Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
76. Kemesraan Ini


__ADS_3

Ami mengajak Kia duduk di bangku taman karena masih ada waktu 15 menit sebelum bel jam pelajaran ketiga berbunyi. Ia mengeluarkan ponsel dari saku. "A Zaky nitip file buat kamu. Bikinnya dadakan lho, Kia. Ngerjainnya subuh. Katanya kalau Kia suka, desain ini bisa dipakai dan free. Maaf ya jangan tersinggung. Kata A Zaky, spanduk nasi goreng yang dipakai itu terlalu standar. Biasa para pedagang nasgor pake dimana-mana. Nah desain baru ini moga aja makin menarik perhatian orang-orang yang lewat. Moga aja makin ningkatin omset, katanya."


Kia menatap file kiriman dari Ami dengan seksama. Ada dua gambar dengan format PNG dan dua-duanya sangat bagus. Tak menyangka jika Zaky perhatian sedetail itu pada spanduk kain dengan latar belakang warna kuning yang dipakai di kiri dan kanan gerobak. Ia sangat suka dengan desain buatan kakaknya Ami itu. Sehingga bingung menjatuhkan pilihan.


"Kia, itu foto nasgornya asli nasgor kamu. Kan waktu pesan yang dibawa pulang ada tiga bungkus ya. Nah yang dua nya sama Aa ditata dulu di piring saji, terus difoto deh."


"Oh ya? Kreatif ya A Zaky. Ini estetik kayak di hotel. Bagus banget, Mi. Tolong bilangin makasih ya sama A Zaky. Aku akan cetak. Tapi masih galau pilih yang mana. Dua-duanya bagus sih." Kia masih betah menatap desain spanduk yang memukaunya itu.


"Namanya juga anak arsitek. Aku tidak mau menerima titipan. Lebih bagus Kia sendiri yang chat langsung. Say thank you sendiri!"


"Gak apa-apa gitu? Aku malu, Mi." Kia meringiskan wajah.


"Ya Salam, Kia. Pakai malu segala. Udah sekarang aja chat A Zaky sebelum lanjut ke ke kelas. Buruan, Putri malu!"


Kia tertawa kecil melihat kejengkelan Ami. Ia menuruti saran teman terbaiknya itu. Sudah masuk ke aplikasi chat tapi bengong dulu. Karena otak berpikir bagaimana rangkaian kata yang pantas dikirimkan kepada Zaky. Baru menatap foto profilnya si ganteng kalem itu, sudah membuat jempolnya tremor.


[Assalamu'alaikum]


[A Zaky, aku dapat hadiah file dari Ami. Aku sangat-sangat suka. Akan aku pakai]


[Makasih banyak ya, A Zaky]


[Semoga sehat slalu 🙂]


Empat pesan yang dikirimkan bertanda ceklis satu. Biarlah. Setidaknya ucapan terima kasih udah dikirimkan. Kia mengajak Ami ke kelas. Waktu bebas sudah habis. Kegiatan belajar mulai berjalan normal hingga waktunya pulang.


"Kia, udah? ayo pulang!" Ami sudah lebih dulu menggendong tas ranselnya. Teman sekelasnya sudah berlarian keluar lebih dulu. Di dalam kelas hanya tinggal berdua. Itu karena ia membalas dulu chat dari Akbar. Begitu pun Kia yang sedang larut dengan ponselnya.


"Ayo, Mi!" Kia menyudahi menatap layar. Setiap pergantian jam pelajaran, ia selalu mengintip sudah adakah balasan dari Zaky. Namun tetap saja sama, ceklis satu. Dan baru saja ia intip lagi yang kini sudah dibalas.


[Sama-sama, Kia]


Ekspektasinya terlalu tinggi dengan berharap Zaky membalas dengan kata-kata yang panjang berisi perhatian dan motivasi. Sampai ia tersenyum kecut karena halunya itu. "Sadar Kia, sadar. Kamu unspecial di mata Zaky," ucap batinnya mengingatkan.


Ami dan Kia pulang dengan motor masing-masing. Selama seminggu ini, Kia bisa memakai motor Bapak karena ada motor kerabat yang dititipkan di rumah dan boleh dipakai dulu. Sehingga Bapak tetap bisa mengantar jemput si bungsu yang masih duduk di bangku SD.

__ADS_1


***


Tanpa dihitung pun, waktu terasa berlalu dengan cepat. Selesai sudah ujian kelas 12 dan tinggal menunggu waktu acara perpisahan. Ami pun dihadapkan dengan dua kesibukan yaitu persiapan menjadi MC acara perpisahan kelas 12, juga persiapan menghadapi ujian. Termasuk pula persiapan di rumah. Dimana pernikahan Ibu dan Pak Bagja sudah menemukan tanggal yang tepat. Tepat dalam arti bisa dihadiri oleh semua anak-anak dari pihak Ibu Sekar dan Pak Bagja.


"Cutie, ingat ya. Tidak ada lift menuju kesuksesan. Untuk sukses itu harus melewati tangga. So, semangat belajar, sayang!" Motivasi Akbar menjadi kalimat pembuka komunikasi video call malam ini. Dimana besok Ami akan memulai hari pertama ujian kenaikan kelas.


"Noted, Coach Ayang. Hihihi." Ami mengangkat tangan memberi hormat. Ia sangat tenang, tidak tegang dan stres seperti dialami sebagian temannya. Kepanikan mereka itu karena biasanya memakai metode belajar SKS alias sistem kebut semalam. Berbeda dengan dirinya yang dibimbing Coach Akbar sejak semester satu dengan dibuatkan konsep Mind Mapping. Sehingga pikiran bisa memetakan semua materi ajar. Dan hasilnya bisa memahami materi secara terkonsep. Jadi selama seminggu ke depan tidak harus belajar keras. Santai saja, hanya mengulang belajar.


Ami pun tidak pelit ilmu. Ia sudah berbagi metode belajar ala Coach Akbar itu pada Padma dan Kia. Dan terbukti hasilnya. Padma bisa naik menjadi ranking satu dari awalnya ranking lima. Dan Kia dari awalnya ranking tiga menjadi ranking dua. Tak bisa menyalip Ami yang nilainya makin naik.


"Termasuk untuk sukses menggapai restu, harus melewati tangga juga kan, Kak." Sambung Ami diiringi senyum-senyum. Terbayang kurang lebih 3 minggu, ia naik kelas 12. Dan semakin dekat dengan waktunya go publish.


"Berlaku for everything, Cutie. Kalau Mapping restu, sekarang siap naik level lima. Itu jangan kamu pikirkan. Tenang, itu tugasku. Tugas Cutie hanya fokus belajar dan tunjukkan prestasi terbaik pada keluarga. Buktikan jika backstreet kita gak berdampak negatif."


"Justru berdampak positif. Aku dapat banyak ilmu darimu, Kak. Makin ATK deh." Jempol dan telunjuk Ami dibentuk simbol finger love. Ia sudah tak sungkan untuk selalu mengekspresikan perasaannya.


Akbar terkekeh. Jangan ditanya bagaimana gemasnya ia pada Ami. Satu sisi positif menjalani LDR, terjaga dari kontak fisik. Biarlah pacaran ini berjalan dengan sehat dan natural. Sebenarnya tak ingin pacaran lama-lama saat hati sudah mantap menjatuhkan pilihan dan mental sangat siap masuk ke jenjang pernikahan. Hanya saja terbentur situasi dan kondisi sang calon yang belum selesai SMA.


Akbar harus bisa tegas dalam bersikap. Ami masih menginginkan berlama-lama video call. Namun ia beri pengertian bahwa selama ujian, durasi komunikasi dibatasi dulu. "Kita sudahi dulu, Cutie. Siap-siap tidur ya. Besok kita sambung lagi." Akbar masih dalam posisi duduk santai di sofa kamarnya.


"Kalau api panas, kalau aku dingin memberi kesejukan. Betul apa betul?" Akbar tertawa renyah.


"Salah ih. Kalau api memberi cahaya di kala gelap. Kalau kamu memberi bahagia setiap saat. Eee aaa." Ami memeletkan lidah lalu tertawa kecil. "Eh-eh jangan pingsan, Panda!" Ami terkikik melihat tubuh Akbar yang tiba-tiba tumbang ke sebelah kanan dengan mata terpejam.


Video call singkat dengan bumbu canda tawa pun harus berakhir. Ami harus disiplin meski sebenarnya masih betah. Dengan ucap bismillah, ia bersiap menghadapi hari esok, hari pertama ujian dengan penuh percaya diri.


***


"Guys, tunggu aba-aba dari Marga ya. Baru kita sama-sama terbangin balon. Mengerti?" Teriak Ami yang memimpin pasukan berisi teman-teman satu kelasnya di lapang basket. Ia berdiri di samping Marga dan juga wali kelas.


Ya, hari ini baru saja menyelesaikan ujian terakhir. Dan selebrasi ini sudah direncanakan sejak sebelum ujian dengan kata deal 100%. Semua rela merogoh uang jajan untuk memesan balon gas sebanyak 38 balon warna pink dan biru. Warna balon mewakili gender. Tak lupa wali kelas pun didaulat memegang dua balon.


Aksi kreatif anak-anak IPA 3 itu menjadi tontonan murid lainnya. Banyak yang bergerombol menonton di pinggir lapangan. Dan Ami sudah meminta bantuan Almond Cs sebagai seksi dokumentasi dengan menggunakan kamera dan drone.


"Ibu, tolong prakata dulu sebelum saya ngasih komando. Waktu dan tempat disilakan." Ucap Marga kepada Bu Elin sang wali kelas.

__ADS_1


"Baiklah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Suasana mendadak hening begitu Bu Elin berucap salam. Dan semua murid menjawab salam sang wali kelas dengan kompak sambil berdiri tegak.


"Anak-anakku yang ibu cintai. Singkat saja prakatanya. Sebelumnya, jangan lupa ucapkan syukur kepada Allah SWT di setiap harinya. Karena bahagia akan didapat jika kita selalu bersyukur. Selanjutnya ibu mau sampaikan bahwa betapa ibu bangga bisa menjadi wali kelas IPA 3. Dimana anak-anaknya pintar-pintar, kompak, dan setia kawan. Selamat menuju kelas 12. Ibu optimis semuanya akan naik kelas."


Ucap aamiin serempak terdengar.


"Ibu hanya bisa menemani kalian sampai waktu pembagian raport nanti. Namun doa ibu menemani langkah kalian ke depannya. Satu tahun lagi, gerbang hidup baru akan terbuka lebar. Semoga Allah memudahkan langkah kalian untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita." Pungkas Bu Elin yang kemudian diaminkan lagi oleh semua muridnya. Ada haru tiba-tiba menyeruak.


"Guys, pegang tali balon erat-erat di tangan kanan! Angkat ke atas semuanya!" Marga mulai memberi aba-aba. Semua temannya menurut. "Kita hitung mundur. Three.....two.....one. Fly to the sky!" Teriaknya dengan suara lebih keras.


Riuh tepuk tangan semua orang begitu puluhan balon beterbangan di angkasa. Lalu semuanya menggoyangkan kedua tangan di atas sambil pandangan mendongak ke arah drone yang sedang terbang dan berputar di udara. Paduan suara mulai menggema dengan komando Ami.


Kemesraan ini


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Inginku kenang selalu


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu


Hatiku damai


Jiwa ku tentram


Bersamamu


Usai bernyanyi, murid laki-laki dan laki-laki, murid perempuan dan perempuan, saling bergiliran berpelukan dalam haru dan suka cita. Kemerdekaan diekspresikan dengan gaya bebas karena lepas dari beban ujian. Selamat menyambut liburan. Kebersamaan masih akan berlanjut satu tahun lagi yaitu di kelas 12.


...****************...


👩 : "Thor, emang gak ada rolling kelas ya tiap naik? temannya itu mulu dong sampai kelas 12."

__ADS_1


Me : "SMA nggak. Kalau SMP iya. Mungkin beda daerah beda rule."


__ADS_2