Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Waspada


__ADS_3

Di siang hari nan panas sepulang kontrol kandungan, nampak Beauty dengan lahap memakan rujak huni yang rasanya pedas, asam dan manis itu.


Di sebelahnya Juna nampak mengipasi mulutnya dengan kipas portabel milik sang istri, lalu meminum kembali segelas air penuh. Mulut pemuda itu mengembang dan menutup bagaikan ikan emas koi.


Juna yang notabene tak kuat akan rasa pedas pun menyerah. Tadinya ia menerima tantangan sang istri untuk menghabiskan semangkuk penuh rujak huni yang sudah mereka beli usai pulang kontrol kehamilan.


“Kamu menyerah Juna?” goda Beauty kepada Juna yang merasa kepedasan.


“Yank, sumpah nggak kuat aku..huh..hah!” ujar Juna yang masih berusaha menghilangkan rasa pedas dalam mulutnya.


Bertepatan dengan itu, gawai cerdas Juna bergetar menandakan ada panggilan masuk.


“Hallo ? Iya...oh...iya pak iya, saya sedang berada di rumah ini.”


Juna pun memberi kode kepada Beauty meminta waktu sebentar untuk menerima panggilan. Dan Beauty pun membalas dengan anggukan.


Tak lama, Juna pun sudah selesai menerima panggilan yang nampaknya penting.


“Yank, maafkan aku. Aku tinggal sebentar tidak apa-apa ya? Ada masalah sedikit di perusahaan,” pamit Juna dengan sedikit menyesal karena tidak bisa menemani sang istri di akhir pekan.


Statusnya sebagai pemimpin perusahaan membuat Juna harus siap siaga jika sewaktu-waktu ada masalah seperti sekarang.


“It's okay! Lagian kita sudah kontrol tadi bukan ?”


“Tidak apa-apa kan? Jaga baik-baik anak kita ya,” pesan Juna seraya mengecup kening sang istri dan baby pump mereka.


“Jagoan daddy, baik-baik ya di rumah jangan nakal," gumam Juna seraya mengecup baby pump istrinya penuh kasih.


“Iya daddy,” sahut Beauty dengan mengecilkan suaranya seperti bayi.


Juna pun tergelak, lalu dengan gemas menangkup wajah chubby Beauty dan mengecup singkat bibir berwarna pink itu.


“Gemas banget sama bumil, ya sudah aku pergi ya.”


Cup!


Beauty tersenyum menatap kepergian sang suami yang sudah menghilang di balik pintu dapur. Tak lama Sri pun masuk ke ruangan dapur itu.


“Sri ! Mau rujak huni nggak?” tawar Beauty.

__ADS_1


“Mau nyonya! Sepertinya enak!” sahut Sri dengan antusias.


Sri pun menghampiri Beauty yang masih asyik menyantap rujak huni itu. Lalu Beauty pun menuangkan sebungkus rujak yang belum ia sentuh. Tadi ia sengaja beli banyak untuk stok di rumah.


“Rujak ini enak banget ya nyonya kalau di makan siang- siang di saat panas begini, dulu waktu saya kecil ibu saya sering membuat rujak ini untuk Sri, tapi sekarang...” ucap Sri menggantung.


“Tapi sekarang apa Sri? Apa ibumu sekarang sudah tidak mau membuatkan lagi untukmu?”


Sri pun menggeleng pelan


“Tidak nyonya, hanya saja ibu sudah lama meninggal bersama ayah dalam suatu kecelakaan.”


Beauty pun merasa terkejut mendengar pengakuan Sri, kini ia menatap iba kepada gadis yatim piatu itu.


“Sri maafkan aku, aku tidak tahu akan hal itu. Kamu yang sabar ya,” hibur Beauty.


“Tidak apa-apa nyonya, itu sudah terjadi lama,” balas Sri datar tanpa ekpresi.


Tak lama gawai cerdas Beauty berbunyi menampilkan sebuah kontak yang sengaja ia privasi.


”Sebentar ya Sri, aku angkat ini dulu.”


Beauty pun berjalan menjauh dari dapur. Langkah pendeknya membawa tubuh berisi itu keluar dari mansion menuju taman belakang. Tujuannya agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraannya dengan orang kepercayaannya.


Dilihat lagi oleh Beauty, meski ia privat dengan mengubah mana kontak itu. Namun Beauty tahu, jika nomer yang sedang menghubunginya itu adalah Beny.


Jika Beny sudah meneleponnya secara tiba-tiba seperti ini, berarti ada hal yang penting yang ingin pemuda itu sampaikan kepadanya.


“Hallo Beny, ada apa ?"


“Halo nyonya, maaf mengganggu waktunya sebentar. Ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada nyonya”


“Hal penting apa Beny?”


“Ini menyangkut keselamatan keluarga anda nyonya.”


“Apa maksudmu?” tanya Beauty yang tak paham arah bicara Beny


“Saya tidak bisa bicara di sini, kalau bisa kita bicarakan di markas saja nyonya. Nanti Bimo yang akan menjemput nyonya Beauty dari mansion anda.”

__ADS_1


“Oh..iya pesan saya, berhati-hatilah dengan perawat baru di rumah anda nyonya.”


Beauty pun semakin tak mengerti, namun ia harus mendengar langsung penjelasan dari Beny. Dan apa tadi? Berhati-hati dengan Sri maksudnya?


Beauty pun menatap sekeliling, takut ada yang tak sengaja mendengar percakapannya bersama Beny. Namun matanya seketika membola saat mendapati Sri berdiri di depan pintu dapur tak jauh dari tempatnya berdiri sambil memperhatikannya dengan tatapan intens.


Deg!


“Sri?”


Beauty pun kembali terngiang-ngiang akan pesan Beny barusan. Seketika, Beauty mulai waspada saat Sri melemparkan sebuah senyuman kearahnya.


“Beny kita bicarakan nanti saja ya.”


Tut!


Jantung Beauty pun berdegup kencang, peringatan dari Beny seketika membuat Beauty harus waspada terhadap Sri.


Ada apa sebenarnya? Kenapa Beny bisa memperingatinya seperti itu? Dan juga, siapa Sri sebenarnya?


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak dan fikiran Beauty. Rasa takut tiba-tiba menelusup relung hatinya.


“Nyonya! Kenapa nyonya panas-panasan seperti itu?” tanya Sri seraya mendekat sambil membukakan sebuah payung untuk Beauty.


“Eh Sri! Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Beauty berusaha menepis rasa waspadanya terhadap Sri.


“Saya khawatir nyonya kenapa-kenapa, jadi saya susul saja kesini,” ungkap Sri polos.


Padahal jika di lihat dari atas hingga ke bawah tidak ada yang aneh pada diri Sri. Sri nampak seperti perawat pada umumnya, wajahnya polos tanpa riasan. Menggunakan kacamata kuda, dan ada tompel di pipi bagian kanan.


Rambutnya pun hanya di gerai begitu saja, karena model rambut gadis itu potong bob yang sedang trend saat ini. Tidak ada yang aneh, batin Beauty.


Namun demi menghilangkan rasa penasarannya, Beauty pun menyanggupi ajakan Beny untuk bertemu di markas. Dengan mengabari pemuda itu melalui pesan singkat.


“Terima kasih perhatianmu Sri, tapi aku ingin keluar sebentar ya. Ada urusan!”


Beauty pun berjalan mendahului Sri, sambil terus berjalan Beauty mencoba melihat Sri kembali yang masih tertinggal olehnya di belakang. Dan anehnya, Sri pun masih mematung di tempat. Namun bibir gadis itu menyunggingkan sebuah senyuman yang menurut Beauty terasa ganjil kepadanya.


Maaf mungkin part ini kurang gereget bagi sebagian readers. Tapi setelah ini nanti bakal ada part yg mengadung irisan bwang jdi siap-siap ya..🤗

__ADS_1


__ADS_2