Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Dari di kagumi jadi di bully


__ADS_3

"Loe yakin rencana loe kali ini bakal berhasil bikin kak Juna menjauh dari mantan ipar loe itu?!" tanya Marion setengah berbisik.


"Gue yakin! loe nurut aja deh sama gue. Lagian kali ini gue kan main cantik, gue nyuruh orang lain yang melakukannya. Briliant nggak rencana gue?" ucap Sisie dengan pongah.


"Wahh! keren kamu Sisie! Gue setuju sama rencana loe kali ini daripada kemaren," balas Marion spontan.


"Jadi loe nyesel udah bantuin gue!" sentak Sisie yang mulai agak kesal.


"Bukan gitu maksud gue, gara-gara masalah kemarin kan sekarang gue jadi buronan kampus sampai gue harus ganti gaya segala kayak gini. Gue tuh suka rambut di gerai daripada rambut di iket gini tau nggak," jelas Marion sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang di ikat ke kanan dan ke kiri.


"Paling itu cuma sementara aja Mar, loe tenang aja. Selama loe pura-pura nggak tahu apa-apa dan nurut apa kata gue. Loe bakal aman!"


"Coba lihat! sepertinya mereka mulai mempercayainya Sie!" seru Marion seraya menunjuk beberapa orang yang membaca kabar berita heboh di dinding.


"Tentu saja! berita tentang Beauty seorang janda yang mand*l itu benar adanya dan bukan hanya hisapan jempol semata. Bahkan wanita itu pembawa s*al!" ucap Sisie sambil menyeringai.


"Lihat! lihat kak Juna dan wanita itu sudah datang! Mari kita lihat bagaimana reaksinya Sie!"


"Okay, lets go!"


Sisie dan Marion pun mulai berjalan agak cepat kearah kerumunan itu. Begitu pula Juna dan Beauty yang baru saja datang dan di sambut tatapan aneh dan bisik-bisik dari para mahasiswa lainnya.


Saat sampai di kerumunan depan mading (majalah dinding), sebuah suara menegur langkah Beauty.


"Hei! janda mand*l! tukang penggoda laki-laki! Sepertinya loe itu tidak pantas untuk kuliah disini!" seru seorang wanita.


"Tentu saja, kalau dia tidak mand*l mana mungkin di cerai suaminya? Sudah mand*l pembawa sial lagi!" imbuh yang lain.


"Awas kalian yang punya pacar di jaga ya nanti tante Beauty bakal ngembat gebetan kalian loh!" Marion pun ikut menimpali.


Wanita itu juga tak rela pria idolanya dekat dengan seorang janda. Karena menurutnya, hanya temannya Sisie-lah yang cocok menjadi pasangan seorang Juna yang tampan.


Beauty yang mendengar kalimat sindiran dan caci maki itu hanya bisa menunduk terdiam. Apakah tidak ada tempat yang bisa membuat hari-hari merasa tenang dan damai dalam menjalani hidup? Kadang ia berfikir, mungkin memang benar adanya ia adalah seorang pembawa sial.


Sekarang sepertinya Juna mendapat kecaman dari para fansnya di kampus karena tengah dekat dengannya. Juna pun tidak tinggal diam.


"Diam! kalian! kalau Beauty memang seorang janda memangnya kenapa?" teriak Juna dengan lantang membungkam mulut-mulut yang tengah bersorak sorai.


Ada seorang mahasiswi berani menyahuti teriakan Juna dengan tak kalah lantangnya.


"Jandanya itu yang dipertanyakan, sudah janda berlagak masih gadis lagi! Apa sih yang membutakan mata loe Jun? Kita para gadis tak kalah cantik dan sexy dari janda mand*l itu selalu setia untuk jadi pacar loe. Loe malah milih barang second sih!" ucap seorang teman seangkatan Juna yang termasuk penggemar setia Juna.


"Kalian kenapa sih? masalah gue mau berteman atau pacaran ama siapa aja itu bukan hak kalian ya! Kalian juga tidak berhak untuk menghakimi hubungan kita! Ngerti kalian!" sentak Juna balik.


Juna pun menarik pergelangan tangan Beauty seraya berucap dengan lembut.


"Lebih baik kita pergi dari sini, abaikan saja tingkah laku mereka Be! ayo ikut aku!" ajak Juna.

__ADS_1


"Huuuuuuhh!! dasar janda mand*l tidak tahu diri!" teriak seorang wanita yang merasa muak dengan kedekatan Beauty dengan Juna sang pangeran kampus.


Dari sudut Sisie tersenyum menyeringai, ia merasa senang karena ternyata ada yang mendukung ketidaksukaannya terhadap Beauty dan menentang hubungan atasan dan sekretaris itu.


"Coba, sampai kapan loe akan mampu bertahan di kampus ini Beauty mengingat banyak sekali yang tak menyukaimu! Kita lihat saja, loe atau gue yang bakal.menang dapetin hati kak Juna!" lirih Sisie seraya menatap kepergian kedua sejoli itu.


***


Beauty yang masih terisak pun hanya bisa menurut ajakan dari pemuda yang juga menjadi atasannya itu. Lalu langkah kaki jenjangnya Juna membawa Beauty ke tempat yang agak sepi dan menaiki tangga.


"Kita mau kemana Jun? Bukankah kelas kita berlawanan arah?" tanya Beauty yang sudah tak terdengar isakan lagi.


"Ikut aku saja."


Sampainya kedua sejoli itu di atap gedung kampus. Tempat itu sangat sepi karena memang jarang ada yang mau mendatangi tempat yang lumayan tinggi jika melihat ke bawah itu.


"Kenapa kamu membawaku kesini Jun?" tanya Beauty sedikit serak karena sisa-sisa isakan yang tertahan.


"Aku rasa kamu perlu menenangkan hatimu, jadi aku membawamu kesini," balas Juna dengan santai.


Beauty hanya terdiam. Setidaknya tempat yang mereka datangi jauh dari mulut-mulut yang mencaci maki statusnya sebagai janda. Wanita berlesung pipi itu pun kembali terisak.


"Jangan dengarkan ucapan mereka, belum tentu yang mereka ucapan itu be__"


"Itu memang benar adanya Jun, aku memang wanita mand*l. Karena aku mand*l, suamiku sampai berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri. Belum keluarga suamiku yang mengecamku tak kunjung memiliki anak. Mereka menyalahkanku dan memaksaku menerima pernikahan kedua suamiku, wanita mana yang bisa terima itu semua Jun?" pekik Beauty yang tak mampu menahan sesak dan perih di hati.


"Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di sini, mamaku sudah lama meninggal akibat sakit keras. Dan ayahku menikah kembali dengan wanita yang pantasnya menjadi anaknya.. Rumah peninggalan mamaku juga sudah ayah jual untuk modal butik istri mudanya, harapanku saat ini hanya ingin lulus kuliah dan bisa mendapatkan pekerjaan untuk kehidupanku yang lebih baik." curhat Beauty begitu saja.


Ia merasa harus mengeluarkan segala uneg-uneg dalam hatinya. Air matanya tak mampu lagi ia bendung, harapannya hanya satu. Ia hanya ingin hidup tenang bahagia meski itu hanya sesaat.


"Minumlah." Tiba-tiba saja Juna menyodorkan sebotol.minuman dingin kearah Beauty


Lalu Beauty menerimanya tanpa bertanya, setelahnya ia meneguk minuman dingin itu tinggal setengahnya barulah ia menyadari sesuatu dan menengok kearah pemuda itu dengan cepat.


"Kamu dapat minuman dingin ini darimana? sedari tadi kan kamu disini bersamaku?" tanya Beauty terheran-heran.


"Dari Jono, tuh dia!" tunjukkanya kearah pria bertubuh besar dan berotot serta berkacamata hitam.


Beauty hanya bisa menepuk keningnya pelan. Berarti bodyguard Juna itu mendengan celotehnya yang menurutnya sangat memalukan itu.


Seolah mengerti maksud bahasa tubuh wanita di depannya.


"Kamu tenang saja, kedua bodyguardku bukan seorang pencela. Mereka pandai menjaga rahasia seseorang," ucap Juna menyakinkan.


"Dan aku pun bisa bayangin berada di posisimu, pasti tidaklah mudah. Aku hanya berharap kamu harus bisa lebih kuat dan raih apa yang ingin kamu raih," pesan Juna kepada Beauty.


Wanita berlesung pipi itu tersenyum sambil mengangguk membenarkan ucapan Juna bahwa ia harus bertahan dari pahitnya kehidupan.

__ADS_1


Beauty pun akhirnya bisa bernafas lega. Namun tiba-tiba rasa mual muncul memaksakan tubuhnya untuk mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Ia pun segera berlari menjauh dari Juna dan berhenti di pojokin untuk mengeluarkan rasa mual itu.


Dari jarak yang tak jauh Juna pun menghampiri keberadaan Beauty yang berusaha menyudahi rasa mualnya.


"Kamu kenapa Be? apa kita perlu ke rumah sakit?" tawar Juna dengan tatapan penuh khawatir.


"Tidak perlu, sepertinya aku hanya masuk angin. Karena udara di atas sini lumayan kencang," kilah Beauty. Ia hanya tidak ingin menyusahkan teman sekaligus atasannya yang baik itu.


"Kalau begitu lebih baik kita pulang saja, kita bisa ambil kelas daring nanti jika memang berhalangan hadir. Kamu pulang dan beristirahatlah."


"Baiklah."


Juna meminta bodyguardnya untuk membawakan mobil dan menukarnya dengan motor yang ia bawa sewaktu berangkat tadi.


Sebelum memasuki mobil, rasa mual kembali menyerang Beauty. Ia pun kembali memuntahkan cairan yang tampak seperti makanan yang sudah ia makan. Kepalanya semakin terasa pusing.


Dengan sigap Juna segera membawa wanita itu ke rumah sakit.


Dari jauh Sisie pun mengempalkan tangannya dengan geram.


"S*al! kenapa mereka malah semakin dekat sih? Dasar janda mand*l s*alan! tunggu peritungan gue selanjutnya!" geram Sisie.


***


Di kediaman Sinatrya tampak Tere tengah menikmati cemilan buah anggur yang terlihat masih tampak segar.


Lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dengan gerakan anggunnya ia mulai menerima panggilan itu.


"Iya, halo ada apa?" tanyanya cuek.


Namun sedetik kemudian ia hampir saja tersedak potongan buah anggur yang baru saja ia masukan ke dalam mulut. Lalu ia buru-buru meminum air putih yang ada di dekatnya.


"Apa katamu?! apa informasimu ini akurat? Coba kirim buktinya, aku tidak akan menerima informasi yang hanya sekedar kabar burung saja!"


Ting!


Ting!


Bunyi notifikasi aplikasi ponselnya berbunyi. Dengan segera ia membuka pesan itu. Rasa terkejut tidak mampu wanita berambut cranberry red itu sembunyikan.


"Halo, kalian masih disana? terus saja silidiki wanita itu. Jika ada hal aneh segera laporkan. Mengerti!" titah Tere kepada seseorang yang ia perintahkan untuk mematai para mantan suaminya Cleo.


"Ini tidak mungkin terjadi! Aku harus segera memastikannya sendiri!" gumam Tere seraya beranjak dari tempat duduknya dan menyambar sebuah sweater yang agak tebal.


Kira-kira apa yang sudah Tere ketahui ya??


Tetap stay terus ya!

__ADS_1


Maaf author lagi sibuk dan terkendala sinyal juga makanya jrang up, mohon maklumnya...πŸ™πŸ»β˜ΊοΈ


__ADS_2