Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
125. Jiwa Yang Berontak


__ADS_3

"Semua nomer penting udah aku masukkan." Leo menyerahkan ponsel baru berikut nomer baru pada Akbar yang baru selesai olahraga di treadmill.


"Aku gak sabar nunggu waktu jam sebelas." Akbar melirik jam dinding. Pembicaraan panjang lebar sore kemarin dengan Puput dan Rama, memperjelas fakta bahwa ada orang yang sengaja ingin menghancurkan hubungannya dengan Ami. Begitu pintar membajak aplikasi WA milik Ami yang tidak aktif, dipakai mengirim pesan pada Mama Mila dan Leo. Juga ponselnya yang hilang sudah digunakan untuk mematahkan hati Ami. Sejauh ini pelaku sukses membuat hubungan menjadi renggang.


"Banyak yang ingin aku urus hari ini. Hoek...hoek." Akbar menutup mulutnya saat merasakan ingin muntah. Tiba-tiba rasa mual timbul lagi disertai perut melilit setelah semalam mengalami insomnia dan kegelisahan. Efek samping dari kokain yang disuntikan ke pembuluh darah masih belum hilang dari tubuhnya. Makanya ia memaksakan diri jogging di treadmill untuk membantu pengeluaran toksin dari tubuhnya melalui keringat.


"Jangan dulu banyak pikiran dan aktivitas. Kamu harus fokus penyembuhan dulu, Bro. Harusnya kamu masih dirawat dan terapi di rumah sakit. Biar urusan pekerjaan dan penyelidikan aku yang urus." Leo sigap menyerahkan gelas yang berisi air putih hangat.


"Mana bisa aku diam tanpa mikir. Sekarang kamu cek, Gita masuk kerja nggak." Akbar masih penasaran setelah kemarin Gita tidak bisa datang ke rumah sakit dengan alasan kurang sehat. Ada sesuatu yang ingin dipastikan.


"Tidak masuk. Surat keterangan dokter sudah masuk lewat email, katanya." Sahut Leo usai mengkonfirmasi ke kantor.


"Kalau gini aku makin curiga. Nanti kita ke rumahnya setelah jam sebelas." Akbar membuka kaosnya yang sudah basah oleh keringat. Jam sebelas nanti ada janji berkomunikasi dengan Ibu Sekar dan Pak Bagja yang berada di Jerman.


Waktu yang ditunggu Akbar pun tiba. Sambungan sudah terhubung lewat aplikasi Skype di laptop. Waktu di Munich sekarang ini baru jam enam pagi. Akbar mengucap salam terhadap orang tuanya Ami yang sudah tampil di layar.


"Pak, Bu, apakah Puput dan Rama sudah cerita tentang kejadian yang menimpa Akbar?"


"Iya sudah kemarin sore waktu Jerman. Gimana keadaan Mas Akbar sekarang?" Ibu Sekar menunjukkan perhatian dengan tulus.


"Sedang pemulihan, Bu. Insya Allah besok juga sembuh." Jawaban Akbar itu sekaligus juga sebagai sugesti positif untuk dirinya. "Maaf, Bu, Pak. Apakah Ami udah dikasih tahu? Akbar susah menghubungi Ami karena nomornya tidak aktif.


"Ami belum tahu kebenarannya. Yang harus menjelaskan sebaiknya Akbar sendiri."


"Baik, Bu. Akbar akan terbang ke Munich boleh minta alamatnya?"


"Akbar boleh nyusul Ami setelah masalah selesai. Kami nggak ingin Ami jadi korban karena permasalahanmu. Ami hampir diculik sepulang dari Padepokan. Alhamdulillah selamat karena bisa bela diri." Kali ini Pak Bagja buka suara.


"Iya, Pak. Akbar akan selesaikan hari ini juga. Akbar udah tahu pelakunya. Perempuan itu udah terobsesi sama Akbar."


"Problem solving harus tuntas. Baru bisa jemput Ami, Bar. Sebagai orang tua, kami akan selalu cemas dengan keselamatan Ami jika masalahmu tidak tuntas diselesaikan."


"Problem Akbar hanya dengan satu orang, Pak. Insya Allah akan tuntas hari ini juga." Akbar menjawab yakin. Leo yang menjadi pendengar komunikasi beda benua itu menyimak dengan penuh atensi.


"Tidak. Saya yakin ada musuh lain. Dan hanya Akbar yang tahu siapa itu."


Akbar spontan menoleh ke samping. Saling tatap dengan Leo dengan isyarat tatapan mata. Namun Leo menjawab dengan mengangkat kedua bahu.


Akbar menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, Pak. Akbar akan selidiki. Dan soal Ami, apa gak sebaiknya Bapak sama Ibu ngasih tahu kebenarannya dulu. Kasihan Ami pasti sedih dan sakit hati."


"Begini Mas Akbar, Ibu sama Bapak petik hikmah dari kejadian ini. Ami biarkan dengan perasaan seperti itu dulu. Anggap sebagai latihan pendewasaan. Biar kedepannya setiap mendapat permasalahan, dia bisa tahu bagaimana seharusnya mengelola mental. Kita tetap awasi sambil menilai. Ya...paling lama satu bulan lah. Tapi kalau Mas Akbar sudah bisa menyelesaikan permasalahan di Jakarta, lebih cepat lebih baik Mas Akbar yang ke sini dan menjelaskan semuanya." Jelas Ibu Sekar.


Akbar mengangguk. Mau tidak mau harus menerima pola didik Ibu Sekar dan Pak Bagja itu. "Bu, maaf. Minta tolong candid Ami ya, Bu. Buat obat kangen Akbar."

__ADS_1


Ibu Sekar mengangguk dan tersenyum. "Iya nanti Ibu kirim."


***


"Akbar! Wah,mimpi apa Tante semalam bisa kedatangan Akbar ke rumah ini." Ucap Desri mamanya Gita, yang membuka pintu rumah dengan wajah semringah menyambut kedatangan Akbar dan Leo.


"Akbar mau nengok Gita, Tante. Gita nya di mana ya?" Akbar menyalami Desri seperlunya. To the point pada tujuan.


"Gita ada di kamarnya. Bentar Tante panggilin dulu ya. Makasih lho Akbar. Udah grecep nengokin Gita." Seorang ibu yang berharap bisa besanan dengan Mama Mila itu pun berlalu menuju lantai dua.


Tempat tidur masih dibiarkan acak-acakan dengan posisi selimut yang masih menggulung. Juga bantal dan guling yang berantakan. Seolah mewakili kekacauan pikiran dan perasaan yang sedang dialami oleh perempuan berambut panjang dengan sebatang rokok putih terselip di sela jarinya. Memutuskan tidak masuk kerja dengan alasan sakit, membuatnya merenungi kilas balik yang sudah dilalui. Baru menyadari langkahnya sudah terlalu jauh melenceng. Begitu, kata hati nurani.


Namun ego membantah. Apa yang dilakukannya sudah benar. Segala sesuatu yang diinginkan itu harus diperjuangkan. Begitu, kata bisikan di hatinya memberi pembelaan.


"Ya ampun, Git. Ini kamar apa kapal pecah sih. Itu juga....sakit kok merokok. Tuh di bawah ada yang nengok. Baru sehari nggak kerja aja udah ditengokin. Apalagi kalau bukan perhatian namanya." Ucap Desri, antara mengomel dan girang.


"Siapa yang nengok, Ma?" Kening Gita mengernyit.


"SAYA."


"Mas Akbar!" Gita terkejut dan buru-buru memalingkan wajah. Tak menyangka Akbar dan Leo ada di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar.


"Mas Akbar kenapa ke sini nggak ngabarin dulu. Aku kan belum mandi." Gita berbicara sambil membelakangi Akbar. Pandangannya mengedar mencari keberadaan masker.


"Ini alergi kosmetik, Mas. Aku coba merk baru ternyata nggak cocok sama kulitku." Gita memalingkan pandangan ke samping. Tak sanggup melawan tatapan tajam Akbar yang berkilat amarah.


"Gitu ya. Kenal dengan orang ini?" Akbar melepas cengkramannya lalu menjentikkan jari. Tak lama seorang perempuan masuk dengan dikawal oleh seorang preman yang merupakan anak buah Leo.


Gita terkejut bukan main. Mata melotot tajam menatap seorang perempuan yang nampak ketakutan itu.


"Ma maaf, mbak. Aku nggak mau masuk penjara." Ucap perempuan yang dibayar untuk berjoget dan berfoto dengan Akbar yang pingsan di tempat tidur.


"Tunggu-tunggu. Ada apa ini sebenarnya?" Mamanya Gita bukan hanya kaget. Ia pun dibuat bingung dengan situasi yang terjadi sekarang ini.


"Tante nonton aja dulu." Leo mewakili menjawab. Kini semua mata tertuju pada Akbar yang mulai menginterogasi Gita.


"Gita, gue nggak nyangka lo sejahat itu sama gue. Lo nyuruh orang nyulik gue. Lo mau merusak organ tubuh gue dengan suntikan kokain. Lo juga udah berbuat curang dan jahat mau memisahkan gue dengan Ami. Lo berani nyuruh orang menculik Ami. Nggak mikir apa hukuman yang akan lo hadapi. TIDAK ADA KATA MAAF BAGIMU, GITA." Akbar mengeratkan gigi hingga terdengar bergemelutuk, dengan wajah yang memerah menahan amarah.


"Ya.... Aku...aku lakuin itu karena cinta sama kamu, Mas. Kalaupun sampai tubuhmu sakit dan rusak, aku akan tetap mendampingimu. Cewek cabe-cabean itu pasti nggak akan mau punya suami penyakitan. Dia bakal cari cowok tajir lagi. Tapi aku, aku akan menerima kamu apa adanya, Mas. Aku mencintaimu tanpa syarat." Gita yang sudah terdesak mengakui perbuatannya.


"Dan satu hal lagi. Aku hanya menculik kamu, Mas. Hanyq manipulasi chatingan. Tidak menculik cabe-cabean itu."


"Jangan bohong kamu."

__ADS_1


"Sumpah. Rencanaku misahin kalian udah berhasil. Si cabe-cabean udah pergi jauh. Ngapain mesti pakai acara nyulik-nyulik segala."


Plak


Gita mengaduh sambil memegang pipinya yang panas karena tamparan Akbar.


"Namanya Ami. Sekali lagi lo ngehina calon istriku dengan istilah itu, gue ulang lagi cakar wajah lo!" Telunjuk Akbar mengarah ke pipi Gita.


Akbar memutar badan dan melenggang ke arah pintu bersamaan dengan masuknya 4 orang polisi dua diantaranya adalah polwan yang siap menggiring Gita.


"Tidak...tidak. Jangan bawa anak saya. Anak saya tidak bersalah. Ini fitnah." Jerit mamanya Gita yang mencoba menghalang-halangi seorang polwan yang memasang borgol di tangan anak kesayangannya itu.


"Nanti Ibu jelaskan saja di kantor polisi." Ucap seorang petugas polisi yang menggiring langkah Gita keluar dari kamar.


***


"Cutie, kamu kalau manyun gitu malah gemes tahu. Pengen gigit. Miss you so bad." Akbar bergumam sambil menatap penuh rindu pada foto candid kiriman Ibu Sekar waktu itu. Ada dua foto dengan pose berbeda. Yang satu pose sedang memanyunkan bibir dengan mendongak melihat langit. Satu lagi sedang merenung sambil menatap ke arah air sungai. Ia menghitung waktu. Sudah seminggu berlalu dari seharusnya moment prewed. Sudah seminggu juga Ami berada Jerman dan lost contact.


Satu masalah sudah selesai. Gita sedang menikmati hasil buah dari yang ditanamnya. Sedang mendekam di penjara dan menjalani pemeriksaan dengan status sebagai tersangka. PR Akbar sekarang adalah siapa dalang yang menculik Ami di Ciamis waktu itu. Dan ia sekarang sedang menunggu kedatangan Pak Bagja dan ibu Sekar yang akan pulang dari Jerman. Informasi yang diterimanya, anak buah sang purnawirawan Wirawan sudah berhasil menangkap kepala preman yang bernama Konyal.


"Masuk!" Ucap Akbar bagi mendengar pintu kamarnya diketuk. Hari ini badannya tumbang karena pikiran terkuras selama beberapa hari kemarin. Dimana seharusnya digunakan untuk beristirahat dan menjalani terapi. Usai shalat subuh tiba-tiba tubuhnya menggigil kedinginan. Tak lama kemudian berganti demam sehingga ia tidak kuat bangun. Paracetamol yang diberikan Mama Mila bisa menurunkan demam. Namun ia harus istirahat di tempat tidur karena tulang-tulang terasa sakit.


Seorang dokter keluarga masuk ke dalam kamar diiringi dengan Leo dan mama Mila. Pemeriksaan mulai dilakukan secara menyeluruh sambil menanyakan keluhan yang dirasakan Akbar.


"Mas Akbar sering kelewat minum obat anti depresan ya?"


Tebakan dokter itu diangguki Akbar. "Lupa, dok."


"Obat depresan itu wajib diminum agar zat narkotika dalam tubuh Mas Akbar segera hilang. Dan jangan lupa harus banyak istirahat. Mas Akbar jangan dulu bekerja. Harus istirahat total agar cepat sembuh.


"Obatku adanya di Jerman, dok. Yakin, aku bakal sembuh total." Jawaban yang hanya diucapkan di dalam hati. Di hadapan dokter ia hanya mengangguk. Malas bicara.


Dokter pun keluar dari kamar usai memberikan resep kepada Leo yang harus dibeli di apotek.


"Bar, pokoknya sehari ini Mama nggak akan ngizinin Akbar keluar rumah. Kalau perlu bed rest aja ya. Lihat badanmu nih, nak. Udah kurusan sekarang. Istirahat dulu jangan banyak mikir. Alihkan semua urusan sama Leo. kalau ngeyel Mama akan kunci kamarnya dari luar. Dah ah. Mama turun dulu mau buatin bubur buat kamu. Nurut ya!" Ancam Mama Mila sambil meraba kening Akbar. Merasa lega karena suhunya berubah hangat.


"Hmmm." Sahutan pendek Akbar mengiringi kepergian Mama Mila yang meninggalkan kamar dan menutup pintu.


"Ada kabar terbaru apa?" Akbar melupakan nasihat Mama Mila. Menatap antusias pada Leo yang membuka tablet.


"Ada email. Baca aja sendiri." Leo menyerahkan tabletnya. Ia tahu, meski badan bed rest, pikiran Akbar tidak akan bisa istirahat sebelum satu masalah lagi terpecahkan. Apalagi jiwanya sudah berontak ingin terbang ke Jerman.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2