Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
61. Surprise Tanpa Bilang-bilang


__ADS_3

Ibadah umroh telah memberikan hikmah dan kenangan manis untuk Ami. Hikmahnya, kadar keimanan menjadi naik dan membuatnya menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam bersikap. Semakin bersyukur dan sangat bahagia memiliki Ibu dan saudara yang rukun dan menyayanginya. Di luar sana, masih banyak anak yang tak seberuntung dirinya


Kenangan manisnya, tentu saja karena kebersamaan dengan Akbar yang bertemu setiap hari meskipun berbeda agen travel. Ami mampu menilai laki-laki dewasa itu begitu melindungi dan mengayomi serta sabar memotivasi hingga tercapai menyentuh Hajar Aswad. Perasaan cinta dengan sendirinya levelnya semakin naik.


Saat pesawat mendarat di bandara Soekarno Hatta, Ami dan Ibu menginap lagi di rumah Puput semalam. Barulah besoknya pulang ke Ciamis karena libur sekolah tersisa dua hari lagi.


Memulai semester dua, Ami meniti hari demi hari hingga berganti bulan, diisi dengan rutinitas seperti biasanya. Yang luar biasanya adalah tentang perasaan. Sepulang ibadah umroh, kemantapan hatinya semakin menguat untuk memutuskan menikah muda. Segala bentuk perhatian dan dukungan Akbar dengan komunikasi yang intens meski LDR, semakin memupuk rasa cinta dan sayang pada pemilik hotel Seruni itu.


"Kak, udah bangun belum? Ada sayur ditabur bawang. Ayo sahur, Ayang."


Puasa ramadhan sudah berjalan lima hari. Ini menjadi rutinitas Ami membangunkan Akbar lewat pesan suara di jam setengah empat atas permintaan Panda nya itu. Jika belum ada respon hingga lima menit lamanya, ia akan ulang dengan menelpon.


Pesan suara sudah centang biru. Ami menunggu balasan dari Akbar sebelum ia keluar meninggalkan kamarnya.


"Iya ini udah bangun. Selasih dibungkus pita. Makasih cinta."


Ami terkikik pelan usai mendengarkan balasan pesan suara yang terdengar serak khas bangun tidur. Akbar dari hari ke hari makin mahir mengimbangi gombalannya. Bisa cepat menjawab singkatan atau pula pantun. Benar-benar virus Ami sudah meresap sampai ke darah. Membuat sang CEO Pulangpergi yang cool and calm sering lawak jika sedang bertelepon atau video call.


Usai berpisah di Mekah, Ami dan Akbar belum bertemu muka lagi sampai sekarang. Terhitung lebih dari tiga bulan lamanya. Resiko hubungan backstreet. Tidak ada alasan Akbar untuk berkunjung ke rumah gadisnya itu. Namun setelah lebaran, wacana kumpul keluarga di hotel Seruni akan berusaha direalisasikan. Karna itu akan menjadi momen pertemuan keduanya.


"Bu, hari ini jadwal kelas aku ngaji on the street. Boleh bawa mobil ke sekolah, Bu? Cuaca lagi panas. Lokasi ngajinya di jalan HZ."


Ami menatap Ibu yang duduk saling berhadapan di meja makan dengan kapasitas enam kursi itu. Sahur tahun ini hanya berdua. Setelahnya kehilangan Zaky yang kuliah di Singapura, sekarang kehilangan Aul yang kini sudah memiliki rumah tangga sendiri.


"Iya gak papa pakai aja. Hari ini Ibu gak kemana-mana. Mau ada tamu Bu Agus sama Bu Rani. Katanya pengen order nasi kotak 30 box per hari buat disumbang ke masjid selama dua minggu. Mau diskusi soal harga dan variasi menunya."


"Kelasku juga mau ngadain program bagi-bagi takjil di jalan. Pokoknya selama puasa bakal padet kegiatan sampe sore."


"Ami harus bisa jaga kesehatan. Terus usahakan buka puasanya di rumah. Ibu gak ada teman berbuka kalau Ami bukber di luar."


"Iya, Bu." Ami mengangkat piring kotor bekasnya dan bekas Ibu. Tugasnya sekarang menyeduh susu hangat dua gelas sebagai penutup sahur sebagai doping agar fit sepanjang hari.


***


Ami memarkirkan mobil di samping kiri mobil Almond yang memasuki gerbang sekolah secara beriringan. Teman beda kelasnya itu selesai memarkirkan lebih dulu dan membantu mengarahkan parkir agar lebih maju ke depan.


"Puasa gak, Mon? Seger amat keliatannya." Ami menggendong tas ranselnya usai menekan remote kunci. Mulai berjalan diiringi Almond.


"Ya puasa dong. Dari awal belum bolong. Emang kalau puasa harus 3 L? Lemah, letih, lesu. Kamu aja fresh and shining gitu. Apa emang gak puasa? Lagi M ya?" Todong Almond.


"Aku puasa. Emang wajahku selalu gini, Mon. Udah setelan pabriknya. Kayak baru tau aja." Sahut Ami santai. Dua telunjuknya dipakai menarik sudut bibir kiri dan kanan lalu memeletkan lidah.


Almond tertawa. Itulah yang disukai dari seorang Ami yang selalu percaya diri tanpa terkesan sombong. Yang ada malah spontan tertawa karena ekspresi menyebalkan tapi menggemaskan.

__ADS_1


"Mi, bukber yuk!"


"Puasa belum seminggu udah pengen bukber. Gak bisa."


"Ya gak harus sekarang. Kan planning dulu. Kapan bisanya?" Almond menoleh pada Ami yang sama-sama menaiki tangga.


"Sama siapapun juga yang ngajak, aku belum tau bisa ikut bukber apa tidak. Kasian Ibu buka puasa sendirian di rumah."


"Bukbernya di rumah Ami aja gimana? Jadi gak harus ninggalin Ibu, kan?"


Ami menoleh dan menghentikan langkah dengan kening mengkerut. "Idemu boleh juga, Mon. Oke nanti aku agendakan. Mau ngajak teman lainnya juga."


"Awas kalau aku lupa diajak!" Ancam Almond sebelum berpisah arah di lantai dua. Hanya dijawab cengengesan oleh Ami.


Masuk ke kelas hanya untuk menunggu kedatangan Bu Elin yang akan mengawal kegiatan Ngaji on The Street. Karena selama Ramadhan, jadwal pelajaran ada perubahan dimana empat jam pertama diisi kegiatan Ngaji on The Street bergilir mulai kelas 11 IPA dan IPS, lalu kelas 10.


"Guys, yang mau bareng naik mobil aku ada kuota enam orang cewek. Bu Elin akan aku ajak naik mobil aku." Ami mengumumkan di depan kelas. Sudah tentu Kia yang pemalu paling awal diajak.


"Aku, Mi." Sonya, Yesi, Ifa, serempak acungkan tangan.


"Aku ikut geng cowok konvoi motor aja." Sahut Yuma.


"Aku ikut ya, Mi. Gak papa lah duduk di belakang bareng si Fajar nih." Teriak Ozi dari bangkunya di pojok kiri.


Grrr. Suara tawa pecah satu kelas. Meledek Fauzi yang yang kentara tidak mendengarkan pengumuman Ami. Bahwa yang boleh numpang adalah murid perempuan.


Seluruh murid kelas IPA tiga sudah tiba di lokasi mengaji, yaitu trotoar pusat pertokoan. Satu kelompok terdiri dari empat orang, menggelar tikar serta mulai mengeluarkan Al Qur'an dari dalam tas. Menjadi pusat perhatian memang. Dan tentunya mendapat sambutan positif masyarakat. Sehingga ada beberapa pengguna jalan yang mengabadikan dengan kamera ponsel. Disamping dokumentasi yang dilakukan pihak sekolah lewat drone juga foto.


***


Tidak terasa, Ramadhan sudah berjalan enam belas hari. Rumah makan Dapoer Ibu selalu ramai dan penuh dengan acara buka bersama. Bahkan harus reservasi dulu agar bisa mendapatkan tempat.


[Meskipun puasa tiap hari 19 jam, aku kuat. Apalagi jika tiap hari kamu perhatian begini]


[Kirimin kolak biji salak dong, Sekar. Sama gurame bakar bumbu kecombrang. Sungguh kangen menu Dapoer Ibu. Especially missing you]


Ibu Sekar mengulum senyum membaca pesan balasan dari Pak Bagja. Ia hanya bertanya 'Gimana puasa hari ini, Kang?' Namun balasan merajuk yang diterimanya. Padahal ia iseng bertanya sambil menunggu waktu magrib satu jam lagi. Sekaligus menunggu kedatangan teman-teman Ami yang akan buka bersama di rumah.


Puasa di Jerman di musim semi ini memang sangat lama, 18-19 jam. Mulai puasa dari jam tiga dini hari dan baru buka jam sepuluh malam. Itulah mengapa Ibu Sekar sangat ingin tahu kondisi Pak Bagja dan Gina yang berpuasa sangat lama itu. Namun sang purnawirawan menganggapnya sebagai perhatian istimewa.


"Sampai detik ini aku lebih nyaman berteman aja, Kang. Bagaimana pun rasa cinta pada anak-anak lebih besar daripada mencintai diri sendiri apalagi orang lain. Terkhusus pada Ami. Satu lagi anak gadis yang butuh perhatian dan kasih sayang. Jika aku nikah lagi, aku takut tidak bisa adil membagi perhatian terhadapmu dan anak-anak."


"Sudah kubilang, aku akan menyayangi anak-anakmu seperti anakku sendiri. It's oke kalau kamu keukeuh dengan pendirian. Aku tetap sabar menunggumu. Sampai waktu yang merasa lelah dan kalah hingga hatimu menyerah."

__ADS_1


"Akang keras kepala."


"Bukan keras kepala. Tapi pantang menyerah."


Ibu Sekar menghela nafas panjang mengingat percakapan jarak jauh awal puasa lalu. Entah waktu kapan tepatnya. Pak Bagja minta dipanggil dengan sebutan Akang. Awalnya ia canggung untuk merubah panggilan. Namun seiring waktu menjadi terbiasa.


[Kalau Akang mudiknya sebelum lebaran, aku sendiri yang akan memasaknya untukmu dan Gina]


[Sudah dulu ya kang, ada teman-teman Ami mau bukber]


Ibu Sekar menyimpan ponselnya ke kamar begitu mendengar suara gaduh datang dari ruang tamu. Ami baru saja menyambut kedatangan teman-temannya berjumlah 10 orang.


"Mi, ada kurir tuh." Ucap Marga yang masuk paling akhir.


Ami mengerutkan kening. Tidak merasa order. Tak urung ia keluar menghampiri seorang kurir berjaket kuning yang berdiri di bawah teras.


"Dengan Teh Ami Selimut?" Kurir bertanya diiringi ekspresi menahan senyum. Mungkin merasa geli dengan nama penerima yang dirasa unik.


Ami mengangguk. "Apa ini, Mang? Aku gak order apa-apa hari ini." Ia masih diliputi keheranan. Apalagi kurir yang datang berjaket kuning. Bukan jaket hijau seperti langganannya.


"Alamatnya jelas kesini, Teh. Ini yang ordernya atas nama APB." Mang kurir memperlihatkan aplikasi di ponselnya.


Barulah Ami tersadar dan mengangguk dengan wajah semringah. Padahal tadi malam saat video call sepulang tarawih, ia hanya bercerita pada Akbar bahwa akan ada teman-teman ke rumah untuk buka bersama. Dan Akbar menanggapi dengan memasang wajah memberengut karena iri ingin sekali dapat kesempatan buka bersama.


"Makasih, Mang."


Ami mengintip isi dua kantong plastik besar berwarna putih yang beralih ke tangannya. Satu kantong berisi tiga dus donat madu. Satu kantong lagi berisi minuman es kuwut Bali. Ia segera merogoh ponsel di saku celananya untuk menghubungi Akbar.


"Kak..."


"Apa, sayang? Kaget ya dapat kiriman." Akbar lebih dulu memotong ucapan Ami. Sudah menduga arah bicara Cutie nya itu.


"Iya. Ish, kenapa suka bikin surprise tanpa bilang-bilang sih."


Akbar tertawa lepas di ujung telepon. "Kalau deket aku jawil ya bibirmu. Mana ada surprise konfirmasi dulu, Cutie."


Ami menormalkan bibir. Akbar kok bisa tahu kalau bibirnya sedang mengerucut. Posisinya menelepon sambil bergeser ke ujung tembok karena takut terdengar Ibu.


"Aku sengaja cuma order camilan aja soalnya menu makan pasti udah ada kan. Selamat bukber ya, Cutie. Aku juga lagi di Kelapa Gading, diundang bukber sama teman yang ultah. Happy for you and all."


"Makasih, Panda. Hm, jaga mata and jaga hati ya! Ingat ya di Ciamis ada yang ATK!"


"Iya, sayang. Aku kan udah terAmi-Ami. Mana bisa terkontaminasi toxic. Kangennya udah meluber lho ini. Gak sabar pengen cepet lebaran."

__ADS_1


Ami menggigit bibir dengan kedua pipi yang panas dan merona. Sudah tidak perlu dijabarkan bagaimana hangatnya hati setiap kali dipanggil 'sayang'. Sambungan pun berakhir usai ia berucap salam.


__ADS_2