
“Ternyata nyalimu besar juga berani datang seorang diri ke sini Beauty,” sapa seorang wanita yang menggunakan topeng di wajahnya.
“Siapa kamu?!” ketus Beauty mulai waspada.
Wanita itu pun tergelak di tempat. Langkahnya tampak ingin mendekat kearah dimana Beauty berpijak.
Dengan cekatan Beauty menodongkan sebilah pistol miliknya kearah wanita bertopeng itu dengan tangan bergetar.
Bukannya takut, wanita itu malah semakin maju mendekat kearahnya.
“Kamu ingin menembakku? Coba lakukan saja kalau bisa!” tantang wanita topeng itu dengan yakin. Yakin jika Beauty tidak akan mampu menembaknya. Terlihat jelas dari tangan wanita itu yang terus bergetar.
Meski tangan Beauty bergetar hebat, namun tak memupus keberanian Beauty untuk melawan wanita itu. Dengan segenap keberanian, Beauty berusaha mengingat apa yang diajarkan Beny saat bertemu tadi.
Sambil menarik nafas, Beauty perlahan mulai menarik pelatuknya dan..
Doorr!
Akh!
Suara tembakkannya pun berhasil mengenai sesuai.
“Brengs*k! Kamu Beauty, tunggu pembalasanku! Arrgh..”
Wanita bertopeng itu mengerang kesakitan karena tembakan Beauty berhasil melubangi kakinya. Selanjutnya Beauty pun berusaha bersembunyi dari wanita bertopeng itu.
Tempat itu terasa sunyi, tidak ada penghuni manusia lain selain dirinya dan wanita bertopeng itu. Ia juga tidak menemukan ayahnya, harusnya ia tadi negosiasi dulu dengan wanita itu. Beauty merutuki kebodohannya berulang kali.
Disaat seperti ini Beauty ingin menghubungi Beny, namun sungguh sial. Gawai cerdas miliknya terjatuh saat ia berlari barusan. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas ia harus bisa bertahan dan terus berusaha menemukan ayahnya.
#
#
Di markas Beny
“Nyonya! Kemana kamu nyonya Beauty!” gumam Beny sambil terus menghubungi nomor atasannya itu.
__ADS_1
Insting Beny yang notabene sudah terbiasa menghadapi suatu keganjilan, Beny langsung menyimpulkan jika telah terjadi sesuatu dengan bos wanitanya.
Presepsi Beny semakin di perjelas dengan adanya tanda GPS dari gawai wanita itu yang tidak mengarah ke rumah sakit mau pun ke mansion keluarga Narendra.
Beny pun segera menghubungi Cleo, untuk meminta tolong memberi tahu Juna suami dari atasannya itu.
“Tuan Cleo, maaf mengganggu waktunya. Firasat saya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada nyonya Beauty tuan. Berdasarkan pelacakan GPS yang saya lakukan, nyonya Beauty sedang berada di sebuah dermaga lama kota P.”
“Apa maksudmu Beny? Kenapa gps Beauty bisa ada disana?”
“Kemungkinan sesuatu sudah berhasil menarik nyonya Beauty untuk pergi kesana tuan, saya harus segera menyusulnya kesana.”
“Baik segera temukan Beauty Ben, aku akan mengabari Juna suaminya sekarang.”
Tut!
Cleo pun langsung bergegas mengambil jaket dan juga kendaraan roda 2 miliknya. Semua pekerjaannya ia serahkan kepada orang kepercayaannya. Termasuk untuk mengurusi mama Dewi dan juga Sisie adiknya yang masih rutin menjalani terapi psikis.
Setelah hampir setengah jam memacu kuda besinya di jalanan, akhirnya Cleo sampai di kediaman Narendra. Namun keberuntungan belum berpihak padanya, Cleo tak menemukan Juna. Cleo pun bergegas kembali memacu kuda besinya di jalanan dan melesat menuju rumah sakit sesuai arahan satpam rumah Juna.
“Hei mas! parkir yang bener dong!” seru juru parkir rumah sakit.
Cleo tak menyahuti seruan juru parkir tersebut, tujuannya hanya ingin segera menemui Juna. Masalah orang tua Juna masuk rumah sakit tentu ia tidak tahu apa-apa.
Semenjak Beauty menikah dengan Juna, Cleo memilih tak ingin ikut campur kehidupan mantan istrinya itu.
Langkah Cleo melebar, seiring detak jantungnya berpacu kuat. Karena feeling Cleo mengatakan, jika semua ini ada hubungannya dengan seseorang yang pernah ia pergoki dulu. Tiba-tiba saja bayangan akan ancaman Tere mantan istri keduanya pun melintas begitu saja di ingatannya.
“Tere! Ini pasti ulah Tere!” geram Cleo.
Sampainya depan ruang rawat mami Lola, Cleo di tahan oleh beberapa anak buah Juna yang sedang berjaga.
“Katakan pada Juna, ada hal penting yang harus gue bicarakan ini menyangkut istrinya Beauty!” bentak Cleo kesal.
Anak buah Juna yang memang tak mengetahui siapa Cleo hanya berdiam dan saling pandang dan tetap menghalangi ruang gerak Cleo yang ingin masuk ke dalam.
“Ada apa ini ramai sekali?” tanya papi Tulus yang baru saja tiba.
__ADS_1
“Orang ini memaksa masuk tuan,” adu salah satu anak buah Juna.
“Lepaskan! Dia partner bisnis saya,” ucap papi Tulus tegas. Seketika kedua anak buah Juna melepaskan cekalan Cleo.
“Ada apa nak Cleo, sepertinya ada masalah yang mendesak?” tanya papi Tulus yang memang sudah tahu siapa Cleo.
“Saya ingin bertemu Juna pak Tulus, karena Beauty sedang dalam bahaya.”
Tanpa banyak bertanya lagi, papi Tulus segera membawa Cleo masuk ke dalam. Juna yang baru saja keluar dari kamar kecil pun menatap heran kearah papi Tulus yang tiba-tiba saja datang bersama Cleo mantan suami istrinya.
“Ngapain lo kesini?!” ketus Juna.
“Juna, gue kesini ingin ngasih kabar buruk. Ini menyangkut Beauty, Beauty sedang dalam bahaya.”
Cleo pun mulai menjelaskan seperti apa yang sudah ia dengar dari mantan bawahannya Beny. Tanpa menunggu Cleo selesai menjelaskan semuanya, Juna langsung bergegas keluar melewati Cleo dan papinya.
“Kalian tetap berjaga di sini selama aku pergi ya,” pesan Juna kepada bawahannya.
“Halo Ditto! Ada perubahan rencana, sekarang lacak keberadaan gps nyonya Beauty. Dan kerahkan seluruh anak buahmu yang tersisa. Kita akan pergi kesana!”
”Baik tuan.”
Tut!
Juna mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan, bagaimana tidak? Orang tercintanya dalam bahaya, namun ia malah tak nenyadarinya sama sekali.
“Buduh! Buduh! Lo Juna!” Juna merutuki kebodohannya sendiri karena terlalu fokus mencari Sri yang menghilang bagaikan di telan bumi.
Dari belakang Cleo berusaha mengejar Juna menggunakan kuda besi miliknya.
Ya Tuhan, tolong lindungi istri dan juga anakku.
Juna terus menitikkan air mata, tak pernah terbayangkan di benaknya. Kejadian seperti ini akan menimpa keluarganya.
Belum masalah maminya terpecahkan, kini istrinya malah menghilang entah kemana. Juna fikir, Beauty sedang beristirahat di mansion sebab wanita itu tak mengangkat panggilannya sedari tadi.
Mohon bijaklah dalam berkomentar, karena berkarya itu tidaklah mudah. Untuk suport dan dukungannya author ucapkan terima kasih banyak 🤗😘😘
__ADS_1