Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Perawat pribadi Mami Lola


__ADS_3

“Kamu suster dari panti jompo xx kan?” tanya Beauty tanpa basa basi.


“Iya nyonya, dengan nyonya Beauty kan?” tanya gadis itu balik.


“Iya, saya sendiri.”


“Perkenalkan nyonya, nama saya Sri.”


“Senang berkenalan denganmu Sri, dan kamu pasti sudah tahu kan siapa namaku barusan? Jadi tidak perlu aku jelaskan lagi. Mari ikut aku, aku akan mengenalkanmu sama mami dan para pekerja disini,” ajak Beauty kepada suster baru yang akan membantunya mengurus mami Lola.


Gadis itu tak menyahuti ajakan Beauty, namun tatapan matanya begitu intens menatap kearah bagian perut Beauty yang tampak membuncit.


“Sri? Kamu baik-baik saja kan?” tanya Beauty seraya mendekat ke arah gadis berkacamata itu.


“Oh...iya nya, saya baik-baik saja. Apa nyonya butuh sesuatu? Sepertinya nyonya sedang hamil ya sudah berapa bulan?” tanya Sri yang di nilai Beauty sangat tidak nyambung.


Beauty pun tersenyum, nampaknya gadis berkacamata di hadapannya ini seperti kurang fokus. Tubuhnya memang ada disini, akan tetapi fikirannya entah melalang kemana karena barusan kepergok melamun oleh Beauty sendiri.


“Saya memang butuh bantuanmu tapi nanti, mari ikut aku. Akan aku kenalkan kepada beberapa karyawan disini, dan bertemu dengan mami. Sekalian aku akan menjelaskan tugas-tugasmu nanti.” ulang Beauty.


“Baik nyonya.”


“Oiya...aku memang sedang hamil dan usianya sekarang sudah 17 minggu, doain ya Sri.”


“Wahh! Selamat ya nyonya, saya turut senang dengarnya.”


Gadis itu pun mengikuti langkah Beauty dari belakang. Kakinya memang terus berjalan, namun pandangan matanya mengedar ke segala arah seolah sedang mencari sesuatu.


“Kamu sudah makan Sri?” tanya Beauty yang berjalan anggun di depannya.


“Eh..sudah, eh..belum nyonya,” balas Sri tersipu malu.


“Yaudah, makan dulu gih. Kebetulan lauk sisa makan siang masih banyak. Kamu bisa makan dulu, sebelum kita berkeliling rumah ini,” usul Beauty.


“Duh, jadi nggak enak saya nyonya. Masa saya baru datang sudah minta makan,” elak Sri dengan halus.


“Nggak apa-apa, daripada kamu nanti kenapa-kenapa. Di rumah ini seluruh pegawai aku minta makan dahulu sebelum bekerja, agar tenaga tidak kosong dan fikiran tidak blong,” gurau Beauty.


“Nyonya bisa aja, memang rem blong,” sahut Sri sambil terkikik.


“Eh..maaf nyonya!” reflek Sri menutup mulutnya yang lancang ikut tertawa.


“Udah Sri, kamu makan dulu gih. Aku tunggu di ruang santai ya.”


“Baik nyonya.”


#

__ADS_1


#


Tak lama Sri pun selesai makan ditemani oleh bi Tum selaku kepala asisten rumah tangga di keluarga Narendra.


Sri pun menghampiri Beauty usai gadis itu mencuci piring kotor miliknya.


“Nyonya, saya sudah selesai,” sapa Sri membuyarkan lamunan Beauty.


“Eh! Sudah Sri? Ya sudah langsung ke kamar mami yuk!” aja Beauty di ikuti Sri dari belakang.


Setelah sampai di depan pintu kamar Mami Lola, Beauty pun mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu terlebih dahulu.


Tok!


Tok!


“Masuk!” Terdengar suara Juna yang menyahuti dengan lantang dari dalam kamar.


“Yuk Sri masuk!” titah Beauty.


“Baik nyonya!”


“Mami, Juna perkenalkan ini suster yang akan membantu Beauty mengurus mami,” papar Beauty seraya memperkenalkan Sri kepada mami dan juga Juna.


“Oh..ini suster yang akan merawat mami? Semoga betah ya, aku Juna suami Beauty dan ini mamiku Lola,” ucap Juna ramah.


Tapi Juna pun hanya mengantupkan kedua tangannya di depan dada sebagai permintaan maaf.


“Maaf ya, aku buru-buru. Sayank...maaf aku tinggal dulu ya. Jaga bayi kita dan juga mami, aku menyayangimu,” pamit Juna seraya mendaratkan ciuman singkat pada bibir sang istri.


Cup!


“Junaa! Malu ih ada mami dan juga Sri!” protes Beauty yang merasa malu akan tindakan Juna yang selalu di penuhi kejutan.


Mami Lola pun tersenyum mendapati anaknya hidup dengan bahagia bersama istrinya. Seharusnya, sedari dulu ia merestui hubungan Juna dengan mantan sekretarisnya itu.


Karena terlalu menginginkan egonya untuk menjadikan Betty menantunya, dan akhirnya kini ia harus menanggung malu. Mami Lola jadi semakin merasa bersalah karena sudah hampir memisahkan dua manusia yang saling mencinta itu.


“Tak mengapa, mami juga pernah muda. Iya kan mam?”


Mami Lola tersenyum kembali.


“Hati-hati ya Juna.” ucap Mami Lola dengan lemah.


“Tapi Sri gimana?” protes Beauty lagi.


“Sri? Biar Sri belajar,” ucap Juna dengan entengnya.

__ADS_1


“Juna! Ih...”


Beauty pun memukul pelan bahu suaminya untuk merajuk, lalu kedua tangannya di tangkap oleh Juna dan di genggam oleh pemuda itu.


“Ingat ya? Bumil nggak boleh marah-marah lo,” goda Juna.


“Ya sudah, aku berangkat dulu sayang. Ada klien yang harus aku temui,” ucap Juna sambil mengacak pelan puncak surai sang istri.


Kemesraan kedua majikan baru Sri sukses membuat gadis itu mematung. Entah apa yang Sri fikirkan, Sri tampak terlihat melamun.


“Sri! Kamu melamun lagi ya, masih siang juga. Sini ikut, aku akan jelaskan tugas-tugasmu,” seru Beauty membuyarkan lamunan Sri.


“Eh! Maaf , baik nyonya.”


Sri pun nampak mengekori Beauty dari belakang, mendengarkan dengan seksama apa yang sudah Beauty ucapkan. Dengan sabar Beauty menjelaskan satu persatu apa yang nanti akan menjadi tugas Sri sebagai perawat pribadi mami Lola.


“Bagaimana Sri sudah mengerti sekarang?” tanya Beauty setelah cukup panjang lebar menjelaskan seluruh tugas Sri nanti.


“Sudah nyonya, terima kasih.”


“Sama-sama.”


“Beauty,” panggil Mami Lola dengan lemah.


“Iya mam, apa ada yang bisa Beauty bantu?”


Mami Lola pun menggeleng pelan, seraya menuntun Beauty untuk duduk di sampingnya.


“Terima kasih karena sudah mau mengurus mami, mami minta maaf karena mami belum bisa menjadi mama mertua yang baik untukmu nak,” ucap Mami Lola seraya mengelus lembut surai panjang Beauty.


Beauty pun menggenggam tangan mama mertuanya yang nampak ringkih itu.


“Mami, Beauty sudah menganggap mami seperti ibu kandung Beauty sendiri. Beauty sayang sama mami, terlepas semua yang pernah terjadi. Kita lupakan saja, Kita harus membuka lembaran baru lagi ya mi.”


“Terima kasih Beauty, mami menyesal pernah menyia-nyiakan anak mantu yang baik sepertimu.”


“Tidak mengapa mi, semua sudah berlalu. Beauty sudah memaafkan semuanya,” sahut Beauty seraya memeluk tubuh ringkih mertuanya.


Tanpa terasa buliran air asin mengalir dari sudut matanya Beauty. Ya, usaha Beauty untuk mengambil hati mama mertuanya selama ini tidak sia-sia.


Sekarang Mami Lola sudah bisa membuka diri dan menganggapnya sebagai anak menantu. Tak urung semua itu membuat Beauty merasa bahagia dengan kehidupan keduanya sekarang, setelah cobaan silih berganti menghantam hidupnya.


Hai readers tercinta..😘😘


Author minta dukungan juga utk karya author yg ikut event ini ya...Jngn lupa di subcribe..😍


__ADS_1


__ADS_2