Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Kesederhanaan.


__ADS_3

Juna melempar ponselnya dengan kesal diatas jok mobil. Lantaran acara makan malamnya harus gagal karena ajakan dinner dari Betty yang mengatasnamakan mamanya.


Sungguh jika itu benar kehendak mamanya, Juna memang sedikit sulit untuk menolak.


Bukan karena takut mamanya, namun betapa Juna sangat menyayangi wanita yang selama ini sudah merawat dan membesarkannya hingga sekarang.


Setelah ia konfirmasi kepada mamanya langsung, ternyata Betty benar tidak berbohong.


Kini Juna sudah sampai di restoran yang sudah Betty rekomendasikan. Karena Juna sedang tidak semangat, penampilannya pun tampak berantakan.


Ia sengaja memakai kemeja yang tidak di masukan serta blazer warna hitam. Bahkan celananya pun tampak sobek di sana-sani.


Rambutnya yang kini tampak memanjang, hanya di sisir menggunakan jari. Tanpa sisir atau pun menggunakan gel seperti biasanya saat ia bekerja.


Sampainya ia di kursi yang sudah Betty pesan, Juna langsung duduk dengan cuek sambil memainkan benda pintar miliknya.


Tanpa menghiraukan keberadaan Betty yang sedari tadi memasang senyum semanis mungkin untuk menyambut kedatangan pemuda tersebut.


"Juna, kamu baru datang?" sapa Betty dengan ramah dan berusaha menampak senyum yang tak luntur meski tak mendapat balasan.


"Loe punya mata kan!" balas Juna dengan ketus.


"Eh..em...oh iya..kamu mau pesan apa? katanya disini makanannya enak-enak loh. Kamu harus nyobain!" seru Betty mencoba menghangat suasana yang seperti di kutub utara itu.


Sebenarnya Betty tahu, jika Juna tak begitu menyukainya. Namun gadis itu tak menyerah, karena sedari dulu ia sangat menyukai Juna jauh sebelum pemuda itu bergabung dengan perusahaan dimana ia bekerja.


Dan perjodohan ini merupakan kesempatan emas baginya.


"Terserah loe saja, gue makan apa saja yang menurut gue enak!" ketus pemuda itu lagi.


"Baiklah, pelayan!"


Tak berlangsung lama pesanan mereka pun sudah tersaji diatas meja makan. Hidangan demi hidangan yang tampak menggiurkan mulai menggoyahkan indra penciumannya.


Namun Juna masih bergeming. Sedikit pun ia tak menatap hidangan yang menggiurkan itu meski sebenarnya perutnya sudah meronta-ronta minta di isi.


Ia masih sibuk menatap layar pintar miliknya mencoba berulang kali mengirim pesan kepada sang sekretaris namun tak kunjung mendapat balasan.


Kemana Bee? kenapa chat gue nggak di balas-balas?


Juna tampak gusar, salah satu sepatunya mengetuk-ngetuk lantai yang di lapisi marmer berkilau. Gerakannya tak bisa diam menandakan ada kegelisahan di hatinya.


Kenapa Juna terus saja menatap layar ponselnya ya? apakah ia sedang menghubungi kekasihnya? tapi asistennya bilang Juna itu masih single?


Lama-lama Betty merasa terasingkan. Namun ia masih bertekat untuk mencari perhatian Juna.


"Juna, ini dagingnya enak banget loh. Kamu harus coba ya?"


Tanpa permisi Betty menyuapkan sepotong daging yang ia tusuk menggunakan garpu ke arah pria yang tengah duduk di hadapannya.


Namun justru penolakan yang ia dapatkan. Juna menghempaskan pergelangan tangan Betty hingga garpu yang wanita itu pegang terjatuh.


"Aahhh!!"


"Gue bukan anak kecil yang harus disuapi, dan gue bisa makan sendiri!" gertak Juna dengan nada ketus.


Betty pun hanya bisa menunduk. Gadis itu tak menyangka mendapat penolakan yang sangat menyakitkan. Tapi ia masih bisa untuk bersabar, ia yakin suatu saat Juna akan luluh dengan semua perhatiannya.

__ADS_1


"Aku cuma ingin menjalankan apa yang mama Lola sudah rencanakan untuk kita Juna, jadi aku mohon kita bisa menjalaninya dengan baik."


"Jangan loe jadikan mama gue alasan buat loe deketin gue ya! sekarang gue tanya kenapa loe mau saja di jodohkan begitu saja?! Katakan!"


"Karena aku...aku mencintaimu Juna."


"Cih! mencintai loe bilang? Bahkan loe tak mengenal siapa gue? Jujur gue dari awal tak menghendaki perjodohan ini. Karena gue nggak punya perasaan apapun buat loe! Dan asal loe tahu, hati gue sudah ada yang memiliki! Jadi gue harap loe bisa mundur dan batalkan semua perjodohan ini. Karena gue nggak bisa menyakiti hati mama gue!" cerca Juna yang sukses memukul hati Betty.


Mendengar itu, membuat hati Betty terasa tersayat sembilu. Ini baru pertama kali ia di tegur keras oleh seorang pria yang begitu ia inginkan.


Tangannya menggenggam kuat ujung dress yang ia kenakan. Meskipun terlihat cantik dan sexy, nyatanya tak berpengaruh sama sekali terhadap Juna.


Padahal selama ini ia berjuang keras untuk merubah seluruh penampilannya itu semata-mata demi mendapatkan hati pemuda tersebut.


Tanpa permisi Juna beranjak pergi meninggalkan Betty yang masih mematung seorang diri.


"Jadi kamu nggak bisa menyakiti hati mamamu ya Jun? cckk.. baiklah, semakin kamu menolakku semakin semangat aku untuk terus mendekatimu!" lirih Betty dengan senyum menyeringai.


***


Di tempat lain Beauty terlihat memasuki sebuah tempat warung makan sederhana. Ia berencana untuk memesan sebungkus nasi beserta lauknya.


"Bu pesan nasinya sebungkus sama lauknya tahu goreng, orek tempe sama tumis kangkung ya buk."


Bulan ini Beauty harus menghemat, ia tak ingin menghabiskan tabungannya untuk berfoya-foya membeli apa yang ia inginkan.


Karena ia berencana untuk membeli sebuah hunian sederhana nantinya. Tentu dengan hasil jerih payah keringatnya sendiri.


" Baik neng, sebentar ya."


"Ini neng, semuanya dua belas ribu."


"Oh.. iya ini buk, terima kasih ya."


Beauty menyerahkan selembar uang kertas bernilai sepuluh ribu dan 1 lembar dua ribuan.


"Sama-sama neng."


Beauty mulai bergegas untuk menelusuri jalan raya karena memang warung makan sederhana itu terletak di tepian jalan raya yang ramai.


Perutnya yang ramping sudah meronta-ronta minta di isi. Karena sedari siang ia belum sempat makan. Pertemuannya dengan Juna membuatnya lupa akan rutinitas wajibnya itu.


Namun saat ia fokus berjalan, terdengar sebuah klakson mobil dari arah belakang. Beauty tak menanggapi panggilan klakson mobil itu.


Ia rasa, mungkin itu hanya mobil yang kebetulan lewat dan sengaja menggodanya. Tapi semakin lama semakin buat diri Beauty merasa dongkol karena mobil itu sengaja mengikutinya terus menerus.


Beauty berencana untuk menegur si pengemudi roda empat tersebut. Namun alangkah terkejutnya wanita berlesung pipi itu.


"Juna?"


Orang yang Beauty sebutkan namanya hanya tersenyum dengan wajah tanpa dosa. Kini keduanya duduk berdampingan di dalam mobil.


Beauty masih menunjukkan wajah cemberutnya. Bagaimana pun ia masih marah dan rasanya ingin memukul pemuda yang kini duduk di kursi pengemudi sebelahnya.


Karena sudah berani mencuri c*umannya tadi siang. Sedangkan Juna seperti memahami arti dari diam Beauty.


Pemuda itu berusaha untuk mencairkan suasana yang sempat membeku diantara mereka.

__ADS_1


"Itu apa Bee? yang ada dikantong plastik itu?" tanya Juna sambil menunjuk kearah bungkusan berwarna merah yang Beauty genggam.


"Oh..ini nasi bungkus."


"Kebetulan sekali aku lapar belum makan."


Kini keduanya sudah berada di sebuah rumah kontrakan Beauty. Setelah beberapa saat menempati apartemen mewah yang Juna berikan, ia memutuskan untuk mencari rumah kontrakan demi menghindari issu.


"Kenapa kamu memilih tinggal disini Bee? apa fasilitas di apartemenku ada yang kurang? Dan lagi kenapa chatku tak kunjung kamu balas?"


Beauty pun bergeming. Kini sikapnya semakin lebih waspada jika berada di samping pemuda itu. Takut sesuatu hal tak terduga terjadi kembali.


Tak kunjung mendapat balasan dari sang sekretaris yang kini tengah merajuk membuatnya sedikit gemas.


"Bee!"


"Arjun! pertama aku masih marah sama kamu karena yang tadi, kedua aku lebih nyaman tinggal di tempat seperti ini. Dan ketiga ponselku lowbad!"


Jika Beauty sudah memanggil nama Juna dengan nama yang sebenarnya itu tandanya, wanita itu sedang merajuk.


"Hemm...I like this! " gumam Juna lirih.


"Arjun! please! "


"Okay, pertama aku minta maaf banget atas tindakanku yang lancang tadi. Kedua, apa alasanmu pindah apa karena ada penghuni apartemen lain yang mengganggu? aku akan menegurnya."


Meski tebakan Juna memang benar adanya. Namun ia tak ingin membesarkan masalah yang ia alami. Beauty sudah cukup di buat lelah dengan masalah-masalah hidupnya yang tak jua menemukan kedamaian.


Setelah insiden pelecehan yang ia alami karena Anjar, ia cukup selalu waspada dengan pria di sekitarnya. Meski akhirnya Juna berhasilnya mendapatkannya.


Tunggu sebentar! dimana mas Cleo ya? Tadi mama Dewi menanyakan keberadaannya yang tak kunjung menjenguknya? Begitu pula dengan Sisie dan Tere? Kemana mereka semua?


Saat ini Beauty tak mengetahui apapun yang tengah terjadi dengan rumah tangga mantan suaminya itu.


"Bee? kenapa kamu diam saja? Apa kamu kini memaafkanku? hem?"


Beauty pun menghela nafasnya pelan.


"Baiklah kali ini aku memaafkanmu, tapi tidak dengan lain waktu!"


Senyum merekah menghiasi wajah pemuda manis tersebut.


"By the way , aku lapar apa makanan itu boleh aku makan?" tanya Juna menunjuk kearah bungkusan merah itu lagi.


"Makan lah, aku masih punya persediaan mie instan dalam lemari."


Tanpa sungkan Juna mulai membuka nasi bungkus berlauk sederhana itu. Dan mulai menyomot sesuap nasi lalu memasukannya ke dalam mulutnya sambil tersenyum.


Pemandangan ini seperti awal saat mereka berjumpa di tepi danau dahulu. Juna dengan brandnya yang mahal tak sungkan makan makanan rumahan biasa seperti masakannya dulu.


Juna tampak memakan makanan itu dengan lahap seperti orang kelaparan. Dan sesekali tampak meringis karena memakan sambal yang begitu pedas.


Kekonyolan pemuda itu sukses diam-diam membuat Beauty tersenyum. Senyum yang jarang sekali akhir-akhir ia sematkan di wajah ayunya.


Jika dengan Cleo dulu ia selalu di sajikan dengan kemewahan. Seperti makan malam di restauran bintang 5. Bersama Juna ia menemukan kesederhaan yang selama ini ia harapkan.


To be continue_

__ADS_1


__ADS_2