
"Alhamdulillah."
Adalah kata pertama yang diucapkan oleh Ami begitu menerima foto-foto dari Akbar. Semua foto yang berjumlah empat buah adalah foto candid. Entah siapa orang yang disuruh Akbar untuk menjepret kebersamaan malam mingguan dengan Zaky itu. Meski tanpa penjelasan, ekspresi dua wajah penuh senyum dalam foto tersebut sudah mewakili jawaban yang diharapkan. Yaitu mendapat restu.
Dan Minggu siang, video call tersambung antara Zaky dengan Ami. Semakin memperjelas fakta karena sang kakak bercerita tentang kedatangan Akbar. Sekaligus kakaknya itu menitipkan pesan agar fokus selesaikan sekolah dulu dengan mempertahankan nilai baik.
Minggu berganti bulan. Menyambut awal November dengan kedatangan Akbar untuk pertama kalinya di malam minggu setelah resmi mendapatkan semua restu. Ibu tidak mengizinkan jalan-jalan keluar rumah. Tapi memberi kebebasan mengobrol di dalam rumah. Ibu Sekar dan Pak Bagja hanya nimbrung menemani awal kedatangan Akbar saja.
"Buat bisa ikut jalur SNMPTN, interval nilai rata-rata nya harus dari 80 - 90. Dari semester satu sampai lima. Alias dari kelas 10 sampai kelas 12 semester ini. InsyaAllah nilai raport aku dari kelas 10 sampai 11 sih udah masuk persyaratan, Kak. Tinggal nunggu raport semester ini." Jelas Ami dalam obrolan random yang tercipta dengan duduk di sofa yang sama di ruang tamu.
"Semester ini optimis dong ranking 1 lagi. Juara di kelas dan juara di hatiku. Optimis juga lulus SNMPTN." Akbar mengacungkan tangan yang terkepal. Inginnya mengusap puncak kepala Ami. Tapi takutnya nanti berbuah teguran dari jenderal mengingat ada CCTV di atas.
"Aamiin. Bismillah....menyambut new journey." Ami terkekeh pelan dengan wajah berbinar.
"Dan nanti aku akan siapin rumah atau apartemen untuk tempat tinggal kita yang dekat dengan kampus." Akbar tersenyum simpul.
"Ish, jangan dulu planning itu. Kejauhan, kak. Nanti aja nunggu pengumumannya dulu. Apakah keterima nggak di UI. Yang acara Desember juga belum. Udah loncat jauh ke situ." Wajah Ami merona merah jambu karena pembahasan 'tempat tinggal kita'.
Akbar terkekeh. "Udah kebiasaan sih bikin perencanaan itu jangka pendek dan jangka panjang. Desember kan udah di depan mata. Udah nggak ada masalah tinggal tunggu waktu dan nunggu keputusan konsep lamarannya mau gimana, hm. Aku tinggal ngeluarin dana."
"Iya nanti ya aku diskusi dulu sama ibu. Nanti dikabarin. Sekarang mah cicipi dulu nih. Mau mangga dulu atau jenang oleh-oleh Papa dari Kudus?" Ami menunjuk makanan yang ada di meja dan belum tersentuh.
"Mangga deh."
"Oke. Mangga. Mari kita berkeluarga." Ami terkikik sambil membawa piring buah mangga potong ke tengah sofa.
Akbar terkekeh. Mulai menusuk potongan mangga harum manis dengan garpu yang tersedia. "Kalau jenang ada singkatannya juga?"
"Ada dong. Kalau jenang, jenuh menunggu di pinang." Ami memeletkan lidahnya.
__ADS_1
Akbar tak bisa tertawa lepas karena segan ada orang tuanya Ami di dalam. Rasanya lebih bebas tertawa kalau lagi video call.
"Cutie, pengen cubit pipi kamu tapi di atas ada CCTV. Tau nggak berasa diawasi sama Pak Babja langsung." Ucap Akbar dengan suara pelan.
Ami cekikikan. "Jadi sejarahnya ada pengunjung rumah makan yang masuk menyelinap ke rumah. Untung ketahuan Bi Ela pas tamu tak diundang itu ada di depan pintu kamar ibu. Maling itu lari dengan menubruk Bi Ela. Kejadiannya pas papa sama ibu nggak ada di rumah. Jadi Papa memutuskan memasang CCTV di semua sudut dalam rumah, kecuali kamar."
"Oh, gitu." Akbar mengusap tengkuknya sambil tersenyum tipis. Perkiraannya salah. Mengira sengaja memasang CCTV untuk mengawasinya saat berkunjung menemui Ami.
***
Usai wakuncar malam minggu dan pulang lagi ke hotel jam sembilan malam. Minggu pagi menjelang siang, ia kembali ke rumah Ami sekaligus untuk pamit akan kembali ke Jakarta. Dan menutup perjumpaan dengan makan siang bersama Cutie-nya itu serta Pak Bagja dan Ibu Sekar. Sudah tidak canggung lagi menikmati kebersamaan dengan keluarga Ami setelah semuanya terang benderang. Silaturahmi ke rumah sepuh yaitu Enin Herawati sudah dilakukan sabtu siang kemarin.
Mama Mila selalu yang paling antusias menyambut kepulangan Akbar dengan tanya. "Gimana-gimana, nak. Udah dapat tanggal belum? Venue-nya mau di mana? Konsepnya seperti apa? Duh, Mama udah nggak sabar buat ngabarin Iko. Bikin desain bajunya keluarga kita mau seperti apa. Kalau pesannya sih di butik Sundari aja. Mau minta diskon ke Ratih."
"Lah, Mama. Kostum aja dipikirin dari sekarang. Ini masih awal November, Mam. Bar, apa semua cewek seperti mama kamu?" Celetuk Papa Darwis dengan tatapan tetap fokus pada buku bacaannya.
"Bar, apa emang semua cowok sesantai papa kamu? Ya iyalah dia santai. Wong Papa tinggal pakai baju aja. Nggak mau tahu prosesnya. Tiap ditanya minta ide, jawabannya terserah Mama aja." Mama Mila mendelik pada suaminya. Yang ditatap tetap fokus dan tenang membuka lembaran buku tanpa melihat lirikan mautnya.
"Belum ada pembicaraan tanggal atau konsep, Ma. Baru perkiraan di tanggal 20-an. Tanggal pastinya menunggu dulu kabar dari Zaky kapan bisa pulang. Untuk konsep juga Ami mau diskusi dulu sama ibunya. Sabar, Ma.1" Sahut Akbar. Sekaligus menutup obrolan dengan orang tuanya karena mau beristirahat.
"Tuh Ma, dengerin Akbar. Sabar."
Mama Mila mendelik lagi ke arah Papa Darwis sambil menutupkan buku yang sedang dibaca oleh suaminya itu. "Iya, Mama denger. Gak usah diulang kali. Ayo ah kita ke kamar. Udah tenang sekarang mah anak kita udah pulang." Ia tarik tangan suaminya tanpa memberi kesempatan menyimpan kacamata bacanya dulu.
"Deuhh, yang lagi pengen nggak sabaran amat. Tenang atuh Ma, Papa nggak akan kemana-mana. Papa milikmu malam ini." Papa Darwis memainkan sudut bibirnya hingga kumisnya bergerak-gerak.
"Ya Allah, Papa. Otakmu ngeres ya."
"Mama mau sapuin? Aku sih yes nggak akan nolak." Lagi, Papa Darwis menggoyang-goyangkan kumisnya.
__ADS_1
"PAPA!" Papa Mama Mila menggeram dengan suara ditekan serendah mungkin. Ia mengejar langkah suaminya yang lolos dari cubitannya. Yang berlari sambil tergelak menuju kamar.
Akbar mengapit ponsel diantara bahu dan telinga saat masuk ke kamarnya. Tujuannya menghubungi Leo. Namun sudah terhubung lama belum juga tersambung. Barulah setelah mengulang panggilan kedua, Leo menjawabnya.
"Ada apa, bro?"
"Lama amat jawabnya. Jam segini belum tidur, kan?"
"Belum tidur tapi lagi tanggung anuu...."
"Stop-stop! Gue nggak mau dengar penjelasan lo. Gue cuma mau bilang besok jemput ke rumah. Gue malas bawa mobil. Lelah baru pulang dari Ciamis. Sopir masih libur."
"Makanya beli jetpri biar apel ke Ciamis gak harus lama di jalan."
"Belum penting beli jetpri. Tahun depan juga udah aku bawa pindah ke Jakarta. Biarlah saat ini perjuangan dan pengorbanan dulu."
"Sayang, udah licin nih. Masukin sekarang buruan."
"An jir telinga gue terkontaminasi. Plis ini masih jam sembilan. Itu si Tasya nggak tahu apa kalau lo lagi teleponan sama gue." Akbar mendengkus kesal.
"Justru karna masih siang makanya kita anuu. Sudah gue bilang lagi nanggung. Denger hape bunyi terus jadi gue penasaran liat dulu. Ini lagi di balkon nih."
"Sayang, lama banget sih. Ini yang atas juga harus dipegang."
"Leo, tolong filter itu mulut si Tasya. Bilangin dulu lo lagi telponan sama gue."
Leo malah tertawa lepas. "Emang otak lo traveling kemana woy. Gue dan Tasya lagi betulin mainan Embun. Beda nih yang otaknya udah ngebet pengen kawin."
"Kirain." Akbar mendecak sebal.
__ADS_1
***
Bestie, Maaf ya cuma dikit. Moga bisa mengobati kerinduan pada AmBar.