Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
ExtraPart2 (END)


__ADS_3

“Bagaimana nyonya, apakah kita sudah bisa memulai operasinya?” tanya sang dokter bedah.


“Lakukan saja dok, kami siap!” sahut Juna mewakili sang istri.


Juna begitu terlihat menyakinkan sebagai suami yang siap siaga. Beauty pun tersenyum seraya bersyukur dalam hati, karena kali ini persalinannya tidak berjuang seorang diri lagi.


“Kami mulai ya bapak, nyonya.”


“Tolong untuk tetap di jaga kesadaran istrinya, tidak boleh tertidur. Tidurnya nanti saja kalau sudah selesai operasinya,” imbuh sang dokter lagi.


Dokter pun mulai melukis pisau bedah itu di atas perut buncit Beauty. Membuat goresan di bekas luka sebelumnya. Darah pun mengucur, lalu asisten dokter pun segera mengarah selang vakum kearah darah yang mengalir. Dan semacam kain untuk menyeka darah yang menempel pada kulit.


Saat kejadian menegangkan itu tengah berlangsung. Suatu kejadian tak terduga menimpa Juna yang masih berdiri sambil merunduk untuk memberi dukungan sang istri tercinta.


“Sayang, semangat ya. Bayi kita pasti selamat. Aku mencintaimu,” support Juna sambil berbisik tepat di telinga Beauty.


Haduh! Di saat seperti ini kenapa hasrat itu baru muncul sih! Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan istriku pas lagi tegang-tegangnya seperti ini.


“Terima kasih banyak suami, aku mencintai juga.”


Aku sudah tidak tahan! Bagaimana ini?!!


Beauty pun kembali terdiam seraya mengatur pernafasannya yang mulai terasa sesak dan jantung yang berdebar-debar. Dalam hatinya terus melantunkan doa agar persalinannya kali ini berjalan lancar tidak seperti persalinan pertamanya.


Aroma obat dan bau anyir begitu semerbak memenuhi ruangan. Hawa dingin yang terciptakan dari 2 pendingin ruangan yang menyala dengan suhu rendah membuat Beauty terasa di kutub utara. Dan mendorong hasrat Juna untuk buang air kecil yang semakin tak terbendung.


“Wah..selamat nyonya, anaknya berjenis kelamin perempuan. Sedikit lagi ya nyonya, tolong bapaknya dorong sedikit pada perut istrinya agar dede bayinya bisa keluar,” pinta sang dokter.


Hasrat Juna yang sudah di ujung tanduk membuat pemuda itu gelinjangan. Tak menyahuti ucapan sang dokter, namun tetap Juna lakukan.


Dan akhirnya bayi Beauty keluar dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Dokter pun menggantung kaki bayi itu sebentar agar dahak dan cairan-cairan sisa air ketuban keluar dari tubuh sang bayi.


Hoekkk! Hoeek!


Melihat itu kaki Juna pun melemas. Karena baru kali ini melihat proses melahirkan seorang wanita. Melihat noda darah berceceran dimana-mana. Dan lagi melihat perut sang istri yang terbuka menganga membuat sesuatu dari dalam diri Juna keluar begitu saja tak terkontrol.


Cesss!


Sesuatu keluar begitu saja dari kain celana yang ia kenakan. Sesuatu yang sedari tadi ia tahan kini terlepas sudah membuat perasaannya merasa lega.


“Dad, anak kita,” gumam Beauty.


“Iya sayang, anak kita cantik seperti kamu,” sahut Juna dengan gugup saat menyadari sesuatu sudah merembes dari celah celana.


“Suster tolong teruskan jahit lukanya ya, saya akan ke ruang operasi yang lain,” titah dokter bedah itu.


“Baik dok.”

__ADS_1


“Ya sudah saya pergi dulu ya bapak, nyonya sekali lagi saya ucapkan selamat atas kelahiran putri keduanya.”


“Terima kasih banyak dok atas bantuannya.” sahut Juna yang mulai merasa cemas.


“Sama-sama...loh...kenapa lantainya basah gini sus. Apakah ada air yang bocor? Tapi cairan ini berwarna kuning seperti....”


Ucapan dokter itu menggantung seiring netranya mengikuti asal air mengalir berwarna kuning itu. Dan tercengang saat tahu dari mana asal air mengalir itu.


“Bapak, anda....”


Juna yang sudah ketangkap basah pun harus bisa meringis, sudah terlanjur mau bagaimana lagi.


*


*


Juna baru saja menaiki lift untuk mengunjungi sang istri yang sedang di rawat di lantai 5 rumah sakit. Seperti biasa gaya Juna memang styles, dan tidak menampakkan bahwa ia adalah seorang ayah dari kedua putra dan putrinya. Di tangan kiri menenteng sebuah tas belanjaan, yang baru saja ia beli dari mini market. Dan sebelah tangan kanannya ia masukan dalam saku celananya.


Sambil menunggu lift yang sedang berjalan secara perlahan, Juna pun bersiul-siul riang untuk menghilangkan rasa bosan.


Tak lama lift pun terbuka, dan menampilkan 2 orang suster yang nampak masih muda. Keduanya nampak terkejut saat baru melihat Juna, dan masuk ke dalam lift sambil berbisik-bisik.


Juna berdiri dengan pongah. Ia fikir para suster itu pasti terpesona akan penampilannya seperti para wanita yang dulu biasa mengejar-ngejar dirinya. Namun ternyata perkiraan Juna salah.


“Eh..itu kan mas..mas kemarin yang ngompol bukan sih?”


Kedua suster itu pun terkikik geli sambil menatap kearah Juna bergantian.


Sial! Pesona Juna sepertinya sudah luntur. Juna sudah percaya diri sekali bahwa para suster itu pasti membicarakan dirinya, namun bukan karena terpesona tapi karena peristiwa memalukan yang baru ia alami beberapa hari lalu di ruang operasi.


Dengan kesal Juna pun menutup wajahnya menggunakan kantong kresek yang ia gunakan membawa kue dalam dus . Lalu keluar lift mendahului para suster tukang gosip itu.


Tingkah konyol Juna mengundang perhatian dan gelak tawa dari beberapa orang yang berpapasan dengan Juna.


*


*


Beauty memberi nama putri keduanya dengan nama Berlin Edelweis Narendra. Perpaduan nama antara Juna dengan dirinya.


Kebahagian keluarga kecil Beauty semakin bertambah semenjak kehadiran baby Be di mansion keluarga Narendra. Bayi yang hobynya menangis jika tak mendapati sang ayah berada di sampingnya. Membuat Juna mau tak mau harus memantau pekerjaan kantornya dari rumah.


Dan sesekali Papi Tulus turut membantu Juna yang suka kerepotan mengurus 2 bayi sekaligus. Meski tetap dengan bantuan baby sister.


Jika baby J selalu nampak tak akur dengan ayahnya, berbeda dengan baby B yang selalu ingin menempel dengan sang ayah.


Bahkan kemana pun sang ayah pergi, baby B harus ikut pula termasuk aktivitas pribadi Juna sekali pun.

__ADS_1


Hari ini tepat baby B sudah berumur sebulan, Beauty berkeinginan menepati janjinya untuk berziarah ke makam Cleo mantan suaminya.


Seluruh keluarga Narendra ikut dalam ziarah itu termasuk papi Tulus dan juga Mami Lola. Kini mereka pun duduk mengelilingi pusara Cleo yang sudah berlapiskan marmer.


“Mas Cleo, sesuai janjiku kemarin aku datang untuk mengunjungimu.” ucap Beauty sambil meletakkan setangkai bunga edelweis di atas pusara Cleo.


“Maaf bila kedatanganku terlalu lama, karena aku harus menunggu baby B lahir dan sampai usia 1 bulan pas hari ini.”


Mami Lola pun mendekap tangan Beauty yang nampak bergetar karena menangis.


“Cleo, tante ucapkan terima kasih banyak. Karena mu Juna masih bisa berkumpul bersama kami hingga sekarang. Semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya.”


Mami Lola pun ikut larut dalam kesedihan, meski ia sebenarnya tak mengenal seperti apa Cleo. Papi Tulus pun menganggukan menyetujui apa yang sudah di ucapkan istrinya.


“Mas, terima kasih untuk segala pengorbananmu. Berkatmu, Juna masih bisa bertahan hidup. Kini kami bisa hidup bersama kedua putra dan putri kami. Aku tahu mas, sedari dulu kamu sangat menginginkan seorang keturunan. Pasti kamu akan suka melihat baby J yang sekarang menginjak usia 3 tahun.”


Monolog Beauty yang baru saja mengetahui bahwa hati yang di transplantasikan ke dalam tubuh Juna adalah hati Cleo.


Pantas saja, suaminya Juna sering kali menangis tak menentu saat bertatap muka secara intens dengannya. Mungkin karena ini pula Juna jadi menyayangi mama Dewi dan juga Sisie. Karena sebagian diri Cleo, kini tertinggal dalam diri Juna.


Dan benar saja, kini Juna menatapnya dengan tatapan sendu. Air mata dan ingusan pun sudah bercampur jadi satu. Di pangkuannya ada baby B yang tak ingin lepas dari sang ayah.


Membuat Juna seperti orang buduh yang membiarkan air mata dan ingus mengalir bersamaan.


Beauty dan mama Dewi yang awalnya bersedih pun berganti tergelak ketika melihat Juna yang mematung menatap kearah mereka dengan kucuran air mata.


Kemudian Beauty pun meraih baby B dari pangkuan Juna dan membawanya ke dalam mobil untuk menyusuinya. Setelah Beauty mengakhiri ziarahnya diikuti mami Lola dan juga papi Tulus.


Namun Juna masih tertahan di tempat itu. Sambil menyeka air matanya yang masih mengalir sesekali.


“Bro! Gue tahu perasaan lo. Tapi rasa bersalah lo sama Beauty dulu, kini berganti jadi beban gue. Gue jadi menangis tak jelas seperti ini."


Juna pun berhenti sejenak untuk mengelap ingusnya yang masih tertinggal.


“Tapi bagaimana pun juga, gue berterima kasih sama lo. karena lo gue masih bisa berkumpul dengan keluarga kecil gue. Sebagai balas budi, gue akan menyayangi mama Dewi dan juga adik lo Sisie. Gue akan menjaga dan menganggap mereka seperti keluarga gue sendiri.”


“Oke, selamat tinggal bro. Gue akan sempatkan mengunjungi lo sesering mungkin. Jangan bosan ya. Bye...”


Hai..hai readers tercinta otor...😘😘


Mohon maaf bnget, kisah Beauty, Juna dan Cleo hanya bisa sampai di sini saja y..🙏


Jika ada salah kata, atau tulisan yang mungkin kurang sempurna. Otor mohon maklum..


Karena otor masih belajar..🤗


Jangan lupa dukung karya otor yg lain..🤭

__ADS_1


See u next story...muaachh.😘😘


__ADS_2