
Ada tujuh papan bunga ucapan Happy Wedding yang berjajar di didepan pagar tembok rumah. Diantaranya yang mengirim adalah KSAL Angkatan Laut periode sekarang yang merupakan teman baik Pak Bagja. Rumah makan Dapoer Ibu yang tutup untuk umum sehari ini, sudah mulai diisi tamu keluarga yang akan mencicipi hidangan. Sementara di samping rumah sebelah kanan, Akbar dan Ami yang duduk bersama, baru saja memulai cerita.
"Kak, kita hanya bertemu disini aja. Besok subuh aku dan keluarga berangkat mau liburan ke Bali. Dan.....jangan lupa. Kemanapun perginya, selalu booking tiket pesawat dan hotel melalui aplikasi pulangpergi. Perjalanan tenang, liburan pun nyaman. Klik." Ami bergaya seperti model iklan yang berakhir kedipan mata.
Akbar terkekeh karena memperhatikan tingkah Ami yang riang dan percaya diri. "Kamu cocok jadi model iklan deh. Mau gak jadi model iklannya pulangpergi? Udah lama juga belum buat iklan baru."
"Beneran, Kak? Eh tapi kelas 12 bakal jadi waktu yang padat belajar. Mana aku udah ada planning mau ke Bengkulu." Ami yang awalnya kaget senang, berubah menggelengkan kepala.
"Ke Bengkulu? Ada kegiatan apa, Cutie?" Akbar menatap heran. Waktu bertemu di Jakarta, Ami tidak bicara wacana itu.
"Kan....bersamamu ke penghulu." Ami menaik turunkan alisnya sambil mengulum senyum. Namun kemudian lepas menjadi cekikikan melihat ekspresi Akbar yang menepuk jidat.
"Tahan, Bar. Tahan...." Hati kecil Akbar mengingatkan. Ia pria dewasa yang sedang diselimuti perasaan cinta. Dimana di satu sisi ada nafsu berbisik menyuruhnya untuk memeluk gadis menggemaskan itu. Menyalurkan perasaan lewat dekapan erat. Beruntung menjalin hubungan jarak jauh. Jauh dari seringnya kontak fisik.
"Cutie, itu matanya." Akbar menatap mata Ami dengan serius.
"Ah, bohong ya?" Ami tersenyum miring. Tak percaya jika Akbar serius. Namun melihat Panda nya itu mengerutkan kening, tak urung ia meraba sudut dan ekor mata. "Kenapa mataku? Ada belek?" Ia beralih berkaca menggunakan ponsel.
"Bukan belek, Cutie. Aku melihat di matamu ada gambaran masa depan kita yang cerah." Akbar berubah tersenyum lebar karena berhasil membalas gombalan Ami.
"Bentar-bentar....aku boleh salto gak?" Ami mengangkat sedikit gaunnya sehingga terlihat leging hitam yang dipakainya.
Akbar tertawa renyah. Benar-benar gak ada romantisnya tanggapan yang diberikan Ami. Masih betah ingin terus mojok berdua. Namun ia harus sadar situasi. "Cutie, ke dalam duluan gih. Aku nanti nyusul."
"Tapi aku masih betah." Ami merajuk meski ia pun paham maksudnya Akbar.
"Sabar. Sebulan lagi show up. In syaa Allah." Akbar menyentuh kepala Ami. Mengambil sebuah daun kering yang baru saja jatuh terbawa angin.
"Amiiiii, dicari-cari ternyata mojok disini." Padma berteriak dari ujung teras.
Akbar dan Ami menoleh bersamaan. Akbar terlihat tenang. Sementara Ami terkejut sebentar. Namun segera tersenyum dan bersikap biasa.
__ADS_1
"Cari angin dulu, Padma. Di dalam gerah. Sini gabung!" Ami melambaikan tangan.
"Nggak ah. Padma mau makan. Itu Ami dicari Teh Puput katanya foto keluarga dulu sekarang."
"Oke. Otewe." Ami segera bangun dari duduknya dan pamit dulu kepada Akbar.
***
Karena acara resepsi di mulai, sepasang pengantin serta semua anak-anak beralih tempat di rumah makan Dapoer Ibu. Menerima tamu yang mulai berdatangan mengucapkan selamat. Area gazebo menjadi tempat makan para tamu undangan yang dihibur live musik pop dengan jumlah penyanyi dua orang.
Ami menyambut dengan riang kedatangan teman sekolah yang hanya mengundang 4 orang saja. Ada Kia, Sonya, Ifa, dan Yuma yang datang bersama-sama. Berlima, mereka berdiri melingkar usai menyalami Ibu Sekar dan Pak Bagja serta memberi sebuah kado hasil patungan. Tiada pertemuan tanpa selfie. Berbagai pose dilakukan dan bergantian memegang ponsel yang dipasang pada tongsis.
"Guys, lihat ada A Zaky. Selfie yuk!" Sonya paling pertama melihat kehadiran Zaky yang nampak gagah dan cool dalam balutan seragam keluarga berupa jas abu serta dalaman kemeja slimfit hitam tanpa dasi. Sontak saja yang lainnya ikut heboh dan segera mendekat untuk bersalaman dengan kakaknya Ami itu.
"Ya Salam. Dasar ya tiap liat cowok cakep selalu aja pada ganjen." Ami geleng-geleng kepala melihat tingkah centil tiga temannya yang bergiliran berfoto dengan Zaky. "Kia, mau ikutan foto gak?" Ia menoleh pada temannya yang paling kalem itu. Masih berdiri di sampingnya tak ikut memburu Zaky.
"Nggak ah, malu." Kia tersenyum mesem menyaksikan ke arah yang lagi antri berfoto dengan Zaky. Senyumnya terbit karena kagum melihat keramahan serta senyum manis Zaky saat sedang berfoto.
"Ya ampun, jawabanmu gak pernah kreatif ya, Kia." Ami dengan gemas mencubit lengan Kia. Ia berinisiatif mendekati teman-temannya yang sudah selesai berfoto, lalu berbisik pada Zaky.
"Eh." Kia tergeragap karena ditodong perintah bukan pertanyaan. Apalagi Zaky membuka telapak tangan menunggu diberikan ponsel. Dengan gugup, ia merogoh ponsel di dalam tas tenteng mungilnya.
"Smile dong. Jangan tegang. Biar keliatan cantiknya." Perintah Zaky yang sudah mengangkat ponsel milik Kia tinggi-tinggi. "Itu nyengir bukan senyum, Kia. Liat aku nih!" Ia mengoreksi senyum yang ditampilkan temannya Ami yang paling pemalu itu. Memberi contoh senyuman natural yang terlihat di layar ponsel.
Berdiri serapat itu dengan lengan kiri Zaky beradu lenganya. Tubuhnya yang mungil hanya setinggi bahu Zaky, karena hanya memakai flat shoes. Hingga aroma parfum dari ketiak pria yang dikaguminya itu memenuhi indera penciuman. Membuat Kia yang awalnya sudah gugup, kini semakin gugup dengan jantung bertalu cepat. Dua kali ia ditegur karena senyumnya tegang. Zaky memberi contoh senyuman sambil mengedipkan mata. Hingga akhirnya ia pun bisa tersenyum natural. Dan sontak kedua pipinya bersemu merah karena dipuji cantik. Entah berapa jepretan yang dibuat Zaky. Ia menerima kembalian ponsel dan berucap terima serta bergegas menuju teman-temannya yang sibuk melihat hasil foto.
"Amiiiii, itu Coach Akbar kan?" Sonya memekik ditahan saat sapuan pandangannya membidik sosok pria yang mengenakan kemeja slimfit lengan panjang warna abu tua. Terlihat sedang berdiri dan berbincang dengan dua orang kakak iparnya Ami. "Mi, kamu kan akrab. Minta tolong bilangin dong kita-kita pengen foto bareng gitu," ujarnya yang mendapat persetujuan Ifa dan Yuma.
"Kan udah pernah difoto waktu acara lamaran Teh Aul." Ami mencoba menolak. Rasa tidak rela ayangnya dikerubuti keganjenan teman-temannya setiap kali melihat pria single yang tampan.
"Itu kan dulu, Mi. Beda outfit dengan yang sekarang. Plis atuh, Mi. Setia kawan napa." Kali ini Ifa bersuara mendukung Sonya.
__ADS_1
"Ya udah tunggu. Foto rame-rame ya jangan foto berduaan nanti pacarnya bisa cemburu."
"Emang yang mana pacarnya, Mi?" Tanya Yuma penasaran.
"Pacarnya lagi ketemu dulu teman-temannya." Sahut Ami sambil berlalu menuju Akbar yang mengenakan kemeja warna abu tua karena permintaannya. Sehingga secara tidak langsung masuk warna seragam yang sama dengan semua laki-laki di keluarganya dan keluarga Pak Bagja. Bedanya, Zaky dan yang lainnya mengenakan jas abu tua
"Kak Akbar, teman-temanku pengen foto bareng. Boleh nggak katanya?" Ami menatap Akbar dengan bersikap biasa di hadapan Rama dan Panji.
"Cie, fans nya Mas Akbar anak SMA euy." Panji menggoda diiringi tawa saat mendengar Akbar menyetujui pertanyaan Ami.
"Ada yang kepilih gak, Bar? Cakep-cakep tuh." Rama ikut menggoda sambil menoleh ke arah teman-temannya Ami.
"Serius nih aku nanya. Menurut kalian, aku pantes gak dapat jodoh anak SMA?" Sebuah pertanyaan pancingan disampaikan Akbar. Ia sempatkan melirik ekspresi Ami sekilas.
"Tiap cowok memiliki kriteria memilih jodoh yang berbeda-beda. Kalau kamu cocok sama anak SMA, itu hak. Karena kebahagiaan diri tidak bisa diukur dari komentar pro kontra orang lain." Sahut Rama bersikap netral.
"Bijak sekali, Pak Rama." Akbar terkekeh sambil menepuk-nepuk bahu bapak dari dua orang anak itu. Ia pun mengajak Ami berjalan menghampiri teman-temannya Ami itu.
***
Pesta resepsi telah usai di jam setengah dua siang. Waktu sudah beranjak berganti malam. Menyisakan lelah berbalut bahagia karena acara berjalan lancar. Anak, menantu, dan kedua cucu Pak Bagja malam ini menginap di rumah Ibu Sekar agar tidak terlambat besok berangkat ke bandara. Gina tidur seranjang dengan Ami dan Rasya. Guna dan anak istrinya tidur di kamar Zaky. Dan Zaky mengalah tidur di sofa ruang keluarga lantai atas. Sementara Puput dan Rama menempati kamar Aul.
Di kamar pengantin yang tidak mau didekorasi layaknya kamar pengantin, Ibu Sekar dan Pak Bagja sudah naik ke peraduan. Sama-sama duduk selonjoran dengan punggung bersandar pada kepala ranjang yang sudah ditata bantal. Sudah dipastikan pintu kamar terkunci.
Pak Bagja meraih tangan Ibu Sekar. Meremasnya pelan lalu saling menautkan jemari dan mengangkatnya ke bibir serta memberi ciuman dalam dan lama. Mata memejam. Hidung menyesap keharuman body lotion serta halusnya kulit sang istri.
"Hanya tidur ya, Kang. Takut subuh kesiangan." Ucap Ibu Sekar di tengah tengkuk yang meremang karena jalinan jemari sudah terurai dan tangan sang suami mulai berpindah menyentuh puncak kepalanya.
Pak Bagja mengulum senyum. Dengan pelan, ia menarik kepala Ibu Sekar hingga bersandar di bahunya. Bibirnya bergerak memberi kecupan di rambut berwarna coklat dengan panjang di atas bahu. Keharuman sampo aroma lembut sangat enak diemdus hidung. Bibirnya mulai turun menyapu kening istrinya itu yang kini memejamkan mata.
"Kang!" Ibu Sekar membuka mata dengan tatapan sayu dan sorot memohon. Ia mengingatkan kesepakatan tadi saat berganti pakaian tidur. Jika malam pertama nanti akan dilakukan di Bali.
__ADS_1
Pak Bagja terkekeh. "Maaf, sayang. Melihatmu tanpa jilbab gini, begitu menggoda iman dan imin. Oke, kita tidur. Tapi.....after French kiss."
Tak ada peluang untuk Ibu Sekar menolak sentuhan bibir dan permainan lidah sang jenderal yang pengalaman hidupnya sudah melanglang buana ke berbagai negara. Pasrah dalam ******* pelan yang lolos tanpa kontrol namun masih bisa diredam demi tidak menimbulkan polusi suara di tengah suasana malam yang sudah sunyi.