
Di tempat lain
Beauty yang tengah mencuci piring pun terkejut lantaran tiba-tiba saja piring yang sudah ia cuci terlepas begitu saja dan jatuh menyentuh permukaan lantai yang keras hingga menimbulkan bunyi yang memekakan telinga.
Prangg!!
“Ya Tuhan! Ada apa ini? Apakah gerangan yang terjadi?” desisnya seorang diri.
Dalam ingatannya terlintas bayangan Juna sang suami yang sudah hampir 2 hari ini tidak memberi kabar sama sekali.
Namun Beauty tetap berusaha untuk berfikir positif, mungkin suaminya sedang banyak urusan. Mengingat Juna seorang direktur di perusahaan papinya. Dan keadaan mami Lola yang tengah sakit pasti membuat Juna sibuk dan lupa untuk memberinya kabar.
Tanpa fikir panjang Beauty mulai memunguti pecahan beling piring itu menggunakan tangannya. Dan tanpa sengaja, jari telunjuknya tertusuk oleh pecahan beling itu saat ia hendak membersihkannya.
“ Akh! ”
Jantung Beauty berdenyut-denyut seiring luka yang terus mengucurkan cairan warna merah dari telunjuk tangannya.
Dengan segera Beauty mencuci lukanya yang menganga dengan air kran yang bersih meski rasa perih mulai membalut luka yang membuatnya meringis tertahan.
Rasa perih yang ia rasakan kini tak sebanding rasa rindu yang membelenggu akan ketidak hadiran Juna di sisi Beauty.
Ada rasa gelisah yang terselip dalam rindunya kepada sang suami. Hampir sebulan bersama, cukup membuat wanita berlesung pipi itu terbiasa akan sosok Juna.
Biasanya jika ada Juna, rumah itu selalu nampak ramai akan celoteh-celoteh yang pemuda itu lontarkan begitu saja.
“ Juna aku merindukanmu,” bisik Beauty pada keheningan malam tanpa bintang.
...💐 💐...
Paginya Beauty sudah terbangun dari tidur lelapnya. Terdengar suara kokok ayam bersahutan dan juga kentongan dari masjid terdekat. Sangat khas dengan suasana perkampungan.
Dipaksakannya mata untuk terbuka, meski sebenarnya ia enggan. Sudah 3 hari ini, Juna belum juga memberinya kabar membuat hatinya semakin di landa gelisah.
Tok!
Tok!
__ADS_1
Tok!
Terdengar pintu rumah di ketuk oleh seseorang yang berada di balik pintu rumahnya.
“Juna!”
Rasa rindu seakan mengalahkam akal sehat Beauty, dengan semangat wanita itu mulai beranjak untuk membukakan pintu seseorang yang ia sangka adalah Juna yang sudah kembali pulang.
Begitu pintu terbuka, betapa kecewanya hati Beauty. Ternyata Seseorang yang berada di balik pintu bukanlah seseorang yang sangat ia nanti. Senyum yang mulanya merekah kini berangsur redup.
“Ada apa dengan wajahmu Beauty? Kenapa nampak kecewa seperti itu? Dan kemana suamimu Juna, apa dia masih tidur?” tanya bertubi-tubi pria paruh baya yang tak lain pak Heru yang baru saja pulang dan diantar oleh saudaranya.
Beauty pun menggeleng pelan.
“Juna tidak ada di rumah ayah, Juna pamit pulang ke mansion keluarganya. Karena mama mertua Beauty sedang sakit,” lirih Beauty.
“Dan kenapa kamu tidak ikut?” tanya pak Heru lagi.
“Beauty masih belum siap ayah, Beauty takut serba salah. Jadi lebih baik Beauty mendoakan saja dari sini, lagian kata Juna tidak akan lama. Setelah mami Lola sembuh Juna akan kembali kesini yah.”
“ Ya sudah jangan cemberut seperti itu, coba sini bantu ayah. Ayah sedikit merasa kesulitan.”
Beauty pun membantu pak Heru untuk masuk ke rumah dengan mendorong kursi rodanya.
Pagi pun siang. Matahari semakin menanjak naik ke permukaan. Memancarkan sinarnya untuk menerangi seluruh jagat raya bumi.
“Yah, Beauty pamit untuk belanja. Ayah tunggu di rumah saja ya," pamitnya ke pak Heru.
“Iya yah.”
Beauty pun berlalu menuju sebuah warung sayur yang tak begitu jauh dari rumahnya.
Semua mata yang tengah berbelanja menatap kearah kedatangan Beauty. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang menyapa yang tak lain si pemilik warung.
“Eh.. neng Beauty nya? Putrinya pak Heru bukan?” tanya wanita berumur 40an itu.
“Iya benar bu.”
__ADS_1
“Saya ceu Odah temen ayahmu, sini neng mau belanja ya? Belanja apa?” tanya ceu Odah dengan ramah.
“Sayur yang ringan aja bu, ayah kolestorelnya lagi naik,” sahut Beauty sopan.
“Oh, yang ini aja ya.”
“Oiya...suaminya yang kasep (ganteng) kemana neng? Ih..eceu Odah mah iri pisan lihat neng udah cantik dapet suami kasep, wehh..paket komplit dah. Pasti keturunannya bule ini mah!" seru ceu Odah tanpa rem.
Beauty hanya menanggapi dengan senyuman. Dalam hatinya antara malu dan senang mendapat pujian.
“Suami lagi pulang ke kota bu, saya nemenin ayah di sini,” sahut Beauty masih dengan sopan.
“Duh..neng, jaman sekarang kalau di tinggal suami jangan mau! Jaman sekarang pelakor berkeliaran di mana-mana! Ceu Odah sarani buru samper suami neng geulis keburu di ambil orang nanti!”
Deg!
Apakah mungkin terjadi sesuatu dengan Juna? Sampai dia tidak mengabariku, ya Tuhan semoga suamiku baik-baik saja.
“Eh..iya bu, ya sudah saya permisi.”
“Nya mangga, makasih ya neng.”
Pamit Beauty setelah membayar belanjaanya. Sepanjang perjalanan Beauty selalu terngiang-ngiang akan ucapan ceu Odah teman ayahnya itu.
Beauty tahu suaminya Juna memang tampan, dan banyak yang menginginkannya. Namun Juna sendiri pernah bercerita kepadanya jika, suaminya itu tidak memiliki hasrat untuk menyentuh wanita lain.
Dan tentu saja Beauty tahu, cinta Juna begitu besar kepadanya.
Tak lama Beauty pun sampai di rumah.
“ Ayah Beauty pulang!” serunya.
“Ayah disini sedang istirahat nak,” balas pak Heru dari dalam kamar.
“Ya sudah, Beauty masak dulu buat sarapan ya yah?”
Tak ada sahutan dari kamar, mungkin ayahnya sudah beristirahat karena kondisi fisiknya yang melemah.
__ADS_1
Lalu Beauty bergegas ke dapur untuk memasak. Namun sesuatu keanehan terjadi. Tiba-tiba saja Beauty merasa enggan untuk memasak.
Entah, keinginan untuk memasaknya pun ia urungkan. Karena Beauty merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya