
Setelah beberapa saat berkemas, kini tibalah waktunya untuk Beauty dan juga Juna menyudahi bertamu di tempat Cleo.
Rumah kontrakan minimalis itu, kini sudah berpindah tangan kepada Cleo. Karena sekarang Cleo lah yang menanggung biaya sewanya mulai bulan depan dan seterusnya.
"Mas Cleo, aku nitip beberapa barangku disini dulu nggak apa-apa kan?" tanya Beauty setelah menyerahkan kuasa sewa rumah kepada Cleo.
"Iya tidak apa-apa, lagian barang-barangmu itu sangat berguna untuk kami."
"Syukurlah, kalau begitu kami pamit pulang dulu mas. Sampaikan salamku untuk mama Dewi dan juga Sisie."
"Pasti akan mas sampaikan, hati-hati ya untukmu dan juga... suamimu."
Ada rasa perih tersendiri, ketika Cleo mengucapkan kata suami kepada wanita yang namanya masih melekat di hati pria tersebut.
Beauty pun mengangguk menanggapi ucapan Cleo namun tidak dengan Juna. Pemuda itu melengos begitu saja dan mendahului sang istri.
Beauty pun menyusul suami kecilnya, yang sudah bertengger manis di dalam sebuah mobil daring yang sudah mereka pesan.
Setelah kepergian mobil yang di tumpangi Beauty beserta Juna, Cleo pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah kontrakannya kembali. Untuk prepare dagangannya besok.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi nampak 2 orang tengah memperhatikan aktivitas ketiganya.
"Brengs*k! Wanita mandul itu bisa mendapatkan lebih baik daripada gue! Gue tidak bisa terima, jika wanita itu hidup bahagia! Wanita mandul itu ikut andil juga atas kematian kakak gue! Gue pastikan loe bakal menderita Beauty!" umpat seorang wanita berambut cranberry red.
"Sayang, sabar dong. Biarkan mereka bersenang-senang dulu menikmati hari tenang mereka. Jika waktunya sudah tiba, kita tinggal nyalakan bom waktunya saja. Maka Boooomm!!" balas seorang pria berambut mohawk sambil memperagakan ucapannya sendiri dengan tertawa.
"Loe benar, tapi sejujurnya gue ini sudah tidak sabar. Loe sih terlalu lama vakum. Hidung patah saja repot-repot harus pergi operasi ke Korea segala!"
"Gue nggak mau asal operasi, gue pengen aset gue ini kembali seperti semula. Semua ini gara-gara Cleo sialan itu! Lihat saja, aku akan balas dendam atas apa yang laki-laki tu lakuin sama gue!"
"Kita harus menyusun sebuah rencana, lebih baik kita pergi dari tempat sini sebelum mas Cleo menyadari kedatanganku,," ajak si wanita.
"Siaap!!"
Mereka pun mengenakan kaca mata hitamnya kembali. Lalu sang pria pun nampak memutar kemudinya untuk berbalik arah.
...* * *...
Di sepanjang perjalanan menuju pulang, Beauty nampak termenung. Wanita berlesung pipi itu terlihat melempar pandangannya keluar jendela mobil yang tertutup kaca hitam.
"Apa ada yang mengusik perhatianmu Bee? Karena sedari tadi kamu terlihat mengabaikan suamimu ini?" tanya Juna seraya meraih lembut jari jemari sang istri.
__ADS_1
"Junaa, maafkan aku. Aku hanya kefikiran akan ucapan Sisie tadi. Apa menurutmu aku ini wanita pembawa sial? Karena kenyataannya, setiap orang yang berada di dekatku pasti akan menghadapi masalah? Seperti kamu dan juga nyonya Lola saat ini," jelas Beauty dengan raut sedih.
Juna pun meraih tengkung Beauty yang bersandar di bahunya, tanpa permisi pemuda itu menyapu dengan lembut area sensual itu. Dan ********** sedikit untuk memberikan ketenangan akan kegelisahan yang tengah di rasakan oleh sang istri.
Tak berlangsung lama, mereka pun melepaskan pagutannya karena mobil yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah. Beruntung sang sopir tak memperhatikan aktivitas keduanya di kursi penumpang.
"Ssssstt!! Aku tak ingin mendengar kalimat sedih lagi dari bibirmu ini," ucap Juna sambil memandang intens area yang selalu membuatnya tak mampu berpaling dan merasa candu.
Beauty pun mengangguk lemah. Setidaknya Juna masih ada di sisinya untuk memberikan sebuah dukungan untuknya.
"Lebih baik kita belanja saja ya, karena aku berencana ingin membeli beberapa barang yang akan aku butuhkan di rumah ayah nanti."
"Beberapa barang? Maksudnya?" tanya Beauty ingin tahu.
"Ya, aku ingin tempat tidur kita di ganti dengan yang lebih empuk. Karena jujur yang kemarin itu terlalu berisik, aku tak ingin aktivitas panas kita nanti diatas ranjang terdengar sampai ke kamar ayah Heru," ucap Juna sekenanya.
Blushh!
Wajah Beauty seketika memerah membayangkan betapa panasnya aktivitas vulkanik mereka di atas ranjang kemarin.
Beauty pun menyikut lembut dada bidang suaminya yang selalu membuatnya ingin bergelayut manja.
"Junaaa."
"Sudahlah, jangan menggodaku terus."
Mobil yang mereka tumpangi pun berhenti di sebuah mall di sebuah kota sebelum ke tempat ayah Beauty.
Dengan antusias, Juna menggandeng lengan sang istri menuju tempat yang menjual berbagai jenis furniture.
Juna nampak memilih sebuah spring bed berukuran king size, kulkas, kompor, sebuah penanak nasi serta sebuah pedingin ruangan.
Setelah mereka selesai membeli barang-barang kebutuhan mereka, Juna dan Beauty bergegas ke arah kasir untuk membayar barang yang mereka pilih.
Juna terlihat mengeluarkan sebuah kartu kredit miliknya yang unlimited itu kearah petugas kasir.
Tak berlangsung lama si petugas kasir itu pun menyodorkan kembali kearah Juna.
"Kenapa mbak?"
"Maaf mas, kartu yang mas kasih sudah di blokir. Coba mas periksa kartu mas yang lain atau mas bayar dengan cash saja," tawar si petugas kasir.
__ADS_1
"Masa?"
Juna pun mengeluarkan seluruh kartu-kartu saktinya yang masih tersimpan rapi di dalam dompet kulit dengan merek B*lec*aga miliknya.
"Coba yang ini mbak, yang ini juga."
Juna kembali menyodorkan 2 kartu blackcard dengan nominal unlimited miliknya yang lain sekaligus.
Tak lama si petugas kasir pun menggeleng pelan kearah Juna menambah rasa kekhawatiran pemuda itu membuncah.
"Maaf mas, semua kartu-kartu mas ini sudah terblokir. Lebih baik saya anjurkan untuk membayar cash saja," ucap si petugas kasir lagi.
Tidak ku sangka mami akan bersungguh-sungguh dengan ancamannya tadi. Ku fikir hanya sebuah gertakan saja, lalu aku harus bagaimana ini?
Juna pun menatap gusar kearah isi dompetnya yang tak seberapa. Dengan berat hati, ia harus mengurangi barang yang ingin ia beli. Karena uang cash yang Juna miliki tidak cukup untuk membayar semua barang-barang elektronik itu.
Lalu sedetik kemudian, pemuda itu menepuk dahinya pelan.
Juna hampir lupa, bahwa uang-uang cash miliknya sudah ia pergunakan untuk membayar taksi VVIP tempatnya memadu kasih terakhir dengan sang istri.
"Ada apa Juna, apa ada masalah?" tanya Beauty yang menyadari kegusaran sang suami.
"Oh..tidak ada apa-apa kok, aku hanya ingin mengurangi barang yang ingin ku beli takut memenuhi rumah ayah. Rumah ayah kan sempit kaya kamu," ucap Juna berkelakar.
"Junaa!"
Juna hanya tertawa ringan menatap rasa malu sang istri. Pemuda itu berusaha menyembunyikan, masalah yang tengah ia hadapi.
Setelahnya, mereka pulang dengan mobil yang mengangkut beberapa barang yang sudah terbayar cash oleh Juna.
...* * *...
Sebuah bar, terlihat seorang gadis tengah mengalami mabuk berat. Gadis itu adalah Betty. Betty nampak meneguk cairan berwarna merah itu beberapa kali hingga isi dalam botol kaca bening miliknya tandas.
Beberapa kali nampak beberapa pria hidung belang menghampirinya dan mengajak gadis berambut shaggy itu untuk cek in.
"Hai cantik, boleh dong malam ini kita have fun bersama menikmati tubuhmu yang sexy itu?" ujar seorang pria seraya mengerlingkan matanya kearah temannya yang lain.
"Sudah gue bilang! Gue nggak mau! Gue maunya sama Juna. Titik!" teriak Betty tanpa sadar.
"Wahh! Dia tipe pemberontak guys, gue suka yang beginian. Lain di mulut lain juga di tubuhnya," ucap salah satu pria berkepala plontos seraya mengarahkan tangannya untuk menyentuh bongkahan yang menggiurkan milik Betty.
__ADS_1
...Apa yang selanjutnya yang akan terjadi dengan Betty??🤔...