
Berkat kuasa mama Lola, kini Betty dapat memonopoli Juna dengan semaunya. Bahkan pekerjaan sekretaris pun ia yang harus mengantar langsung ke meja Juna.
"Juna, nanti sepulang kerja temenin aku ke butik yuk? aku ingin ambil pesanan," ajak Betty dengan manja kepada Juna.
"Hemm."
"Kok cuma hemm sih?"
"Hem..iya."
"Cuma itu? Juna, kamu dengar sendiri kan? Tadi tante Lola menyuruh kita untuk sering keluar bersama. Agar kita berdua punya cemistry."
"Hemm."
"Hemm..lagi?"
"Terserah loe deh! Gue nggak peduli, boring gue!" seru Juna yang mulai merasa bosan dengan keberadaan Betty di ruangannya.
Lalu Juna pun memutuskan untuk keluar ruangan. Untuk membuang rasa bosan yang akhir-akhir ini kerap kali hadir bersamaan dengan adanya Betty di sekitarnya.
"Juna! kamu mau kemana?" tanya Betty dengan suara tertahan.
Juna mengacuhkan tanya Betty yang berada dibelakangnya. Tatapannya lurus kedepan menatap meja sekretaris yang kini terletak di seberang ruangannya.
Beberapa hari tak bertegur sapa dengan sekretarisnya Beauty, membuat jiwanya merasa hampa.
Apalagi kini, sepertinya wanita berlesung pipi itu tampak seperti menjaga jarak dengannya.
Juna berdiri tak jauh dari meja kerja Beauty. Rasa ingin menghampiri dan menanyakan kepada wanita itu, kenapa akhir-akhir ini ia tak pernah membalas atau pun mengangkat panggilan darinya?
Namun baru selangkah dari niatnya, tiba-tiba gerakan Juna tertahan oleh seseorang.
"Mau kemana kamu Juna?" tanya Betty posesif.
Juna pun melepas kaitan tangan Betty dari lengannya dengan sedikit kasar.
"Loe bukan pacar gue! jadi loe nggak usah ingin tahu urusan gue apalagi mau ngikuti gue!" sungut Juna kesal karena Betty selalu saja ingin mengikuti kemana pun ia akan pergi.
"Tapi aku ini calon istrimu Juna, sebentar lagi kita akan bertunangan lalu menikah."
"Itu hanya menurut loe saja bukan gue!"
Juna pun bergegas menjauh meninggalkan Betty yang masih menampakkan wajah kesal menahan amarah.
Betty hampir saja melupakan keberadaan Beauty yang berada tak jauh darinya. Lalu ia pun berjalan dengan aura penuh ketidaksukaan kearah Betty seraya menghampiri meja kerja wanita berlesung pipi itu.
Tanpa permisi, Betty menyela Beauty yang tengah sibuk bekerja.
"Aku tahu kamu tadi mendengar perdebatan kecil kita, jadi aku harap kamu bisa mengerti Bee. Juna itu sudah di takdirkan untuk menjadi jodohku. Bersikaplah sopan seperti bawahan kepada atasan!" ucap Betty dengan tenang namun menusuk.
Ucapan Betty sukses mengalihkan atensi Beauty dari layar pekerjaannya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja Bett, mulai sekarang aku akan menjaga jarak dengan pak Juna."
"Okay, terimakasih pengertiannya. Selamat bekerja kembali."
"Sama-sama."
Beauty termangu menatap kepergian Betty yang sudah menghilang di balik pintu lift. Rasanya, yang barusan berbicara dengannya bukanlah Betty yang selama ini ia kenal.
Ia tak ingin ambil pusing. Yang Beauty inginkan saat ini hanyalah bekerja dengan sungguh-sungguh lalu pulang.
Berhubung besok sudah libur akhir pekan, ia harus menyelesaikan semua laporan hariannya hari ini juga.
...***...
"Akhirnya sudah selesai! aahh.."
Beauty merentangkan kedua tangannya setelah menyelesaikan laporan terakhir minggu ini.
Rasanya ia ingin cepat-cepat pulang lalu merebahkan tubuh lelahnya pada kasur yang empuk. Sore itu Beauty bisa pulang dengan santai, karena atasannya Juna sudah lebih dulu meninggalkan ruangannya.
Seperti biasa, ia akan pergi ke toilet sebentar untuk mencuci wajahnya dengan air dingin.
"Akh! segarnya! rasanya aku tidak sabar untuk segera pulang!" gumam Beauty pada diri sendiri.
Lalu buru-buru ia menyelesaikan hajatnya dan bersiap untuk pulang. Namun betapa terkejut Beauty, tak disangka di depan pintu sudah berdiri seorang pemuda dengan senyum seringainya.
Pemuda itu dengan cepat membekam mulut Beauty sebelum wanita itu berhasil berteriak. Dan membawanya ke dalam salah satu bilik toilet.
Beauty pun meronta-ronta dalam dekapan pemuda tersebut. Namun tenaganya tidak ada apa-apa dibanding dengan si pemuda.
"Auw! sakit!"
"Rasain! habis kamu g*la ! ngapain bawa aku ke dalam sini Juna?"
"Sssst! jangan keras-keras aku lagi sembunyi!"
"Sembunyi? maksudnya?" tanya Beauty dengan polos.
"Sssst!! diam saja."
Tak berlangsung lama pintu toilet pun terbuka. Buru-buru Juna menyalakan kran air agar keberadaannya tak di curigai oleh seseorang berada di luar bilik.
"Huh! kemana sih Juna? Katanya cuma sebentar ngambil barang yang ketinggalan," gerutu wanita itu.
"Siapa? Betty?" bisik Beauty tepat di telinga Juna.
Sedangkan Juna hanya menganggguk dan mengisyaratkan Beauty untuk diam.
Saking begitu dekatnya jarak antara mereka, membuat Beauty mampu mencium harum citrus yang menguar dari tubuh Juna.
"Oiya...gue kayaknya dah cantik belum sih?" monolog Betty pada cermin di depannya.
__ADS_1
Kemudian Betty terlihat mengambil lipstik dalam minibag miliknya. Dan memoleskan lipstik itu dengan samar ke bibirnya yang sedikit tebal.
Tak lupa parfum mahalnya ia semprotkan pula di beberapa titik di tubuhnya.
"Okay, loe sudah cantik ya Bett sekarang tinggal mencari pengeran loe," seru Betty lagi pada bayangan dirinya yang terlihat dari pantulan di cermin.
Betty pun terdengar melangkah keluar toilet. Tampaknya wanita berambut shaggy itu tak menyadari bahwa ada 2 orang tengah bersembunyi di dalam bilik toilet.
Begitu terdengar pintu menutup, Beauty memaksa untuk keluar namun gerakannya masih tertahan oleh lengan kekar Juna.
"Lepaskan Juna, apa-apain ini? Bagaimana nanti kalau ada yang melihat kita berdua disini? Bisa-bisa kita dianggap berbuat tidak terpuji di perusahaan. Ini toilet wanita!"
Beauty berusaha menekankan kepada Juna bahwa mereka kini berada di dalam toilet. Jika ada orang yang melihat, pasti mereka mengira yang tidak-tidak.
"Oww...baiklah, tapi jawab dulu pertanyaanku. Kenapa akhir-akhir ini kamu tak pernah membalas chat maupun panggilanku Bee?"
Beauty tampak menghela nafasnya.
"Begini Juna, sekarang hubungan kita hanya sebatas bawahan dan atasan. Kamu sudah di jodohkan, apalagi yang di jodohkan denganmu adalah temanku Betty. Aku hanya ingin menjaga perasaan Betty beserta ibumu Juna."
"Tapi...tapi setidaknya kita masih bisa berteman Bee. Dan aku sendiri pun masih tak yakin dengan perjodohan ini."
"Juna, percayalah. Pilihan mamamu itu yang terbaik. Betty sebenarnya orang yang baik. Dia begitu menyukaimu. Percayalah.."
"Tapi_"
"Juna please, jauhi aku!"
Beauty pun memilih keluar toilet terlebih dahulu untuk memindai di luar jika ada orang lain selain mereka berdua.
Kemudian Juna pun mengikutinya dari arah belakang.
"Kita berpisah disini, karena kita tidak boleh terlihat bersama Juna," saran Beauty.
Tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu, Beauty berlari meninggalkannya Juna yang masih mematung di tempat.
Kini Beauty sudah menunggu taksi online pesanannya di halte depan perusahaan. Bersamaan dengan itu muncullah, mobil Juna yang ditumpangi oleh pemuda itu beserta Betty.
Dari dalam Juna menatap Beauty yang duduk sendirian di halte. Timbullah rasa kekhawatiran dalam benak Juna. Namun bagaimana lagi, wanita itu lebih memilih menjaga jarak dengannya.
Tak lama terlihat seorang pria menghampiri Beauty. Dari jauh bisa terlihat bahwa sang pria tampak terlibat obrolan bersama wanita berlesung pipi itu.
Bahkan Beauty pun menanggapinya dengan senyuman.
Pertemuan kedua orang itu berhasil menyita perhatian Juna. Membuat pemuda itu menggeram pelan lalu memukul kemudinya dengan penuh amarah.
Jangan lupa dukungannya ya kak readers.
Dengan cara tinggalkan like, koment serta favoritkan biar tidak ketinggalan episode.
Biar author makin semangat up nya.
__ADS_1
Terima kasih. 🤗
Salam sayang dari author 😘😘