
Beberapa pekan telah berlalu, hari ini bertepatan dengan akhir pekan Juna dan Papi Tulus libur bekerja. Seperti biasa, Papi Tulus akan menemani sang istri untuk berjemur di taman belakang mansion mereka.
Di temani secangkir coffe dan juga beberapa cemilan yang tersaji di atas meja taman tersebut.
“Pi, apa papi sudah menerima kehadiran Beauty di rumah kita?” tanya Mami Lola membuka suara.
Papi Tulus yang tengah asyik membaca koran pun, menutup sejenak bahan bacaannya seraya menatap kearah sang istri.
“Papi lihat, Beauty itu bukan wanita yang buruk mi. Dia wanita yang sopan dan memiliki attitude yang bagus. Papi rasa pilihan Juna kali ini memang tidak salah,” pendapat papi Tulus.
“Tapi tetap saja wanita itu tidak jelas asal usulnya pi, bagaimana kalau nanti saudara-saudara kita bertanya. Istri Juna lulusan apa? Anak dari perusahaan mana? Punya keahlian apa? Kita mau jawab apa ke mereka pi?”
“Bagi mami, Lova lah wanita yang pantas mendampingi anak kita Juna. Dia juga lulusan dari universitas ternama, bahkan Lova juga sudah menyandang gelar magister loh pi. Lalu Lova juga dari perusahaan besar seperti Handoyo. Dan lagi Lova juga memiliki keahlian dalam bidang bahasa asing dan juga bermain piano. Jadi kurang apalagi Lova pi, Lova adalah menantu idaman mami,” ungkap Mami Lola tanpa jeda dan berusaha mengkompori suaminya agar lebih memilih Betty menantu idamannya.
Papi Tulus hanya bisa menghela nafasnya berat. Sebenarnya bagi Papi Tulus, siapa pun jodoh Juna nanti yang penting ia tidak memandang anaknya hanya dari segi materi saja.
“Kita serahkan kepada Juna saja ya mi, Yang jelas setelah ini akan ada berita besar. Seorang ceo dari keluarga Narendra memiliki 2 istri. Mami akan sering masuk televisi nanti,” gurau Papi Tulus.
“Papi!” Mami Lola pun menatap tajam kearah suaminya.
“Apalagi Beauty sekarang sedang mengandung, papi sebenarnya tidak tega jika harus memaksa Juna untuk menikahi Lova. Sedangkan istrinya tengah hamil. Tapi kita tidak bisa mundur lagi karena beritanya sudah tersebar,” imbuhnya.
“Apa?! Jadi perempuan itu hamil pi?” tanya mami Lola yang merasa terkejut dengan kabar yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
“Benar mi, Juna sendiri yang bilang ke papi.”
“Kenapa anak itu tidak memberi tahu mami?!” geram Mami Lola.
“Mungkin belum saatnya saja mi, apalagi Mami Lola selalu nampak acuh tak acuh terhadap mantu kita Beauty. Cobalah mami membuka sedikit jalan damai untuknya, dan mencoba mengenal lebih dekat pada gadis itu.”
Mami Lola pun tampak merenung, mungkin benar apa yang suaminya bilang. Namun sungguh berat baginya untuk membuka jalan damai dengan wanita yang bukan menjadi menantu idamannya itu.
Meski ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa Beauty berusaha mendekatinya dengan berbagai cara. Namun perempuan paruh baya itu masih berpegang teguh pada pendiriannya.
Saat kedua pasangan senja suami istri itu masih menikmati aktivitas akhir pekan mereka, datang dengan tergopoh-gopoh bi Tum selaku asisten rumah tangga yang sudah mengabdi di keluarga Narendra semenjak 15 tahun yang lalu.
“Maaf, Tuan dan Nyonya mengganggu waktunya sebentar. Ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan dan nyonya. Kata mereka ini penting, Mereka sedang menunggu di ruang tamu utama tuan,” tutur bi Tum dengan nafas memburu karena setengah berlari.
“Siapa tamunya bi?” tanya Papi Tulus penasaran.
“Keluarga Handoyo tuan.”
...* * *...
Pagi ini adalah jadwal kontrol kandungan Beauty dan di dampingi oleh Juna. Dari pandangan orang yang melihat, mereka nampak seperti pasangan muda pada umumnya yang sedang berbahagia menanti kehadiran buah hati mereka.
Tidak ada yang tahu, bahwa keduanya tengah di liputi perasaan gelisah. Juna dengan masalahnya dan Beauty dengan rasa ingin tahunya.
__ADS_1
Seperti tak ingin mengulang masa lalunya, suatu hari Beauty memberanikan diri mencari sesuatu hal yang selama ini terasa mengganjal di hatinya. Semua gawai cerdas milik Juna Beauty cek satu persatu, namun tak ada hal yang aneh yang wanita itu temukan di sana.
Beauty hampir saja menyerah, namun tanpa sengaja ia menangkap sebuah berita yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Ingin rasanya Beauty tanyakan langsung mengenai berita yang beredar itu kepada suaminya Juna. Namun wanita itu urungkan, ia ingin mendengar sendiri ungkapan kejujuran dari Juna.
“Sayank, menurutmu nanti anak kita perempuan atau laki-laki ya? Hem,” tanya Juna seraya melepas masker yang selalu pemuda itu kenakan jika keluar bersama Beauty.
“Ah! Itu...kita bisa melihatnya nanti Juna. Dokter juga menyarankan untuk kembali control dan USG jika usianya sudah 5 bulan. Baru kita bisa melihat jenis kelaminnya.”
Juna, kenapa selama ini kamu tidak jujur kepadaku? Apakah berita itu benar atau hanya isu belaka? Kenapa kamu malah menyembunyikan semuanya dariku?
“Juna.”
“Iya sayang, ada apa?” sahut Juna enteng. Namun ucapan Beauty selanjutnya mampu membuat pemuda itu tertegun.
“Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan kepadaku Juna?” tanya Beauty lembut dengan sorot mata menatap dalam kearah bola mata Juna.
Deg!
Apa mungkin Beauty sudah mengetahui semuanya? Bagaimana ini, bukti yang ku kumpulkan belum sepenuhnya sempurna. Apa lebih baik aku harus jujur saja?
Kedua orang yang masih berdiam di dalam mobil itu tak menyadari jika sedari tadi, seseorang terus saja memperhatikan interaksi mereka dari jarak tak begitu jauh. Namun tak di sadari oleh pasangan suami istri itu.
__ADS_1
Dukung Juna terus ya kak, karena Juna dan Beauty saat ini butuh dukungan kalian...🤗dan jngn lupa giftnya..😘