
“Bi Tum saya ijin keluar sebentar ya, tolong saya nitip mami dan semua urusan di rumah. Nanti kalau papi dan Juna sudah pulang, bilang saja saya sedang ada perkumpulan ibu hamil begitu,” pamit Beauty kepada bi Tum selaku asisten kepercayaan keluarga Juna.
Saat ini papi Tulus sedang berada di luar kota untuk pertemuan kolega bisnis dari luar negara. Yang mengharusnya pria paruh baya itu menginap untuk beberapa hari.
“Baik non Beauty, laksanakan!” balas bi Tum sambil memberi hormat kepada Beauty disertai cengiran.
Beauty pun hanya mengulas senyum. Dan selanjutnya Beauty memilih segera bergegas menuju tempat yang ingin wanita itu singgahi. Kali ini Beauty memakai pakaian tertutup, celana hamil semi kulot dan blouse simple di balut jaket jeans berwarna hitam untuk menutupi lekuk tubuhnya yang mulai membentuk terlihat dari luar. Tak lupa kacamata hitam menghiasi bingkai wajahnya yang sudah cantik.
Beauty menolak dengan ramah saat sopir pribadi papi Tulus menawarkan diri untuk mengantarnya pergi. Wanita hamil itu berdalih ingin naik taksi daring saja karena tak ingin merepotkan mang Asep yang memang mempunyai tugas ganda yaitu bertugas menjaga rumah sekaligus sopir pribadi mami Lola.
Sampainya di pos satpam, ternyata sebuah mobil alphard sudah menunggu di luar pagar mansion karena Beauty yang memintanya sendiri.
Sesaat, pandangan mata Beauty menatap kembali kearah mansion keluarga Juna. Alangkah terkejutnya Beauty, ternyata dibalik jendela yang ada lantai 2. Dari kejauhan Sri menatap tajam kearahnya tanpa berkedip.
Dengan segera Beauty memasuki mobil alphard itu, Beauty semakin di buat penasaran dengan segala keanehan tingkah Sri yang sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa hari ini.
“Bimo ya? Ayo kita jalan!” titah Beauty kepada pemuda yang duduk di bangku sopir.
“Baik nyonya Beauty.”
Mobil yang di kemudikan oleh Bimo pun segera melesat meninggalkan pemukiman elit itu. Berbaur dengan kendaraan lain yang sudah lebih dulu memadati arus jalan raya yang ramai karena bertepatan dengan akhir pekan.
Sampainya di tengah jalan, jalan raya yang tadinya ramai kini tampak lenggang. Beberapa kendaraan nampak menepikan kendaraan mereka untuk beristirahat sejenak.
“Maaf nyonya, sepertinya ada mobil yang sedan warna hitam yang sedari tadi mengikuti kita,” ucap Bimo dengan waspada.
__ADS_1
Pemuda itu mengambil sesuatu pada laci dasbord mobil dan mengeluarkan benda itu dari dalam sarungnya.
“Apa kau yakin Bimo?”
Pistol! pekik Beauty dalam hati.
“Maaf nyonya ini untuk berjaga-jaga saja, bila mana ada kejadian yang tidak kita inginkan terjadi. Karena saya perhatikan dari kaca spion, sedari tadi mobil sedan warna hitam itu tidak menepi dan tidak mendahului laju mobil ini,” ucap Bimo ketika menyadari raut terkejut dari bos barunya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan Bimo?” tanya Beauty mulai khawatir.
Keringat dingin membanjiri pelipis serta kedua telapak tangan Beauty. Di saat seperti ini tidak mungkin Beauty mengabari Juna, karena itu sama saja ia akan membongkar sendiri apa yang saat ini tengah ia lakukan di belakang suaminya.
“Nyonya, sebaiknya nyonya sembunyi dulu di mall yang ada di depan sana. Saya akan menghubungi anggota yang lain untuk meminta bantuan dan segera menyingkirkan tikus-tikus jalanan itu, Bagaimana nyonya?” usul Bimo.
“Baiklah, aku mengikuti rencanamu saja Bimo!” tukas Beauty tegas.
“Nyonya tunggu sebentar, saya akan berusaha kembali secepat mungkin,” pesan Bimo dengan setengah menunduk sopan.
“Baik, berhati-hatilah.”
Disaat Bimo sudah pergi, kenalan Bimo pun menemani Beauty berkeliling mall sambil mengobrol dengan wanita hamil itu.
Di luar sana, mobil Bimo berpacu dengan cepat, beberapa menit lalu Bimo sudah menelepon Beny untuk meminta bantuan.
Terjadilah aksi kejar mengejar antar mobil yang di kemudikan Bimo dengan sedan warna hitam itu. Di belakang Bimo ada beberapa anggota lain yang turut mengejar sedan hitam tersebut.
__ADS_1
Namun sial, sedan warna hitam itu akhirnya berhasil lolos dari pengejaran Bimo setelah berhasil menyeberangi sebuah rel kereta api. Sedangkan Bimo dengan anggota yang lain terjebak kemacetan di belakangnya.
“Sial!” umpat Bimo seraya memukul kepala kemudinya.
Lalu Bimo dan anggotanya yang lain memilih berbalik arah untuk menjemput Beauty yang sengaja di tinggal di mall. Setidaknya sedan berwarna hitam itu tak mengikuti perjalanannya bersama Beauty.
Karena jika tidak, markas besar mereka akan di ketahui oleh musuh. Sudah di pastikan sedan warna hitam itu, adalah musuh baru mereka yang sepertinya mengincar bos barunya yang tak lain Beauty sendiri.
“Bagaimana Bimo?” tanya Beauty saat mereka berjumpa kembali di basemant mall tersebut.
“Sudah aman nyonya, mari kita lanjutkan perjalanan kita menuju markas. Karena kak Beny sudah menunggu kedatangan nyonya Beauty di sana.”
“Ayo kita bergegas Bim!”
Mobil yang di kendarai Bimo pun berjalan kembali dengan mengusung dirinya. Di belakang mobil Bimo ada 2 mobil lagi yang mengawal dari belakang.
Di kursi penumpang, Beauty tampak duduk dengan gelisah. Kejadian tadi sungguh mampu membuat Beauty merasa tegang, sampai-sampai perutnya merasa kram dan melilit bersamaan.
Ya Beauty sudah membayangkan, bagaimana jika tadi ia sampai terlibat dengan aksi kejar-kejaran bahkan sampai tembak menembak dengan si pengemudi sedan hitam yang sempat ia lihat tadi?
Melihat Bimo menggengam sebuah pistol saja sudah membuat Beauty bergidik ngeri.
Itu seperti di film action yang sering ia tonton di layar kaca televisi. Beauty tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, beruntung Bimo tak sampai membawanya ikut serta dalam adegan menegangkan seperti itu.
Dengan masih mengatur nafasnya, Beauty nampak menghubungi nomor seseorang.
__ADS_1
“Haloo! Ditto, aku meminta bantuanmu!”