Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
39. Ternyata Mimpi


__ADS_3

"Pak Kurdi, pakai ini headphone dan jangan liat ke belakang!" Akbar merasa beruntung ada headphone wireless milik Iko tertinggal di mobil. Ia mengulurkannya pada sopir yang terlihat wajahnya bingung.


"Nanti boleh lepas kalau saya colek." Sambung Akbar usai mengetes suara musik di headphone tersebut berhunyi.


"Baik, Pak." Sang sopir menerima meski dengan tanda tanya besar dalam hati. Mumpung masih lampu merah, segera mengenakannya. Mendadak tersenyum dan tak sadar kepala sedikit bergoyang-goyang begitu mendengar alunan lagu dangdut.


Akbar menyentuh panggilan video dan dalam hitungan detik tersambung dengan kontak yang sudah ia ganti nama dari Ami menjadi Cutie. Terlihat wajah gadis muda berseragam batik sekolah tersenyum manis sambil berucap salam.


"Hei, kenapa senyum-senyum? Gak belajar, hm?" Tegur Akbar usai menjawab salam Ami.


"Wajbar yah, Kak. Kapan potong rambut?" Ami bukannya menjawab, malah gagal fokus pada gaya rambut yang pendek.


"Iya. Baru potong rambut kemarin. Bagus, gak?" Akbar menaikkan satu alisnya.


"Bagus. Mau diapa-apain juga muka Kak Akbar seperti sprite. Nyegerin." Ami mengacungkan satu jempolnya.


Akbar terkekeh. "Gak belajar, Cutie?" Ia kembali ke pertanyaan tadi.


"Gurunya gak masuk. Diganti tugas. Dan aku melipir dulu pura-pura ke toilet. Hehehe." Ami mengangkat dua jarinya sambil cengengesan.


Akbar terkekeh. "Kenapa? Ada apa, Cutie?" Ia bertanya serius diiringi tatapan lembut. Tumben Ami meminta video call lebih dulu.


"Hm, Kak Akbar handsome bingit pakai jas. Mau kemana?" Lagi, Ami bertanya keluar jalur karena terpesona dengan penampilan Akbar.


"Alhamdulillah. Thank you pujiannya. Hidungku gak aman pengen terbang." Akbar menangkup hidungnya yang membuat Ami terkikik. "Sekarang ke kantor dulu sebentar. Lanjut mau meeting di dua tempat, Cutie. Di gedung Kemenparekraf bertemu Pak Menteri, terus lanjut ke kantor relasi." Ia memperhatikan ekspresi Ami yang berubah berbinar kentara kagum.


"MashaAllah, Coach Akbar emang keren." Ami mengedipkan mata serta membulatkan jempol dan telunjuknya. Membuat Akbar terkekeh.


"Maaf ya, aku ganggu. Hanya mau nanya, kapan Kak Akbar berangkat ke Tasik?" Sambung Ami dengan senyum malu-malu. Ia menyampaikan tujuannya meminta video call.


Akbar tersenyum simpul. "InsyaAllah, hari ini. Berangkat setelah magrib."


"Yes. Udah plong kalo udah tau gini. Ya udah, aku ke kelas lagi ya, Kak." Ami hendak menyudahi sambungan video.


"Hanya itu, Cutie?!" Akbar merasa belum puas.


"Iya hanya itu. Dan itu penting. Sekarang aku harus ke kelas lagi."

__ADS_1


"Kasih quote pagi dulu, baru udahan. Butuh good mood sepanjang hari ini." Akbar sengaja menahan mumpung belum sampai kantor. Masih betah menatap gadis berusia 17 tahun itu. Dikira ada hal penting apa. Ternyata, kehadirannya menjadi penting buat Ami.


"Ish, aku gak bisa quote, Kak. Kalau pantun bisa." Ami tersenyum meringis.


"Boleh pantun juga." Akbar mengangguk setuju.


"Ok. Ada paku di atas papan, disimpan ketela oleh Mang Mamat. Hei kamu yang tampan, jangan lupa sholat jum'at." Ami menutup mulutnya yang melengkungkan senyum. Hanya dengan melambaikan tangan, ia pun memutus sambungan lebih dulu.


Akbar tertawa lepas. Benar-benar Ami effect. Mood booster pagi dari si selimut. Pantun yang membuatnya baper. Menurutnya, si gadis periang itu semakin menggemaskan saja. "Baiklah, Ami. See you tomorrow," ucap batinnya diiringi senyum penuh arti.


***


Di rumah Ibu Sekar, banyak sanak sodara berkumpul menjelang besok acara siraman dan minggunya acara nikahan. Keluarga dari pihak Ibu Sekar serta keluarga dari almarhum Ayah Ramdan, keluar masuk bertamu.


Ami sepulang sekolah ikut disibukkan dengan membantu memantau kesiapan catering yang dikelola di cafe Dapoer Ibu. Ia berangkat bersama Zaky dan Puput. Pernikahan Aul menjadi ajang promosi catering dan perdana untuk skala hajat pernikahan. Hasil sidak, semuanya aman terkendali.


Ami tiba lagi di rumah sore hari. Langsung naik ke kamar dan menguncinya. "Huft, gerah nih, Panda. Abis liat persiapan catering. Mau mandi dulu ah." Ami melaporkan kegiatannya kepada boneka Panda pemberian Akbar yang bersandar di bantal. Sudah menjadi teman tidurnya setiap malam.


Sehabis mandi dan sholat ashar, Ami merebahkan badan di perut boneka Panda. Ukuran yang besar membuatnya nyaman bersandar apalagi bulunya super lembut.


Deburan ombak di pagi hari terasa menyegarkan. Ditambah pemandangan matahari terbit menambah keindahan. Ami berjalan lincah dan semangat menyusuri tepi pantai tanpa alas kaki. Tring. Sebuah ide muncul diiringi senyum lebar.


"Kak, lipsing yuk! Tapi sambil koreo. Kita Bollywood-an kayak di film-film India. Kejar-kejaran atau mau konsep gimana. Pokoknya kita latihan dulu. Mau ya?" Ami menatap dengan sorot memelas.


"Apa?! Bollywood-an? Mana tau lagu-lagunya. Bukan seleraku, Mi." Akbar geleng-geleng kepala dengan cepat.


"Iya emang bukan selera Kak Akbar, tapi seleraku. Dan nanti kalau udah dicoba, bakal jadi selera kita. Yakin deh." Ami berucap pasti. Pada akhirnya setelah dirayu tiga kali, Akbar mengalah dengan terpaksa.


Ami yang sudah hafal lirik, sangat mudah menari dan mengajak Akbar mengikuti gerakanya. Di atas batu karang yang datar, adegan bak film India berlangsung romantis. Ia bernyanyi sambil tersenyum malu saat Akbar memeluknya dari belakang. Senyumnya terus berkembang dan berkembang. Hingga sayup-sayup terdengar suara-suara memanggilnya.


Tok tok tok.


"Amiiiii. Miiii...." Suara Zaky semakin keras memanggil diiringi gedoran pintu.


"Iyaa....bentar." Masih setengah sadar Ami menyahut. Tak diduga ketiduran sambil mendekap boneka pandanya.


Ternyata aku mimpi.

__ADS_1


Ami menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum menyeringai. Bergegas turun dari ranjang.


"Pantesan.....tidur ya?!" Zaky menatap Ami yang menguap panjang.


"Ketiduran." Sahut Ami dengan suara serak.


"Jangan dibiasakan tidur sore. Nggak baik. Tuh Aa abis beli pizza. Ayo turun! Mumpung hangat." Zaky menatap sang adik penuh perhatian.


"Iya. Tadi tuh abis sholat terus tiduran, malah keblabasan. Aku cuci muka dulu. Nanti nyusul." Ami membiarkan pintu tetap terbuka. Ia segera ke kamar mandi.


***


Hari bersejarah itu tiba. Sabtu pagi, Panji lebih dulu melangsungkan acara siraman dengan adat Sunda. Halaman rumah yang luas terpasang tenda nuansa coklat putih yang elegan. Keluarga besar hadir tidak hanya menyaksikan, namun juga ikut memberi siraman air bunga. Jam sebelas siang, acara pun berakhir.


"Beda ya auranya calon manten." Ucap Akbar menyambut kedatangan Panji yang sudah berganti baju. Ia sedang berkumpul di teras belakang dengan Rama, Damar, dan Leo. Memisahkan diri dari keriuhan di dalam rumah.


"Haha bisa aja." Panji sudah biasa mendapat godaan sejak kemarin saat teman-teman yang akan menjadi groomsmen, datang ke rumah.


"Mas, makasih ya buat diskonnya. Mana dapat kado kamar pengantin spesial lagi." Panji merangkum bahu Akbar dengan penuh suka cita.


"Sama-sama, Nji. Padahal aku ikhlas ngasih diskon. Tidak ada unsur bisnis kalau sama keluarga. Tapi Allah ngasih feedback tanpa diduga. Semua kamar full booked sampai hari senin. Rejeki yang gak disangka. Pasti sebagian yang nginap itu tamu ke wedding besok ya." Sahut Akbar tanpa jumawa.


"Iya, Mas. Aku udah arahin semua manajer cabang butik dan relasi buat nginep di Seruni." Panji ikut mencicipi buah anggur yang ada di meja. Sementara yang lain menjadi pendengar.


"Statusku bercabang nih, guys. Waktunya pergi ke rumah Ibu. Bakal ganti kostum lagi nih." Rama berdiri sambil melihat jam tangannya. "Nji, mau ikut lihat Aul siraman?" Ia tak kalah menggoda sepupunya itu. Yang dijawab tawa oleh Panji.


"Ajak Akbar aja, Bro. Dia katanya lagi ngeceng mojang Ciamis. Pengen keturutan sepertimu dapat mojang Ciamis yang cantik, manis dan soleha." Leo menatap Akbar sambil menaik turunkan alisnya. Ia mengerti tatapan sang boss yang berubah tajam padanya.


"Boleh tuh usul Leo. Siapa tau ada cewek dari keluarga besar Ibu yang sreg di hati. Yuk ikut, Bar!" Ajak Rama tanpa ada kesan meledek. Sebagai pria metropolitan, ia biasa bertemu teman yang berusia 30 an dan masih santai menikmati status single. Ia menghargai privasi Akbar yang memilih masih melajang. Pasti ada alasannya.


"Duluan aja, Ram. Aku datang pas acara aja bareng Mama dan Tante Ratna." Akbar sudah berpesan kepada Mama Mila bahwa ia siap menjadi sopir yang akan mengantar ke rumah Ibu Sekar.


Kedatangan Puput yang menenteng tas menjadi tanda waktunya berangkat ke rumah Ibu. Rama pun pamit pada semuanya. Ia menuruti kemauan Rasya yang merajuk minta digendong di punggung.


...****************...


Bestie, Yang ingin tau gambaran mimpinya Ami bisa cek story ig me_niadar.

__ADS_1


__ADS_2