Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Bekerja Sama


__ADS_3

“Siapa mereka Cleo! Jangan-jangan kalian ini bersekongkol!” tuding Juna.


“Tenang Juna, mereka ini adalah mantan anak buahku Beny. Beny apa yang sudah kamu dapatkan?” tanya Cleo menatap kearah Beny menunggu jawaban.


Juna pun bernafas lega, Juna fikir semua ini hanya akal-akalan Cleo yang ingin memiliki Beauty kembali dan nekat menculik istrinya. Ternyata dugaannya salah.


“Tuan, saya baru saja menemukan gawai milik nyonya yang rusak karena terjatuh. Dan juga sepatu milik nyonya tuan,” lapor Beny sambil menunduk kearah Cleo.


Juna pun merampas barang sang istri yang berada dalam genggaman Cleo dan memeluknya.


“Kemana kamu Beauty? aku mengkhawatirkamu dan bayi kita!” teriak Juna.


Tak lama, ada seorang nelayan setempat yang baru saja pulang memasang jala di tengah laut.


“Maaf mas ada apa ini ya?”


“Maaf pak, apa bapak melihat sekelompok orang yang membawa ibu hamil kesini? Karena istri saya menghilang disini, hanya benda ini yang kami temukan,” tanya Juna sambil menunjukkan barang-barang Beauty.


“Tadi saya lihat ada sebuah kapal laut berpesiar menuju ke tengah laut mas, saya tidak melihat ibu hamil. Hanya saja saya melihat kelompok orang itu menggunakan topeng, karena takut saya pun berbalik arah pulang barusan,” tutur si nelayan.


“Baik pak, terima kasih infonya. Saya pinjam perahu motornya dulu pak. Ini uang sewanya,” ucap Juna sambil menyerahkan beberapa lembar uang berwarna kemerahan.


“Oh..silahkan..silahkan mas.”


Dengan bergegas Juna mulai mendorong perahu nelayan itu menyalakan mesin motornya, lalu pergi menuju tengah laut mendahului Cleo dan anak buahnya sendiri.


Juna tak pedulikan apapun, yang ada di fikirannya saat ini hanya keselamatan sang istri yang tengah terancam.


Untuk apa mereka membawa Beauty ke tengah lautan? Berbagai asumsi memenuhi otak pemuda manis itu.

__ADS_1


“Kamu anak buah Juna kan? Lebih baik kita segera mencari tumpangan untuk menyusul Juna ke tengah laut. Semuanya berpencar!” perintah Cleo kearah ansk buah Ditto dan juga Beny.


Dalam misi penyelamatan Beauty ini, Cleo lah yang akan memimpin kedua klan anti kriminal itu dan memberikan strategi dan pembagian tugas masing-masing.


Meski harus menelusuri pantai yang di penuhi terumbu karang itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman kapal dari seorang saudagar ikan. Dan yang tidak kebagian tumpangan kapal menggunakan, sekoci yang hanya muat 2 orang.


Juna mematikan mesin perahunya saat di rasa sudah dekat, agar musuh tidak menyadari kedatangannya. Di kayuhnya perahu itu menggunakan dayung yang sudah tersedia di dalam perahu.


Dengan mulus Juna mulai mendekati kapal musuh, tanpa mereka sadari. Mungkin keberuntungan sedang berpihak pada Juna. Adanya tambang yang menjuntai ke dasar air membuat langkah Juna semakin mulus tanpa hambatan.


Dan dalam sekejap Juna berada di dek bagian belakang kapal laut tersebut. Juna mulai mengendap-ngendap memantau sekitar. Dan samar-samar Juna mendengar percakapan seseorang wanita bersama seorang pria.


“Lo yakin mau membunuh Beauty disini?” tanya pria bertopeng.


“Gue yakin, karna gue pengen mas Cleo merasakan apa yang gue rasakan. Kehilangan seseorang yang sangat berarti terus dia gila dan bunuh diri. Itulah yang gue inginkan terjadi pada mas Cleo! Lagian wanita kurang ajar itu berani menembaki kaki gue!” balas wanita bertopeng itu seraya meringis menahan kakinya yang terluka karena terserempet peluru Beauty.


Meski peluru itu tak sampai melubangi kakinya, tetap saja lukanya terasa perih.


Lalu wanita itu pun melepaskan topeng yang menempel pada wajahnya, dan seseorang yang memperhatikan dari luar ruangan di kapal itu menggeram.


“Sri !” Juna pun melototkan kedua matanya terkejut, ia dan anak buahnya setengah mati mencari perawat pribadi maminya itu. Dan sekarang, wanita itu malah yang telah berani menculik istrinya. Apakah kejadian pada mamanya hanyalah sebuah pengalihan semata, agar wanita licik itu bisa menculik istrinya yang sebenarnya incaran utama mereka?


Sial! Juna benar-benar lengah kali ini. Ia sama sekali tak mengenal siapa Sri. Wanita berambut bob itu nampak terasa asing di indra penglihatannya.


Dan setelahnya, si pria pun turut membuka topengnya. Menampilkan wajahnya yang sepertinya bekas operasi nampak dari posisi hidungnya yang tidak simetris.


“Itukan sepupunya Beauty dulu! Apa-apaan ini! Jadi mereka bekerja sama. Apa maksudnya mereka menculik istriku!”


Juna merasa tak memahami semua teka teki penculikan istrinya. Kedua pria dan wanita itu nampak terasa asing.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi gumamannya dari belakang. Membuat Juna terkejut reflek melayangkan tinju miliknya tepat kearah suara itu.


“Itu mantan istri gue Tere dan juga sepupu gue Anjar,” sela Cleo yang reflek menangkis tinju milik Juna.


Bagaimana pun hanya Cleo yang bisa mengenali fisik Tere. Meski Tere berubah seperti apapun. Cleo sudah memahami setiap lekuk tubuh mantan istri keduanya itu.


“Jadi? Sri itu mantan istrimu? Apa maksudnya semua ini?” geram Juna yang merasa di permainkan.


“Ceritanya panjang, yang jelas Tere tak ingin gue dan Beauty hidup bahagia. Dan kini ia menuntut balas dendam, setelah berhasil melukai jiwa mama dan juga adik gue Sisie. Kini Tere mengincar Beauty. Gue tak menyangka, ancamannya kala itu benar-benar terjadi. Gue fikir Tere hanya menggertak saja, wanita itu benar-benar psikopat!” papar Cleo dengan geram.


Cleo kali ini bertekat akan mengakhiri semua permainan Tere. Terlebih ia baru mengetahui, yang sudah membuat adiknya gila adalah Tere. Tere dan anak buahnya sudah menyiksa Sisie dan menjadikan Sisie sebagai alat pemuas para pejahat itu.


“Lalu pria itu siapa? Ada urusan apa dia ikut menculik Beauty?” tanya Juna ingin tahu.


“Dia sepupu gue, dia balas dendam karena dulu gue sempat merebut kekasihnya. Lebih tepatnya kekasihnya yang merayu gue dulu. Dan dia juga terobsesi dengan Beauty. Terakhir kali gue sudah bikin hidung dia patah!” jelas Cleo dengan bangga.


“Huh! Dasar playboy cap biawak! Gitu aja bangga!” cibir Juna kearah Cleo.


Cleo pun tak menanggapi kalimat cibiran Juna, karena itu memang sesuai kenyataannya.


“Lain kali jika ingin maju ke medan perang, ajaklah teman dan juga anak buahmu.”


Juna pun mendengus kesal. Sejak kapan ia dan pria berjenggot itu berteman. Yang benar saja, tidak ada dalam kamus Juna berteman dengan rival. Itu tidak ada. Rival ya rival. Titik !


“Kita lihat dulu apa yang akan selanjutnya mereka lakukan,” titah Cleo.


Karena tak memiliki rencana matang, Juna pun mengikuti arahan dari rivalnya Cleo.


Jangan lupa tinggalkan jejak, like koment kalian sangat berarti buat author..

__ADS_1


Terima kasih banyak..😘😍😍


__ADS_2