Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
100. Salaman Lagi


__ADS_3

Ami melepas tas yang digendongnya lalu menjatuhkan punggung di sofa ruang tengah. Memejamkan mata dengan kaki menggantung di pinggiran sofa sebelah kanan dan diayun-ayun. Hari ini indah karena menerima kiriman foto Akbar saat mendapat penghargaan di Istana Negara. Juga karena sikap legowo Almond yang kembali mengajak berteman.


"Cape ya?" Ibu Sekar duduk di dekat kepala Ami yang sedang memejamkan mata.


Ami membuka mata. Menarik tubuh hingga kepalanya beralih naik ke pangkuan Ibu dan tidurqn dalam posisi miring. "Capek otak karena pelajaran mulai padat, banyak tugas. Terus minggu depan mulai PTS. Kelas 12 udah gak bisa main-main. Bakalan banyak tugas kelompok. Baru juga pengumuman schedule, yang lain udah pada mengeluh, pada stres," lapornya sambil terkikik.


"Yang bikin stres itu karena nerimanya dengan terpaksa. Menganggap belajar tuh jadi beban. Kalau ikhlas, pasti bisa dihadapi dengan tenang dan enjoy." Ibu Sekar memberi usapan lembut di kepala Ami.


"Aku bakalan bisa enjoy karena kuncinya ada di Ibu."


"Maksudnya?" Ibu Sekar menunduk menatap ekspresi Ami yang terlihat nyaman tiduran dalam posisi miring.


"Ibu jangan ngegantung jawaban. Aku direstuin gak nikah sama Kak Akbar. Kan kata Ibu boleh pacaran kalau memang siap nikah. Dan aku siap nikah, Bu. Makanya berani memutuskan pacaran. Aku jadi harap-harap cemas lho Bu. Kadang lagi fokus belajar, tiba-tiba kepikiran ibu ngerestuin gak ya. Restuin ya bu, ya. Biar aku enjoy nuntasin sekolah."


"Pinter deh diplomasinya. Maksanya halus." Ibu Sekar menusukkan jari ke pinggang Ami. Membuat bungsunya itu terkikik geli.


"Ami harus sabar. Ibu butuh menilai dulu kesungguhan Ami dan Akbar. Kalau Ami jadi gak fokus belajar justru ibu bakalan tegas ngasih jawaban sekarang. Gak akan ngizinin Ami nikah muda."


Ami sontak bangun dan terduduk sambil menatap Ibu Sekar. "Gak ganggu fokus belajar kok. Aku santuy kok. Sabar nunggu jawaban Ibu. Barusan mah mancing Ibu aja."


Ibu Sekar tersenyum samar melihat kepanikan Ami.


"Bu, Teh Puput sama Teh Aul udah dikasih tau belum? A Zaky juga."


"Udah. Kecuali Zaky belum. Nanti aja."


Ami manggut-manggut. "Tapi kenapa itu duo teteh kalau telepon gak pernah spill? Lempeng aja kayak gak tau apa-apa."


"Karena Teh Puput dan Teh Aul sama seperti Ibu. Mau menilai dulu. Butuh pertimbangan matang. Itu karena semuanya sayang sama Ami. Lain cerita kalau Ami bicaranya udah jadi mahasiswa. Gak akan sedalam gini Ibu mikirinnya. Biar dapat keputusan terbaik, Ami harus istikharah. Ibu juga akan istikharah. Udah, sekarang sana mandi, terus makan."


"Asiap, Bu. Iya aku akan istikharah." Ami tak lagi berkepanjangan tanya. Sabar dan tunjukkan kesungguhan, seperti itu nasihat Akbar yang memang harus selalu diingatnya. Bergegas menenteng tasnya dan melangkah menuju tangga. Istikharah, memang belum dilakukannya. Dan ucapan Ibu sangat tepat. Mengingatkan.


***


Malam hari usai sholat isya, Akbar sudah berpakaian rapih bersiap pergi. Pamit kepada Mama Mila dan Papa Darwis yang sedang menonton televisi. Akan pergi ke rumah Rama. Sesuai kabar dari sepupunya itu, Puput masih berat mengizinkan Ami menikah muda. Maka dari itu, ia akan datang untuk bertemu kakak sulungnya Ami itu.


"Om Akbal ke lumah Aa sama siapa?" Tanya Rasya yang mengekori langkah Papa Rama menyambut kedatangan Akbar. Selalu kepo pada orang yang sudah dikenalnya.

__ADS_1


"Sendirian, Aa Rasya." Akbar mengangkat tubuh Rasya tinggi-tinggi ke udara. Membuat anak sulungnya Rama itu memekik antara senang dan takut.


Puput datang bergabung ke ruang tamu usai menyuruh bibik membuatkan minuman. Percakapan ringan tercipta dengan Rasya sebagai topiknya. Menjawab apapun yang ditanyakan Om Akbar dan Papa Rama. Yang jawabannya menciptakan tawa para orang dewasa.


"Aa, main dulu sama adek disana ya. Kasian tuh adek nyariin Aa." Rama membujuk Rasya usai tiga gelas minuman teh hangat disajikan bibik di meja. Butuh dua kali rayuan sehingga Rasya mau menurut sambil di antar ke ruang bermain menemui Rayyan dan mbak pengasuh.


"Mas Akbar, diminum tehnya." Ucap Puput yang kini hanya duduk berdua saling berhadapan di sofa ruang tamu.


"Iya makasih. Nanti aku minum." Akbar memperbaiki duduknya dengan menegakkan punggung. "Teh Puput mungkin sudah dengar kabar dari Ibu Sekar. Dua minggu yang lalu aku ke sana menyampaikan maksud."


"Iya. Ibu udah cerita." Puput menatap lurus lawan bicaranya. Tak ada yang berubah dengan sikapnya. Tetap ramah meski bisa menebak kedatangan Akbar pastinya untuk membahas tentang hubungannya dengan Ami.


Akbar mengangguk. "Teh Puput, niatku sungguh-sungguh dan mantap ingin melamar Ami menjadi istriku. Teh Puput jangan risau karena usia Ami yang masih muda. Selama setahun ini aku intens berkomunikasi dengan Ami. Jadi sudah tahu betul karakternya dia. Ami yang periang dan lawak, kadang pecicilan. Sepertinya itu udah menjadi ikon yang melekat dan semua orang tahu. Dan tentunya dia itu cantik dan pintar. Dan poin tambahannya, pemikiran Ami udah dewasa, Teh. Makanya aku datang menemui Ibu untuk minta restu karena sudah lebih dulu dapat jawaban Ami yang siap nikah setelah lulus SMA." Jelasnya. Bersamaan dengan Rama datang lagi dan duduk di samping Puput.


Puput menghela nafas panjang. Menoleh pada Rama yang juga balas menatapnya dengan seulas senyum. Ia kembali meluruskan pandangan ke arah Akbar. "Aku tidak meragukan kesiapan mental Mas Akbar yang ingin menikah. Memang iya aku cemas dengan keputusan Ami. Karna aku belum melihat kedewasaan Ami. Intinya, aku seperti halnya Ibu, Aul, belum bisa memberi jawaban dalam waktu dekat ini. InsyaAllah kalau Aul udah lahiran, aku akan ke Ciamis. Sekalian pengen ngobrol langsung dengan Ami. Pengen menilai sendiri. Mas Akbar harap mengerti ya."


Akbar mengangguk. "Aku sangat mengerti. Akan sabar menunggu restu dari semua keluarga Ami.


***


"Masuk, Kak." Ami sendiri yang membukakan pintu usai menjawab salam Akbar. Tak lagi bersembunyi di kamar nunggu panggilan. Malah menunjukkan semangat san keceriaan di hadapan Ibu dan Papa karena Panda nya mau datang.


"Nih, ada oleh-oleh." Akbar mengulurkan paper bag ukuran sedang yang dibawanya.


"Yaahhh, kenapa bawa oleh-oleh segala. Kan aku jadi enak." Ami menerima sodoran paper bag dengan wajah memberengut.


Membuat Akbar terkekeh dan menahan tangan yang ingin mencubit lengan Ami karena gemas. Soalnya mendengar deheman Pak Bagja dari arah ruang tengah.


"Cutie, jangan pasang ekspresi kayak orang susah gitu."


"Masa sih keliatan kayak orang susah." Ami menangkup kedua pipinya usai menyimpan paper bag di samping meja.


"Iya. Susah dilupain." Sahut Akbar pelan diiringi mengulum senyum. Takut ada deheman lagi.


"Ya Salam. Boleh salto disini gak?" Ami mengangkat sedikit roknya seolah akan ancang-ancang.


Akbar lepas tawa renyah melihat Ami kini mereog. Dan tiba-tiba mengerem tawa karena kedatangan Pak Bagja. Ia pun berdiri dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

__ADS_1


"Ibu kemana, Pak?" Tanya Akbar usai bertanya kabar Pak Bagja.


"Lagi ke acara syukuran di rumah tetangga. Sebentar lagi juga pulang." Pak Bagja mempersilakan Akbar duduk kembali.


"Kak Akbar mau minum apa?" Ami menatap Akbar yang kini memasang wajah serius karena ada Pak Bagja.


"Apa aja deh asal yang dingin."


"Es doger Mang Yadi mau gak? Waktu hari selasa nanyain Kak Akbar lho."


"Mang Yadi mana ya?!" Akbar menautkan kedua alisnya. Mengingat-ingat nama itu.


"Yadiriku. Satu sama wewww." Ami memeletkan lidah sebelum berlalu pergi. Cuek menggombal di hadapan bapak sambungnya yang berubah berwibawa layaknya tentara. Padahal sehari-hari hangat seperti layaknya bapak.


Akbar tersenyum simpul. Aslinya pengen ketawa. Tapi tatapan datar pak purnawirawan seolah akan memulai sidang disiplin. Aura tegang intimidasi mulai terasa. Namun ia sudah menyiapkan mental tahan banting. Tetap tenang.


"Akbar berapa hari ada di Tasik?" Pak Bagja mulai membuka percakapan.


"Besok jam tiga sore pulang lagi ke Jakarta, Pak. Akbar ke Tasik tidak ada acara kerja tapi khusus untuk datang kesini. Mengunjungi Ami dan bertemu bapak dan ibu."


"Saya mengajak kamu besok pagi lari pagi. Hanya kita berdua. Jangan bilang sama Ami. Bisa?"


"Siap, Pak. Jam berapa Akbar harus kesini? Atau janjian di luar kah?" Akbar menjawab tanpa ragu. Pasti ini mengandung misi tantangan, tebaknya dalam hati.


"Kita bertemu di luar stadion Galuh Ciamis jam setengah tujuh. Telat datang barang semenit, hukumannya dilarang bertamu ke sini selama dua bulan ke depan. Deal?" Pak Bagja menyampaikan dengan tenang dan lugas dan tatapan tajam.


"Deal." Sahut Akbar dengan yakin dan kepala tegak. Mungkin jika orang lain berada di posisinya akan gemetaran dan gugup. Aura wibawa sang jenderal nyata terlihat. Sangat terasa manfaatnya setelah dulu pernah mengikuti kelas Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Bisa percaya diri menghadapi intimidasi. Hingga ia bisa berbagi ilmu menjadi coach dan motivator untuk pelajar dan mahasiswa.


"Papa dan Kak Akbar kenapa salaman lagi? Lebaran haji udah lewat." Celetuk Ami yang baru datang membawa nampan berisi tiga gelas minuman.


...****************...


Alhamdulillah tak terasa sudah 100 bab. Ada pesan kesan untukku?


Tunggu up kedua nanti malam. Semoga lancar jaya.


follow ig @authormenia biar gak ketinggalan berita, biar tau visual tokoh cerita. 😍

__ADS_1


__ADS_2