Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Sapuan Lembut


__ADS_3

"Bee, aku ingin bilang sesuatu. Aku...aku sudah di jodohkan."


Deg!


Jadi dia sudah di jodohkan? kenapa aku sedikit tak rela mendengarnya? huh! apa sih maunya hati ini nggak jelas banget!


"Hai...kenapa diam? katakanlah sesuatu?"


"Eh...iya bagus dong pak eh Juna, Selamat yaa!."


"Kok selamat sih? apa di hatimu tidak ada rasa sedikit tak rela seperti itu?hmm," tanya Juna dengan intens.


Mana mungkin aku jujur? aku sendiri juga tak paham dengan perasaan ini.


"Tidak..tidak rela? karena apa? Bukankah di antara kita tidak ada hubungan yang spesial Jun? Hubungan kita hanya sebatas antara atasan dan bawahan dan seorang teman tidak lebih bukan?"


Juna pun hanya bisa meringis mendengar penuturan Beauty. Ternyata dugaannya salah, selama ini hubungan mereka hanya di anggap biasa saja. Bahkan perhatian dan kebaikan yang pernah Juna berikan selama ini tak mampu menyentuh relung hati wanita itu.


Sekali lagi Juna hanya tersenyum. Karena kenyataan hanya dirinya lah yang terlalu banyak berharap kepada wanita itu.


"Kamu benar, tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu Bee."


Ucapan Juna berhenti, dengan lembut pria itu meraih anak rambut wanita yang ada di depannya. Dan menyelipkannya diantara daun telinganya.


Sedangkan Beauty tampak tak bergeming, meski ia sempat terkejut dengan perlakuan atasannya itu. Namun ia berusaha bersikap normal untuk mendengarkan kembali ucapan Juna selanjutnya.


Lagi-lagi Juna membuat jantung Beauty berdebar. Kali ini kedua tangan wanita itu di genggam lembut oleh pria yang umurnya jauh lebih muda darinya itu.


"Aku...aku mencintaimu Bee."


Bola mata Beauty melebar mendengar kejujuran dari pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Maksudmu Juna? aku tak paham, bagaimana mungkin kamu bisa mencintaiku?"


"Mencintaimu itu tidak butuh suatu alasan, karena rasa itu hadir sendiri di dalam sini," ungkap Juna seraya menunjuk kearah dalam dadanya yang bidang.


"Arjun...tapi..tapi_"

__ADS_1


"Aku menyukainya saat kamu memanggilku dengan nama itu, namaku yang sebenarnya."


"Juna jangan bercanda! bagaimana mungkin kamu menyatakan cinta di saat dirimu mempunyai ikatan dengan wanita lain?"


"Tapi aku belum bertunangan dengannya kok jadi bebas dong mau sama siapa saja," kilah Juna.


"Ih..dasar bocah! tetap saja kalian itu di jodohkan yang berarti ada ikatan di antara keluarga kalian!" sungut Beauty kesal.


"Aku tak peduli, yang terpenting saat ini kamu tahu perasaanku padamu Bee. Aku sudah lama menunggu moment ini. Jadi apa jawabanmu sekarang?"


Beauty nampak melempar pandangan kearah lain untuk berfikir. Bagaimana mungkin ia menerima cinta dari seorang yang sudah di pilihkan jodoh untuknya? Itu sama saja dengan merebut kekasih orang.


"Maafkan aku."


Genggaman jemari Juna tampak mengendur. Dengan cepat Beauty menarik tangannya untuk melepaskan diri dari tatapan maut Juna.


"Kenapa? Jelaskan!"


"Tidak ada yang perlu di jelaskan Juna, disini sudah jelas kamu sudah ada wanita lain yang kelak akan memilikimu. Aku tak ingin jadi orang ke 3, karena aku cukup trauma dengan kehidupan rumah tanggaku di masa lalu dengan mas Cleo."


"Tapi aku mencintaimu Bee, aku yakin selama ini kamu pasti memiliki rasa yang sama terhadapku meski pun itu hanya sedikit."


Jujur saja, saat ini Beauty hampir terhanyut dengan semua kebaikan dan perhatian Juna. Siapa yang bisa menolak pesona dari pria itu? Pria muda yang tampan, mapan, bahkan di umurnya yang terbilang masih sangat muda ia termasuk entrepreneur sukses karena pandai dalam berbisnis.


"Maafkan aku Jun, aku harus pergi."


Tanpa menunggu jawaban dari Juna, ia mulai beranjak dari tempat duduknya. Namun baru selangkah ia berjalan, tiba-tiba sebuah lengan yang kekar menghentikan langkahnya lalu menarik tubuhnya dan memaksanya untuk berbalik ke arah seseorang yang ingin ia tinggalkan.


Suatu hal tak terduga pun terjadi. Saking terkejutnya, tak mampu membuat Beauty menolak maupun menghindar.


Sebuah sapuan lembut mendarat sempurna di bibir tipisnya. Membuat benda kenyal milik keduanya bersitubruk dan menghantarkan gelanyar aneh di keduanya.


Ini untuk pertama kalinya bagi seorang Juna merasakan lembut manisnya bibir dari seorang wanita yang ia cintai.


Meski Beauty pernah merasakannya dengan Cleo dulu, namun kali ini sapuan lembut dari Juna mampu membuat persendiannya terasa tak bertulang bagai jeli.


Masih dengan wajah terkejutnya, Beauty memandangi wajah Juna yang masih terpejam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Perlakuan lembut Juna seakan mem-restart habis isi kepalanya.

__ADS_1


Melihat mata Juna terbuka, buru-buru Beauty memaksakan kelopak matanya untuk menutup. Karena malu jika harus ketangkap basah oleh pria itu.


Namun justru di salah artikan oleh sang pria, dengan lembut di raihnya tengkuk wanita itu dan menenggelamkan sapuannya jauh lebih dalam.


Lama-lama Beauty semakin sadar akan tindakan Juna yang terlewat jauh. Yaitu mencuri c*uman darinya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu dan akhirnya usahanya pun tidak sia-sia.


Tanpa sepatah kata, Beauty berbalik arah lalu berlari secepat mungkin dari hadapan Juna. Di iringi hujan yang mengguyur keduanya.


Apa-apaan aku ini?! bod*h ! kenapa aku diam saja saat Juna berhasil mencuri c*umanku seperti tadi? Astaga! aku benar-benar g*la! Aku yakin pasti ada yang melihatnya tadi! Ya Tuhan, rasanya aku pengen pindah planet saja.


Beauty menggerutu sepanjang jalan. Bahkan ia sendiri pun tak sadar kini langkahnya telah memasuki sebuah ruangan rawat seseorang.


Seseorang yang juga pernah menorehkan tinta hitam di hatinya. Melubangi jiwanya sebagai perempuan hingga membuatnya sedikit trauma.


"Mama!"


***


Masih di taman rumah sakit Juna terlihat bagaikan orang idiot. Berhujan-hujanan sendirian di bawah guyuran air hujan yang deras.


Bahkan beberapa orang wanita, tampak menawarkan diri untuk memayunginya. Namun ia acuhkan begitu saja.


Tiba-tiba Juna berteriak begitu kencang dibawah guyuran air hujan yang deras.


"Yes! akhirnya dia menerimaku yes! Terima kasih Tuhan!" teriak Juna penuh semangat meski suaranya terhapus oleh derasnya suara air hujan yang berjatuhan.


Meski pernyataan cinta Juna mendapatkan respon yang tidak sesuai ekpetasinya. Yang artinya tidak di tolak dan tidak juga di terima.


Namun balasan akan apa yang barusan ia lakukan terhadap wanita itu cukup memberikan jawaban yang Juna inginkan.


Ternyata perasaannya selama ini tidak benar-benar terabaikan. Perhatian dan pengorbanannya pun juga tidak berakhir sia-sia. Meski ia tak mendengar langsung dari bibir tipis wanita pujaannya itu.


Dengan hati riang Juna mulai melangkah menuju mobilnya yang terparkir di basemant rumah sakit dan berniat untuk mengambil setelan baju untuknya.


Setelah ini, rencana ia ingin mengajak wanitanya itu untuk makan malam bersama.


Namun saat tanpa sengaja, pandangan matanya menangkap layar ponsel miliknya yang tengah berdering menampakkan sebuah nama yang akhir-akhir ini sangat ingin ia hindari.

__ADS_1


Dengan malas Juna mulai menekan tombol icon hijau untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo?"


__ADS_2