Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Kehidupan di Desa


__ADS_3

Sudah 3 minggu ini, Beauty dan Juna serta pak Heru tinggal dengan damai di rumah sederhananya yang terletak di sebuah kampung jauh dari perkotaan.


Juna memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan mewahnya, hanya demi seorang wanita yang sangat ia cintai. Yaitu Beauty.


Beauty sangat begitu berpengaruh dalam kehidupan Juna. Seorang wanita yang berhasil mematahkan stigma negatif Juna selama ini tentang mahkluk bergender wanita.


Jika dulu Juna menganggap wanita itu hanya mahkluk pengganggu dan merepotkan, namun baginya sekarang wanita itu bagaikan sabu yang bisa membuatnya candu. Presepsi ini hanya berlaku bagi dan hanya untuk sang istri Beauty.


Bagi Juna, wanita berlesung pipi itu sekarang, bagaikan rumah utama dimana Juna selalu merasakan ingin pulang.


Seperti pagi ini, Juna buru-buru menyelesaikan pekerjaannya di ladang milik pak Heru. Baru saja mencangkul 2 garitan, Juna sudah merasa kelelahan.


Akibat akun bank milik Juna yang dibekukan oleh mami Lola, kini Juna harus berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan hasil keringatnya sendiri.


Bagi Juna ini adalah kerjaan terberat dalam hidup pemuda itu, namun seberat apapun itu akan Juna lakukan untuk sang istri tercinta.


Bahkan menjadi pengemis pun ia rela, jika itu harus ia lakukan.


Karena tidak ada keahlian apapun yang Juna bisa lakukan selain mencangkul. Suatu pekerjaan yang terlihat oleh mata dan tidak begitu sulit. Hanya membutuhkan tenaga extra untuk melakukannya.


"Assalamu'allaikum, aku pulang!" seru Juna seraya meletakkan cangkul beserta topi khas petani yang terbuat dari anyaman bambu miliknya di atas bangku yang terbuat dari kayu.


"Wa'allaikumsalam!" balas pak Heru yang tengah memperbaiki salah satu barang elektronik milik tetangganya.


Selama ini, untuk bisa menyambung hidupnya. Pak Heru bekerja sebagai tukang servis barang elektronik di kampung tempatnya tinggal.


Berkat keahliannya itu, pak Heru mampu membeli kursi roda yang ia pergunakan saat ini. Karena jarangnya seseorang yang memiliki skill sepertinya, membuat pak Heru tak sedikit permintaan yang datang untuk memperbaikan barang elektronik para warga di sekitar rumahnya.


Seperti televisi, penanak nasi, kipas angin serta radio. Dengan kondisi aliran listrik di tempatnya yang tidak stabil, membuat kebanyakan barang-baranh elektronik rumahan mudah rusak.


Beauty baru saja selesai masak. Wanita berlesung pipi itu keluar dengan membawa gorengan pisang yang ia buat beserta 2 cangkir teh. Satu tanpa gula dan satu dengan gula sedang.


Karena pak Heru memiliki kadar gula tinggi, oleh sebab itu Beauty memberikan teh tanpa gula kepada beliau.


Setelah mencuci kedua kaki serta tangannya, Juna ikut mengerumumi sang istri yang terlihat membawa makanan di atas nampan.

__ADS_1


Tanpa permisi Juna mencomot sepotong pisang goreng yang masih Beauty bawa.


"Junaaa!!" Protes Beauty karena sikap Juna menurutnya tidak sopan karena mendahului orang tua.


Beauty hanya menghela nafasnya pasrah, ketika sudah menghadapi sikap suami kecilnya itu yang masih saja slengekan.


Sedangkan pemuda yang sempat di tatap horor olehnya hanya nyengir kuda. Itu lah Juna, pemuda slengekan yang ia temukan di tepi danau.


Pemuda yang munurutnya dulu, tidak lebih penting dari masalah rumah tangganya. Kini, malah berubah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.


"Sudahlah Be, suamimu pasti sangatlah lelah dan lapar karena sudah bekerja dari pagi. Biarkan dia makan dahulu, ayah masih kenyang," tegur pak Heru.


"Baik ayah."


"Nih, makan aja gorengannya ya Junaa. Di dapur masih ada jika mau tambah," ujar Beauty sambil meletakkan sepiring gorengan dan secangkir teh manis di hadapan pemuda itu.


"Terima kasih istriku sayang," balas Juna dengan menampilkan senyum termanis andalannya.


Wajah Beauty merona saat mendengar panggilan sayang yang dilontarkan Juna didepan ayahnya.


...* * *...


Juna duduk terlentang sambil mengipas-ngipaskan topi anyaman khas petani miliknya tepat di depan wajah pemuda itu yang nampak memerah menahan panas.


Pekerjaan yang pemuda itu lakukan cukup menguras tenaga. Sesekali ia memijat kecil lengan serta telapak tangannya yang nampak memerah dan mengapal.


Melihat itu, hati Beauty jadi terenyuh. Ia tak menyangka jika suami kecilnya akan rela meninggalkan kehidupan mewahnya hanya untuk bisa hidup sederhana bersamanya di kampung.


"Pasti capek ya, mau aku pijitin?" tawar Beauty.


"Mau..mau yank, tapi aku belum mandi. Aku mandi dulu ya?"


"Iya."


"Ayah, Juna permisi mau mandi dulu geurah banget ini," pamit Juna ke pak Heru yang baru saja selesai bekerja.

__ADS_1


"Iya silahkan aja nak Juna, kenapa harus pamit pula ke ayah. Anggap saja ini rumah sendiri," balas pak Heru sambil terkekeh.


Juna pun jadi merasa kikuk sendiri, pemuda itu melangkah dengan malu-malu melewati mertuanya dan juga sang istri.


Kehidupan seperti ini sangatlah terasa damai bagi seorang Juna yang baru saja merasakan hidup sederhana. Sudah puluhan tahun tinggal di hiruk pikuk keramaian ibu kota membuatnya sangat asing akan kehidupan sebagai rakyat biasa.


Tidak ada berkas-berkas menumpuk yang harus ia tanda tangani setiap hari, tidak ada klien-klien wanita yang kerap kali menggodanya.


Tidak ada telepon yang selalu mengganggunya siang maupun malam. Selama tinggal di kampung, Juna sengaja mengnon-aktifkan nomornya untuk menghindari gangguan-gangguan yang kerap kali datang.


Tidak hayal gangguan itu datang kapan pun dan dimana pun, mengingat posisi Juna yang menduduki sebagai seorang Ceo dan calon pewaris tertinggi dari keluarga Narendra.


Untuk saat ini jabatan serta tanggung jawabnya di pegang kendali oleh papi Tulus selaku owner perusahaan Narendra grup.


Beauty hanya menatap dengan tersenyum kepergian sang suami. Wanita berlesung pipi itu tengah merasakan kedamaian akan hidup berumah tangga seperti yang selama ini ia inginkan.


Namun jauh di dalam lubuh hatinya tengah di selimuti rasa risau. Akan pernikahan keduanya ini. Akankah selamanya seperti apa yang ia inginkan? Ataukah akan ada takdir lain yang akan menyela rumah tangganya kembali.


...* * *...


Malam harinya Juna masih terjaga. Setelah kegiatan pijat memijat yang dilakukan oleh sang istri dan berakhir dengan aktivitas panas yang menguras keringat mereka. Juna nampak termenung di tepian ranjang yang baru saja ia beli kemarin.


Lalu pemuda itu beranjak keluar kamar tanpa menggunakan alas kaki. Dan di raihnya gawai cerdas miliknya yang sudah 2 minggu tak tersentuh sama sekali.


Di dalam rumah nampak terasa panas, oleh sebab itu Juna memilih untuk keluar rumah untuk mencari udara segar.


Malam semakin larut, udara dingin terasa menusuk namun tidak bagi Juna. Wajah serta dahinya masih di penuhi keringat sisa-sisa pergulatan panasnya bersama Beauty.


Semilir angin malam membelai lembut permukaan kulitnya. Kulit tubuh Juna yang biasanya selalu putih bersih kini nampak berwarna kecoklatan akibat aktivitasnya setiap pagi ke sawah untuk bekerja.


Pemuda itu terlihat mengotak ngatik gawai cerdasnya dan semenit kemudian terdapat banyak panggilan serta pesan-pesan yang baru saja masuk dalam layar gawainya.


Ada satu pesan yang membuatnya sedikit terkejut. Yaitu pesan dari ayahnya papi Tulus Narendra.


'Juna, mamimu sakit. Cepatlah pulang, kami menunggu kedatanganmu!'

__ADS_1


To be continue_


__ADS_2