
Di lorong rumah sakit, Cleo berlari dengan tergopoh-gopoh. Raut wajahnya tampak tergambar jelas rasa khawatir yang tak mampu ia sembunyikan.
Setelah mendapat kabar dari istrinya Tere, Cleo merasa shock dan langsung melesat mendatangi rumah sakit. Bahkan ia tak sempat menanyakan ruangan dimana mama Dewi tengah di rawat.
Sudah beberapa hari ini pria tampan berkumis tipis itu kurang tidur. Entah fikirannya selalu tertuju kepada sang mantan istri yang masih ada di hatinya. Sudah beberapa bulan ia tak menjumpai wanita itu.
Sebenarnya ia ingin mengunjungi Beauty, namun pekerjaan kantor sangatlah banyak akibat absennya ia beberapa pekan lalu dirumah akibat morning sickness yang ia alami. Bahkan scedule meeting pun seminggu penuh harus ia hadiri.
Begitu dapat berita akan kecelakaan mama Dewi, ia merasa gusar. Sesekali ia usap wajar tampannya dengan tangan.
Langkahnya berhenti di depan meja resepsionis, dengan tergesa-gesa ia meminta nomor ruangan mamanya.
"Mbak, dimana kamar pasien yang bernama Dewi Nuraini di rawat? Cepat mbak! Ini sangat urgent!" desak Cleo tak sabaran.
"Tunggu sebentar ya bapak, biar saya carikan dulu," balas sang petugas resepsionis.
"Cepat mbak! saya buru-buru!"
Sela beberapa menit sang resepsionis pun memberitahu dimana ruangan rawat mama Dewi.
"Ibu Dewi Nuraini di rawat di ruangan Anggrek no 2 pak lantai 4," seru sang resepsionis.
"Baik, terimakasih."
Cleo pun berlalu tanpa menghiraukan balasan yang resepsionis lontarkan kearahnya. Langkahnya ia percepat untuk sampai ke dalam sebuah lift. Tak berselang lama lift pun terbuka.
Ting!
__ADS_1
Cleo segera memasuki lift itu tanpa menyadari seseorang tengah memperhatikan dari tempatnya. Begitu lift tertutup, buru-buru Cleo menekan angka 4 dimana mama Dewi tengah dirawat.
Tak berselang lama lift pun sampai dimana lantai yang Cleo tuju. Pintu lift pun terbuka, dengan langkah pasti ia menapaki lorong itu untuk mencari ruangan sang mama.
Ruangan Anggrek-2 tampak berada di ujung lorong itu. Ia pun bergegas untuk menemui sang mama. Tanpa permisi ia membuka pintu dan menutupnya dengan perlahan.
"Mama!" lirih Cleo.
Pria tampan itu mulai mendekat kearah mamanya secara perlahan. Air matanya luruh seketika mendapati sang mama tercinta kini terkulai lemah di atas brankar rumah sakit di bantu dengan beberapa alat penyanggah hidup yang tertancap di tubuhnya.
"Ma, kenapa ini bisa terjadi?" lirih Cleo.
Saat ia menatap sekeliling ia tak mendapati seorang pun di ruangan itu. Dimana Sisie dan Tere? batinnya dalam hati.
Tak lama tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka menampilkan wanita berperut buncit tampak menenteng sesuatu yang seperti hasil laboraturium mama Dewi.
Cleo pun menghampiri sang istri, karena orang yang terakhir bersama mamanya dan ada di tempat kejadian adalah sang istri.
"Katakan Tere! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa mama jatuh dari tangga darurat? Bukankah di mall besar itu ada lift ?" tanya Cleo dengan intens.
"Itu dia mas, lift disana sedang ada perbaikan. Aku dan mama terpaksa berjalan melewati tangga darurat. Entah karena terpeleset atau apa tiba-tiba mama jatuh begitu saja di depan mataku mas! Aku shock mas! shock!" jelas Tere dengan isakan tangis yang di buat-buat.
Cleo pun tampak memandang kasihan kepada sang istri lalu dengan lembut ia meraih tubuh sang istri dam merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Padahal mama mengantarku untuk senam hamil dan membeli beberapa buah-buahan segar untukku mas, Tere tak menyangka kecelakaan ini bisa terjadi? Tau seperti ini, aku tadi akan melarang mama mengantarku mas," racau Tere dengan suara seraknya akibat menangis.
"Sssttt! ini bukan salahmu sayang. Ini semua karena kecelakaan. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri," bantah Cleo seraya mengusap lembut puncak kepala wanita itu dan menciumnya.
__ADS_1
Tere terus menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang suami, namun disela tangisan itu ia sempat menyeringai samar.
Kamu nggak tahu aja mas, siapa yang udah bikin mama Dewi celaka, ccckk!
Dari luar ruangan tampak seorang wanita mengitip dari jendela yang tampak tembus pandang dari luar. Wanita itu terus mengintai dari luar.
Awalnya ia hanya penasaran karena kebetulan melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah datang terburu-buru, ia fikir istri dari pria tersebut tengah melahirkan. Namun saat ia mencoba mengikuti langkah pria itu dari jauh, ia tampak shock saat melihat mantan mertuanya tengah terkulai lemah tak berdaya di atas brakar rumah sakit.
"Mama Dewi," lirih wanita itu.
Ya wanita itu adalah Beauty. Tiba-tiba buliran bening dengan rasa asin yang khas mengalir tanpa cela di kedua sisi wajahnya. Sosok yang dulu selalu berkata pedas dan menusuk kepadanya, sekarang terlihat lemah. Bahkan jauh lebih lemah daripada hatinya dahulu.
Dibantu dengan alat penyanggah hidup yang terpasang sempurna di leher dan anggota tubuh lainnya, nampak memperjelas betapa parahnya luka yang mama Dewi alami.
Meski dulu wanita paruh baya itu sempat menyia-nyiakan kehadirannya karena tak mampu memberinya seorang cucu. Namun bagaimana pun mama Dewi sempat menjadi mama mertuanya.
Rasanya ia ingin masuk ke dalam ruangan itu dan merengkuh lengan ringkih yang tengah tertancap jarum infus. Beauty menyayangi mama Dewi seperti ia menyayangi mamanya sendiri. Meski perilaku wanita yang tengah terbaring lemah itu jauh dari kata mertua idaman.
Tiba-tiba atensinya teralih saat pintu ruangan itu terbuka, lalu menampakkan sosok yang sangat ingin ia hindari. Namun sekaligus begitu ia rindukan pula.
Dengan sigap ia bersembunyi dibalik lorong lain dan berpura-pura tengah sibuk dengan ponselnya seraya menggenggam kuat sebuah map berwarna biru dalam genggamannya.
Tak lama Cleo berlalu bersama istri mudanya atau lebih tepatnya mantan madunya. Hatinya kembali teriris melihat betapa mantan suaminya begitu menaruh perhatian kepada Tere istri mudanya yang tengah hamil tua.
Andai aku dulu bisa hamil seperti Tere, apakah akan menjamin hatimu tak akan berpaling dariku mas Cleo? batin Beauty sedih.
Tanpa sadar ia mengusap-ngusap lembut perutnya sendiri dengan nelangsa kearah sosok yang sudah menghilang di dalam lift.
__ADS_1