
“Kamu hamil.”
Beauty pun terpaku mendengar ucapan Juna yang menurutnya sangat mustahil bagi wanita yang sudah berlabel mandul seperti dirinya.
“Kamu hamil sayang!” ulang Juna lagi.
Juna tetap berusaha tersenyum di depan Beauty, padahal beberapa menit yang lalu ia sempat menangis karena menyesal sudah menodai pernikahan mereka.
Deg!
Beauty masih terpaku menatap kosong kearah suaminya. Rasanya ia tidak lekas percaya begitu saja akan ucapan yang terlontar dari bibir Juna.
“Kamu bercanda kan? Bagaimana kamu bisa tahu aku sedang hamil Juna? ” tanya balik Beauty.
Beauty terus menatap dalam manik mata Juna dan berusaha untuk mencari celah kebohongan di sana namun tidak ada.
“Dokter memberikanku alat ini agar kamu bisa mengetesnya sendiri, sekarang cobalah.”
Beauty hanya menatap kearah benda berbentuk stik itu. Bukannya Beauty tak tahu cara menggunakan alat itu.
Namun Rasanya Beauty sendiri enggan untuk mencobanya kembali, karena dulu sudah hampir puluhan kali ia mencobanya namun hasilnya tetap sama saja negatif.
“Itu tidak mungkin Juna, itu sangat mustahil bagi wanita mandul sepertiku. Dulu bukan sekali atau dua kali saja aku pernah menggunakannya, namun sudah ku coba puluhan kali tetap saja hasilnya sama saja," tolak Beauty karena tidak ingin rasa kecewa menghampirinya kembali.
“Bee, firasatku mengatakan kamu tidaklah mandul. Percayalah. Karena aku menanam benihku dengan hati-hati dan menembakkannya tepat sasaran pada tempatnya,” ucap Juna berusaha menyakinkan namun justru membuat Beauty merona karena ucapan frontal Juna.
Blussh!
“Junaaa!!”
“Ku mohon cobalah Bee!” pinta Juna dengan raut memohon. Karena tak tega dengan suaminya yang terus memasang wajah memelas, dengan berat hati Beauty mengikuti saran suaminya itu.
“Baiklah, tapi kamu saja yang melihat hasilnya ya. Karena aku belum siap untuk kecewa untuk kesekian kalinya.”
“Baiklah.”
Juna pun memapah tubuh lemah Beauty ke kamar mandi untuk membuktikan ucapan dokter itu. Setelah Beauty berada di dalam, Juna pun lebih memilih menunggu di luar.
Juna tetap bersikukuh pada pendiriannya bahwa istrinya Beauty itu sebenarnya tidak mandul seperti yang orang-orang katakan.
Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka menampilkan Beauty dengan mata terpejam.
__ADS_1
“Juna coba lihat hasilnya!” suruh Beauty sambil menutup kedua matanya.
Kali ini sungguh Beauty tak ingin banyak berharap pada sesuatu yang sepertinya memang mustahil terjadi pada dirinya.
“Juna cepat baca! Apa hasilnya!” Tak kunjung mendapat jawaban dari Juna membuat Beauty terpaksa membuka matanya.
“Hehe...sayank, aku tak tahu bagaimana cara membacanya hamil atau tidaknya,” balas Juna dengan cengiran khas pemuda itu.
“Astaga!” ucap Beauty lirih sambil menepuk dahinya pelan.
“Kalau garis 1 negatif kalau garis 2 positif artinya hamil Juna, coba sekarang lihatlah sekali lagi?” titah Beauty yang mulai penasaran dengan hasil alat itu namun enggan untuk melihatnya.
“Ini sulit yank, bagaimana aku tak bisa membacanya karena samar-samar.”
“Kalau gitu yang ini aja, nih semuanya aja Juna.”
Beauty menyodorkan 3 alat yang lain kearah suaminya. Karena Beauty sendiri masih enggan untuk memeriksa hasilnya.
“Bee, cobolah lihat sendiri. Aku sungguh-sungguh tak bisa membacanya," tolak Juna dan menyodorkan kembali keempat alat itu.
Beauty pun mulai kesal sendiri kepada Juna. Padahal ia sudah memberikan keterangan untuk membaca hasil dari alat itu.
“Pelan-pelan saja ya, aku akan memegangimu jika nanti kamu pingsan lagi,” gurau Juna sambil terkekeh.
“Huh, nggak lucu!”
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Beauty mulai mengintip sebelah matanya satu persatu. Lalu membuka agak lebar kedua matanya untuk memperjelas penglihatannya.
Cukup beberapa detik untuk membacanya, namun justru membuat Beauty terdiam terpaku dengan mulut yang tertutup oleh tangannya sendiri.
“Bagaimana sayank hasilnya? Apakah benar ucapanku?”
Dengan bibir yang bergetar, serta air mata yang luruh begitu saja Beauty mulai terisak menahan rasa yang tidak mampu ia jelaskan.
“Kamu mengerjaiku Juna!!” ucap Beauty parau seraya menatap tak percaya kearah keempat alat tes kehamilan yang ia genggam.
Dengan rasa kesal Beauty memukul-mukul bahu suaminya karena ulah usil Juna yang gemar sekali mengerjainya. Bahkan sampai membuatnya pingsan.
...★★★...
Di ruang tamu rumah pak Heru yang tidak begitu lega namun masih mampu menampung beberapa orang. Duduk sepasang suami istri yang tengah di landa bahagia.
__ADS_1
Meski sempat ada drama yang hampir membuat kesal Beauty, namun rasa kesal itu menguap seketika karena rasa bahagia yang ia rasakan mengalahkan segalanya.
Beauty sendiri masih menatap tak percaya kearah empat alat tes kehamilan itu. Seolah semua ini hanya mimpi atau imajinasinya semata.
Wanita berlesung pipi itu terus saja menepuk-nepuk pelan pipinya yang masih tirus.
“Sudahlah sayank, itu hanya akan menyakitimu saja. Berhentilah,” cegah Juna.
“Aku hanya mencoba membangunkan diriku dari tidur Juna, barangkali semua ini hanya mimpi belaka.”
“Stop! Bee, jika kamu terus menyakiti wajahmu yang cantik itu maka aku tidak akan segan-segan menciummu disini. Dan membiarkan ayah menyaksikan kegilaan kita,” ancam Juna kemudian.
Beauty melototkan kedua matanya kearah Juna. Ancaman Juna sukses membuat Beauty berhenti melakukan aksinya. Suami kecilnya itu memang selalu melakukan hal seenak hati.
“Nah gitu dong.”
“Bee, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan kepadamu. Ini tentang masa depan kita.”
“Katakanlah Juna, aku siap mendengarkannya.”
Juna nampak menimbang-nimbang lagi rencananya untuk mengungkapkan kegundahan hatinya dengan masalah yang tengah pemuda itu hadapi. Namun ia memilih untuk mengurungkan niatnya.
“Aku ingin kita tinggal di mansion papi, disana ada dokter kepercayaan keluarga kami yang akan merawatmu. Dan papi juga butuh bantuanku untuk mengurus perusahaan pusat, aku tak mungkin meninggalkanmu sendiri disini Bee” ungkap Juna memohon.
“Tapi...tapi, apa tuan dan nyonya akan menerima kehadiranku di kediaman mereka Juna? Aku takut,”
“Mereka pasti menerima kehadiranmu Bee, aku sudah berbicara dengan papi dan mami. Apalagi jika mereka tahu, kamu tengah mengandung anakku.”
“Lalu bagaimana dengan ayah? Ayah akan sendirian disini tanpaku?”
Dari bilik kamarnya pak Heru pun keluar dan menghampiri pasangan suami istri itu.
“Ikutlah bersama suamimu Bee, ayah akan baik-baik saja disini. Percayalah, disini banyak saudara-saudara ayah. Jadi kamu tidak perlu khawatir,” sahut pak Heru.
“Benarkah ayah?”
Pak Heru pun mengangguk tanda mengiyakan tanya putri semata wayangnya. Kandungan Beauty sangat lemah akan lebih baik jika putrinya mendapat perawatan yang lebih layak.
Maafkan aku sayank, untuk saat ini aku belum mampu mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku tak ingin menodai kebahagian yang terpancar dari senyummu. Yang terpenting untuk saat ini, aku akan membawamu ke depan keluargaku. Batin Juna.
Apakah disini ada yang kesel sama sikap Juna? Otor persilahkan..😁
__ADS_1