
Cleo masih mematung di ambang pintu seraya menatap kepergian Beauty yang sudah menaiki ojek pengkolan.
Ada rasa nyeri di ulu hatinya saat membiarkan wanita itu pergi.
Beginikah rasanya terabaikan? Beginikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Aku fikir di hatimu masih ada rasa untukku Bee...
Saat Cleo masih betah menatap kepergian Beauty yang sudah menghilang di tikungan jalan, samar-samar Cleo melihat mobil seseorang.
Meski dalam jarak jauh, namun Cleo masih bisa mengenali siapa gerangan pengendara mobil hitam itu.
Hati Cleo di selimuti rasa was-was. Apakah mobil hitam itu mempunyai niatan tak baik? Atau hanya kebetulan lewat saja?
Untuk memastikannya, Cleo harus melihat sendiri kemana arah perginya si mobil hitam. Buru-buru Cleo mengunci pintu rumah kontrakan Beauty, lalu berlari menuju pangkalan ojek.
Entah mengapa, perasaan Cleo saat ini di landa gelisah dan khawatir. Ia mempunyai feeling kuat, jika si pengendara mobil hitam itu akan melakukan suatu yang tidak baik.
Karena kepergian mobil hitam itu bersamaan dengan kepergian Beauty.
"Pak, tolong ngebut ya dan kejar mobil hitam yang barusan lewat!"
"Oke! siap mas!"
Motor ojek pangkalan itu melesat dengan cepat. Dan tanpa ragu menerobos keramaian ke jalan raya.
Beruntung Cleo tak kehilangan jejak mobil hitam itu berkat kecepatan tukang ojek dalam mengendarai roda duanya.
Tak jauh dari mobil hitam itu, terlihat Beauty yang masih menaiki ojek yang jaraknya tak jauh berada di depan mobil itu sekitar 500 meteran.
Ternyata benar, mobil itu mengikuti motor ojek yang membawa Beauty. Lalu siapa gerangang orang itu? Apa ia mempunyai niat ingin mencelakai Beauty? Jika itu benar, aku harus segera menghentikannya!
"Pak! lebih cepat pak, duluin mobil itu lalu cegat mobil itu biar berhenti!"
"Siap mas!"
Tukang ojek pun memacu kendaraan roda duanya lebih cepat dari yang sebelumnya. Tak lama mereka pun mampu mendahului mobil hitam itu dan mencegat lajunya agar berhenti.
"Tolong berhenti!" teriak Cleo sambil merentangkan kedua tangannya untuk menahan laju mobil berwarna hitam itu.
Begitu mobil itu berhenti, Cleo pun mulai berinisiatif untuk mendekat kearah mobil berwarna hitam tersebut. Dan mengetuk pelan pintu kaca mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan seseorang alias si pengendara mobil itu tampak bergeming. Meski sudah berhenti namun si pengemudi itu tak kunjung keluar.
Jika di lihat dari dekat. Pengemudi itu seperti seorang perempuan. Ia memakai baju serba hitam. Bahkan aksesoris yang ia kenakan pun sama berwarna serba hitam yaitu masker serta kacamata berwarna senada.
"Saya mohon anda untuk keluar!" tekan Cleo lagi.
Dari dalam si pengemudi itu mulai merespon. Dengan perlahan ia mau keluar dari mobilnya untuk menemui Cleo.
Saat si pengemudi mobil hitam itu keluar, Cleo tampak tercenung menatapnya. Karena perawakan orang itu sungguh tidak asing lagi bagi dirinya.
"Tere!"
...💐💐...
Ojek yang Beauty tumpangi sebentar lagi sampai di tempat yang wanita itu tuju. Dari jarak yang tak jauh sudah jelas Beauty bisa melihat mobil Juna.
Tiba-tiba saja hatinya jadi berdebar-debar tak menentu. Jantungnya ikut berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Beauty berharap pilihannya untuk menemui Juna kembali, hanya untuk menyakinkan perasaannya kembali terhadap pemuda itu. Karena ia hanya berusaha mengikuti apa kata hatinya saja.
Dalam benak Beauty, timbullah rasa bersalah juga terhadap temannya Betty. Bahkan ia juga mengikari janjinya kepada temannya itu untuk menjauhi Juna.
Maafkan aku Betty, untuk saat ini saja biarkan aku menikmati waktuku bersama Juna sebentar saja. Setelahnya, aku akan menghilang dari hidup kalian berdua.
"Baik, neng."
Beauty pun turun dari ojeknya, tak lama ojek itu pun mulai menjauh setelah Beauty menyodorkan 1 lembar uang pecahan lima puluh ribuan.
Ia pun berjalan mendekati mobil Juna, namun tak jumpai keberadaan pemiliknya.
Kemana Juna berada?
Manik indah mata Beauty menyapu sekitar kawasan danau, dan menjumpai pemuda itu tengah berdiri di tepian danau itu..
Sebenarnya masih ada keraguan pada diri Beauty untuk menemui Juna. Namun ia juga dibuat penasaran apa gerangan yang akan pemuda itu sampaikan kepadanya.
Beauty pun melangkah secara perlahan mendekati pemuda itu. Hatinya pun berdebar-debar seiring langkahnya yang semakin lama semakin mendekat kearah Juna.
Entah mengapa, kali ini hatinya berdebar-debar begitu kuat. Menemui calon tunangan orang bukanlah suatu tindakan yang patut di benarkan.
__ADS_1
Namun, apa salahnya? Jika ia hanya ingin menemui pemuda itu saja. Karena memang tidak ada yang bisa ia harapkan lagi.
Beauty pun juga sadar diri, jika ia bukanlah siapa-siapa bagi Juna. Menyuruh pemuda itu untuk menolak pertunangnnya pun itu bukan haknya.
Itu sama saja ia menyakiti perasaan temannya Betty. Namun apa bedanya dengan yang ia lakukan sekarang?
Ya Tuhan, maafkan hamba ini. Biarkan hamba egois untuk sekali ini saja. Hamba sudah pernah merasakan sakit dan perihnya melepas seseorang yang berarti buat hamba. Dan maafkan aku juga, Betty.
Kini langkahnya sudah berjarak dua ratus meter dari tempat Juna berdiri. Pemuda itu masih saja membelakanginya.
Sesekali melempar batu kerikil ke dalam dasar danau. Juna mulai putus asa menanti kedatangan Beauty. Sedangkan hari sudah mulai senja dan sebentar lagi bintang-bintang akan bermunculan menampakkan jati diri mereka di cakrawala.
"Juna."
Panggilan itu sukses membuat Juna tertegun. Lalu tubuh pemuda itu berbalik kearah suara yang memanggilnya.
"Beauty," lirih Juna balik.
Betapa bahagianya hati Juna saat mendapat wanita pujaan hatinya benar-benar hadir di hadapannya.
Bahkan pemuda itu berulang kali menepuk kedua sisi wajahnya, untuk menyakinkan bahwa semua ini bukanlah kayalan semata.
"Kamu datang Beauty?"
Beauty pun membalas dengan anggukan. Tanpa terasa buliran-buliran air asin mengalir membasahi wajah cantiknya.
Tanpa aba-aba Juna pun langsung berhamburan untuk memeluk tubuh langsing wanita berlesung pipi itu.
"Terima kasih, kamu sudah mau datang untuk menemuiku. Aku hampir putus asa menanti kedatanganmu Be."
Juna semakin mempererat pelukannya pada Beauty. Sesekali ia mengecup lembut puncak surau wanita itu. Kini Juna semakin yakin akan perasaannya terhadap Beauty.
Karena kedatangan Beauty cukup memberi jawaban dan juga memperjelas bagaimana perasaan wanita itu terhadapnya.
Hari sudah semakin senja, bahkan kerlipan bintang-bintang malam mulai bermunculan.
Juna pun menggenggam tangan Beauty dengan erat, lalu menariknya dengan lembut mengajak wanita itu untuk segera pergi. Karena ada sesuatu yang harus ia lakukan.
"Juna, kamu ingin membawaku kemana?" tanya Beauty menatap skeptis kearah Juna.
__ADS_1
"Aku ingin menemui ayahmu, kita akan menikah!"
...Nah lo siapa yang terkejut hayo? 😱😱 Kira-kira apakah Beauty bakal menerima ajakan Juna?...