Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Kecelakaan


__ADS_3

"Ini tidak mungkin terjadi! Aku harus segera memastikannya sendiri!" gumam Tere seraya beranjak dari tempat duduknya dan menyambar sebuah sweater yang agak tebal.


Lalu wanita berambut cranberry red itu meraih tas beserta ponselnya yang wajib ia bawa kemana-mana. Namun saat langkahnya sampai di ambang pintu, terdengar sebuah suara menghardiknya.


"Mau kemana kamu Re? apa kamu lupa sebagai wanita?! Kamu itu tengah hamil tua! Jangan suka kelayapan keluar rumah, bagaimana kalau nanti kamu melahirkan di jalan kayak yang ada di tivi-tivi itu?!" hardik mama Dewi.


S*alan wanita tua ini! Menghalangi langkahku saja! umpatnya dalam hati.


Tere memejamkan kedua matanya dengan sedikit menggeram pelan, lalu sedetik kemudian ia berusaha menormalkan raut amarahnya kembali agar tidak terbaca oleh mama Dewi.


"Katakan! memang kamu mau kemana?!" sentak mama Dewi lagi.


Tere pun membalikan tubuhnya setelah berhasil menormalkan amarahnya. Dan menjawab tanya mama Dewi dengan selembut mungkin.


"Tere mau ke supermaket ma, stok camilan buah Tere serta susu hamil Tere sudah habis," alibi Tere dengan yakin.


"Kamu bisa minta tolong bi Sumi, apa gunanya pembantu jika tidak di mintai tolong!" ketus mama Dewi.


Tere pun memutar otaknya agar ia bisa keluar rumah, berada terus di dalam rumah bersama mama Dewi membuat hidupnya merasa terkekang.


"Ini juga saran dokter ma, di kehamilan Tere yang sudah masuk tri semester 3 ini harus sering gerak serta jalan kaki ma. Katanya biar mempermudah persalinan nanti," ucap Tere ketika teringat tentang ilmu parenting yang di edukasikan kepadanya saat mengikuti senam hamil.


"Sekalian Tere mau ikut senam hamil," lanjutnya lagi.


Mama Dewi pun tampak berfikir, memang apa yang Tere ucapkan benar adanya. Ia pun juga masih mengingat bagaimana perjuangan saat terakhir melahirkan putrinya Sisie dahulu.


"Oh, baiklah.. tapi kamu jangan pergi sendiri, pergilah bersama Cleo suamimu," saran mama Dewi.


Haduh, gawat ! bagaimana bisa mengintai wanita itu kalau ada mas Cleo? Aku harus segera mencari alasan yang tepat kembali untuk menyakinkan wanita tua ini!


Cckk! merepotkan sekali!


"Mas Cleo sedang ada meeting ma, Tere tak ingin mengganggunya."

__ADS_1


"Kalau begitu sama mama aja, mama tak ingin calon cucu mama kenapa-kenapa!" final mama Dewi seraya beranjak menuju kamarnya untuk mengambil tas tanpa persetujuan wanita berambut cranberry red itu.


"What? apa-apaan sih wanita tua itu! Main memutuskannya sendiri, s*alan! Bisa rusak semua ini rencana pengintaianku!" umpat Tere saat mama Dewi pergi.


Tak berselang lama, mama Dewi keluar sambil menenteng tas dari rumah mode ternama keluaran terbaru yang sempat ia taksir. Namun dilarang beli oleh suaminya Cleo karena stok tas miliknya sudah memenuhi lemari etalase. Padahal tas itu limited edition.


S*al! mama aja di beliin aku yang sebagai istrinya aja nggak. Awas kamu mas Cleo!! geram Tere dalam hati.


Tere berusaha mengatur emosi kekesalannya dengan tersenyum secantik mungkin. Agar mertuanya itu tidak mencurigai sikapnya.


Mobil yang di tumpangi oleh anak mantu beserta mertua itu sampai di sebuah mall besar. Karena menurut mama Dewi di mall itu buah-buah yang dijual lebih segar dan higinis dan juga ada sebuah club senam ibu hamil.


"Kamu pergilah ke club senam ibu hamil itu Re, mama nanti akan menyusul. Tetapi sesudah memilihkanmu buah-buahan yang segar," titah mama Dewi tak terbantahkan.


Tere hanya mampu mendesah pasrah. Padahal ia hanya berniat untuk melihat sendiri wanita yang dimaksud orang suruhannya, kini ia malah terjebak bersama mertua posesifnya di mall bahkan kini ia harus menjalani senam ibu hamil yang seharusnya tidak ia lakukakan. Karena ia memang benar-benar tidak hamil.


"Baiklah ma! Cckk! merepotkan sekali!" balas Tere disertai gerutuan lirih.


Lalu ia memilih berhenti sejenak untuk minum. Terlihat mama Dewi mulai mendekat kearahnya.


"Bagaimana?" tanya mama Dewi.


"Senamnya udahan ma, Tere capek," bohong Tere.


"Oh..yaudah, kemasi barang-barangmu mari kita pulang!" titah mama Dewi lagi.


Sampai kapan aku harus terjebak bersama wanita tua ini! Wanita tua ini sangat begitu menghalangi rencanaku! gerutu Tere dalam hati.


Tere pun memberengut sembal, acara pengintaiannya gagal gara-gara mertua posesifnya. Sampainya mereka berdua di depan lift ternyata lift sedang ada perbaikan. Dan mengharuskan keduanya menuruni tangga darurat.


"Kenapa bisa di mall sebesar ini lift kok bisa rusak! Kan capek harus nurunin tangga dari lantai 3 sampai lantai basemant!" gerutu mama Dewi.


Tere pun hanya meringis. Entah ini hari s*al atau hari keberuntungannya. Timbulnya rencana licik dalam otaknya. Ia menyuruh mama Dewi untuk jalan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mama duluan saja, Tere dari belakang pelan-pelan!" ucap Tere beralasan.


Mama Dewi pun mengangguk dan mulai berjalan mendahului anak mantunya itu. Namun saat ia akan melewati Tere, tiba-tiba ada sesuatu yang menghalangi langkah kakinya hingga keseimbangannya pun oleng dan membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Kecelakaan pun tidak terhindarkan.


Tubuh wanita paruh baya itu jatuh ke bawah hingga berguling-guling di anak tangga yang begitu curam. Sampai di bawah, kepala wanita itu teratuk tembok hingga mengeluarkan darah segar.


Tere yang masih terkejut pun tampak shock lalu setelahnya, wanita dengan perut buncit itu berteriak untuk meminta tolong.


"Tolong! tolong! siapa pun tolong mama saya!" teriak Tere disertai isak tangis.


Dari atas tampak petugas maintenance yang tengah memperbaiki lift pun turun dengan tergesa-gesa setelah mendengar teriakan dari Tere.


"Ada apa nyonya?" tanya seorang petugas yang bername tag Budi.


"Tolong! tolong ibu saya! ibu saya jatuh disana!" seru Tere seraya menunjuk kearah tangga bawah.


"Astagfirulloh!" ucap petugas maintenance tersebut.


"Lebih baik kamu panggil petugas keamanan, Cepat! dan telepon ambulan untuk segera kesini!" perintah petugas maintenance yang terlihat seperti leader kepada temannya.


"Nyonya, nyonya yang tenang ya sebentar lagi pertolongan datang. Semoga ibu nyonya baik-baik saja!" ucap petugas itu berusaha menenangkan wanita hamil disampingnya yang tampak shock.


Tere pun mengangguk lemah. Wanita dengan perut buncit itu masih terisak-isak sampai petugas keamanan dan petugas ambulans datang beserta sopirnya.


"Nyonya ikut saya saja ke rumah sakit," ajak sang sopir.


"Baiklah."


Setelah kehebohan terurai dan semua orang berlalu karena tubuh tak berdaya mama Dewi sudah ditandu menuju mobil ambulans, senyum menyeringai dari sudut bibir wanita berambut cranberry red itu.


"Mampus kau ma! aku tak bisa menjamin dirimu akan baik-baik saja setelah ini. Mengingat tangganya begitu tinggi dan curam, salahmu selalu menghalangi rencanaku!" gumam Tere lirih.


Lalu wanita itu mulai melangkah kembali menyusul sang sopir yang sudah terlihat jauh di depannya.

__ADS_1


__ADS_2