Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Bayangan dari Masa lalu


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan disini Tere?!" tanya Cleo dengan sedikit menggeram. Kedua tangannya mengempal menahan amarah pada perempuan itu.


Sudah kepalang basah, karena gerak geriknya sudah di ketahui oleh Cleo sang mantan suami. Dengan santai, Tere melepas kacamata serta masker hitam yang ia kenakan.


"Apakabar mas Cleo?"


Tanya Tere dengan senyum terpancar dari sudut bibirnya.


"Tidak usah basa-basi lagi! Katakan apa maumu?! apa yang kamu lakukan disini?! Belum puas kamu menghancurkan hidupku?!"


"Kenapa harus tegang begitu sih mas Cleo? santai saja dong. Bagaimana pun kita pernah memadu kasih bersama, apa kamu sudah melupakannya?hem."


Tere pun menyunggingkan senyum manisnya untuk menggoda Cleo yang tengah di liputi amarah.


"Pertemuanku denganmu hanyalah sebuah kesalahan Re! Sebelum ku tahu siapa sebenarnya dirimu?!" sarkas Cleo.


"Jangan munafik mas! Memang itulah jati dirimu yang sebenarnya. Sebelum menikah, kamu itu seorang cassanova yang gemar meniduri banyak wanita salah satunya kakakku yang pernah menjadi korban n*fsumu!" sinis Tere.


Cleo pun memalingkan wajahnya. Apa yang Tere katakan memang benar adanya. Dulu sewaktu masih berstatus mahasiswa, Cleo sangat di kagumi oleh banyak para gadis cantik di kampusnya.


Bahkan para gadis cantik itu rela menyerahkan mahkota berharga milik mereka hanya demi seorang Cleo yang kala itu menyandang gelar pangeran kampus.


Flasback


Dan diantara beberapa gadis cantik itu, salah satunya Tirania Arnoldi. Gadis bersurau panjang sepinggul, yang mempunyai wajah innocent namun cantik. Tirania adalah pengagum berat Cleo.


Setiap hari, gadis itu mendatangi Cleo untuk memberikan bekal atau hadiah kepadanya.


"Bro! gadis cupu itu cantik juga, bodynya goals lagi!" bisik Jayus teman Cleo.


"Lihat saja gue bakal cicipin dia!" lirih Cleo hampir setengah berbisik.


"Apa loe yakin?!" Jayus menatap skeptis kearah Cleo.


"Kita lihat saja!" seringai Cleo seraya menatap kearah Tirania yang berjalan kearahnya dengan menunduk.


Di tatap oleh pangeran kampus membuat Tirania jadi salah tingkah. Lalu dengan wajah merona ia menyerahkan sebuah bingkisan untuk pemuda itu.


"Cleo, ini untukmu," ucap Tira dengan malu-malu.


"Cie...ciee..," sorak teman-teman Cleo.


Cleo pun menanggapinya hanya dengan senyum simpul.


Karena merasa jadi pusat perhatian Cleo dan membuat Tira semakin salah tingkah. Perasaannya begitu sangat nervous, berdiri di antara para most wanted kampus.


Cepat-cepat Tira membalikkan tubuhnya untuk segera menjauhkan diri dari sorak sorai teman-teman Cleo. Namun tiba-tiba sebuah lengan kekar menggenggam erat pergelangan tangannya.


"Nama loe siapa?" tanya Cleo perhatian.


"Emm..anu, namaku Tirania panggil saja Tia."


Semenjak itu hubungan keduanya semakin dekat. Tira termakan rayuan Cleo, hingga membuat wanita itu lupa diri.


Saking cintanya kepada Cleo, tak segan-segan ia menyerahkan mahkota suci satu-satu miliknya kepada pemuda itu.


Bahkan Cleo dan Tira sering terciduk oleh temannya menginap di sebuah hotel. Kala itu Tira tidak menyadari, bahwa ia hanya di jadikan bahan objek taruhan Cleo dengan teman-temannya.


Flasbackoff


Cleo mencoba menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menepis bayangan Tira dari dalam ingatannya. Rasa bersalah itu kembali menyeruak.


"Sekarang kamu sudah mengingat siapa dirimu sebenarnya mas Cleo?!" tanya Tere penuh seringai.


"Itu hanya masalaluku Re, aku sekarang ingin berubah menjadi lebih baik. Mungkin maafku sekarang tak berarti apa-apa, tapi aku benar-benar menyesal atas kematian Tirania yang tidak pernah ku duga."


"Memang! maafmu itu sekarang tidak berarti apa-apa karena tidak akan bisa memhidupkan kembali kak Tira!"

__ADS_1


"Lalu apa lagi yang kamu inginku dariku Re? Seluruh hartaku sudah kamu ambil. Aku sekarang hanya seorang duda yang miskin!"


Cih!


Tere pun berdecih. Wanita berambut cranberry red itu belum merasakan puas untuk membalaskan semua dendam kakaknya dulu.


Penderitaan Cleo saat ini juga belum-belum ada apa-apanya di banding penderitaan ia dan kakaknya alami kala itu.


"Hutang nyawa harus di bayar dengan nyawa mas! Aku belum puas jika kamu belum merasakan apa yang kak Tira rasakan dulu!" tutur Tere di iringi senyum seringainya.


Melihatnya Cleo pun menjadi bergidik ngeri. Selama ini ia belum pernah melihat raut penuh seringai milik Tere. Sedari dulu wanita itu selalu memasang wajah lembut penuh senyuman jika bersamanya.


Apakah ini artinya akan terjadi suatu hal yang buruk dengan keluarga atau orang-orang terdekatnya??


Setelah mengatakan itu Tere pun berbalik ingin memasuki mobil hitam miliknya.


"Tunggu Re! maksudmu apa?! Jangan kamu sakiti Beauty atau siapapun orang terdekatku!" teriak Cleo penuh amarah.


Tere pun menyunggingkan senyum tipisnya dengan sinis.


"Aku tidak akan berhenti sampai aku bisa merenggut salah satu orang yang berharga dalam hidupmu mas Cleo! Camkan itu!"


Tere pun mulai menyalakan mesin roda empatnya, lalu memutarkan kemudinya untuk berbalik arah.


"Re tunggu Re!"


Cleo pun mengejar laju mobil Tere yang melesat dengan cepat. Namun saat ini bukan suatu keberuntungan bagi Cleo, mobil itu melaju semakin jauh dari tempatnya berdiri.


"Akh! S*all!!"


...💐💐...


"Apa?!"


Beauty pun terperajat saat Juna berkata ingin menemui ayahnya.


Juna sudah mengira pasti wanita berlesung pipi itu pasti akan terkejut.


"Ada deh."


Juna pun hanya mengerlingkan matanya untuk menggoda Beauty. Namun Beauty menghentikan langkahnya, lalu mengurai genggaman pemuda tersebut dari tangannya.


"Aku tidak mau ikut kamu sebelum kamu jelaskan padaku terlebih dahulu Arjun Narendra!" rajuk Beauty sambil bersidekap.


"Oke-oke, kita lanjutkan menyobrolnya di mobil saja ya. Cepatlah masuk, hari mulai gelap," titah Juna.


Mau tak mau Beauty mengikuti saran pemuda itu. Ia ingin mendengarkan lebih jauh apa maksud pemuda.


Mobil sport Juna melaju meninggalkan tempat nan sunyi itu. Juna pun mempercepat laju kendaraannya, takut jika ada begal atau kejahatan lain menghampiri mereka.


"Katakan Juna, maksud perkataanmu apa?" desak Beauty lagi.


Juna pun tersenyum, ini adalah kali pertama Juna melakukan hal di luar batas teritorialnya. Kali ini Juna berkeinginan menculik wanita itu.


Juna terpaksa melakukannya demi menghindari pertunangannya dengan Betty dan demi bukti cintanya kepada Beauty. Namun bukan Juna namanya kalau tidak nekat.


Juna pun meraih lembut sebelah tangan Beauty, lalu mengarahkannya ke dalam dekapannya.


"Dengarkan detak jantungku Bee?"


"Iya lalu?"


"Kalau masih berdetak berarti aku masih hidup! hehe." canda Juna di iringi gelak tawanya.


"Junaaaa!!"


Beauty pun memukul pelan bahu Juna yang tengah menyetir. Ia merasa kesal karena sudah di permainkan oleh pemuda itu.

__ADS_1


Lalu Juna menepikan mobilnya ke bahu jalan dekat rest area.


"Oke, oke kali ini aku serius."


"Be, ijinkan aku menculikmu.."


"Junaaa!"


"Dengerin dulu, ijinkan aku menculikmu untuk ku jadikan istriku?"


"Junaaa! nggak lucu!"


"Aku serius, tigarius malah apa Darius Sinatrya."


Beauty pun hanya memasang wajah masamnya.


"Be, aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Sampai kapanpun aku tidak bisa," tutur Juna dengan tatapan teduh kearah Beauty.


"Lalu?"


"Aku ingin menikah denganmu."


Jantung Beauty berdebar-debar kuat mendengar langsung pengakuan dari bibir Juna.


"Lalu..lalu bagaimana dengan Betty dan juga mamimu Juna?! Kita tidak bisa melakukan pernikahan ini tanpa restu."


"Aku hanya butuh restu dari ayahmu Be makanya kita harus temui ayahmu segera. Masalah Mami dan juga Betty aku akan mengurusnya setelah kita menikah. Aku hanya ingin membuktikan kepadamu, bahwa cintaku ini benar adanya."


"Junaaa...tapi__"


"Be, aku tahu kamu juga mempunyai perasaan itu kepadaku. Namun jika memang kamu menolak, itu artinya kamu merelakanku untuk menikahi wanita lain. Apakah itu maumu? Aku akan melakukannya untukmu."


Beauty masih bergeming, akankah ini saatnya ia harus jujur akan perasaannya sendiri kepada Juna?


Tuhan, hambamu ini hanya ingin bahagia.


Beauty pun menggeleng pelan.


"Lalu bagaimana jawabanmu?"


"Iya, aku mau."


Juna pun memeluk tubuh Beauty lagi dari samping. Di kecupnya jemari wanita itu berulang kali-kali dengan rasa bahagia.


"Terima kasih Beauty."


*Tak kan ada yang 🎼


Pisahkan kita


Sekali pun kau telah tiada


Akan ku pastikan


Ku kan memeluk menciummu di Surga


Jangan kau pergi tinggalkan aku 🎼


Bawa aku kemana


Kau mau


Janjiku padamu


Jiwa dan Ragaku


Mati pun ku mauu*

__ADS_1


__ADS_2