Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

“Bi Tum,” sapa lembut Beauty.


Bi Tum yang sedang bersiap untuk membuat menu makan siang keluarga Narendra pun menoleh.


“Ada apa non cantik? Apakah sudah habis buburnya? Bagaimana menurut nyonya rasa masakan non?” tanya bi Tum antusias.


“Nyonya sedang makan tapi bersama Betty,” sahut Beauty lemah.


Seolah mengerti akan kegelisan yang majikan mudanya rasakan, bi Tum mencoba menghibur wanita berlesung pipi itu.


“Sabar ya non, Nyonya besar belum terbuka saja sama non. Seiring berjalannya waktu, bibi yakin pasti nyonya besar bisa menerima non. Lagian bibi juga tidak suka kalau non Betty yang menjadi istri den Juna, orangnya nggak bisa masak! Ehh! Opps,” buru-buru bi Tum menutup mulutnya yang nakal itu.


Sudah lama tidak mendapat partner mengobrol di rumah besar itu, sekalinya ada yang enak diajak ngobrol jiwa gibahnya keluar.


“Kenapa bi Tum?” Beauty pun merasa heran dengan tingkah asisten rumah tangga Juna yang sikapnya nampak random itu.


“Maaf ya non, bibi kebablasan. Habis minum banyak minyak sih makanya licin,” cengir bi Tum.


“Apa minum minyak?” ulang Beauty.


“Hehe, bibi cuma bercanda non. Oh..iya ada apa gerangan non Beauty kesini? Apa ada yang bisa bibi bantu?” tanya bi Tum mengalihkan.


“Bibi sedang apa? Boleh Beauty bantu?”


“Non serius? Tapi nanti kalau bibi di marahin den Juna bagaimana non?”


“Tidak akan bi, bibi tenang saja. Lagian saya tidak bisa berdiam saja jika menumpang di rumah orang,” sanggah Beauty.


“Non, non Beauty kenapa begitu baik banget. Jarang sekali ada seorang majikan yang membantu asisten rumah tangganya loh non.”


“Bibi bisa aja,” balas Beauty dengan tersenyum.


“Beneran bibi nggak bohong, dulu nyonya saja nggak pernah ikutan bibi masak. Paling cuma bantuin nyiapin,” celoteh bi Tum.


“Ya sudah, kita mulai masak saja ya bi,” ajak Beauty untuk menghindari mulut bi Tum yang sepertinya susah ngerem.


“Siap non! Biar bibi yang siapin bahannya. Non tinggal sakicup tring gitu,” balas bi Tum nyengir.


Beauty hanya tersenyum menanggapi gurauan asisten dari suaminya itu.


...* * *...


Setelah cukup lama bergelut di dapur untuk memasak, tiba-tiba saja rasa pening menyerang Beauty. Dan keringat dingin membanjiri pelipis serta kedua telapak tangannya, sampai membuat tubuhnya bergetar.

__ADS_1


“Non! Ya Allah non, non Beauty sakit?! Kenapa nggak bilang-bilang, mana wajah non pucat gini. Duh bisa di jadiin daging giling ni bi Tum sama den Juna,” ucap bi Tum panik.


Beauty pun meringis tertahan, menampilkan deretan gigi kelincinya yang rapi tanpa campur tangan dokter gigi.


“Bi, tolong telepon Juna,” pinta Beauty lirih.


“Bentar ya non.”


Bi Tum pun lari tergopoh-gopoh menuju saluran telepon rumah yang terletak dekat dengan ruang santai keluarga.


Bersamaan dengan itu Juna baru saja menutup pintu ruang tamu utama. Juna pun menatap heran kearah asisten rumah tangganya yang nampak tergesa-gesa dan dalam keadaan panik.


“Bi! Apa yang terjadi?” tanya Juna yang sukses menghentikan langkah perempuan paruh baya itu.


“Nah ini panjang umur orang yang diarepin dateng! Itu den Juna..itu!” kata bi Tum gelapan.


“Yang jelas bi, itu apa?” tegas Juna.


“Itu den, non Beauty..non Beauty sakit!” bi Tum pun merasa lega setelah dapat menyelesaikan kalimat yang tersimpan di ingatannya.


“Apa?! Dimana sekarang Beauty bi?” tanya Juna seraya melangkah mendahului pembantunya.


“Di dapur den Juna.”


Bi Tum pun mengucapkannya disertai rasa takut. Dan Juna pun segera bergegas menuju tempat yang bi Tum beritahu. Diikuti bi Tum dari belakang.


“Juna,” lirih Beauty dengan mata terpejam.


“Iya Bee, bertahanlah!” balas Juna dengan suara bergetar.


Pandangannya tampak menggelap, namun Beauty masih mampu mendengar dengan keadaan sekitarnya.


“Tolong jangan marahin bi Tum.”


Juna yang awalnya tak mengerti akan ucapan Beauty pun sempat terdiam, namun beberapa menit kemudian pemuda itu mulai mengerti arti dari ucapan sang istri.


Tak butuh waktu lama, mobil yang Juna kemudikan kini sudah terparkir di pelataran rumah sakit. Dengan segera beberapa perawat membantu membawa tubuh Beauty yang lemah menggunakan kursi roda.


Juna nampak gugup dan tidak tenang. Sedari pemeriksaan Beauty, pemuda itu nampak tidak bisa diam. Sesekali ia mengganti posisinya untuk menghilangkan rasa panik serta khawatir.


“Dengan bapak Juna?” tanya sang dokter.


“Iya dok, dengan saya sendiri,” sahut Juna dengan cepat.

__ADS_1


“Bapak boleh masuk ke dalam.”


“Baik dok.”


Juna pun mengekori langkah dokter spesialis kandungan itu dari belakang.


Jantungnya berdegup kencang, karena belum siap mendengar sesuatu yang tidak ingin pemuda itu dengar.


“Sebelumnya, saya ucapkan selamat ya untuk pak Juna dan nyonya Beauty atas kehamilan istri bapak,” ucap dokter bername tag Estu W Sp.OG itu.


“Terima kasih dok, jadi bagaimana keadaan istri saya?” tanya Juna tak sabaran.


Dokter kandungan itu pun tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari suami pasiennya.


“Sepertinya bapak khawatir sekali dengan keadaan istrinya ya?” tanya dokter itu lagi.


Juna pun memberengut kesal. Itu bukanlah sebuah jawaban yang ingin ia dengar dari mulut dokter cantik itu.


Dokter itu memang cantik, tapi genit itu yang sekarang tergambar dalam benak Juna.


Menyadari ekspresi tak suka dari Juna, dokter Estu pun mulai menjelaskan.


“Maaf ya pak, baiklah saya akan menjelaskannya. Begini, istri bapak baik-baik saja. Kejadian seperti ini sudah sangat lumrah di alami oleh seluruh ibu hamil yang ada di dunia. Namun memang setiap ibu hamil, mengalami gejala yang berbeda-beda,” jeda dokter Estu.


“Lalu?”


“Seperti halnya nyonya Beauty, rasa pusing, mual lemah serta keringat dingin adalah hal yang wajar. Itu di karenakan beliau kekurangan darah. Saya sarankan nyonya untuk sering mengkonsumsi kapsul penambah darah, vitamin untuk janinnya dan obat penguat kandungan. Karena saya lihat, kandungan nyonya Beauty ini sangat lemah sekali. Dan jangan banyak kegiatan terlebih dahulu, di usia kehamilan muda seperti ini sangat rentan akan keguguran. Jadi pesan saya kepada pak Juna untuk kurangi dahulu aktivitas main kuda-kudanya, karena ini bisa membahayakan janin di dalam kandungan nyonya Beauty,” tutur dokter Estu dengan jelas dan sedikit agak frontal.


“Jadi saya dan istri nggak boleh main kuda-kudaan dulu dok?” tanya Juna mengulang kembali kalimat frontal sang dokter.


“Benar pak Juna, jadi anda harus puasa dulu ya untuk beberapa minggu. Sampai kandungan nyonya Beauty kuat.”


Juna pun nampak manggut-manggut mengerti akan ucapan sang dokter. Lalu terdengar suara lemah Beauty memanggil nama suaminya.


“Juna.”


“Itu istri anda sudah bangun, segera dampingi dan beri dorongan. Untuk memberi energi yang sempat hilang, saya pasangkan satu kantong infus. Setelah infusnya habis, pak Juna beserta istri sudah boleh pulang. Saya akan menyiapkan resepnya untuk nanti di tebus,” ucap dokter Estu sebelum berlalu.


“Baik dok, terima kasih.”


“Sama-sama pak Juna,” balas dokter Estu seraya mengerlingkan sebelah matanya membuat tubuh Juna bergidik ngeri.


“Cantik tapi gitu sih!” gerutu Juna saat dokter Estu sudah pergi.

__ADS_1


“Juna!” Beauty sedikit agak mengeraskan volume suaranya.


Lanjut ya kak...🤗


__ADS_2