Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Kekecewaan Betty


__ADS_3

Hati Betty Lovanka begitu kecewa dan merasakan sakit. Sakit akan pengkhianatan temannya sendiri yaitu Beauty. Padahal wanita itu tahu, bahwa Betty begitu mencintai dan mendamba seorang Juna.


Meski, wanita yang sudah berstatus janda itu sempat melontarkan kalimat ungkapan maaf. Namun rasa kecewa itu lebih mendominan dalam hatinya.


#Flasback


"Jeng, apa-apaan ini jeng?!"


"Maafkan kami jeng, ini hanya salah paham."


"Lebih baik kita pergi saja dari sini daripada kita dipermalukan seperti ini! Ayo Lova sayang! Ayah kita tinggalkan keluarga dramatis ini!" ajak mama Sulis seraya keluar mansion menuju mobil mereka.


Mama Sulis pun menarik lengan Betty yang masih terpaku beserta suaminya. Namun saat hendak pergi, sebuah tangan berhasil mencekal serta menahan langkah kaki Betty dan keluarganya.


Betty yang hatinya sudah dipenuhi rasa kecewa dan amarah pun menghentikan langkahnya. Air matanya terus bercucuran menandakan betapa sakit yang gadis itu rasakan.


Lalu gadis itu hapus air matanya dengan kasar yang terlanjur membasahi area wajahnya yang kuning langsat. Dan berujar kepada Beauty.


"Ada apa?!" tanya Betty dengan ekpresi datar.


Beauty pun menggenggam telapak tangan temannya itu dengan lembut. Dengan air mata yang menganak sungai, Beauty mengucapkan permintaam maaf kepada temannya Betty.


Namun genggaman itu pula di tepis dengan kasar oleh Betty.


"Sebagai teman, aku sungguh-sungguh memohon maaf padamu Bett. Bukan maksudku untuk menghancurkan impianmu. Namun aku juga tidak bisa menolak mau pun membohongi perasaanku sendiri saat Juna memintaku untuk menikah," ungkap Beauty jujur.


Betty mencoba menelisik lebih dalam manik mata wanita berlesung pipi itu. Tidak ada kebohongan disana, namun pintu maafnya seakan sudah tertutup.


"Simpan saja air mata buayamu itu Bee! Aku fikir kamu teman yang bisa mengerti aku. Mulai saat ini kamu bukan temanku!"


#FlasbackOff


Namun kini keduanya malah diam-diam sudah menikah. Tapi sejak kapan? Selama ini ia selalu di samping pemuda itu?


Kedatangan Juna membawa serta istri sirinya Beauty membuat hati Betty merasakan bukan lagi namanya patah hati melainkan hancur. Karena Ini baru pertama kalinya seorang Betty mencintai seorang pria dengan sungguh-sungguh.


Sepulang dari mansion keluarga Juna, Betty memilih pisah dari orang tuanya dan mengemudikan roda empatnya seorang diri.


Betty menambah kecepatan laju kemudinya dengan menaikan giginya. Pandangannya lurus ke depan. Dalam benaknya terus saja terbayang-bayang akan pernyataan Juna yang menyatakan tentang pernikahannya bersama Beauty.


Pengorbanan serta usahaku habis-habisan untuk berubah menjadi lebih cantik serta feminim di mata Juna. Ternyata tidak berarti apa-apa, aku kalah oleh seorang wanita yang sudah berstatus janda. Cckk!


Betty merasa perubahannya selama ini sia-sia. Ia merasa konyol sendiri merubah penampilan hanya untuk pria yang belum tentu memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

__ADS_1


Harusnya aku tidak boleh terlalu percaya diri. Juna bukanlah pria pada umumnya. Pemuda itu tidak mudah tertarik akan penampilan seseorang. Seharusnya ku sadari itu sedari dulu, batin Betty lagi.


Betty terus bergelut dengan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Baru saja merasakan cinta, ia harus menelan pahit rasa sakit serta kecewa akan sebuah penolakan.


Saat Betty masih terhanyut akan perasaan patah hati yang baru saja ia alami, tiba-tiba muncullah seseorang yang melintas tepat di depan mobilnya.


Reflek Betty menginjak remnya dengan cepat dan seketika menimbulkan suara decitan keras antara ban mobil dan aspal yang begitu nyaring.


Beruntung, mobil yang ia kemudikan berhenti tepat waktu. Hanya berjarak 1 senti sebelum mobil yang Betty kendarai benar-benar menggiling tubuh orang yang tengah meringkuk itu.


Betty pun merasa lega, meski jantungnya beberapa menit lalu hampir saja terlepas dari tempatnya. Berkat keahliannya dalam mengemudi, ia bisa menghindari kecelakaan.


Segera Betty turun dari mobilnya, dan menghampiri orang yang hampir saja ia tabrak.


"Maaf, apa anda tidak apa-apa?" tanya Betty seraya menarik pelan-pelan baru seseorang yang tengah meringkuk itu.


Mendengar ada suara yang menyapanya, sontak membuat orang itu bangun.


Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki. Pemuda itu berkulit sawo matang, alis tebal serta garis wajahnya yang nampak terlihat seperti wajah keturunan hindia.


"Kamu!"


Pemuda itu terlihat ingin marah dan kesal kearah Betty karena lambaian tangannya diabaikan begitu saja oleh pengemudi mobil yang hampir menabraknya.


Bahkan ia sendiri hampir saja menjadi korban kecelakaan tabrak lari, jika saja mobil yang gadis itu kendarai tidak berhenti tepat waktu.


Namun melihat wajah gadis itu yang nampak sembab seperti sehabis menangis, membuat pemuda itu urung untuk melakukannya.


"Maafkan aku, jujur saat ini aku sedang dalam keadaan tidak fokus."


"Kalau tidak fokus, harusnya kamu jangan mengendarai di jalan raya!" ketus si pemuda


itu sambil mengambil dirigen yang sempat terlepas dari genggamannya.


"Maafkan aku."


Betty hanya bisa menunduk, air matanya tumpah kembali. Keadaannya saat ini memang benar-benar sangat kacau, make up yang sudah di aplikasikan sudah luntur karena air mata. Serta gaun yang gadis itu kenakan nampak kusut.


Beruntung keadaan jalan raya itu nampak senggang dan tidak ada pengendara lain di belakangnya. Sehingga tidak terjadi tabrakan beruntun karena ulahnya mengambil rem mendadak.


Melihat Betty yang semakin menangis tersedu membuat pemuda itu seketika panik.


"Hei! Sudahlah jangan menangis, lihat aku tidak apa-apa kan? Nih aku masih sehat, masih bisa berdiri," hibur si pemuda.

__ADS_1


Ucapan si pemuda berkulit sawo matang itu tidak berpengaruh apa-apa, malah memperparah tangisan Betty.


Duh bagaimana ini? Dia yang salah malah dia yang nangis. Merepotkan sekali! Cckk.


Akhirnya pemuda itu pun menggiring Betty ke tepian sisi jalan raya. Tepat dimana mobilnya tengah mengalami mati mesin.


"Mending kamu duduk dulu disini, aku mau beli minuman dulu," titah si pemuda.


Betty pun hanya mengangguk pasrah, sungguh hatinya di belenggu rasa sakit, rasa takut dan shock yang hebat. Tubuhnya gemetaran karena kecerobohannya, ia hampir saja menghilangkan nyawa seseorang.


Tak lama pemuda itu kembali membawa 2 botol air mineral dingin.


"Nih minumlah, biar perasaanmu sedikit tenang. Aku tahu pasti kamu merasa shock tadi."


Betty pun menerima air minum dari si pemuda berkulit sawo matang. Tanpa basi-basi Betty pun menegak habis minuman dalam botol itu hingga tak tersisa.


Buset!! Dia manusiakan apa nyai sundel? Gumam si pemuda dalam hati.


"Akh! Segarnya..terima kasih banyak ya."


"Sama-sama, by the way kenapa kamu terlihat sedih begitu?" tanya si pemuda ingin tahu.


Betty pun menundukkan pandangannya, tatapannya nanar menatap jemari yang seharusnya sudah terselip sebuah cincin pertunangan.


"Aku gagal bertunangan."


Si pemuda pun nampak terkejut, pantas saja gadis di sampingnya nampak frustasi. Terlihat dari penampilannya yang sudah acak-acakan.


"Bukannya aku ingin ikut campur masalahmu, tapi kalau boleh tahu kenapa kamu gagal bertunangan?"


Betty pun menatap skeptis kearah pemuda itu. Namun daripada memendam sendiri rasa sakitnya, lebih baik ia luapkan saja ke orang lain meski mereka tak saling kenal.


"Dia sudah menikah siri dengan temanku," balas Betty singkat.


Pemuda itu menampilkan wajah terkejutnya kembali. Ia kira kisah seperti itu hanya ada dalam dunia novel yang sering ia baca. Ternyata benar-benar ada dalam dunia nyata.


Rasa amarah yang sempat meletup kini berubah menjadi rasa iba akan apa yang menimpa pada gadis di sampingnya.


"Sudahlah jangan terlalu bersedih begitu, stok laki-laki di dunia ini masih banyak. Oiya..kita belum kenalan nih namamu siapa?" tanya si pemuda.


"Namaku Betty Lovanka, kamu?"


"Amir Narayan."

__ADS_1


__ADS_2