
Dan benar saja, keesok paginya sesuai apa yang diucapkan oleh Juna semalam. Datanglah segerombolan para pekerja reparasi yang akan memperbaiki pipa rusak yang ada di kamar Juna dan Beauty.
“Pagi, nyonya saya dan teman-teman saya ingin melakukan perbaikan pipa bocornya sesuai permintaan bapak Juna,” ucap sang kepala petugas reparasi itu.
“Oh..silahkan masuk pak, nanti mang Asep penjaga rumah ini yang akan menemani bapak. Karena saya dan suami ingin keluar sebentar,” jelas Beauty.
“Baik nyonya, permisi.”
Sementara para petugas reparasi itu tengah memperbaiki pipa bocor kamar mandi lantai atas, Beauty dan Juna pun bergegas sesuai rencana mereka semalam yang ingin kontrol kandungan Beauty ke dokter kandungan.
“Sudah siap?” tanya Juna seraya tersenyum manis kearah istrinya.
“Sudah suamiku,” sahut Beauty membalas senyum Juna kearahnya.
Kedua pasangan suami istri itu pun berjalan beriringan menuju mobil mereka. Dengan sigap Juna membukakan pintu mobilnya untuk Beauty. Dan selanjutnya memasangkan sealbelt pada tubuh Beauty dan sedikit melonggarkannya agar tidak menyakiti perut buncit Beauty.
“Tumben kamu akhir-akhir ini bersikap manis sekali suami? Apakah ini ada maksud tertentu?” tanya Beauty yang merasa terheran-heran akan sikap manis Juna yang akhir-akhir ini kerap suaminya tampakkan.
“Aku hanya ingin orang yang ku sayangi merasa nyaman saat bersamaku sayank, apalagi untuk si kecil di dalam sana,” balas Juna mengulas senyum kembali
Beauty pun merasa bahagia, bahagia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kali ini ia merasa begitu berharga dan sangat di jaga oleh pria yang ada di sampingnya ini.
“Kalau begitu langsung saja ya yank, aku sudah tidak sabar ingin bertemu baby J nanti,” ungkap Juna dengan rona bahagianya.
“Baby J?”
“Ya baby J, aku ingin bayi itu berinisial J nanti jika jenis kelaminnya laki-laki. Tapi jika perempuan terserah kamu saja sayank,” ucap Juna sambil menggengam erat tangan Beauty yang duduk di sampingnya.
“Baiklah, aku akan mengingatnya Juna.”
Juna dan Beauty saling pandang sambil tersenyum. Keduanya saling mencurahkan apa yang saat ini mereka tengah rasakan melalui genggaman kedua tangannya yang saling bertautan.
__ADS_1
Rasa bahagia karena sebentar lagi, status pasangan muda itu akan berubah seiring hadirnya orang ketiga dalam hubungan mereka.
Sampainya di tempat praktik dokter Restin, Juna pun langsung memarkirkan kuda besinya pada parkiran yang sudah di sediakan.
Seperti sebelumnya, Juna membuka pintu mobil dan memapah tubuh berisi Beauty yang kini sudah tak bisa bergerak semaunya.
Beauty pun terpana akan perlakuan sang suami. Bisa di dampingi suami, disaat tubuh dalam keadaan berbadan dua seperti ini adalah mimpi terindah bagi semua calon ibu.
“Silahkan masuk nyonya Beauty dan juga pak Juna.”
Sapa dokter Restin yang memang sudah menunggu kedatangan pasangan suami istri yang ingin melakukan kontrol rutin itu.
“Bagaimana kabarnya nyonya? Apakah ada keluhan akhir-akhir ini?” tanya dokter Restin seraya membuka buku Kesehatan ibu dan anak berwarna merah jambu itu.
“Tidak ada dokter, rasa mual saya sudah sedikit berkurang. Hanya saja, hasrat saya ingin buang air kecil akhir-akhir ini meningkat,” ungkap Beauty dengan jujur.
Dokter Restin pun tersenyum, setelah menulis sesuatu lantas meminta Beauty untuk menimbang berat badan.
“Benar dokter, bahkan semalam saya harus menemani istri saya makan sepiring kue blackforest, dan setoples kue kering,” sahut Juna dari kursi tunggunya yang ada di ruangan itu.
“Junaa!” Beauty pun merasa malu akan kejujuran yang suaminya lontarkan.
“Bagus dong, mamanya sehat dede bayinya juga sehat. Yang penting jangan lupa banyak minum, sehari paling nggak ibu hamil itu harus minum 2 liter air mineral agar sang bayi tidak mengalami dehidrasi di dalam kantung rahim.”
“Lalu untuk hasrat buang air kecil nyonya yang meningkat itu wajar, karena semakin bertambah ukuran janin dalam kandungan. Ia semakin menekan kantung kemih kita. Jadi mau tidak mau, ya harus rutin ke kamar mandi,” jelas dokter Restin lagi.
Beauty pun tampak mengerti. Setelah dokter Restin mengecek detak nadinya, selanjutnya meminta Beauty untuk berbaring.
“Bulan ini sudah 5 bulan lebih ya hampir 6 bulan, berarti sudah bisa di lihat jenis kelaminya nyonya,” ucap dokter Restin seraya mengoleskan gel yang terasa dingin pada perut buncit Beauty.
Beauty dan Juna pun memperhatikan dengan seksama kearah monitor layar besar yang tertempel di samping brankar dimana Beauty berbaring.
__ADS_1
“Nah ini sudah bisa di lihat ya bapak Juna dan nyonya Beauty, ini tangannya dan ini kakinya. Ini kepalanya tapi wajahnya tidak kelihatan sepertinya dede bayinya masih malu-malu,” tutur dokter Restin yang turut merasakan kebahagiaan pasiennya.
“Lalu jenis kelaminnya apa dokter?” sela Juna penasaran.
“Sebentar ya bapak, ini sepertinya masih malu-malu. Tapi kalau di lihat dari ciri-cirinya, calon anak bapak Juna dan nyonya Beauty sepertinya berjenis kelamin laki-laki. Selamat ya pak nyonya!”
Juna dan Beauty pun saling pandang, sedetik kemudian keduanya saling tersenyum penuh arti.
“Berdoa saja, semoga jenis kelaminnya tidak berubah ya nyonya. Karena banyak kasus perubahan gender saat bayi sudah lahir. Yang tadinya di kira perempuan tapi ternyata terlahir laki-laki begitu sebaliknya,” jelas dokter Restin dengan sabar dan detail.
“Apa pun jenis kelaminnya, kami terima dokter. Yang penting dede bayinya sehat dan terlahir sempurna,” sahut Beauty.
“Amin nyonya, ini saya beri vitamin penambah darah dan DHA untuk pertumbuhan si kecil ya. Untuk penguatnya sudah tidak di perlukan lagi ya nyonya karena sepertinya kandungan anda sudah mulai kuat untuk menopang si kecil. Dan jangan lupa minum susunya rutin, karena kalsium sangat di butuhkan untuk pertumbuhan tulang si kecil.”
“Baik dok, terima kasih untuk waktu dan bantuannya.”
“Sama-sama nyonya dan bapak Juna, senang bisa membantu.”
“Kami permisi dokter Restin.”
“Silahkan.”
Beauty dan Juna pun keluar dari tempat praktik dokter Restin dengan senyum merekah. Bagaimana tidak, ternyata feeling Juna benar bayi dalam kandungan Beauty kini berjenis kelamin laki-laki. Lagi-lagi tebakan Juna tepat seperti saat pria itu menyakinkan akan kehamilannya dulu.
“Hello baby J, daddy sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Kira-kira nanti kamu mirip siapa ya? Daddy apa momy ?” monolog Juna seraya duduk mensejajarkan wajahnya dengan perut Beauty yang sudah semakin jelas menampakkan baby pumpnya.
“Juna sudah, lebih baik kita pulang malu di lihatin orang. Tapi aku pengen rujak Huni yang ada disana,” ucap Beauty setengah merengek.
“Rujak huni?”
__ADS_1
Buah Huni itu seperti readers. Kalau di tempat kalian namanya apa?? Yuk koment..😍