
"Sebenarnya aku ini adalah adik dari wanita yang sudah kau buat gila mas! Apa kau masih ingat dengan kak Tirania, hah?!"
"Apa?! jadi....jadi kamu adalah adik Tia?!"
(Tia adalah panggilan kesayangan Cleo kepada Tirania sewaktu mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih)
"Iya! Dan kau adalah laki-laki brengs*k yang sudah merenggut kesuciannya dan membuatnya gila. Apa kau puas sekarang?! Bahkan diakhir hidupnya saja ia masih memuja cinta kepadamu?!"
"Tidak! tidak mungkin, aku tak pernah bermaksud mengabaikannya dulu Re dengerin penjelasan mas dulu!"
"Munafik! bukankah kau sendiri yang telah mengusirnya saat acara resepsi pernikahanmu dulu dengan wanita mand*l itu?! Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kehilangan anggota keluargamu satu-satunya dalam hidupmu mas ?!"
"Aku bisa jelasin sekarang Re, waktu itu aku dalam keadaan terdesak. Mama tak menyukai Tia yang selalu berpakaian terbuka. Lalu aku bisa apa? selain mengakhiri hubungan kita?"
"Tapi kau tak pernah peduli bagaimana terpuruknya kak Tira setelah kau putuskan Cleo! Dia menjadi gila! dan aku harus berjuang seorang diri merawatnya! Apa pernah kamu memikirkan perasaan kak Tira?! Tidak kan!"
"Maaf nyonya jam besuk anda sudah berakhir, anda boleh meninggalkan tempat sekarang," sela seorang petugas sipir.
"Baiklah."
"Kau dengar mas, ini sudah saatnya aku pergi. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku pastikan kamu merasakan apa yang pernah aku rasakan! Kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupmu mungkin bisa membuatmu sadar akan kesalahanmu di masa lalu!"
"Re tidak Re! please mas mohon maaf dan tolong ampuni semua kesalahanku. Jangan kamu sakiti Mama dan Sisie Re, hanya mereka yang mas punya di dunia ini."
"Aku tak peduli! bagiku saat ini maafmu tidak berarti apa-apa dan tidak akan bisa menghidupkan kakakku kembali!"
Ancaman Tere terus terngiang-ngiang dalam ingatan Cleo. Pria tampan berjambang tipis itu tampak terlihat frutasi. Sesekali ia menjambak kasar rambut pendeknya. Ia harus menemukan bagaimana cara melindungi keluarganya.
"Tia maafkan aku, aku tak pernah bermaksud melukaimu dulu. Apakah ini karma yang kamu kirim untukku?" renungnya.
Cleo merasa masalah-masalah yang hadir dalam keluarga dan rumah tangganya saat ini adalah karma yang harus ia terima akibat perbuatannya di masa lalu.
Lalu Cleo terlihat memanggil seorang petugas sipir yang sedang berjaga.
"Pak, apa boleh saya pinjam teleponnya? Saya mau menghubungi pengacara saya," ucap Cleo meminta ijin untuk menggunakan telepon kantor.
Mungkin dengan melalui pengacara keluarganya ini, Cleo harap bisa menemukan jalan keluar yang bisa membebaskannya dari jerat hukum. Setidaknya ada sedikit tabungan yang ia miliki dan tidak diketahui oleh istrinya Tere. Karena diam-diam Cleo memiliki bisnis property diluar daerah.
"Boleh silahkan, tapi anda hanya punya waktu 10 menit saja."
"Baiklah pak."
...***...
__ADS_1
Akibat memikirkan perjodohannya dengan Betty yang terkesan mendadak, belum Beauty sang sekretaris tersadar dari pingsan membuat Juna kehilangan fokus kerja.
Daripada ia tidak fokus dan malah membuat perusahaan ayahnya merugi, lebih baik ia menjenguk sang sekretaris. Beberapa hari bekerja tanpa sang sekretaris membuatnya tak bersemangat. Apalagi sekarang Betty terang-terangan mendekatinya.
Mengajak makan siang bersama, bahkan wanita yang berubah 360° itu selalu membuatkan bekal makan siang untuk mereka berdua setiap hari. Jujur Juna merasa jengah.
Hari ini ia berencana untuk menghindari wanita itu. Semua pekerjaan sudah ia serahkan kepada asisten kepercayaan ayahnya. Seperti biasa ia tak ingin di ikuti oleh para bodyguard ayahnya. Karena Juna tidak ingin menjadi pusat perhatian di rumah sakit.
Juna memutuskan mengendarai mobilnya seorang diri tanpa sopir. Tak butuh waktu lama, mobil yang ia kemudikan memasuki parkiran rumah sakit.
Dengan langkah terburu-buru, ia mulai berlari menyelusuri koridor yang menuju dimana ruangan Beauty dirawat.
Sampainya ia di ruangan itu, betapa terkejutnya Juna saat tak menjumpai wanita berlesung pipi itu di dalam ruangan. Bahkan ruangan itu sudah tampak rapi. Dengan nafas memburu, Juna mulai mencari keberadaan sekretarisnya.
Tidak bisa ia pungkiri, kini ia benar-benar semakin jatuh hati dengan wanita berlesung pipi itu. Di saat dirinya di paksa harus menyukai orang lain selain sekretarisnya sendiri.
"Sus, pasien nomor kamar Xx pergi kemana ya kalau boleh tahu?" tanya Juna kepada salah seorang perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Oh..maaf pak, bukannya pasien kamar Xx sudah di perbolehkan pulang setengah jam yang lalu?"
"Apa?!! kenapa tidak ada yang memberitahu saya sus?!"
Perawat tersebut hanya bisa menunduk atas pertanyaan yang Juna ajukan.
"Shiitt!!"
Juna mulai melangkahkan kakinya kembali untuk menemukan Beauty yang mungkin langkahnya sudah berada jauh darinya.
Namun Tuhan masih berpihak kepadanya. Saat ia hampir menyerah, tiba-tiba ia bertemu langsung dengan wanita berlesung pipi itu.
Tanpa berucap kata Juna langsung memeluk Beauty yang hanya bisa berdiri mematung menerima perlakuan dari laki-laki yang menjadi atasannya itu.
"Maafkan aku! maafkan aku!" ucap Juna penuh penyesalan seraya sesekali mencium puncak kepala wanita itu.
"Pak! Pak kenapa? kenapa harus minta maaf? Sudah aja ya pak peluknya, malu dilihatin sama orang rumah sakit."
Juna pun segera melepas pelukannya dan baru menyadari bahwa tindakannya sudah memancing perhatian orang di sekitarnya. Bahkan ada yang tengah memotret atau mengambil videonya langsung.
"Wahh..mereka seperti pasangan romeo dan juliet yang baru saja bertemu ya?"
"Bukan! mereka itu cocoknya seperti pasangan Han So he sama oppa Cha Eun Wo yang di drama serial baru itu loh," sahut temannya yang lain.
Ya pertemuan seorang pria yang tampan dengan wanita yang cantik pula menjadi tontonan tersendiri bagi yang menyaksikannya. Mereka seperti tengah menyaksinya live drama korea versi kehidupan nyata.
__ADS_1
Juna pun menjadi salah tingkah sendiri dan berusaha menahan malu atas tindakan konyolnya. Masih setengah menahan malu, ia meraih lembut telapak tangan Beauty dan menariknya membawa ke tempat yang agak jauh dari keramaian.
Sampainya ia ke sebuah taman rumah sakit, Juna masih menggenggam erat telapak tangan Beauty.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu," ungkap Juna jujur.
Baru kali ini seorang Arjun Narendra merasakan kepedulian yang berlebih terhadap seorang wanita. Biasanya, jika ia melihat wanita menangis akibat mendapat penolakan cinta darinya. Ia akan bersikap acuh tak acuh. Namun kini kepribadiannya berubah seiring berjalannya waktu. Dan yang sanggup mengubahnya hanya wanita yang kini ada di sampingnya.
"Saya baik-baik saja pak."
"Sudah ku bilang jangan panggil bapak jika diluar jam kerja, karena aku bukan bapakmu," gurau Juna sambil menyentil pelan dahi Beauty.
Beauty pun nampak meringis tertahan atas perlakuan atasannya itu yang kesannya memang seperti kekanakan.
"Baiklah."
"Eh.. apakah kepalamu masih sakit? maaf ya."
Kini Juna meniup-niup dengan lembut dahi Beauty yang barusan ia sentil menggunakan jemarinya. Beauty yang merasakan perlakuan Juna yang semakin aneh pun hanya bisa menerima.
Ditengah adegan itu, Beauty baru menyadari kehangatan sikap yang Juna berikan. Baru kali ini ia merasakan begitu dilindungi, begitu dihargai dan begitu dikasihi. Bersama dengan Cleo ia belum pernah merasa seberharga saat ia bersama Juna. Tiba-tiba debaran tak biasa menyerang jantungnya.
Ada apa dengan debaran jantungku ini? Apa ini artinya hatiku mulai merasakan getaran lain?
"Bee, kenapa kamu diam dan memandangiku seperti itu?Oh...aku tahu sepertinya kamu sudah mulai jatuh hati padaku, iya kan?" gurau Juna sambil menaik turunkan alis tebalnya.
"Eh...emm tidak kok, pak eh Arjun kamu kePeDean deh," balas Beauty dengan tersipu malu.
"Arjun? Sepertinya hanya kamu yang memanggilku dengan nama itu, no problem! aku anggap itu panggilan sayangmu untukku."
Beauty hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi bosnya yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi dari pertama mereka bertemu.
Tiba-tiba suasana diantara mereka menjadi hening. Keduanya sibuk dengan isi fikiran masing-masing. Namun setelah cukup lama berdiam diri dalam keheningan, Juna mulai membuka suara.
"Bee, aku ingin bilang sesuatu. Aku...aku sudah di jodohkan," ungkap Juna lirih.
Terima kasih untuk dukungan dari para readers dan author hebat lain bikin author receh ini jadi semangat kembali. 😂😂
Jujur kemarin lama off itu karena ceritanya aku lagi ngambek dan sempat putus asa sama NT karena karya ini tidak kunjung di terima pengajuan kontraknya.
Alhamdulillah, sekarang udah yeyy..
please y readers jngan ktawa..😂😅😅
__ADS_1