
Beauty yang terdaftar dalam kelas eksekutif, atau biasa di sebut juga kelas karyawan pun hari ini sudah mulai melakukan rutinitas kegiatannya sebagai mahasiswa. Karena mengikuti kelas karyawan, jadwal kuliah yang ia ambil hanya 2 hari dalam seminggu yaitu hari sabtu dan minggu.
Terdengar suara motor berhenti di pelataran rumah kost yang di tempati Beauty. Lalu seseorang mengetuk pintunya.
"Beauty! ada orang yang sudah mencarimu di bawah!" teriak Siska teman sebelah kamarnya.
Beauty pun membuka pintunya kamarnya.
"Oh..iya Sis, terima kasih ya."
"Itu cowok kamu? cakep banget sih dapetnya dimana?" cerocos Siska si pengagum cowok tampan.
"Bukan, dia cuma teman. Ya sudah aku duluan ya mau ngampus," ucap Beauty mengakhiri.
Ia tak ingin terlibat obrolan panjang dengan gadis yang terkenal sebagai pengagum cowok tampan itu. Bahkan pacarnya gonta ganti, kaya miskin tidak masalah asal ia tampan begitulah kira-kira prinsip Siska.
Beauty pun berlalu meninggalkan Siska yang menekukkan wajahnya karena ditinggal pergi olehnya.
Ia tahu Juna akan menjemputnya, karena pemuda itu sudah menghubunginya dan memaksa untuk menjemputnya semalam. Mau tidak mau ia mengikuti saja. Bagaimana pun juga Juna sudah berjasa membuatnya kembali mengenyam bangku kuliah.
Saat sampai di pelataran kost, Beauty terkejut karena mendapati Juna mengendarai sebuah motor gede atau biasa di sebut moge.
"Pak..eh maaf Jun, kamu serius naik ini?"
"Iya kenapa? kalau kamu nggak suka aku bisa minta Jeki buat ngirimin mobil kesini," jawab Juna dengan entengnya.
"Bukannya nggak suka, cuma aku belum pernah naik motor seperti ini Jun."
"Ya sudah, kalau gitu aku ganti aja ya."
"Nggak! nggak usah! ini aja gak apa-apa kok. Aku juga penasaran gimana rasanya naik motor," sahut Beauty cepat.
Jujur seumur hidupnya ia belum pernah menaiki motor besar. Karena mantan suaminya Cleo bukan pecinta motor. Kemana pun pasti menggunakan mobil.
"Kalau gitu kamu harus pakai ini buat safety," ucap Juna sambil menyerahkan sebuah helm berwarna pink.
Saat Beauty sudah duduk di kursi penumpang, tapi Juna tak kunjung jua menyalakan mesin motornya.
"Kenapa Jun? motornya nggak nyala ya?" tanya Beauty dengan polosnya.
Di depan Juna pun tampak terkekeh.
"Kamu belum berpegangan."
"Sudah Jun, aku sudah berpegangan."
"Cckk! Bukan di situ tapi di sini," jelas Juna sambil mengarahkan tangan Beauty yang satunya untuk melingkar ke pinggangnya.
"Kok begini Jun? nggak ah," tolak Beauty seraya menarik tangannya kembali.
"Ya sudah lah, kalau kamu jatuh aku nggak mau tanggung jawab ya."
__ADS_1
Lalu Juna pun mulai menyalakan motornya dan melepaskan koplingnya agak cepat membuat wanita di belakangnya terperajat.
"Akh!" pekik Beauty terkejut.
Lalu reflek wanita itu melingkarkan kedua tangannya dengan sempurna di pinggang ramping milik Juna. Membuat si empunya menarik kedua sudut bibirnya hingga melengkung sempurna karena merasa puas bisa membuat wanita di belakangnya melakukan apa yang ia mau.
Tak berselang lama, motor berbadan besar jenis Triumph Rocket 3 yang sudah di modifikasi itu memasuki pelataran kampus melewati sekumpulan mahasiswi yang sedang nongki-nongki cantik.
"Gila! siapa itu yang lewat keren bingit!"
"Lu bener! nggak motornya nggak orangnya good looking semua! Ceweknya juga cakep! Siapa ya mereka?"
"Astaga! itu kan Juna kakak senior kita! Udah lama nggak lihat makin cakep aja. Dibelakangnya apa ceweknya ya?"
"Ya bener itu kak Juna! cewek yang belakangnya pasti itu pacar barunya. Tapi bukannya kak Juna lagi dekat sama Sisie mahasiswi semester 3 itu?"
"Aku dengar mereka pernah berkencan malah!" sahut mahasiswi lain.
"Yang jelas cewek itu lebih cantik daripada Sisie menurut gue sih."
"Gue setuju!" sahut semuanya serempak.
Bertepatan saat itu motor yang di tumpangi Juna dan Beauty melewati Sisie yang baru keluar dari mobil.
"Sie...Sie! lihat itu bukannya kak Juna! itu sama siapa cantik banget!??" pekik Marion temen seangkatan Sisie yang kebetulan berangkat satu mobil dengan wanita itu.
Sisie pun menajamkan pandangannya. Hatinya dongkol bukan main karena harus kembali bertemu dengan mantan kakak iparnya. Apalagi wanita itu datang bersama Juna sang pangeran kampus yang sudah ia klaim sebagai calon pacarnya.
S*al! gue kalah sama wanita mandul itu! Pelet apa yang wanita itu pakai sampai kak Juna bisa bertekuk lutut kepadanya? Tapi gue harus diam, tidak ada yang boleh tahu kalau Beauty itu mantan kakak ipar gue. Bisa-bisa jatuh pamor gue nanti. Masa kalah sama janda? Yang bener aja!
"Oh...kenapa? wanita itu paling hanya pelarian kak Juna saja. Lagian masih cantik dan sexy-an gue kali," balas Sisie dengan pongah sambil menunjukkan body goalsnya.
"Hemm..iya sih, sexy-an loe Sie. Cewek tadi itu terlalu flat. Tapi kok bisa ya? itu cewek bisa deket gitu sama kak Juna. Loe jadi kalah Sie!" ledek Marion sambil terkekeh.
"Sial loe! udah bikin gue melambung terus jatuhin gue gitu aja. Mulai besok loe nebeng lain aja!" sungut Sisie tak terima dikatain kalah.
Tuh kan! s*alan emang tuh si janda mandul! Dimana-dimana slalu jadi pembawa sial buat gue!
"Jangan marah dong Sisie cantik, iya-iya kamu tetap jadi cewek ter-famous di kampus ini. Entar gue bantuin buat deketin kak Juna lagi, gimana?" rayu Marion.
Sisie pun menyeringai, sepertinya Marion orang yang tepat yang bakal menjadi tangan kanannya untuk mengerjai mantan iparnya itu habis-habisan.
Tentu saja ia tak rela, wanita mandul itu sudah merebut calon gebetannya. Bahkan wanita itu bisa berkuliah di kampus yang lumayan elite ini.
***
Sampainya di parkiran, Beauty langsung turun dari motor Juna dan hendak melepas helm yang menempel pada kepalanya. Namun ternyata pengaitnya macet.
"Kenapa Be? macet ya? Sini biar aku saja yang bukain," tawar Juna.
Tanpa menunggu persetujuan Beauty, Juna langsung saja mengambil alih pengait helmnya. Tak butuh waktu lama, helmnya pun terlepas. Menampilkan rambut hitam panjang milik wanita itu yang berkibar terbawa oleh angin.
__ADS_1
Pemandangan itu membuat Juna terpaku sesaat, wajah oriental wanita itu, lesung pipi yang menghiasi kedua sisi wajahnya membuat Juna enggan berpaling.
"Jun! Jun! hai, hello?" sapa Beauty.
"Oh..eh..sorry, kenapa?" tanya balik Juna.
"Lihat mereka semua melihat kearah kita! Apa ada yang salah ya?"
Juna pun mengikuti arah yang Beauty tunjuk dan benar saja. Dari atas gedung di setiap lantai kampus tempatnya kuliah banyak mahasiswa berkumpul melihat kearahnya. Baginya ia sudah biasa dengan pemandangan seperti itu.
Tentu saja tidak untuk wanita yang ada di sebelahnya. Apalagi mereka terdiri bukan wanita seperti biasanya, para pria pun juga ada. Ini pasti karena Beauty.
"Abaikan saja, mereka memang suka begitu semenjak aku masuk kampus ini. Kita langsung ke kelas saja ya, apa kamu pengen keliling kampus dulu?" tutur Juna.
"Baiklah."
Akhirnya kedua sejoli yang menjadi pusat perhatian kampus itu masuk ke dalam gedung kampus diikuti tatapan-tatapan antara penuh tanya dan kagum.
"Mereka best couple banget ya." celetuk seorang mahasiswi.
"Nggak! ceweknya B aja! masih cantikan gue!" Sungut temannya.
Terdengar bisik bisik sepanjang keduanya melangkah. Ada yang mengagumi kecantikan Beauty, ada yang mencibir pula penampilan wanita itu yang dinilai biasa saja.
"Kamu nggak usah dengerin mereka ya, abaikan saja! mereka tuh katrok"
"Katrok?" Beauty mengeryitkan dahinya karena tak tahu arti kata yang barusan Juna ucapkan.
"Kampungan maksudnya! udah kita harus bergegas aku risih dilihatin mereka tuh lihat sampe ngeces itu mulutnya tu cewek." gerutu Juna.
Beauty pun tertawa. Memang benar adanya, kenapa mereka bisa melihat kearah Juna sampai segitunya. Ia pun jadi terheran-heran.
"Jun, aku ke toilet dulu ya? kamu duluan aja nggak apa-apa."
"Memang kamu tahu toiletnya dimana?"
"Tahulah, aku kan juga pernah kuliah disini kali," balas Beauty mengejek.
"Oh..ya sudah, hati-hati aja."
"Okay."
Mereka pun berpisah di koridor kampus. Beauty pun mencoba mengingat-ngingat kembali letak toilet kampus itu. Saat mengikuti palang petunjuk arah perasaannya sedikit aneh karena area tempat itu tampak sepi.
Namun karena hasrat ingin buang air kecilnya sudah di ujung tanduk, ia lalu memasuki toilet yang terlihat tampak sudah usang dari pintunya itu tanpa berfikir lagi.
Setelah ia sudah selesai menuntaskan hajatnya, Beauty mencoba membuka pintu toilet itu dengan memutar knopnya.
Knock..knock!
"Loh! kok nggak bisa? perasaan tadi pintunya masih baik-baik saja bisa di putar kenapa sekarang seperti kekunci ?"
__ADS_1
"Hallo! siapapun itu tolong bukain pintu ini!" teriak Beauty dari dalam toilet.
_To be Continue_