
Seperti biasa, setiap pagi Beauty selalu melakukan aktivitas paginya dengan membersihkan rumah. Meski akhir-akhir ini, rasa kantuk dan malas datang menyerang.
Namun Beauty tetap bersikeras mengerjakannya. Menyadari ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya, tidak lantas membuat Beauty untuk bermalas-malasan.
Perasaan ini sudah sering ia rasakan. Mungkin ini juga faktor kelelahan hati dan juga raganya yang tak kunjung menerima kabar dari suaminya Juna.
Bahkan Beauty sampai memeluk baju Juna agar bisa terlelap setiap malam. Entah sebegitu rindunya kah dirinya kepada Juna? Sampai ia melakukan hal-hal yang menurutnya aneh.
Jika dulu sering di tinggal mantan suaminya Cleo keluar kota, meski rindu namun ia tak sampai melakukan hal yang menurutnya aneh seperti yang di rasakannya sekarang.
Saat Beauty tengah serius mencuci piring, tiba-tiba saja sepasang lengan kekar melingkar dengan sempurna di tubuhnya yang ramping. Reflek membuat Beauty terlonjak dan hampir berteriak jika saja tangan itu tidak segera membekam mulutnya.
“Ssssttt! Ini aku !” bisik suara itu tepat di daun telinga.
Beauty terus meronta-ronta, air matanya pun meleleh seiring belaian yang orang di belakangnya lakukan pada tubuhnya.
Ada rasa trauma sendiri yang Beauty rasakan, saat lengan kekar itu memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang.
Beauty berusaha memukul-mukul lengan kekar yang terus saja memeluk tubuhnya. Saat si pemilik lengan kekar itu mengendus-ngedus aroma tubuhnya.
Dalam benak Beauty saat ini, orang yang kini berada di belakangnya adalah Anjar sepupu Cleo yang selalu bersikap kurang ajar terhadapnya. Dan berhasil menoreh trauma dalam hidup Beauty.
“Hmmmmp!”
Beauty terus berusaha berteriak dalam bungkaman yang pria itu lakukan. Namun semenit kemudian tubuhnya merosot ke lantai. Beruntung lengan kekar itu, mampu menahan tubuhnya hingga tidak sampai menyentuh lantai keramik yang dingin.
“Bee...Bee! Kamu kenapa sayang?!” tanya Juna panik saat menyadari istrinya pingsan tak sadarkan diri.
Ternyata sang pelaku pembungkaman adalah suami dari pada Beauty sendiri yaitu Juna.
Niat hati ingin memberi kejutan serta mengerjai sedikit sang istri malah berujung membuat Beauty pingsan. Juna pun mengusap wajahnya kasar.
Dengan cekatan Juna membaringkan tubuh lemah Beauty di atas ranjang milik mereka. Lalu pemuda itu bergegas keluar rumah untuk menemui seorang petugas kesehatan.
Bertepatan dengan itu, pak Heru baru saja pulang menggunakan tongkat kruk untuk membantu pria paruh baya itu berjalan.
__ADS_1
“Nak Juna! Kamu sudah pulang ?!” sapa Heru diambang pintu.
“Baru saja ayah.”
“Lalu kenapa kamu terburu-buru seperti itu, memangnya mau kemana lagi?”
“Beauty pingsan yah, Juna mau manggil dokter dulu,” pamit Juna dan segera berlalu.
Tak lama Juna datang bersama dokter yang kebetulan bertugas di kampung itu. Dengan segera dokter itu memeriksa tubuh Beauty yang terlihat sangat pucat.
Setelah beberapa menit memeriksanya, dokter itu pun mulai melepas stetoskop yang mengait pada kedua telinganya.
“Begini aa, apa sebelumnya teteh ini mengalami salah makan atau apa? Karena saya periksa sepertinya pencernaannya sedang tidak baik?” tanya sang dokter.
“Saya tidak tahu dok, beberapa hari ini saya pergi tidak ada di rumah.”
”Maaf dok, saya menyela,” sela pak Heru.
“Tidak tahu kenapa akhir-akhir ini anak saya wajahnya nampak pucat, setiap kali saya tanya kenapa selalu saja jawabnya baik-baik saja. Dan juga nafsu makannya pun tak seperti biasanya," jelas pak Heru yang selalu memperhatikan perilaku putrinya yang nampak aneh dari biasanya.
“Apa aa ini suaminya teteh ini? Apa kalian pasangan baru menikah?” tanya dokter itu lagi yang nampak terdengar aneh di telinga Juna.
“Benar dok, lebih tepatnya sebulan yang lalu kami menikah,” jelas Juna.
“Kalau gitu selamat ya a, kemungkinan istri aa ini sedang mengalami tanda-tanda kehamilan dini,” jeda sang dokter.
“Apa?! Hamil dok?” pekik Juna terkejut.
“Saya sendiri belum yakin, karena ini baru perkiraan saya saja. Untuk lebih menyakinkan, saya sarankan nanti untuk mengetesnya dengan alat tes kehamilan yang akurat. Atau datang ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan USG.”
“Tes kehamilan? USG?” tanya Juna menyakinkan lagi indera pendengarannya untuk beberapa kata yang terdengar tampak asing.
“Begini saja ya aa, tetehnya akan menjalani rawat jalan dulu. Sekarang akan saya berikan infus dan beberapa obat injec penambah stamina. Karena? sepertinya tubuh putri bapak sangat lemah. Saya sarankan untuk mengurangi aktivitas-aktivitas fisik yang memicu kelelahan, karena sepertinya kandungan teteh ini sangat lemah,” ucap dokter itu kepada pak Heru dan juga Juna.
“Silahkan saja dok, apapun lakukan saja agar putri saya kembali sadar,” sahut pak Heru.
__ADS_1
Sedangkan Juna terdiam di tempatnya. Ada rasa bahagia yang membuncah yang ingin sekali ia suarakan. Namun tertahan oleh sesuatu.
Dari tempat duduknya, Juna dibuat semakin merasa bersalah di samping tubuh istrinya yang terbaring lemah.
Apalagi nanti jika ia memberi tahu kepada wanita itu, bahwa ia akan berencana menikahi Betty karena insiden yang tak terduga yang menimpanya kemarin saat pulang ke mansion.
Juna semakin di buat kalut oleh fikirannya sendiri. Pemuda itu sampai beberapa kali menyugar rambutnya untuk menghilangkan gelisah yang tengah ia rasakan.
...★★★...
Wanita berlesung pipi itu mengerjap-ngerjapkan bulu mata lentiknya. Karena sebuah suara tangisan sukses mengusik tidurnya yang baru sempat terpejam.
Di paksakannya mata itu terbuka untuk melihat siapa gerangan yang sedang menangis. Karena seingatnya tidak ada perempuan lain di rumah itu selain dirinya.
Tapi, tunggu dulu! Ini bukan suara perempuan, melainkan suara seorang laki-laki!
Beauty akhirnya membuka penglihatannya. Ia meringis tertahan karena Kepalanya masih merasakan berdenyut-denyut dan rasa pusing yang mendera.
Manik retinanya mencoba berpencar mencari asal suara itu, namun sebuah pemandangan langka berhasil membuat wanita berlesung pipi itu tercenung.
Di sampingnya nampak terduduk seorang pria yang terus saja menunduk seraya menggengam sebelah tangannya yang tidak tertancap selang infus.
Dari tempatnya berbaring, Beauty mampu melihat bahwa pria itu kini sedang menangis, terlihat dari punggungnya yang bergetar. Dan juga isakan kecil yang sukses memanggil kesadarannya.
“Hai ! you cry? ”
Pemuda itu pun mengangkat pandangannya dan akhirnya tatapan keduanya saling mengunci satu sama lain. Ada rasa rindu menggelora yang terpancar dari kedua pasang mata yang saling menatap itu.
Juna pun buru-buru menghapus sisa air mata pada wajahnya, dan beranjak dari duduknya untuk mencium kening sang istri.
“Kamu berhasil membuatku khawatir Bee!” ucap Juna dengan suara seraknya.
Pemuda itu terus menciumi tangan lemah istrinya yang ia genggam.
“Maafkan aku, aku sendiri juga tidak tahu ada apa dengan tubuhku saat ini Juna. Seluruh tubuhku terasa sakit dan ngilu, kepalaku sering terasa pusing jika berlama-lama berdiri,” tutur Beauty lemah.
__ADS_1
“Kamu hamil.”