Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Tak mampu Menolak


__ADS_3

"Kamu!"


"Apakah kalian sudah saling mengenal?" sela mama Lola mama melihat raut wajah Juna seperti mengenali gadis yang akan ia kenalkan dengan putranya.


"Hem...ya, dia adalah karyawan di perusahaanku ma namanya Bety Lovanka," terang Juna lirih.


Gadis yang namanya di sebutkan lengkap oleh pemuda itu pun tampak terlonjak kegirangan di dalam hati. Senyum merekah tak luntur menghiasi wajah cantiknya.


"Hai...pak Juna," sapa Bety malu-malu.


"Hem," balas Juna acuh tak acuh.


"What? jadi Lov sayang kamu selama ini bekerja di perusahaan kami. Kenapa selama ini kami tak menyadarinya?" tanya mama Lola penasaran.


Juna menelisik penampilan Bety dari atas hingga ke bawah. Penampilannya sekarang memang jauh berbeda 360° dengan yang biasa ia lihat.


Biasanya karyawannya itu berpenampilan tomboi layaknya laki-laki. Namun sekarang sungguh mengejutkan. Gadis itu berubah menjadi seorang peri cantik. Tapi tetap saja Juna tak merasakan getaran apapun saat pandangannya bersitubruk dengan gadis itu.


"Apalagi kami jeng, katanya ia hanya ingin hidup mandiri. Ingin berbaur dengan rakyat biasa."


"Saya hanya staff biasa kok Tante jadi mungkin kita jarang bertemu," balas Bety yang ternyata gadis yang akan dijodohkan dengan Juna.


"Keren sekali, meski orang tuamu mampu tapi kamu tidak ingin terus bergantung dengan apa yang orang tuamu miliki, idaman banget!" seru mama Lola.


Kata-kata mama Lola mampu membuat hati Bety berbunga-bunga bahkan wajahnya kini merona akan sanjungan yang mama Lola lontarkan.


"Tapi kamu tenang saja, setelah kamu menikah dengan Juna semua biaya hidupmu akan ditanggung oleh Juna, iya kan sayang?" tambahnya seraya meminta persetujuan kepada sang anak.


Pernyataan mamanya barusan sontak membuat Juna tersedak oleh air liurnya sendiri. Bagaimana bisa mamanya memutuskannya untuk menikah tapi tidak di bicarakan dengannya terlebih dahulu?


"Mami! Juna pengen ngobrol sebentar," ajak Juna sambil menarik pergelangan tangan sang mama untuk beranjak mengikutinya.


Sampainya di sudut ruangan, Juna langsung memberondongi berbagai pertanyaan kepada mamanya.


"Mami apa-apaan sih?! Kenapa mami mutusin perjodohan ini sepihak? Juna tak pernah ingin di jodohin mi!" sentak Juna yang mulai meradang.

__ADS_1


Mama Lola pun langsung memasang wajah sedih di hadapan Juna yang tampak akan memarahinya.


"Barusan kamu membentak mami Juna, apa kamu sudah tak menyayangi mami lagi," ucap mama Lola merajuk sambil menyeka ingus yang tak terlihat.


Juna pun mengusap wajahnya kasar. Sekarang mamanya malah merajuk. Dan ujung-ujungnya pasti ngambek kalau tidak di turuti.


"Ma, pernikahan itu bukanlah sebuah permainan.Tapi pernikahan itu hal yang sakral. Bagaimana bisa mami memutuskan Juna untuk menikah tanpa membicarakan terlebih dahulu dengan Juna?"


Juna berusaha mengontrol emosi dengan berbicara kepada mamanya dengan intonasi yang serendah mungkin.


"Lov itu gadis yang baik Jun, dia juga cantik. Kamu dengar sendiri? dia juga gadis mandiri. Mami lihat, kalian ini sangat cocok satu sama lain."


"Tapi Juna tak menyukai Bety ma! secuil perasaan pun Juna tak ada!"


"Masalah perasaan dan cinta itu gampang Juna, mereka akan tumbuh seiring kebersamaan kalian nanti. Mama hanya ingin jodoh yang terbaik untukmu, mama dengar juga Lov itu pandai memasak."


"Tapi ma___"


"Sudah tak perlu tapi-tapian, mami ingin kalian menjalani masa pengenalan dulu. Setelah itu kalian akan bertunangan. Ini sudah jadi kesepakatan antara keluarga kita dengan keluarga Lova. Perjodohan itu bukan suatu hal yang buruk, kamu akan mengerti nanti Juna."


Juna tak menyangka keluarganya akan terlibat dalam skandal perjodohan. Apalagi kini dirinya lah yang menjadi korbannya. Ia hanya mampu melemparkan tinjunya ke udara sambil mendesah kesal.


***


Di kediaman Sinatrya


Tere tampak duduk santai sambil menikmati segelas wine di tangannya.


"Akhirnya aku bebas di rumah yang besar ini. Tidak ada lagi si pengganggu nenek sihir itu. Mas Cleo juga sedang di penjara, tapi kamu jangan senang dulu Re masih ada Sisie. Apa aku perlu menyingkirkannya juga? sepertinya harus!" gumam Tere tersenyum menyeringai.


Dalam otaknya sedang menyusun suatu rencana untuk segera menuntaskan misinya. Entah kali ini mungkin keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Buktinya tanpa campur tangannya saja, sang suami Cleo sudah menyingkir dari rumah itu.


Lalu diraihnya map merah beserta map biru yang ia simpan di laci kamarnya. Tak lama, wanita berambut cranberry red itu terlihat menelepon seorang melalui ponsel pintarnya.


"Halo, selamat siang bapak Robin apa hari ini kita bisa bertemu? Saya ingin mengurus tentang pengalihan kepemilikan akta tanah beserta yang lainnya?"

__ADS_1


"............"


"Baiklah, saya tunggu kedatangan bapak, terima kasih."


Tut!


Tere merencanakan pertemuannya dengan pengacara beserta notaris. Ia rasa ini waktu yang tepat, mengingat tidak ada lagi penghalang dalam misinya. Cuma ada Sisie, baginya Sisie hanya seekor lalat yang sekali tepuk pasti mati. Bagi Tere, Sisie hanyalah gadis bodoh yang ia peralatan untuk merebut hati keluarga ini.


"Sekali lagi, semua berada dalam genggamanku. Akan ku buat mas Cleo dan keluarganya membayar semua perlakuan kalian dulu kepada almarhum kakakku Tirani!"


"Kalian akan merasakan bagaimana susahnya kami dulu, bertahan dalam kerasnya kehidupan tanpa orang tua tanpa ada satu pun yang mengasihi, dan kesucian kakakku yang sudah kamu renggut hingga membuatnya gila karena kamu putus Cleo!"


"Semua perbuatan kalian ada balasannya dan mungkin ini lah saatnya!" seru Tere sambil tertawa.


Setelah ini mungkin ia tak perlu bersandiwara akan kehamilannya lagi. Karena mama Dewi sendiri sedang sekarat. Ia akan hidup damai menikmati jerih payahnya. Dan menyaksikan penderitaan keluarga Cleo, orang yang sudah merenggut kebahagiaan kakaknya dahulu.


***


Selang beberapa jam Sisie pulang dari rumah sakit dan menjenguk kakaknya di penjara. Saat pulang Sisie di kejutkan dengan barang-barang beserta pakaiannya yang tertata di dalam koper miliknya di depan pintu rumah.


Ada apa gerangan semua ini? kenapa semua barangku ada di luar, ini juga ada baju-baju mama dan Kak Cleo. Apa maksudnya semua ini? batin Sisie.


" Bi ! Bi Sumi ! ada apa ini bi? Kenapa semua barang Sisie dan mama ada diluar?" teriak Sisie menggema memenuhi ruangan tamu.


Bi Sumi pun datang berlari dengan tergopoh-gopoh. Wanita paruh baya itu pun merasa bingung bagaimana harus menjelaskan ke majikan mudanya. Karena ia hanya mengerjakan tugas dari nyonya tanpa banyak bertanya.


"Begini non Sisie___"


Belum sempat menjelaskan tiba-tiba Tere menginterupsi ucapan asisten rumah tangganya itu.


"Bi Sumi! tolong masakan saya spagetti. Rasanya saya lagi pengen makan makanan dari Itali itu," titah Tere tak terbantah.


"Baik nyonya."


"Tere! apa maksudnya semua ini?!"

__ADS_1


__ADS_2