Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Mendadak Nikah


__ADS_3

*Untuk s**ementara author m**enyampingkan problemยฒ yang bikin mumet, ini author* *persembahkan s**pecial part untuk fans Juna-Beauty ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜*


Tak lama mobil yang di tumpangi oleh Juna dan Beauty menepi di sebuah rumah sederhana. Rumah itu terletak di luar daerah dan sangat jauh dari jalan raya.


Begitu Beauty menampakkan kaki di halaman rumah itu, keluarlah seorang pria paruh baya dengan menggunakan kursi roda.


Pria paruh baya itu bagaikan cerminan fisik Beauty namun dalam bentuk seorang pria. Meski sudah berumur, namun masih tersisa akan ketampanannya di masa muda.


"Ayah!"


Ada rasa haru bercampur bahagia akan pertemuan antara ayah dan anak yang sudah bertahun-tahun putus hubungan itu.


Beauty tak mampu membendung rasa rindunya kepada sang ayah. Bertahun-tahun ia mencari keberadaan sang ayah namun tak jua berjumpa.


Setengah berlari, Beauty berhamburan ke dalam pelukan sang ayah yang masih terduduk di kursi rodanya.


Semenjak ayah Beauty menikah, hubungan keduanya memang tak baik karena ulah ibu tiri Beauty yang suka mengadu domba Beauty dengan ayahnya sampai harus bersitegang.


"Ayah, apakabar?" tanya Beauty sambil mengusap air matanya.


"Alhamdulillah, ayah baik. Bagaimana denganmu Bee?" balas ayah Heru sambil tersenyum getir.


"Seperti yang ayah lihat, Beauty baik-baik saja ayah. Ayah, kenapa ayah bisa berada di kursi roda ini? Apa yang terjadi dengan ayah selama ini?" tanya Beauty lagi dengan tatapan penuh iba kepada sang ayah.


Tubuh sang ayah yang terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Rambutnya yang mulai beruban dan nampak panjang tak terurus tertutup oleh peci berwarna hitam. Membuat hati Beauty teriris sembilu.


"Ayah Heru, kita bertemu kembali," sapa Juna lalu tanpa sungkan mencium lembut tangan pria paruh baya itu.


Melihat sikap Juna kepada ayahnya membuat Beauty mendelik. Sejak kapan Juna mempunyai kedekatan dengan ayahnya? Padahal Beauty tahu betul, Juna itu orang yang super sibuk.


"Ceritanya panjang, lebih baik kalian cepat masuk! Bapak penghulu sudah menunggu kalian di dalam."


"Apa?! penghulu ayah?" Beauty mengulang kembali ucapan sang ayah.

__ADS_1


"Iya, bukankah kalian akan menikah sekarang?" tanya pak Heru balik.


Beauty hanya melongo mendengar jawaban sang ayah. Entah apa yang sebenarnya terjadi, rasanya semuanya seperti mimpi.


Bagaimana tidak? tidak angin dan tidak ada hujan tiba-tiba ia harus menikah.


Wanita berlesung pipi itu masih terpaku di tempatnya. Lalu Beauty menatap penuh selidik ke arah Juna dan di balas cengiran oleh si pemuda.


Apa ini hanya prank semata? Kenapa rasanya seperti mimpi saja? Tidak ada angin dan tidak hujan tiba-tiba aku harus menikah. Apakah ini nyata?


Beauty pun mencubit pipinya sendiri hingga ia mengaduh menahan perih. Melihat tingkah lucu sang mantan sekretaris yang sebentar lagi menjadi istrinya, membuat Juna merasa gemas.


"Sudah lebih baik kita segera masuk, tidak baik membuat orang menunggu terlalu lama," ajak Juna seraya mengapit lengan wanita itu dan menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah calon ayah mertua.


"Tunggu Juna! ini beneran kan aku nggak mimpi? Bukan ngeprannk apa buat konten kan?!" tanya Beauty berusaha menyakinkan.


Juna pun menyentil pelan dahi Beauty untuk menyadarkan wanita itu, bahwa semua ini benar-benar nyata dan bukanlah sebuah mimpi.


"Akh!!"


Lalu Juna pun menarik tangan Beauty dengan lembut dan menuntunnya untuk memasuki rumah pak Heru.


Beauty hanya bisa menurut. Banyak hal yang ingin dia ketahui, banyak hal janggal antara hubungan Juna dengan ayahnya.


"Maaf ya Be, semua ini serba mengejutkan. Aku harap kamu bisa menerimannya."


Bagaimana bisa Juna mengenal ayahnya Heru, sedangkan Beauty sendiri tidak pernah menceritakan apapun tentang sang ayah kepada pemuda itu.


Kini keduanya telah duduk berdampingan di hadapan sang penghulu. Dan beberapa tokoh masyarakat lainnya yang hadir sebagai saksi.


"Bagaimana para saksi Sah? sah?" tanya sang penghulu begitu Juna usai mengucapkan kalimat sakral pernikahan.


"Sah!!!"

__ADS_1


"Alhamdulillah."


Dan penghulu pun mendoakan untuk kebahagiaan pengantin baru yang baru saja melakukan akad nikah.


"Selamat ya nak Juna dan nak Beauty, semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan," ucapan selamat dari sang penghulu.


"Terima kasih doanya pak, maafkan kami sudah mengganggu waktu istirahat bapak malam-malam begini."


"Tidak apa-apa, ya sudah saya permisi dulu ya pak Heru, nak Juna dan nak Beauty," pamit penghulu itu lagi.


"Sekali lagi terima kasih banyak ya pak."


Penghulu itu pun sudah pamit untuk undur diri di ikuti para tokoh-tokoh masyarakat yang ikut hadir. Pernikahan yang Beauty dan Juna lakukan hanyalah pernikahan sederhana, bahkan sangatlah sederhana.


Tidak ada baju kebaya atau pun pakaian adat lainnya. Bahkan Beauty sebagai pengantin, hanya mengenakan kemeja biasa. Hanya Juna yang terlihat paling rapi memakai kemeja berbalut blazer.


Tidak ada tamu undangan atau kerabat dan saudara yang menghadiri. Semua serba ekpress, Beauty sendiri masih tak menyangka malam ini ia sudah menjadi istri sah dari seorang Arjun Narendra.


Yang terpenting pernikahan keduanya sah secara agama serta sah di mata Tuhan, meski hanya belum sah secara hukum dan negara. Atau orang awam menyebutnya sebagai nikah siri.


Beauty termangu menatap keluar rumah. Wanita berlesung pipi itu masih butuh waktu untuk mencerna semua hal yang baru saja ia alami.


"Malam ini kalian beristirahatlah di rumah ayah, besok akan ayah jelaskan semuanya," tegur pak Heru sebelum memasuki kamarnya.


"Untuk kamar kalian ada di depan, tadi pagi sudah di bereskan oleh tetangga yang membantu," imbuhnya lagi.


"Iya ayah," balas Beauty dan Juna bersamaan.


Juna dan Beauty pun saling menatap satu sama lain.


"Kenapa?" tanya Beauty tak mengerti akan arti dari tatapan mata Juna.


"Mari kita lakukan."

__ADS_1


...Apakah ada yang setuju jika author bikin part yang bikin hareudang??๐Ÿคญ๐Ÿคญ...


...Ditunggu jawabannya ya readers ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜...


__ADS_2