
"Langsung ke intinya saja, disini saya tidak akan lama. Ini surat pengunduran dirimu dan ini uang pesangonnya," tegas bu Lola seraya menyerahkan selembar kertas yang sudah berstempel perusahaan serta amplop berwarna coklat sedikit tebal.
"Maksud bu Lola?"
Wanita paruh baya itu terlihat menghela nafas seraya melepaskan kacamata anti silau miliknya.
"Kamu sadar tidak?! keberadaanmu sangat menghalangi perjodohan Juna dengan Lova! Kamu itu jangan mempersulit hidup orang lain mengerti!"
"Tapi maaf sebelumnya bu Lola, saya merasa tak memiliki hubungan apapun dengan pak Juna. Selain hubungan antara atasan dengan bawahan tidak lebih," balas Beauty dengan tangan yang sedikit bergetar.
Jujur Beauty sendiri merasa gugup jika harus di hadapkan langsung dengan owner perusahaan tempatnya bekerja itu.
"Halah! bohong kamu atau pura-pura bod*h! Juna itu menyukaimu! aku tahu dari para asistenku. Aku hanya heran kenapa mas Tulus bisa memperkerjakan orang minim pendidikan sepertimu!" ejek bu Lola kemudian.
Beauty pun bergeming, ia hanya bisa mengempalkan kedua tangannya di samping. Tapi apa yang bu Lola ucapkan memang benar adanya. Status Beauty saat ini masih mahasiswi tingkat akhir.
Sedangkan Betty, wanita itu sedang melanjutkan pendidikannya untuk mengejar gelar S2 di universitas yang sama dengan Beauty.
Dan tentang perasaan Juna, Beauty sudah mengetahuinya kemarin saat pemuda itu menyatakan cinta kepadanya.
Namun, Beauty sendiri belum memahami isi hatinya saat ini. Ia masih terbayang-bayang trauma di masa lalu jika berhubungan dengan pria lagi.
Tapi jika boleh jujur, dalam lubuk hati terdalam Beauty merasa tak rela akan perjodohan Juna dengan Betty temannya itu.
Setelah agak lama Beauty bergelut dengan fikiran dan juga perasaannya. Maka dengan berat hati Beauty putuskan untuk menerima tawaran bu Lola.
"Baik bu, saya akan menanda tangani surat pengunduran diri saya ini."
Beauty akhirnya mengalah, tidak ada pilihan lagi selain menerimanya. Ia tidak akan sanggup jika harus melawan Ibu Lola mama dari atasannya itu.
__ADS_1
"Bagus lah! kamu harus sadar diri, kamu itu cuma janda yang minim pendidikan! Tidak akan ku biarkan anakku menikah dengan sembarang orang yang tidak jelas asal usul serta bibit, bebet mau pun bobotnya sepertimu!" maki bu Lola lagi tanpa hati sambil menunjuk kearah Beauty.
Mendengar itu hati Beauty teriris perih. Apa karena ia tidak memiliki keluarga dan orang tua yang utuh seperti yang lainnya? Maka ia disebut orang yang tidak jelas?
Bahkan statusnya saat ini begitu terdengar memilukan. Menjadi bahan hinaan serta ejekan dari orang-orang di sekitar mau pun diluar sana termasuk wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.
Apa salahnya menjadi seorang janda? Gelar Janda juga bukanlah keinginannya sendiri, tapi keadaan rumah tangganya dulu yang tidak lagi bisa ia pertahankan.
Apa salahnya jika ia tidak berpendidikan tinggi dengan gelar sarjana? Semua itu hanya butuh waktu dan kesempatan.
Sedari dulu ia ingin sekali menamatkan kuliahnya itu, namun selalu terhalang oleh Cleo mantan suaminya dulu.
Lalu sekarang ia masih dalam tahap mengejar akan ketertinggalannya dalam hal pendidikan. Apakah itu juga salah?
Dalam hati ingin sekali Beauty membalas hinaan serta makian wanita itu. Namun ia sadar, kini ia sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua darinya.
Beauty menekankan kata 'nyonya' pada wanita paruh baya itu sebagai bentuk penghormatan non fisik darinya.
"Ini surat pengunduran diri saya dari perusahaan anda, jadi sekarang anda boleh pergi dari rumah saya!" usir Beauty dengan halus dan tenang.
Beauty masih berusaha mengatur emosi yang meletup-meletup dalam dirinya. Berulang kali wanita berlesung pipi itu menarik nafas untuk meredam amarah yang membara.
Sedangkan, wanita dengan tubuh yang dipenuhi barang branded yang melekat pada tubuhnya itu tampak menggeram. Giginya saling gemerutuk menahan kesal.
"Hei! Berani-beraninya kamu ya!"
"Baiklah, aku juga sudah tidak betah berlama-lama duduk di dalam rumah yang sumpek dan pengap penuh debu ini," cibir bu Lola lagi.
"Ya sudah sini!"
__ADS_1
Lalu bu Lola pun merampas surat pengunduran diri Beauty yang sudah di tanda tangani itu dengan kasar.
Sebelum pergi, wanita paruh baya itu menghentak-hentakkan kakinya ke lantai terlebih dahulu. Untuk menyalurkan rasa kekesalannya.
Setelah kepergian mamanya Juna, Seketika tubuh Beauty lunglai terduduk lesu di lantai.
Tubuhnya bagai tak bertenaga, karena tadi sudah ia gunakan untuk menghadapi mama Juna.
Tak terbayang olehnya, baru kali ini ia memberanikan diri di hadapan orang lain. Tubuhnya bergetar, takut jika tindakannya tadi akan menjadi bomerang untuknya di kemudian hari.
Dalam isakan tangis, Beauty merintih memanggil-manggil nama mamanya yang sudah tiada.
"Ma...Beauty harus bagaimana lagi?"
Air matanya luruh tak terbendung. Kali ini siapa lagi yang bisa menjadi penghibur lara hatinya?
Juna pemuda slengekan itu kini sudah dijodohkan dan sebentar lagi akan bertunangan. Sedangkan temannya Betty, kini sudah berubah tak seperti temannya yang selalu menolong dan mendengarkan keluh kesahnya seperti dulu.
Apalagi Cleo. Pria itu kini sedang berada di titik terendah hidupnya. Harta dan perusahaan sudah di babat habis oleh Tere dan di cerai oleh wanita itu pula.
Belum mama Dewi yang masih harus menjalani terapi serta operasi tulang lehernya yang patah. Belum pula memikirkan biaya kuliah untuk adiknya Sisie.
Sungguh, Beauty tak ingin menambah lagi beban pria berjambang tipis itu.
Meski hubungan mereka kini sudah membaik, namun Beauty tak ingin Cleo beranggapan bahwa ia memberi peluang kepada pria itu untuk kembali.
Jujur hati Beauty belum siap untuk patah hati untuk kedua kalinya.
...Apakah disini ada yang kasihan sama nasib Cleo gaes?? 😂😂...
__ADS_1