Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Kunjungan mama Lola


__ADS_3

Pada siang hari, kantor dibuat heboh dengan kedatangan seorang wanita berbusana mewah. Wanita itu memakai setelan beserta aksesoris berkelas keluaran rumah mode ternama dari Eropa.


Dibelakangnya berdiri 2 orang pria bertubuh kekar yang senantiasa menjaganya. Dan juga seorang wanita cantik berdiri di sampingnya.


Semua orang sudah mengenal kedua wanita itu. Tanpa basa basi rombongan itu langsung menuju ruang kerja Juna.


Tanpa permisi pemimpin rombongan itu menyeruak masuk ke dalam ruangan. Dan mendapati Juna sebagai atasan tengah bersenda gurau dengan Beauty sebagai bawahannya.


"Apa-apaan ini?!" seru pemimpin rombongan itu.


Juna beserta Beauty pun langsung terdiam menyudahi aksi bersenda guraunya. Sedangkan Beauty sangat terkejut kenapa bisa Ibu Lola selaku owner perusahaan dan juga mamanya Juna bisa datang bersama temannya Betty.


Banyak hal yang tidak ia ketahui selama dirinya tidak ada di kantor.


"Pantas saja, omset perusahaan akhir-akhir ini menurun itu karena ketidakseriusan kamu dalam bekerja Juna! Dan kamu sebagai bawahan, harusnya kamu tahu batasanmu!" tunjuk mama Lola kearah Beauty.


"Baik bu, maafkan saya."


"Maaf.. maaf!"


"Mami! kenapa mami tak bilang-bilang kalau ingin berkunjung ke kantor?" tanya Juna yang menangkap sinyal tak baik dari kedatangan maminya beserta wanita pilihan maminya itu.


"Apa mami harus minta ijin padamu terlebih dahulu Juna? Ini kantor mami jadi terserah mami dong mau datang kapan saja!"


Juna tak mampu berkata-kata lagi. Sepertinya kedatangan mamanya ke kantor membawa amarah yang meluap-luap. Juna sudah tahu kira-kira siapa yang berhasil membuat mamanya begitu terlihat marah.


Pandangannya jatuh kearah Betty yang memasang senyum semanis mungkin kearahnya.


Pasti wanita itu yang mengadu yang tidak-tidak kepada mami! Huh!


"Jeki Jono ! cepat pindahkan meja sekretaris itu ke luar ruangan! Tak seharusnya sekretaris itu satu ruangan bersama atasannya! Seperti tadi kalian bukannya bekerja malah bersenda gurau! Kalian fikir tempat ini taman hiburan?!"


"Mam, bentar mam. Kenapa mami harus bertindak seperti ini? biarkan saja meja Beauty disini, Juna janji Juna nggak akan seperti tadi. Juna akan lebih serius menjalankan perusahaan papi ini mam."


"Kamu fikir mami tidak tahu?! Kamu menyukai wanita biasa ini kan?! Kamu lupa sebentar lagi kamu akan bertunangan dengan Betty Juna! Tolong jaga perasaannya!"


Apa?! Jadi-jadi wanita yang sudah di jodohkan dengan Juna itu Betty? Pantas saja tadi Betty bersikap acuh tak acuh kepadaku. Harusnya kamu sadar siapa dirimu Beauty.


Berulang kali Beauty merutuki kebod*hannya dalam hati. Kenapa juga ia tak pernah menanyakan siapa wanita yang sudah di jodohkan dengan Juna?


Namun menurutnya ini bukan ranahnya. Jadi ia tak perlu mengetahui lebih jauh masalah atasannya itu.

__ADS_1


"Bapak Juna, dan ibu Lola sebelumnya saya minta maaf. Lebih baik saya keluar untuk membereskan meja kerja saya."


"Silahkan! Tapi ingat, atasanmu Juna ini sudah memiliki calon istri. Jadi jaga sikapmu ya!" balas mama Lola sinis.


"Mami!" sela Juna.


"Baik ibu, saya mengerti."


Betty yang berada di samping mama Lola, terlonjak kegirangan di dalam hatinya. Entah hati nuraninya seakan menghilang dan dibutakan oleh cinta.


Seolah diantara Betty dan Beauty tidak pernah ada hubungan. Padahal keduanya sudah berteman semenjak duduk di bangku sekolah menengah.


Beauty tidak mempermasalahkan jika ia harus berada diluar terpisah dengan atasannya. Karena sedari awal, sebenarnya ia merasa keberatan jika harus bekerja satu ruangan.


"Juna, Lova! ikut mami sekarang! Mami ingin mengajak makan siang bersama kalian berdua. Biar Jeki dan Jono yang membereskan ini semua!" ucap mama Lola dengan tegas.


"Baik tante," balas Betty kalem.


Dalam hatinya tersenyum licik. Jika ia tak bisa mendapatkan hati Juna secara baik-baik, mungkin dengan sedikit paksaan bisa membuat pemuda itu menyerah.


Maafkan aku Juna, aku harus memanfaatkan kelemahanmu yang tidak bisa menyakiti hati mamimu itu.


Dengan wajah dongkol Juna mengikuti kedua wanita itu. Pandangannya menatap tajam kearah Beauty


Saat pandangan mereka bersitubruk, Juna mengucapkan sebuah kata tanpa suara namun masih bisa terbaca oleh Beauty.


"Maafkan aku."


Buru-buru Beauty memutus kontak matanya dengan atasannya itu. Sungguh kali ini ia tak ingin terlibat masalah lagi.


Mulai saat ini, ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan menyampingkan semua urusan diluar pekerjaan.


...💐💐...


Disaat Beauty tengah serius membuat laporan untuk akhir bulan, tiba-tiba benda canggih berbentuk persegi miliknya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Hallo, dengan saya sendiri? iya...baik nanti saya akan datang ke kantor polisi pak. Terima kasih."


Sepulang dari bekerja Beauty buru-buru pulang untuk menghindari bertemu dengan Juna. Setelah mendapat peringatan langsung dari sang pemilik perusahaan membuatnya berfikir harus menjaga jarak dari atasannya tersebut.


Dan juga tadi Beauty mendapat telepon dari kantor polisi untuk di mintai keterangan mengenai penganiayaan yang Cleo lakukan terhadap Anjar.

__ADS_1


Kini Beauty sudah berada di kantor polisi. Sekitar 20 pertanyaan yang diajukan kepadanya dapat ia jawab dengan jujur dan dengan sebenarnya.


Usai memberi keterangan sebagai saksi, Beauty menghampiri Cleo yang kini masih mendekam dibalik jeruji besi.


"Apa kabarmu mas Cleo?"


"Alhamdulillah baik, terima kasih kamu sudah mau datang dan memberikan keterangan sebagai saksi kepada polisi Bee," ucap Cleo dengan tulus seraya terus menatap wajah cantik sang mantan.


"Sama-sama mas."


"Kamu baru pulang kerja?" tanya Cleo dengan terus menatap wajah ayu Beauty dari dekat.


"Iya mas, mas Beauty hanya ingin bertanya. Memangnya dimana Tere dan Sisie berada? Kemarin Beauty sempat bertemu mama Dewi dan menanyakan keberadaan mereka?"


"Tere ya?"


Cleo tampak menunduk lalu tertawa hambar sedangkan Beauty masih menanti apa yang selanjutnya akan Cleo ucapkan.


"Tere ternyata telah menipuku selama ini Bee, Aku benar-benar telah tertipu mentah-mentah oleh wanita itu. Ternyata niatnya mendekatiku selama ini hanya untuk membalaskan dendam. Dan kehamilannya hanya sebuah kepalsuan," tutur Cleo dengan tersenyum getir.


"Membalaskan dendam?" tanya Beauty tak mengerti.


Tiba-tiba Cleo bersimpuh di hadapan Beauty yang masih terduduk di kursinya.


"Bee, apa kamu bersedia memaafkan mas Bee? Jujur mas sangat menyesal dengan semua yang mas pernah lakuin sama kamu Bee."


"Mas apa yang mas lakukan? bangunlah!"


Pria itu tak mengindahkan protes Beauty, ia masih bersimpuh di bawah kaki wanita yang kini sudah berstatus menjadi mantan istrinya.


Air mata pria tampan dengan bulu-bulu halus menghiasi rahangnya itu tampak mengalir deras.


Raut wajahnya menampakkan penyesalan yang teramat dalam.


"Maaf kan mas Bee, sedari awal mas memang tidak sepenuhnya jujur terhadapmu dan pernikahan kita. Mas telah banyak membohongimu."


Cleo terus terisak di hadapan Beauty. Sedangkan wanita berlesung pipi itu tak berucap sepatah kata pun.


Pernafasannya terasa sesak seolah ada sesuatu yang menghimpit paru-parunya. Dan juga ia merasakan sakit itu kembali. Luka lama yang ingin ia lupakan, kini terasa perih seperti di taburi garam.


"Mungkin ini karma mas karena sudah mendustai dan menyakiti hatimu selama ini Bee, dengan sepenuh hati mas memohon ampun dan maaf," lanjut Cleo lagi seraya menggenggam telapak tangan wanita berlesung pipi itu dengan erat.

__ADS_1


Beauty masih tak bisa bersuara. Pita suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Hanya air mata yang memberikan jawaban betapa perih masa lalu yang pernah ia lalui.


__ADS_2