
" Apa salahnya berdamai dengan masa lalu? Yang salah adalah menyimpan 2 cinta dalam satu hati dan membuat keduanya menunggu "
Perang dingin yang terjadi antara Cleo dan Juna pun masih terus berlanjut. Kini keduanya terlibat dalam suatu permainan kartu domino.
Juna melempar sebuah kartu seraya mengucapkan sebuah kalimat ejekan kearah Cleo.
"Apa loe tidak malu? Setelah loe buang mantan istri loe, sekarang loe malah tinggal di rumahnya?hm" ucap Juna dengan nada penuh ejekan.
"Itu bukan urusan loe!" ketus Cleo sambil balas melempar kartu miliknya.
"Justru itu jadi urusan gue sekarang! Karena Beauty adalah istri gue! Gue nggak suka loe nyari perhatiannya. Paham loe!" sungut Juna tak ingin kalah.
Cleo pun tampak menggeram pelan seraya meremas kartu-kartu yang ada dalam genggamannya.
"Terus apa masalahnya? Dia juga mantan istriku. Kita punya hubungan yang baik, kenapa loe tidak bisa sedikit lebih dewasa sih, dasar bocah!" ledek Cleo balik.
Juna yang sedari awal sudah merasa cemburu akan kedekatan istri dengan mantan suaminya pun tersulut emosi.
Pemuda itu bangkit dari sofa, lalu meraih kerah baju Cleo seraya menariknya untuk mendekat.
"Gue tekan kan sama loe ya, gue sekarang suaminya Beautyku. Jadi lebih baik jaga sikap loe! Dan satu lagi, gue ini sudah dewasa bukan bocah seperti yang loe bilang!" tegas Juna dengan wajah memerah karena menahan amarah.
Cleo pun hanya tersenyum miring.
"Loe baru saja mengenal Beauty, gue lebih lama daripada loe! Loe belum tahu saja bagaimana Beauty sangat mencintai gue dulu! Mungkin loe hanya buat pelarian saja bagi Beauty!" balas Cleo tak ingin kalah.
Juna pun mengepalkan tinjunya kuat-kuat dan bersiap ingin melayangkan bogem mentahnya kearah Cleo.
Pemuda itu tidak terima akan ucapan Cleo yang mengatakan, jika dirinya hanya sebagai pelarian bagi Beauty.
Bertepatan dengan itu, Beauty keluar dari dapur membawa 2 mangkuk mie instan. Saat di dapur, ia hanya menemukan makanan cepat saji itu, karena diluar hujan tidak memungkin dirinya untuk keluar untuk membeli bahan makanan lain.
"Ada apa ini? Cleo ..Juna?" tanya Beauty bergantian kearah suaminya Juna serta mantan suaminya Cleo.
Dengan cepat Juna melepas jeratan tangannya dari kerah baju Cleo.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, ini baju Cleo ternyata bolong. Ia tidak sempat untuk menjahitnya," alibi Juna.
"Apakah benar mas? Kalau begitu biar aku saja yang akan menjahitnya," tawar Beauty.
Beauty tahu betul bagaimana seorang Cleo, mantan suaminya itu tidak bisa melakukan hal-hal kecil seperti itu. Meski terlihat mudah, namun Cleo sedari kecil hidup serba berkecupan seperti halnya Juna.
"Tidak!!!" teriak Juna.
"Kenapa?" tanya Beauty tak mengerti.
Cleo pun hanya tersenyum miring, dalam hati pria berjambang tipis itu merasa sangat senang. Karena Beauty masih memperhatikan serta menyimpan kepedulian pada dirinya.
Tentu saja itu lebih jelas, karena kebersamaan Cleo dan Beauty tidak hanya setahun atau dua tahun saja melainkan bertahun-tahun.
"Sudahlah, lebih baik kita makan saja," lerai Cleo kemudian.
Perang dingin antara Cleo dan Juna pun masih berlanjut. Kini keduanya terlibat rebutan mangkuk mie instan yang sudah Beauty sajikan.
"Ini buat gue!"
"Bukan! Mie dengan sayuran ini buat gue!" kecam Juna dengan mencekal pergelangan tangan Cleo.
Beauty pun mengambil satu mangkuk mie yang tertinggal, lalu menyerahkan kepada Cleo.
Lagi-lagi Juna merebut mangkuk yang Cleo pegang.
"Gue mau yang ini, loe yang itu saja!"
Cleo pun hanya mendengus kesal. Pemuda di hadapannya memang sangat menyebalkan karena bersikap seenak hatinya.
Jika saja tidak ada Beauty, sudah ku bikin perkedel kau. Dasar bocah! Batin Cleo.
Juna pun hanya menanggapi acuh tak acuh tatapan sinis dari Cleo.
Kedua pria dewasa yang sama-sama pernah menjabat sebagai petinggi perusahaan itu, terlihat bagaikan anak kecil yang berebut perhatian dari ibunya.
__ADS_1
Lalu keduanya pun mulai menyantap mie panas dalam mangkuk mereka dengan lahap.
"Hemm..rasa mie buatanmu memang tidak pernah berubah Bee selalu enak, terima kasih kamu masih mengingat kesukaan mas. Dengan menambahkan taburan bawang goreng dan irisan cabai diatasnya," puji Cleo kearah Beauty.
Cleo sengaja melakukannya untuk membuat bocah di hadapan semakin berang. Sesekali ia melirik kearah Juna untuk melihat ekpresi dari pemuda itu.
Juna yang mendengarkan kalimat pujian dari mulut Cleo tampak menggenggam garpu beserta sendoknya kuat-kuat.
Sedangkan Beauty nampak salah tingkah. Entah ia sendiri merasa tak terlalu mengingat kebiasaan pria itu, mungkin karena sudah terbiasa jadi Beauty reflek hafal di luar kepalanya.
"Aku juga ingin menambah bawang goreng dan irisan cabai yank," ujar Juna sambil menyodorkan mangkuk miliknya yang sudah tak terisi penuh lagi.
"Beneran?" Beauty tak yakin jika Juna ingin menambah irisan cabai, pasalnya ia tahu betul jika pemuda itu tidak menyukai makanan pedas.
"Iya, aku yakin yank."
Juna berusaha bersikap gentlemen di hadapan Cleo. Karena pemuda itu bertekad tak ingin kalah saing dari rivalnya di masa lalu itu.
Beauty pun berlalu ke belakang untuk mengambilkan apa yang suami kecilnya minta.
Tak lama Beauty pun kembali dengan membawa mangkuk mie milik Juna yang sudah ia taburi irisan cabai rawit dan bawang goreng.
"Terima kasih ayanku," ucap Juna diiringi perilaku genitnya mencolek dagu wanita itu di hadapan Cleo.
Cleo yang sebenarnya memperhatikan sedari tadi, nampak menulikan indra pendengarannya. Pemuda berjambang tipis itu berusaha berbesar hati dan menerima kenyataan bahwa Beauty sudah menikah dengan pria lain.
Acara makan pun selesai, lalu Beauty membawa bekas makan mereka ke dapur untuk mencucinya. Sedangkan Juna, wajah pemuda itu nampak memerah dan berkeringat karena menahan rasa pedas yang rasanya membakar lidah.
Kini Beauty dan Cleo nampak terlihat duduk di ruang tamu.
"Loh, dimana Juna mas?"
"Dia di luar, sepertinya dia kepedasan makanya kipas-kipas terus sedari tadi."
"Sebenarnya, Juna tak begitu menyukai pedas. Tapi entah mengapa tadi Juna malah minta irisan cabai."
__ADS_1
Cleo hanya tersenyum. Sebagai sama-sama seorang pria, Cleo tahu betul bahwa Juna hanya tak ingin terlihat payah di hadapan Beauty.
"Hmm..Bee, mas ingin bertanya sesuatu. Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu sekarang?" tanya Cleo dengan tatapan intens kearah mantan istrinya itu.