
"Kirain mau nyanyi dangdut sekuntum mawar merah. Tadinya mau nyawer. Gak jadi deh." Masih ada sisa tawa di wajah Akbar karena nyanyian Ami jauh dari ekspektasi serta menggelikan. Malah nyanyi lagu anak-anak. Mau heran, tapi ya Ami namanya.
"Terlalu biasa kalau jalan pikiran terbaca orang. Kan harus cerdik. Yang penting sama-sama tema bunga kan." Ami beralasan diiringi cengengesan.
"Iya. Bukan Ami namanya kalau gak out of the box." Akbar menggosok puncak kepala Ami dengan gemas. Sementara Cutie nya itu hanya terkekeh.
"Aku juga bawa hadiah nih." Akbar melangkah menuju kursi yang ada di teras. Ada sebuah paper bag kecil tersimpan disana.
"Ini apa, Kak?" Ami menerima paper bag berwarna biru muda itu dan melongok isinya.
"Itu topi rabbit. Kalau Cutie nanti suntuk belajar atau lagi moody, pakai topi ini sambil ngaca." Akbar memasangkan topi rabbit itu di kepalanya. "Pijit tali bawahnya nanti otomatis telinganya gerak-gerak sendiri." Ia pun mencontohkan sambil menggoyang-goyangkan kepala.
"Ahahahaha....kok gemoy sih, Kak." Ami tergelak melihat Akbar yang lucu dengan ekspresi imut memainkan tali topi hingga kedua telinga topi karakter kelinci itu hidup. Sungguh sangat terhibur.
"Nah kan ketawa. Topi rabbit ini bisa menghiburmu kapan pun. Bisa dibawa ke sekolah atau cukup di rumah. Up to you. Sekarang kamu pakai nih."
"Eits, jangan dulu dilepas. Aku videoin dulu ah." Ami merogoh ponsel di saku roknya. "Ayo goyangin lagi, Kak. Camera, action!" Sambil cekikikan, ia merekam tingkah Akbar yang berekspresi lucu memainkan topi rabbit itu. Cukup 10 detik. Dan ia tak henti cekikikan karena gemas.
"Sekarang giliran Cutie yang pake, aku yang rekam." Akbar membuka topi rabbit dan memasangkan di kepala Ami. Ia pun tergelak melihat Ami yang konyol memutar-mutar kedua bola mata mengikuti gerak telinga topi dengan pipi yang digembungkan.
"Aku harus bungkus biar gak keliatan Rasya. Nanti bisa-bisa dipinta." Ami bergegas melepas topi dan memasukkan lagi ke dalam kantong. "Makasih ya Kak, hadiah yang super cute. Suka banget."
Akbar tersenyum lebar. Senang rasanya melihat wajah cantik di hadapannya itu begitu riang gembira.
"Oh ya, Kak Akbar sendiri apa sama Kak Leo?" Ami celingukan. Hanya melihat Akbar seorang diri dengan mobil yang terparkir masuk ke pekarangan.
"Berdua sama Leo. Sepertinya udah masuk duluan. Kita masuk yuk!"
"Kemana jalan? Kok aku gak liat."
Dengan pikiran yang masih diselimuti keheranan, Ami mengikuti langkah Akbar masuk ke dalam rumah. Heran karena tidak berpapasan dengan Leo. Padahal kan sedari tadi ia dan Akbar berdiri di ambang pintu. Dan benar saja suaminya Tasya itu sudah ada di ruang tengah bergabung dengan Rasya dan Embun.
"Kak Leo masuk lewat mana? Kok aku gak liat. " Ami mengungkapkan rasa penasarannya. Ia tidak melihat pintu lain selain pintu utama berdaun lebar di depan.
"Aku masuk lewat pintu Doraemon, Mi." Sahut Leo enteng. Dan ditanggapi Tasya dengan tertawa.
Meski tidak mendapat jawaban memuaskan, Ami tidak memperpanjang tanya. Beralih memperhatikan Akbar yang membawa Rasya duduk di pangkuan.
"Om Akbal gak ajak Papa Aa kesini?" Rasya mendongak menatap wajah Akbar yang selalu ditemuinya jika main ke kantor Papa Rama.
"Nggak. Papanya Aa lagi sibuk. Om Akbar juga kesini nyempetin waktu biar bisa ketemu Ate Ami."
"Hah?" Rasya mendongak lagi lalu beralih menatap Ami.
"Om Akbar kesini nganter Om Leo , Aa. Om Leo kan Papanya Embun. Jadi pengen main dulu sama Baby Embun." Ami segera meralat. Lalu menatap Akbar sambil mengedipkan mata sebagai kode.
Akbar terkekeh. Mengerti bahasa isyarat Ami yang takut jika Rasya akan bocor mulutnya. Memang sudah diduga Ami bakal memberi warning.
__ADS_1
Akbar sengaja mengundurkan jadwal meeting demi bertemu dulu sang kekasih. Kemarin masih belum puas duduk bersama di kantor. Maka sekarang memanfaatkan quality time di rumah Leo. Tak masalah meski ramai-ramai sambil mengasuh bocah. Yang penting bisa menatap langsung wajah Cutie nya itu dengan puas. Sekalian makan siang bersama dengan memesan secara online.
"Waktunya pulang nih. Mang Kirman udah otewe jemput." Ami menatap Akbar yang duduk di sampingnya. Masih berada di ruang makan meski yang lain sudah berpindah tempat mengawasi lagi Embun dan Rasya yang mulai bermain lagi. Embun begitu ceria dan sering tertawa saat Rasya cilukba.
"Berasa baru 5 menit." Akbar menghela nafas sambil melihat jam tangannya.
"Dua jam lebih lima menit, Kak. Jarum pendeknya dihitung." Ami mendecak sambil menatap Akbar yang tersenyum menyeringai. "Sudah kubilang jangan pasang ekspresi begitu, siang-siang apotek mendadak tutup."
"Lupa lagi artinya. Apa ya?" Akbar mencondongkan badan sehingga telinga lebih dekat dengan wajah Ami.
Ami pun berbisik di telinga Akbar. "Gantengnya gak ada obat."
Akbar tersenyum lebar dengan hidung yang mengembang. Sejak tadi kenyang bercanda tawa. Sederhana namun bahagia. Lupa sejenak pekerjaan yang sebenarnya menumpuk di kantor.
"Cutie, sampai ketemu lagi nanti dinikahan Ibu. Semoga perjalanan pulangnya lancar dan selamat." Pada akhirnya Akbar harus melepas Ami pergi. Awalnya akan mengantar pulang sampai ke rumah Puput. Namun Ami menolak. Lebih baik dijemput lagi Mang Kirman. Resiko hubungan backstreet memang harus banyak maklum.
Ami mengangguk dan mengaminkan. Baru saja ada pesan dari sopir jika sudah berada di depan rumah. Ia beralih berpamitan dengan Tasya dan Leo yang ia undang ke nikahan Ibu. Namun mereka tidak bisa hadir karena ada sepupu Tasya yang menikah di tanggal yang sama.
"Hwua...hwuaaa." Tangis Baby Embun pecah saat Rasya berkata pamit dan mencium pipinya.
"Ulu-ulu....ada yang gak rela ditinggal Aa Rasya nih." Tasya menggendong Baby Embun yang menangis kencang seolah ada yang mencubit. Segera menepuk-nepuk punggungnya agar tenang.
"Aa tenangin dulu tuh adek Embun. Gak mau ditinggal Aa." Ami terkekeh. Pesona keponakannya sudah membuat seorang bayi perempuan nyaman. Akbar dan Leo pun memperhatikan Rasya yang mendekati Baby Embun yang kini duduk di pangkuan mamanya.
"Adek Embun jangan nangis ya. Aa halus pulang. Aa mau ke Ciamis ke lumah nenek. Nanti kita main lagi ya." Rasya mengusap pipi Baby Embun yang basah. Lalu memeluknya. Dan itu mampu membuat Baby Embun tenang. Perlakuan sayang seperti itu juga selalu ditunjukkan pada Rayyan adiknya. Karena itu didikan Umma Puput agar kakak beradik saling berkasih sayang.
Akbar mengantar Ami dan Rasya sampai depan mobil dan membukakan pintu untuk mereka. "Hati-hati di jalan ya Ate dan Aa." Ia melambaikan tangan dan mengedipkan mata pada Ami. Yang dibalas Ami dengan senyum manis.
"Bye Om Akbal." Rasya pun balas melambaikan tangan dengan riang. Perlahan mobil mulai melaju. Kaca pintu mobil pun dinaikkan sampai rapat.
***
"Umma, tadi Aa main sama adek Embun. Aa cilukba telus adek Embun nya ketawa-ketawa." Rasya duduk anteng karena Umma Puput sedang menyisir rambutnya usai berganti pakaian. Siap pergi ke Ciamis.
"Namanya adek Embun? Pasti lucu ya." Puput menanggapi sang anak yang selalu bercerita kegiatannya.
Sementara Ami menegakkan telinga mendengarkan laporan Rasya selanjutnya.
"Iya lucu. Matanya bulat. Adek Embun juga nangis waktu Aa pulang. Telus Aa peluk bial gak nangis lagi. Cup cup cup...."
"Dek Embun nya jadi berhenti nangisnya?"
"Iya. Sepelti Aa peluk adek Layyan kalo lagi nangis di cup cup cup."
Puput terkekeh. "Anak pinter." Ia memberi kecupan di kening Rasya yang kini sudah rapih.
Ami bernafas lega karena Rasya tidak membahas Akbar.
__ADS_1
"Di lumah adek Embun ada Om Akbal juga. Bicalanya sama Ate sama Om Leo. Ketawa-ketawa. Telus semuanya makan belsama." Rasya turun dari kursi dan mendekati Rayyan yang sedang bermain ditemani mbak. Ia ikut melempar-lempar bola.
Baru juga Ami merasa tenang, kini berubah deg-degan melihat Puput yang menautkan kedua alisnya.
"Ada Om Akbar juga?!" Puput berkata heran. Beralih menatap Ami seolah meminta penjelasan.
"Kak Akbar sama Kak Leo mau meeting siang tapi mampir dulu ke rumah katanya ada berkas yang ketinggalan. Terus jadinya pesan go food dulu, makan siang bareng." Sahut Ami beralasan. Semoga alasan yang masuk akal meski dibumbui sedikit bohong.
"Aa, vc dulu sama Papa sini. Bilang dulu Aa mau ke Ciamis sekarang." Puput mulai melakukan panggilan video saat Rasya sudah duduk dengan semangat. Tentunya Rama sudah tahu jika Rasya akan ikut Ami hari ini.
Ami menghembuskan nafas lega. Bersyukur tidak ada introgasi.
Baru satu jam perjalanan meninggalkan Jakarta, Rasya sudah tepar di tempat duduknya. Maklum sedari pagi semangat bermain. Jadi hawa sejuk AC dan laju mobil yang halus, membuatnya mengantuk. Ami mengatur posisi kepala Rasya agar nyaman tidur dalam car seat khusus anak itu.
Siang sudah berganti malam saat mobil yang dikemudikan Mang Kirman tiba di depan rumah Ibu Sekar. Ami tersenyum lebar karena kembali ke rumah dengan lancar dan selamat. Rasya pun tidak rewel atau pun mabuk perjalanan.
"Aa....capek gak?" Aul memeluk Rasya yang masuk ke dalam dituntun Ibu dan terlihat menguap panjang.
"Nggak capek. Syeluu sama Ate main pelosotan. Telus naik pelahu bebek. Ikannya gede-gede." Rasya sigap menghampiri, mencium tangan Panji yang baru bergabung duduk di sofa.
"Itu Teh, tadi mampir di rumah makan yang baru. Ada taman bermain anak sama kolam ikannya luas. Pengunjung bisa naik perahu bebek muter-muter kolam." Sahut Ami. Ia pun tak lupa selfie dulu untuk dikirim ke grup keluarga. Laporan kepada Puput jika sudah sampai di rumah jam sembilan malam. Tak lupa juga konfirmasi ke ayang.
"Ibu, aku tinggal tiga hari kenapa sekarang jadi kurusan?" Ami mengamati Ibu yang kini memangku Rasya dan mencium-cium pipi bakpau cucunya itu. Kentara rindu.
"Masa sih? Perasaan mah enggak." Ibu Sekar menatap pergelangan tangannya untuk menilai.
"Wajah Ibu keliatan tirus ah. Bentar ya aku ambil timbangan." Ami beranjak menuju lemari. Ia penasaran ingin membuktikan dugaannya.
Ibu Sekar pasrah mengikuti keinginan Ami yang harus ditimbang berat badan. Ia melihat angka yang tampil. Keningnya pun berkerut heran.
"Ya kan bener dugaanku. Ibu sakit nggak? Kalau sakit bilang. Atau apakah Ibu stres karena mau jadi pengantin? Please, jangan ada rahasia diantara kita."
Aul dan Panji tertawa lepas melihat ekspresi Ami yang menggoda Ibu dan mendapat hadiah sentilan di kening. Bukan Ami namanya kalau tidak iseng. Tidak pada kakaknya tidak pada ibunya, semua kena kejahilannya.
"Bu, ini ada oleh-oleh dari Mama Mila. Salamnya buat Ibu katanya. Aku juga dibelanjain Mama Mila sebagai hadiah ranking satu. Kalau yang ini hadiah dari Teh Puput." Ami menyerahkan satu paper bag untuk Ibu dari enam shopping bag yang teronggok di karpet.
"Wah Ami, Mama Mila royal banget ngasih hadiah mahal-mahal. Curiga mau dijadiin mantu ini mah." Aul terkekeh usai mengamati satu paper bag berisi sepatu sekolah.
"Aih Teh Aul kalau nebak suka bener." Sahut Ami yang menjawab di dalam hati. Yang diucapkan oleh bibirnya lain lagi. "Rejeki anak bungsu gitu lho. Meskipun kebagian susu sisa, tapi rejekinya luar biasa."
"Ya ampun susu sisa katanya, Bu." Panji tergelak dengan istilah Ami yang begitu santai terucap.
Ibu hanya geleng-geleng kepala. Di satu sisi tentu bahagia si bungsu sudah kembali ke rumah. Bisa melihat lagi keriangan anak gadis terakhirnya itu.
...****************...
Yang mau lihat gemoynya Akbar pakai topi rabbit, cus lihat di igs authormenia.
__ADS_1