Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Bertemu Orang Tua Juna


__ADS_3

Pagi-pagi sekali 2 buah mobil alphard terparkir rapi di halaman rumah pak Heru. Rencananya mobil itu di gunakan untuk mengusung Juna bersama Beauty. Sedangkan yang satunya akan di perkhusukan untuk mengangkat barang-barang yang sekiranya akan Beauty bawa.


“Bagaimana sudah siap?” tanya Juna kearah istrinya.


Beauty pun berpaling seraya menatap kearah sang ayah dan di balas anggukan oleh pak Heru.


“Ayah Beauty pergi, jaga kesehatan ayah baik-baik ya. Jika ada apa-apa segera kabari Beauty,” pamit Beauty dengan raut wajah sedih.


Bagaimana tidak sedih, padahal baru saja ia berjumpa dengan ayahnya kembali dan kini mereka harus berpisah lagi. Rasanya Beauty begitu berat meninggalkan ayahnya untuk tinggal seorang diri, dalam keadaan kesusahan.


“Kamu jangan khawatir Be, yang terpenting sekarang jaga kesehatan kandunganmu. Dan untuk Nak Juna, ayah titipkan Beauty kepadamu ya. Jagalah dia baik-baik, dan sayangilah ia sepenuh hati.” pesan ayah Heru kepada menantunya Juna.


“Ayah jangan khawatir, Juna akan menjaga dan melindungi Beauty dengan segenap jiwa dan raga Juna ayah.”


“Baiklah, ayah pegang ucapanmu Juna.”


“Kalau begitu kami pergi ayah, sampai berjumpa nanti.”


“Ayo Jeki, Jono kita kembali ke mansion,” perintah Juna kepada kedua mantan bodyguardnya dulu yang kebetulan bertugas menjemputnya bersama Beauty..


“Baik, tuan muda. Mari nona.”


“Hati-hati di jalan Juna, jangan ngebut!” seru pak Heru seiring suara deru mobil yang mulai menjauh.


...★★...


Di tengah perjalanan rasa gelisah menyerang hati wanita berlesung pipi itu. Terlihat dari gerakannya mer*mas-r*mas kedua telapak tangannya hingga memerah.


”Berhentilah menyakiti dirimu sayank, ada apa? Apa ada yang masih kamu khawatirkan?” tanya Juna dengan lembut.


Berada dalam satu mobil bersama Juna, mengingatkan Beauty akan kejadian yang tiba-tiba saja terlintas begitu saja dalam ingatannya. Membuatnya malu sendiri karena memikirkan hal yang begitu mesyum.


“Tuh wajahmu blusing gitu Be, jangan bilang kamu pengen yang kayak tempo hari waktu kita di mobil itu kan?” ucap Juna mengingatkan sambil menarik turunkan alisnya.


Beauty pun memukul pelan bahu Juna yang duduk di sampingnya.


“Jangan mulai memancing Juna!” sungut Beauty merasa malu sendiri.

__ADS_1


Juna merasa gemas sendiri akan sikap istrinya yang terkesan malu-malu itu. Dan....


Cup!


Juna pun mengecup singkat bibir Beauty yang kini nampak sedikit sexy di matanya. Mungkin itu juga karena hasil dari perbuatannya.


Bola mata Beauty pun melotot seketika mendapat serangan mendadak dari Juna.


“Jangan khawatir, papi dan mami tak seburuk yang ada di fikiranmu. Mereka hanya belum mengenal siapa dirimu Be. Percayalah!” ucap Juna untuk menyakinkan hati Beauty yang goyah.


“Tapi tetap saja aku merasa gugup Juna.”


“Tenang ada aku disini,” balas Juna seraya mendekap tubuh istrinya untuk memberi ketenangan.


Mobil yang mereka tumpangi pun melaju membelah keramaian ibu kota. Hari semakin siang, matahari sudah menampakkan cakrawalanya. Jalanan ibu kota nampak sesak karena mulai ramainya aktivitas manusia.


Mobil yang mengusung Juna dan Beauty pun akhirnya sampai di pelataran mansion keluarga Narendra. Dan sang sopir yang tak lain bodyguard Juna sendiri mulai memarkirnya mobil majikannya di garasi yang sudah tersedia.


“Sudah sampai, tuan muda,” ucap Jono membangunkan sang majikan yang terlelap.


Dengan hati-hati Juna mulai membangunkan Beauty yang sudah terlelap di pangkuannya selama perjalanan.


“Be, bangun Be. Sayank..bangun, kita sudah sampai!” ucap Juna dengan lembut seraya mendaratkan ci*uman-c*uman kecil kearah wajah Beauty.


“Akh!”


Beauty pun terlonjak, seketika menyandarkan tubuhnya pada jok mobil. Kepalanya kembali merasakan pusing. Mungkin karena efek kehamilan yang kini ia jalani.


Reflek Juna pun memijat-mijat lembut kepala istrinya. Kesehatan Beauty belum stabil, oleh karena itu Juna harus tetap siaga menjaganya. Untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Beauty kembali pingsan.


“Ayo kita ke dalam, papi Tulus sudah menunggu kedatangan kita.”


Beauty pun mengangguk dan mengikuti langkah suaminya dari belakang. Jantung wanita itu berdegup kencang, rasanya seperti akan turun langsung ke medan perang. Ini pertama kalinya Beauty menapakkan kaki jenjangnya di kediaman Narendra.


Netra upturned berpencar memperhatikan bangunan yang tampak megah dan luas itu. Bahkan di setiap sudut ruangan itu tersemat barang-barang berkilau yang tentu saja dengan harga yang sangat fantastis.


Berbeda jauh dengan kehidupan sederhananya selama ini. Jika dibandingkan dengan kehidupan Cleo di masa lalu sungguh sangatlah berbeda.

__ADS_1


Beauty tak sadar, jika ternyata dirinya telah menikahi seorang anak konglomerat. Salah satu orang kaya kedua di negara seribu pulau ini.


“Selamat datang di mansion kami nak,” sapa Papi Tulus dengan senyuman.


Tidak ada yang tahu, bahwa Papi Tulus melakukan itu semua agar anaknya Juna mau menikahi Betty. Karena jika tidak, nama perusahaan menjadi taruhannya. Jadi pria itu terpaksa menerima syarat Juna yang ingin membawa serta istrinya ke keluarga mereka dan berusaha menerimanya.


“ Tuan Tulus, apa kabar? Terima kasih sudah repot-repot menyambut kedatangan saya,” sapa balik Beauty seraya meraih telapak tangan pria paruh baya itu dan mengecupnya.


Mendapat perlakuan yang berbeda dari mantu pilihan anaknya, membuat Papi Tulus tertegun. Jaman sekarang, mana ada anak muda yang mempunyai attitude seperti wanita muda yang ada di hadapannya saat ini.


Anak ini terlalu baik, apa kira-kira ia sudah tahu mengenai pernikahan Juna bersama Betty nanti? Kenapa aku menjadi merasa tidak tega setelah melihat wajahnya yang nampak pucat seperti ini? batinnya.


“Alhamdulillah baik, kamu? Nampaknya kamu seperti kurang sehat. Beristirahatlah, mami Lola juga sedang istirahat untuk pemulihan. Lebih baik nanti malam saja jika ingin menemuinya.” saran Papi Tulus.


“Baik tuan, terima kasih.” Balas Beauty dengan sopan.


”Jangan panggil tuan, panggil papi,” tukas Papi Tulus memperingatkan.


“Oh..maaf pap..papi,” sahut Beauty terbata.


Papi Tulus tulus tersenyum, lalu berlalu menuju kamar pribadinya yang berada di lantai atas.


“Tuh kan bener apa kataku juga yank, papi dan mami tidak seburuk yang kamu fikirkan,” ujar Juna pongah.


“Kali ini kamu benar Juna.”


Juna pun mengantar sampai dalam kamar istirahat mereka. Kamar yang sangat besar, luas dan nyaman bagi siapa saja yang menepatinya.


“Beristirahatlah dulu Bee, bi Tum sudah mempersiapkan semua kebutuhan kita di sini. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Nanti malam kita akan menemui mama.”


“Baiklah.”


Setelah itu Juna nampak menerima sebuah panggilan dari ponselnya. Pemuda itu dengan segera bergegas keluar kamar untuk mengangkat telepon tersebut. Dan melupakan berpamit kepada Beauty.


Kenapa aku merasa Juna seperti sedang menyembunyikan sesuatu hal yang besar dariku ya?? Batin Beauty bertanya-tanya.


...Tinggalkan jejak ya ka, otor sangat berterima kasih sekali. Apapun komentar kalian, itu wujud antusias & support kalian atas karya otor yang masih cacat ini. Sekali lagi terima kasih..lo you all 😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2