lantai. Membuat bubur yang berada di atas sendok berceceran mengotori lantai dan baju Beauty.


Beauty pun tertegun atas penolakan yang mami Lola berikan. Namun ia berusaha memaklumi, mungkin mami Lola masih merasa kesal karena ia sudah membuat penyakit mami Lola hampir kumat.


Dengan sabar Beauty mulai membersihkan ceceran bubur yang berserakan di lantai.


“Beauty minta maaf ya nyonya, kalau begitu Beauty akan panggilkan bi Tum untuk menemani nyonya makan,” pamit Beauty sebelum beranjak.


Saat Beauty ingin keluar kamar mami Lola, bertepatan dengan itu pintu pun terbuka menampilkan seseorang yang dulu sangat Beauty kenal. Namun sekarang nampak berbeda di matanya.

__ADS_1


“Betty.” gumam Beauty terkejut.


Betty pun sama halnya dengan Beauty. Gadis berambut shaggy itu sempat melototkan matanya terkejut, namun semenit kemudian ia mampu mengendalikan rasa terkejutnya itu.


“Oh, hai!” balas Betty dengan tersenyum paksa.


Gadis berambut shaggy itu sempat terkejut, karena tiba-tiba saja ia bertemu mantan temannya di kamar calon mertuanya. Namun Betty masih mengingat apa yang kemarin Juna katakan. Pemuda itu akan menikahinya asal istrinya Beauty ikut tinggal bersamanya.


Tanpa berbasa-basi lagi, Betty pun berlalu melewati Beauty yang masih mematung. Dari tempatnya, Beauty memperhatikan bagaimana interaksi mami Lola bersama Betty calon menantu idaman yang gagal.


“Mami!” pekik Betty seraya berhamburan di pelukan mami Lola.


Mami Lola pun langsung menyambut pelukan Betty, seraya mengecup singkat pucuk surai gadis berambut shaggy itu.


“Betty kangen sekali sama Mami!” ucap Betty dengan manja ke mami Lola.


Betty sengaja memanas-manasi Beauty, pasti wanita yang sudah menjadi mantu siri di keluarga Narendra itu baru saja menerima penolakan dari nyonya besar. Terlihat dari raut wajahnya yang sedih. Betty pun memanfaatkan kesempatan ini untuk membakar api cemburu dalam hati rivalnya.


Maaf Bee! Biar aku tunjukkan siapa yang berhak menjadi menantu sebenarnya di keluarga Narendra ini!


Batin Betty dengan senyuman smrik.


“Mami juga kangen kamu Lova sayang,” balas mami Lola dengan lembut. Sorot mata paruh baya itu mencerminkan rasa kasih sayang yang dalam kepada gadis yang berada dalam pelukannya.


Melihat itu, samar pandangan Beauty mulai mengembun. Sebelum cairan bening itu terjatuh, Beauty buru-buru membalikkan badan dan mulai meraih daun pintu dan membukanya.


Beauty masih berdiri di balik pintu jati nan kokoh itu. Indera pendengarannya masih menangkap nada-nada penuh perhatian dari mami Lola untuk temannya Betty.


Hatinya sedikit teriris, ia yang merupakan menantu yang sebenarnya dalam keluarga Narendra. Malah ia yang diabaikan. Namun Beauty masih berusaha bersabar, mungkin mami Lola masih butuh waktu untuk bisa menerimanya.


Dari celah pintu yang tak tertutup rapat, Beauty mampu melihat mami Lola menerima dengan lahap suapan dari Betty yang sempat wanita itu tolak darinya.


Beauty berusaha berbesar hati. Ia hanya butuh waktu untuk bisa mengambil hati serta perhatian mertua perempuannya itu.


Di hapusnya air mata yang sempat meleleh, lalu dengan langkah pasti ia mulai mencari bi Tum. Entah kali ini ia harus melakukan hal agar tidak kalah perhatian dari yang temannya Betty lakukan.

__ADS_1


...Sesuai permintaan salah satu readers tercinta 😘 Otor bakal bkin karakter Beauty berbeda dari biasanya. Adakah yg setuju? Jgn lupa giftnya..🤭...


__ADS_2