Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Rasa Takut Betty


__ADS_3

Paginya Betty terbangun dari tidur malamnya. Perasaan damai menyelimuti gadis itu, lalu dirapatkannya pelukan Betty pada dada bidang yang kini masih terlelap sambil memeluk tubuhnya erat.


Betty masih tak menyadari jika pria yang kini tengah tidur bersamanya adalah Amir Narayan. Pemuda yang baru beberapa hari ia kenal, karena pertemuan mereka yang tidak terduga.


Matanya yang terpejam, gadis itu buka paksa karena tiba-tiba hasratnya ingin buang air kecil sudah tidak tertahankan.


Dilepaskan tubuhnya dari pelukan pria yang masih terlelap itu. Lalu ia mencoba untuk beranjak menuju kamar kecil dengan mata menyipit menahan kantuk.


"Ouch! Kenapa rasanya seperih ini?" ringis Betty.


Untuk bergerak saja rasanya begitu sakit, perih dan ngilu bercampur jadi satu. Apalagi untuk berjalan, rasanya Betty tidak sanggup untuk berdiri.


Lalu Betty berniat untuk membangunkan pemuda yang ia sangka itu adalah Juna. Karena seingat Betty, ia melakukan pergulatan nan panas itu bersama Juna pria yang sangat ia cintai.


Namun gerakannya terhenti, manakala menatap pemuda yang masih terlelap itu. Betty mencoba mengucek-ngucek kelopak matanya beberapa kali, barangkali ia salah lihat karena efek alkohol dalam tubuhnya yang belum hilang.


Bayangan yang retinanya tangkap masih sama tak berubah. Itu artinya bayangan yang lihat itu nyata dan bukan hasil dari halusinasinya semata.


Sedetik kemudian Betty pun berteriak histeris.


"Aaaargggh !! Amir apa yang kamu lakukan disini!"


Buru-buru Betty mengambil piyama handuk dan segera mengenakan pada tubuh rampingnya. Sebelum Amir menyadari akan keadaan dejavu yang mereka alami.


Betty hanya bisa menatap nanar kearah Amir yang hanya terbungkus selimut. Begitu pula dengan tubuhnya sendiri yang tak mengenakan apapun di balik piyama itu membuat Betty merasa kacau.


Persendiannya seketika lemas bagaikan jelly yang mencair. Tubuhnya merosok ke lantai marmer yang dingin. Seluruh tubuhnya gemetar menahan kenyataan yang sungguh membuat jiwanya terguncang hebat.


Air mata penuh penyesalan Betty pun terus meleleh membasahi permukaan wajahnya.


Sedangkan Amir, pemuda berkulit sawo matang itu masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Namun saat ia sudah mendengar suara tangis seorang wanita, bola matanya pun terbuka lebar.


"Betty! Aku bisa jelasin semua ini. Semua ini tidak seperti yang ada di fikiranmu Betty," ucap Amir seraya berusaha mendekat kearah Betty yang merosok di lantai tak berdaya.


"Tidak Amir! Jangan mendekat! Cepat pergi dari sini, aku tak ingin melihatmu lagi! Huuu.."

__ADS_1


Betty menangis histeris takala ia mengetahui, kehormatan satu-satunya yang ia jaga selama ini. Telah diambil oleh seorang pria yang baru saja ia kenal.


"Betty, apapun yang akan terjadi nanti aku akan bertanggung jawab Bett. Aku tak akan meninggalkanmu," bujuk Amir lagi.


"Tidak Amir ! Tinggalkan saja aku! Aku tidak mencintaimu! Kamu itu hanya teman bagiku, Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini Amir ! Cepat pergi! Aku tak ingin bertemu denganmu lagi! Anggap saja kita tidak pernah bertemu! Dan lupakan apa yang sudah terjadi diantara kita!" usir Betty.


Amir yang sudah mengenakan pakaiannya kembali dengan lengkap pun menuruti apa yang Betty ucapkan. Karena tak tega melihat keadaan Betty yang sudah sangat shock.


Namun sebelum kepergian Amir, pemuda itu sempat berucap sesuatu kepada Betty.


"Aku janji tidak akan mengganggu hidupmu lagi Bet, namun jika terjadi sesuatu hal denganmu. Aku akan siap bertanggung jawab," gumam Amir kepada Betty.


Setelah berucap itu, Amir benar-benar pergi dari apartemen Betty. Pemuda itu benar-benar merasa sangat bersalah karena sudah merusak mahkota berharga milik wanita yang ia cintai.


"Bod*h kamu Amir! Bod*h!" gerutu pemuda itu pada diri sendiri.


Sedangkan Betty, gadis itu hanya bisa menangis sesegukan. Serta memukul-mukul tubuhnya sendiri berulang kali.


Setelah merasa lelah, dengan tertatih Betty berusaha menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Serta menumpahkan sebotol sabun cair ke seluruh tubuhnya, untuk menghilangkan noda-noda merah keunguan yang Amir tinggalkan hampir di sekujur tubuhnya.


Ternyata usahanya itu sia-sia. Noda merah keunguan itu masih menempel jelas di setiap inci tubuhnya. Dan Betty pun kembali menangis.


Tangisan gadis berambut shaggy itu berhenti, saat ia menatap concealer miliknya tertinggal di apartemen tepat diatas meja rias.


Dengan segera Betty meraih alat make up nya itu dan membubuhkan sedikit di area tubuhnya yang terlihat oleh mata.


Beruntung benda itu masih tertinggal di apartemennya, jika tidak pasti orang tua Betty mudah mengetahui perbuatannya dengan Amir dan menganggap bahwa anaknya sudah berbuat suatu hal yang kotor.


Karena pada dasarnya keluarga Betty termasuk keluarga yang menjunjung tinggi nilai kehormatan serta norma-norma keluarga mereka.


Oleh karena itu, kedua orang tua Betty tidak boleh mengetahui tentang kesalahan semalamnya bersama Amir pemuda yang baru saja ia kenal.


Meski akhirnya pemuda itu menawarkan diri untuk bertanggung jawab, namun Betty tak memiliki rasa apapun pada pemuda berkulit sawo matang itu. Apalagi mencintainya, secuil perasaan pun tidak ada.

__ADS_1


...* * *...


"Lupakan Betty! Lupakan!"


Gumam Betty yang tengah terduduk di dalam mini cooper miliknya yang sudah diantarkan Amir ke apartemen.


Kini Betty sudah berada di halaman pelataran mansion keluarganya.


Betty berulang kali menepuk-nepuk dengan lembut wajahnya yang sudah ia aplikasikan make up untuk menutupi sembab dari sisa-sisa air mata yang sudah ia tumpahkan berjam-jam lamanya.


Namun beberapa detik kemudian air matanya menganak sungai kembali. Entah apa yang akan ia jelaskan kepada kedua orang tuanya. Jika mereka sampai menc*um sesuatu hal yang janggal pada dirinya.


Bisa-bisa kedua orang tuanya murka dan akan mengusir Betty dari rumah dan mengangsingkan ke suatu tempat yang terpencil dari keluarganya.


Apalagi sampai mereka mengetahui, bahwa Betty yang dengan sengaja datang ke sebuah bar untuk sekedar minum-minuman karm. Dan berakhir dengan malam yang panas dengan seorang pria.


Membayangkannya saja sudah membuat tubuh wanita ini panas dingin. Takut apa yang ada dalam benaknya akan benar-benar jadi kenyataan.


Lalu di ambilnya kembali bedak untuk menyamarkan wajahnya yang sempat sembab. Gadis itu terus menghirup banyak-banyak oksigen sebelum ia turun dan memasuki mansion keluarganya.


Menghadapi keluarganya sendiri, rasanya seperti tengah menghadapi sidang keputusan hakim dengan vonis hukuman mati seumur hidup.


Betty mer*mas-r*mas telapak tangannya sendiri, untuk menghilangkan rasa gugup dan panik yang menyerang.


Belum sempat membuka pintu, mama Sulis sudah menghadangnya di depan pintu.


"Darimana saja kamu Betty?!" hardik mama Sulis dengan tiba-tiba.


"Ehh..anu ma, semalam Betty menginap di apartemen," lirih Betty dengan takut-takut.


"Kamu tau! Kamu itu seorang gadis tak sepantasnya kelunyuran keluar malam! Apalagi menginap seorang diri di apartemen! Awas saja jika kamu berbuat yang tidak-tidak di luar sana dan mencoreng nama baik keluarga Handoyo. Maka mama tidak akan segan-segan untuk mengirimmu ke menara silent!" ancam mama Sulis seraya telunjuknya menunjuk-nunjuk tepat di wajah Betty.


Mendengar nama menara silent di sebut, membuat sekujur tubuh Betty gemetaran hebat. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya dan kedua telapak tangannya.


...Ada apa dengan menara silent ya? Jangan lupa dukungan kalian sangat berarti buat author🤗 jgn lupa tinggalkn jejak ya......

__ADS_1


__ADS_2