Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Rasa Sesal Betty


__ADS_3

“Om, izinkan saya mempertanggung jawabkan perbuatan saya. Saya akan membawa Betty ke negara asal saya di India. Kami akan tinggal di Mumbai, saya akan menikahi Betty om. Tolong beri kami restu,” ucap Amir terisak.


Betty yang melihatnya pun menangis haru. Disaat dirinya akan di buang oleh keluarganya karena sudah menorehkan arang di muka sang ayah.


Kini ada pria baik yang mau memungutnya. Kenapa Betty justru menyia-nyiakan pria yang memiliki hati setulus itu? Di saat diluaran sana para gadis menuntut pertanggung jawaban kepada pria yang menghamilinya, tapi ia justru menolaknya.


Om Pram pun terdiam, sebenarnya ia agak rela dan tak rela anaknya pergi jauh meninggalkan dirinya dan keluarga. Karena bagaimana pun, Betty adalah anak tunggal di keluarga Handoyo.


Selama ini ia sudah keras dalam mendidik anaknya Betty. Hingga Betty memilih keluar dari mansion mereka dan memilih hidup mandiri.


Om Pram sendiri merasa bersalah, karena sudah terlalu menekan hidup Betty dan akhirnya berakhir seperti saat ini. Andai ia tak terlalu menekan Betty selama ini, mungkin Betty tidak akan melakukan hal yang begitu memalukan seperti sekarang.


Daripada ia membiarkan anaknya mengangsing di tempat terpencil lebih baik ia merestui hubungan mereka.


Karena jika Betty terus bertahan, keluarga besarnya pasti akan menuntun keadilan untuk menjalankan tradisi keluarganya yang sudah turun menurun itu.


Jadi meski ia membiarkan Betty pergi jauh, setidaknya ada suaminya yang menjaga anak perempuan satu-satunya itu.


“Baiklah, aku juga tidak ingin bayi itu terlahir tanpa ayah. Jadi aku merestui hubungan kalian berdua,” ucap om Pram yang sebenarnya masih merasa berat hati.


“Bangunlah!” titah om Pram.


Amir pun mengikuti titah calon mertuanya. Namun tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat tepat di pelipisnya.


“Tidak!” pekik tante Sulis saat melihat suaminya akan meluncurkan bogem mentah miliknya.


Bugh!


“Itu hukuman untukmu karena sudah menyentuh putriku tanpa seijin dariku!” ujar om Pram yang sudah mulai sedikit menerima semuanya.

__ADS_1


“Kalau begitu kita semua pulang saja yah, kita selesaikan semuanya di rumah,” usul tante Sulis yang masih terisak.


Karena sudah tak mampu menahan malu yang teramat sangat, akhirnya keluarga Betty pun memilih undur diri.


Namun sebelum pergi, Betty menghampir mami Lola yang terdiam menenangkan diri akibat terkena serangan panik.


“Mami, maafkan Lova mami,” lirih Betty seraya menyentuh lengan ringkih wanita paruh baya itu.


Mami Lola pun menepis sentuhan dari tangan Betty dan membuang muka seakan enggan melihat wajah calon menantu idaman yang ternyata sudah menipu keluarganya.


“Jangan panggil mami lagi, kamu bukan anakku!” balas Mami Lola dengan ketus.


Betty tidak mampu menahan rasa sesaknya, semua orang yang pernah menyayanginya kini berubah membencinya. Mungkin ini sudah menjadi resiko akan kesalahan yang sudah ia perbuat.


“Maafkan Lova tante Lola.”


Lalu Betty pun berjalan menuju dimana Beauty berdiri di ujung tempat itu. Tanpa berucap Betty pun langsung memeluk tubuh berisi Beauty. Rasa haru tak mampu Beauty bendung, keduanya sama-sama terisak dan saling memeluk erat.


“Maafkan aku Bee, maafkan! Kamu boleh tampar atau pukul saja aku! Wanita yang tega menghancurkan mahligai rumah tangga sahabatnya sendiri! Aku menyesal Bee! Maafkan aku!” sesal Betty yang sudah penuh derai air mata.


Beauty pun juga turut terisak. Hatinya yang lembut tak mampu menyimpan rasa benci terlalu lama. Karena sekarang Betty sudah menuai apa yang sudah ia tanam.


Percayalah, setiap perbuatan sekecil apapun kita di dunia itu akan memperoleh balasan. Walau hanya seujung kuku.


“Aku sudah memaafkanmu Betty, semoga ini jadi pelajaran terbaik buat kita semua untuk tidak menuruti obsesi belaka. Belajarlah untuk mencintainya, aku lihat Amir pemuda yang peyayang Betty,” ucap Beauty seraya mengulas senyum.


“Semoga ucapanmu benar Beauty, aku pergi dulu. Aku doakan persalinanmu nanti lancar. Semoga rumah tanggamu bersama Juna selalu bahagia Beauty.”


Betty pun memeluk tubuh Beauty kembali.

__ADS_1


“Kamu juga Betty, baik-baik disana. Sempatlah pulang ke tanah air jika bayimu sudah besar.”


“Aku tidak yakin Bee, aku terlalu malu untuk menampakkan wajahku kembali di keluarga Narendra ini.”


“Ya sudah, aku pergi Bee selamat tinggal teman.”


Beauty pun melepas pelukannya dan membalas lambaian tangan Betty yang sudah pergi menjauh. Bukan salah Betty jika gadis itu mencintai suaminya. Karena cinta itu anugerah setiap manusia, hanya saja Betty salah orang saat melabuhkan perasaan cintanya itu.


“Ehem! Tes ! Tes! Untuk istri saya tercinta mohon segera merapat. Karena sebentar lagi ijab qobul kita akan segera di mulai,” terdengar suara Juna menginterupsi dari micropone yang pemuda itu genggam.


“Apa ijab qobul?” Beauty pun membeo di tempat.


Perasaan panik dan gugup bercampur jadi satu. Semua pasang mata tertuju kearahnya yang masih terdiam terpaku di ujung red carpet.


“Sayank, apa kamu tidak mau menikah lagi denganku? Lalu bagaimana dengan anak kita nanti sayank? Huhuu, ” ucap Juna dengan pura-pura menangis.


”Terima...terima...terima!” terdengar beberapa pemuda tamu undangan menyoraki Beauty di tempat.


“Beauty, udah susul suamimu di sana gih. Dan segera sah kan hubungan kalian di depan hukum dan negara,” ujar Cleo.


“Tapi mas, aku gugup."


Beauty mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua pasang mata menatap kearahnya menanti jawabannya.


Bayangkan saja penampilannya saja tak seperti pengantin, lagi-lagi Juna mengajaknya menikah disaat dirinya dalam keadaan tidak siap.


Kira-kira apa yang akan Beauty lakukan?


Pergi dulu untuk mengganti gaunnya, atau menghampiri Juna dan menikah dengan penampilan apa adanya? Jawab y gaes..🤭

__ADS_1


__ADS_2