Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Cinta atau Obsesi?


__ADS_3

Setelah acara bersulang kecil-kecilan ala Betty dan Juna, selanjutnya mereka melanjutkan acara makan mereka yang sempat tertunda.


Seperti biasa Betty selalu mencoba memberi perhatian lebih kepada Juna. Seperti yang sekarang gadis itu lakukan.


"Juna, cobalah..."


Betty menyodorkan sepotong beef yang sudah terpotong dadu dengan garpu miliknya. Dan Juna pun meringsut mundur untuk menghindari suapan yang Betty berikan.


“Tidak ada apa-apanya Juna, ini hanya daging biasa. Coba saja dagingnya lembut dan rebus kacangnya juga manis,” ucap Betty mencoba merayu Juna.


“Lo apa-apaan sih Bett! Gue bisa...akh!” balas Juna namun ucapannya terbata karena tiba-tiba pemuda itu merasakan nyeri pada kepalanya.


“Juna! Juna...kamu tidak apa-apa kan?” tanya Betty mulai khawatir. Betty pun membatin dalam hatinya di iringi smrik yang penuh teka-teki.


Yes! sepertinya ramuannya mulai bekerja. Seharusnya Juna menghabiskan minumannya. Maka efek ramuan itu tidak akan lama.


“Gue tidak apa-apa, lebih gue pulang saja. Kepala gue pusing!” ungkap Juna setelah merasakan sakit kepala yang tiba-tiba saja menyerang, membuat penglihatannya menggelap dan kabur seketika.


Dan belum sempat berbalik, Juna sudah jatuh terkapar dekat meja makan dimana pemuda itu terduduk bersama Betty.


Brugh!


Betty pun bergegas saat menyadari tubuh Juna yang sebentar lagi akan oleng dan terjatuh. Beruntung Betty dengan cepat bisa menangkapnya, namun sayangnya. Ternyata tubuh pemuda itu lebih berat daripada berat tubuhnya.


Betty segera memanggil orang suruhannya yang sengaja sudah berjaga-jaga untuk membawa tubuh Juna dengan mobil yang sudap terparkir di depan cafe itu.


Setelah berhasil memasukkan tubuh Juna ke dalam mobil, Betty memerintahkan orang suruhannya itu untuk membawa tubuh Juna menuju apartemennya.


"Bawa calon suami saya ini ke apartemen, nanti saya akan segera menyusul," perintah Betty kepada dua orang suruhannya.

__ADS_1


Setelah kepergian mobil anak buahnya yang sedang mengangkut tubuh Juna, Betty pun mulai membuat skenario kepada pemilik cafe. Bahwa suaminya pingsan karena magh kronis yang pemuda itu derita.


Sepertinya dewi fortuna tengah memihak kepada Betty. Ia sendiri tak menyangka rencana yang sudah di susunnya dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya halangan.


Beruntung sang pemilik dan beberapa pekerja di cafe itu tidak mencurigai apa-apa. Mereka semua percaya bahwa Juna adalah suami Betty karena keduanya nampak seperti pasangan suami istri yang sedang berkencan pada umumnya.


...💐 💐...


Blam!


Terdengar pintu tertutup, usai orang suruhan Betty membopong tubuh Juna yang sedang pingsan keatas ranjang queen size miliknya.


Ranjang berukuran besar dalam apartemen Betty adalah saksi bisu saat kegad*sannya terenggut oleh Amir. Pemuda yang baru saja ia kenal beberapa minggu.


Sebenarnya Amir adalah pemuda yang baik. Selama Betty mengenalnya, pemuda itu sangatlah sopan tidak pernah berbuat di luar batas dan bersedia apa pun saat ia mintai pertolongan.


Betty pun mulai mendekat tubuh Juna, dibukanya satu persatu kancing yang melekat pada kemeja berwarna abu itu.


Tak lupa pakaian bawah milik pemuda itu Betty tanggalkan pula. Membuat Betty terlihat seperti singa betina yang kelaparan.


Tak ketinggalan ia lucuti pakaiannya sendiri dan bersembunyi di balik selimut yang sama bersama Juna yang masih tidak sadarkan diri.


Begitu sudah terbuka, di usapnya dengan lembut dada bidang milik Juna yang selalu nampak menggiurkan di matanya.


Jangan lupakan roti sobek pemuda itu yang berhasil membuat Betty meneguk ludahnya beberapa kali.


Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Betty ingin membuat tanda kepemilikan pada dada bidang yang menggiurkan itu.


Cup!

__ADS_1


“Maafkan aku Juna sayang, dan jangan salahkan aku karena ancaman mamaku lah yang memaksaku untuk berbuat seperti ini."


Ucapan Betty terjeda seiring bergerakan tangannya yang dengan berani menelusuri setiap lekuk wajah Juna yang sedang pingsan.


Jemari lentiknya mengusap lembut alis mata tebal milik Juna. Dan memainkannya selagi pemuda itu


tidak sadarkan diri.


“Alis matamu yang indah ini yang selalu ku rindukan, kamu tahu Juna? Aku menyukaimu semenjak dari lama. Aku mengenalmu lebih lama dari siapapun termasuk istrimu Beauty!" gumam Betty bermonolog.


Usapannya jatuh ke kelopak mata Juna yang di hiasi oleh bulu mata yang lentik.


“Dan mata ini, mata yang selalu membuatku terbius akan pesonamu. Seharusnya malam itu, yang menjadi istrimu adalah aku bukan Beauty!"


Pahatan wajah tampan mikij Juna nampaklah sempurna di mata Betty. Entahlah, tidak ada pria lain yang berhasil memalingkan dunianya dari seorang Juna.


Usapannya kembali menelusuri setiap inci wajah tampan tanpa cela itu. Membelai dengan lembut rahang nan kokoh milik Juna dan tibalah Betty menatap intens bibir Juna yang berwarna sedikit kemerahan.


Jantung Betty berdebar-debar seiring usapan demi usapan yang ia rasakan disetiap lekuk garis wajah Juna.


“Kamu tahu Juna? Sedari dulu aku selalu menjaga kehormatan serta ciuman pertamaku hanya untuk pria yang aku cintai, namun justru pria lain yang sama sekali tidak ada di hatiku yang mengambilnya. Kamu tidak mengerti Juna betapa sakitnya hatiku.”


“Aku sakit Juna! Kenyataan bahwa anak yang aku kandung ini adalah bukanlah anakmu. Aku sempat kefikiran untuk menggugurkannya, tapi sepertinya Tuhan memberikan kesempatan kedua untukku. Maafkan aku, karena hanya dengan ini aku bisa memilikimu. Karena aku mencintaimu."


Betty pun meraih tengkuk Juna dan mulai mengecupnya. Air matanya luruh bersamaan rasa bahagia yang hadir dalam benaknya. Bisa berada di dekat Juna seperti ini adalah mimpi yang sangat ingin ia rasakan sedari dulu.


Maafkan aku Beauty, sedari awal Juna adalah jodohku. Kamulah yang sudah merebut Juna dari sisiku!


Terus dukung author receh ini kak y kakk...😘😘

__ADS_1


__ADS_2