Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Semakin Terjerat


__ADS_3

Dalam jarak yang begitu dekat, Betty bisa merasakan hembusan nafas Juna menyapu permukaan kulit wajahnya.


Namun belum sempat Betty menempelkan bibirnya dengan bibir Juna, Juna lebih dulu membuka mata dan memergoki aksinya. Dan reflek mendorong tubuh Betty yang begitu dekat dengan tubuh Juna.


****! Padahal tinggal sebentar lagi. Batin Betty.


“ Betty! Apa yang lo lakuin? Astaga! Gue dimana sekarang?! ”


Menyadari Betty dan juga dirinya tak mengenakan kain sehelai pun, membuat Juna seketika membelalakan matanya tak percaya.


“Apa! Apa yang terjadi? ” tanya Juna gagu.


Netra pemuda itu menyapu sekeliling mencari pakaian yang tadi ia kenakan. Dan tak lama Juna pun menemukannya, tengah teronggok di lantai tak jauh dari ranjang yang ia tiduri saat ini.


Sedangkan Betty, memilih memulai aktingnya. Gadis itu mulai sesegukan menangis seolah sesuatu telah menimpa dirinya.


“Apa...apa kamu tak mengingat apapun Juna, tadi-tadi kita sudah melakukannya dan aku..aku sudah tidak, hu..hu!" tutur Betty sambil dibuat-buat terus sesegukan.


“ Itu tidak mungkin! Aku tidak mengingat apapun!” kilah Juna tak terima.


Juna pun berniat mengambil pakaian yang teronggok di lantai. Namun s*alnya, ternyata selimut yang ia kenakan menyatu dengan tubuh Betty yang sedang menangis.


S*al! Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa gue nggak bisa mengingat apapun! Batin Juna.


Pemuda itu menatap sekeliling mencari sesuatu yang besar yang bisa ia pergunakan untuk menutupi tubuhnya yang toples.


Namun sungguh s*alnya Juna karena tak kunjung menemukan apa yang pemuda itu cari. Malah di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang membuka paksa pintu apartemen itu. Dan...


Braakk!!


Bertepatan dengan itu, pintu apartemen pun terbuka. Menampilkan mama Sulis dan juga Om Pram dan juga seorang juru kunci apartemen.


“Juna! Betty! ” seru mama Sulis terkejut seraya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Yes! Sudah sesuai rencana, dengan begini kamu tidak akan bisa lepas dariku Juna. Maaf, memang aku egois . Batin Betty senang.


Meski wajahnya tampak di buat sesembab mungkin, namun dalam hati Betty terlonjak kegirangan. Setidak rencananya yang satu ini lagi-lagi berjalan dengan lancar.


Inilah yang Betty harapkan, dengan begini mau tidak mau ia dan Juna akan tetap melangsungkan pernikahan mereka.


“Brengs*k kamu Juna!” umpat om Pram.


Tanpa aba-aba pria paruh baya itu langsung melayangkan bogem mentahnya kearah wajah tampan Juna.


“ Ayah stop! Ayah jangan sakiti Juna!” pekik Betty yang juga terkejut akan tindakan ayahnya. Begitu pula mama Sulis yang berusaha menyadarkan sang suami yang tengah kalut.


Juna yang terkejut dan tak sempat menghindar akibat mendapat pukulan bertubi-tubi, hingga pukulan terakhir om Pram Juna baru bisa menangkisnya.


“ Tenang om! Tenang! Juna bisa jelasin, tapi Juna mohon sekarang biar Juna pakai pakaian Juna dulu." pinta Juna mengiba.


Tangan om Pram yang sudah melayangkan di udara pun di kibaskan dengan kesal. Sedangkan mama Sulis memilih untuk menenangkan putrinya yang tengah menangis.


Entah mimpi apa Juna semalam, tiba-tiba saja ia terbangun bersama Betty dalam keadaan yang absurd di sebuah apartemen yang sepertinya milik gadis itu.


...★★★...


Kini suasana tampak hening. Atmosfer udara sekitar berubah panas seiring keheningan yang tercipta. Pendingin ruangan yang menyala di dalam apartemen Betty seakan tak berfungsi apa-apa.


“ Sebentar lagi papimu kesini Juna, om sudah menghubunginya barusan. Mari kita bahas bersama-sama masalah ini secara kekeluargaan,” ucap om Pram memecah kesunyian.


Juna pun nampak mengusap wajahnya dengan kasar. Entah apa yang terjadi, ia benar-benar tak bisa mengingatnya. Yang saat ini ia rasakan, kepalanya seolah-olah ingin pecah dan mengeluarkan isinya.


Namun jika melihat lagi noda merah yang tercetak jelas di atas sprei yang terpasang di ranjang Betty, cukup menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi.


Juna pun menghela nafasnya yang terasa berat dan penuh sesak di dalam rongga dadanya.


Menerima ajakan Betty tadi adalah kesalahan terbesarnya. Juna pun menyesal sesesal-sesalnya yang saat itu pemuda itu rasakan.

__ADS_1


Tak lama papi Tulus pun datang dengan wajah datarnya. Pria paruh baya yang biasanya penuh humoris itu berubah menjadi dingin. Sorot matanya tajam menatap kearah sang putra seolah ingin menguliti putranya sendiri.


Juna pun berdiri untuk menyambut serta menenangkan sang ayah yang nampak di penuhi kabut amarah.


“Papi!”


Tanpa di duga, papi Tulus mengangkat sebelah tangannya dan melayangkannya tepat di wajah tampan Juna yang sudah lebih dulu lebab akibat pukulan dari om Pram ayah Betty.


Plaaakkk!!


Juna pun menggeram pelan menahan rasa panas dan nyeri yang datangnya bersamaan menyergap wajahnya yang terkena tamparan dari papi Tulus.


Sebelah tangannya mengepal kuat untuk menyalurkan rasa kesal yang tidak bisa ia sampaikan.


Sedangkan Betty hanya bisa meringis menyaksikan orang terkasihnya tertampar berkali-kali.


Maafkan aku Juna! Sekali lagi ku bilang, aku memang egois! Tapi semua ini semata, karena aku mencintaimu.


“ Jika kamu tidak menyukai Lova, kenapa kamu malah merusaknya Juna! Papi tidak pernah mengajarkanmu untuk jadi laki-laki bejat seperti ini!” gertak papi Tulus dengan keras.


Pria paruh baya yang selalu nampak tersenyum dengan candaan-candaan garingnya itu pun berubah serius. Otot-otot pada rahang serta lehernya seakan mengencang mengikuti amarah yang masih tertahan dalam diri papi Tulus.


“Pi, mohon dengerin penjelasan Juna dulu, Ini tidak seperti yang papi_” sela Juna yang merasa harus menjelaskan kejadian sebenarnya. Namun ia sendiri tak yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi Juna! Semua sudah jelas! Sebagai laki-laki kamu harus bertanggung jawab! Segera nikahi Lova! Jika tidak kamu lakukan, kamu benar-benar membuat papi dan mami kehilangan muka di depan umum! Bagaimana nanti kalau sampai wartawan tahu Juna! Bagaimana nasib keluarga kita?!” potong papi Tulus yang masih terselubungi amarah.


Dari tempatnya, Betty nampak menarik sudut bibirnya samar. Rencana dadakan yang ia buat untuk menjerat kembali Juna pun berhasil. Meski harus membuat, orang terkasihnya itu merasakan sakit akibat pukulan serta tamparan dari ayahnya serta papi Juna sendiri.


Juna pun nampak berfikir keras. Matanya terpejam berharap pilihan yang ia ambil kali ini tidaklah salah.


Semua menanti jawaban Juna dengan harap-harap cemas.


Tak lama Juna pun mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.

__ADS_1


“ Baik! Saya akan melakukannya. Namun saya juga punya satu syarat.”


Yang kesel sama Juna boleh marah² tpi jgn mrahi otor ya. 🤭 Salahkan saja Junaidi...


__ADS_2