Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Juna Yang Polos


__ADS_3

...Sebelumnya author ucapkan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya atas bencana gempa bumi yang menimpa wilayah kabupaten Cianjur dan sekitarnya. 😢...


...Sebagai sebagian dari warga pasundan, alhamdulillah author masih di beri keselamatan meski sempat merasakan efek gempa berkali-kali....


...Semoga para korban di terima amal ibadahnya, serta meninggal dalam keadaan kusnul khotimah. Dan keluarga yang ditinggalkan di beri ketabahan serta hati yang lapang. Mari kita doakan bersama-sama sesuai keyakian kalian masing. 🤲...


"Mari kita lakukan."


Glek!


Beauty merasa menelan salivanya dengan susah payah. Seperti ada gumpalan lendir yang menyangkut di tenggorokannya.


"Apa..apa maksudmu Juna??" tanya Beauty dengan tergagap.


Juna pun tersenyum tipis menampilkan smrik misteriusnya. Ia bisa melihat, jika wanita yang sudah menjadi istrinya setengah jam yang lalu itu merasakan gugup.


Ternyata Beauty bisa gugup juga. Padahal ini bukan yang pertama untuknya. Tapi sebenarnya gue sendiri juga merasa gugup sih, ini yang pertama buat gue. Apa gue perlu streaming dulu ya..?


( streaming buat cowok ngerti sendiri kan? 🤭😆✌️)


"Maksudku buatkan aku makanan, aku lapar," pinta Juna di sertai cengiran khas pemuda itu.


Fyuh! aku fikir Juna akan mengajakku melakukan monopoli.


Tentu saja Beauty tahu, hal apa yang harus dilakukan oleh dua mamalia yang sudah menikah. Karena ia lebih berpengalaman segalanya daripada Juna.


"Oh...iya, tunggu sebentar ya. Akan ku buatkan untukmu dan juga untuk ayah."


Beauty pun berlalu dari hadapan pemuda itu. Setelah Beauty terlihat memasuki dapur, dengan terburu-buru Juna mengeluarkan benda keramat miliknya yang canggih.


Jari-jemarinya lincah berselancar kesana-kemari untuk mencari modul untuknya belajar. Setelah cukup lama mengulik-ngulik sebuah situs terkutuk dengan menggunakan sandi terlarang.


Situs terkutuk itu ia dapatkan dari para bodyguardnya Jeki dan Jono. Perlu di ketahui, kedua bujang lapuk itu adalah langganan streaming situs terlarang tersebut.


Tak lupa pemuda itu menggunakan earphone untuk meredam suara agar Juna seorang yang bisa mendengarnya.


"Haduh..judul-judulnya kok bikin merinding gini sih ya? tapi gue makin penasaran, s*al!" gerutu Juna dalam kesendirian.

__ADS_1


Dengan rasa penasaran yang menggelora, Juna pun mulai menekan icon putar pada layar benda keramat miliknya itu.


Untuk sesaat, raut wajah pemuda itu biasa saja. Namun beberapa menit kemudian berubah menegang. Bahkan ia pun sampai menutup matanya karena mendapati adegan yang menurutnya sadis.


"Gila! kenapa harus nemplok di dinding seperti itu? kayak cicak aja, hahaa." celoteh Juna yang masih fokus dengan benda keramat miliknya.


Kemudian Juna membuka judul yang lainnya. Ternyata isinya lebih sadis dari yang sebelumnya. Membuat pemuda dengan tatanan rambut messy french cropnya itu, menarik turunkan jakunnya berulang kali.


"Ini lagi kaya spiderman lagi nolongi si Mary Jane. Ampun deh!" seloroh Juna lagi sambil tergelak.


Mulut Juna tak hentinya menyerocos seiring modul yang ia streaming. Seakan pemuda itu adalah juri dalam suatu kompetensi ajang pencarian bakat seperti yang ada di tivi-tivi nasional.


"Wow!! ini lebih parah lagi gaes! masa kaya domba di borgol gitu. Wahh...doi bisa kena undang-undang HAM ini!" seru Juna lagi.


Ekpresi raut wajah Juna berubah-berubah seakan mengikuti isi modul yang ia streaming di situs terkutuk itu. Manik matanya sesekali melembar, menyipit bahkan melotot sempurna.


"Padahal itu sadis banget, tapi kenapa mereka nggak kesakitan ya? Malah terlihat menikmati begitu," celoteh Juna tanpa henti.


Ini untuk pertama kalinya Juna mempelajari hal yang menurutnya memaksakan kehendak seseorang untuk menjadi dewasa.


Karena sekali pun Juna belum pernah merasakan cinta kepada seorang wanita. Kehidupan sebelumnya, ia hanya ingin kebebasan tanpa wanita.


"Apa yang menikmati Juna?"


Tiba-tiba Beauty keluar dari dapur dengan membawa 3 piring nasi goreng buatannya dan menaruhnya di meja makan.


Namun yang Beauty tanyai bergeming. Pemuda itu malah asyik menatap benda keramat miliknya dengan sesekali menggigit ujung kukunya yang sudah memendek karena habis tergigit.


Beauty pun jadi dibuat penasaran kenapa Juna nampak mengacuhkannya? Apakah pemuda itu sedang ada dalam meeting dadakan seperti biasanya?


Dengan berjalan secara perlahan Beauty mulai mendekati tempat duduk Juna yang terlihat asyik bersandar di tepian jendela yang cukup lebar itu.


"Juna, apa kamu sedang ada meeting?" tanya Beauty lirih.


Beauty pun takut, jika suaranya mengganggu aktivitas Juna yang sepertinya sangat serius sampai pemuda itu nampak berkeringat serta wajahnya yang memerah.


Bahkan sesekali Juna terlihat membasahi bibirnya berulang kali.

__ADS_1


Tangan Beauty pun terulur untuk menepuk pemuda tersebut. Untuk memberitahukan bahwa makan malam yang ia buat sudah siapkan di atas meja makan.


Namun tepukan kecil Beauty justru membuat pemuda itu terkejut luar binasa. Saking terkejutnya sampai Juna melempar sendiri benda keramat miliknya ke luar jendela beserta earphone yang ia kenakan ikut terlepas.


Plung!


Benda keramat nan canggih itu terjun bebas dengan gaya batunya dan masuk ke sebuah wahangan (sungai) samping rumah pak Heru.


"Jambret lah! padahal sebentar lagi mu... eh kamu Bee!" Juna pun lebih terkejut lagi dan merasa kikuk ternyata Beauty sudah ada di sampingnya dengan raut wajah curiga.


"Apanya yang sebentar lagi Juna? Kenapa kamu terkejut? Maaf ya ponselmu jadi terjatuh, aku tak bermaksud mengagetmu tadi."


Juna pun mengusap wajahnya yang terasa panas dan basah oleh keringat untuk menghilangkan kegugupan dalam dirinya. Bahkan tingkah Juna seperti pacar yang tengah kepergok chatting dengan wanita lain.


"Eh..anu itu apa ya piala dunia Qatar melawan Jepang. Padahal sebentar lagi masuk gol..ya itu maksudku, hehe."


"Masalah ponselku tenang saja, aku masih banyak stok tak terpakai di mobil," imbuh Juna merasa salah tingkah.


Huh! Mentang-mentang orang kaya ya sombong. batin Beauty bergumam.


Beauty hanya menatap skeptis kearah pemuda itu. Kalau hanya menonton bola kenapa sampai berkeringat seperti itu?


"Lalu kenapa wajahmu memerah dan nampak berkeringat seperti itu Juna? Apakah disini panas?Padahal kan jendelanya terbuka lebar seperti ini?" tunjuk Beauty kearah jendela yang tengah di duduki pemuda itu.


"Oh...iya nih gerah sekali disini, hehee..iya geurah sekali...hahaa," sahut Juna sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya berpura-pura kepanasan.


Padahal bagian bawah sana yang nampak terasa panas dan penuh sesak.


"Maaf ya, ini kan di kampung jadi tidak ada AC seperti di apartemen milikmu Juna."


"Oh..tidak apa-apa kok, apa makanannya sudah siap?" tanya Juna mengalihkan kecurigaan wanita berlesung pipi itu.


"Sudah, silahkan makan. Aku akan membangunkan ayah, barangkali ayah ingin makan lagi."


Juna pun mengangguk seraya menatap pinggul Beauty yang menari-nari naik turun dengan indahnya sambil menjauhi tempat duduk Juna.


"S*al! kenapa aku terus terbayang-bayang begini?!" umpat Juna sebelum ia putuskan beranjak menuju meja makan.

__ADS_1


...Lanjut nggak nih?? jangan lupa dukungannya like, koment dan vote y readers. Biar nggak ketinggalan up klik tap ❤️ 😘😘...


__ADS_2