Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
108. Tamu Rabu


__ADS_3

I love Monday. Satu kalimat yang menjadi penyemangat untuk Ami yang berangkat sekolah Senin pagi ini bersama Padma dengan mengendarai mobil milik ibu. Karena sudah janji sepulang sekolah akan ke toko buku yang ada di mall di wilayah Tasikmalaya. Ami merasa hari ini hari baru. Sejarah baru dalam hidupnya karena pencapaian restu dari keluarga yang berpengaruh pada mindset. Bahwa planning masa depan sudah jelas terarah sekarang. Ia akan menjadi Nyonya Akbar setelah lulus SMA.


Belajar di sekolah mengalir seperti biasanya. Hingga jam pulang pun tiba. Ami membujuk Kia untuk ikut serta ke mall. Teman sebangkunya itu awalnya ragu untuk ikut. Namun setelah diyakinkan akan ditraktir, Kia msngangguk pasrah. Jadilah bersiap berangkat bertiga.


"Hei, bertiga aja. Mi, mau pada ke mana ini. Kayaknya mau jalan-jalan ya?" Todong Almond saat bertemu di parkiran mobil. Sama-sama akan pulang.


"Kita mau main dulu ke mall, Mon." Sahut Ami usai menekan unlock di remot mobilnya.


"Boleh ikutan nggak, Mi? Tenang, aku yang akan traktir makan-makan kalian bertiga." Almond menatap Ami penuh harap.


Padma mencolek punggung Ami diiringi tatapan mengerjap. Berbeda dengan Kia yang berdiri di samping Padma, menunggu keputusan Ami.


Ami merasa kasihan kalau menolak Almond. Apalagi Padma juga setuju. "Oke, Mon. Tapi kali ini aku yang traktir. Kalau kamu keberatan ya nggak usah ikut sekalian."


"Ya kok gitu, Mi. Oke-oke aku manut. Ada yang mau ikut ke mobilku nggak? Aku kan sendirian." Namun baik Padma ataupun Kia sama-sama menggelengkan kepala. Jadinya Almond pasrah mengekori mobil Ami. Menyetir seorang diri.


Tiba di mall, Ami mengajak teman-temannya ke tujuan utama yaitu ke toko buku yang ada di lantai tiga. Tidak hanya mentraktir Padma, Ami juga mempersilakan Kia dan Almond memilih buku bacaan yang disuka.


"Padahal aku bukan pencinta buku. Karena ditawarin kamu, aku jadi tertarik pengen nyoba baca buku." Ucap Almond yang mengikuti langkah Ami dan Padma melihat-lihat judul buku yang berada di rak-rak.


"Senangnya main game ya, Kak Almond? Yang bisa bikin lupa waktu, kurang tidur dan malas salat, kan?" sahut Padma sambil memicingkan mata.


"Hehe. Iya, Padma. Kok kamu tahu sih?" Almond sama sekali belum memilih buku. Malah mendekati Padma yang sedang mengambil satu buah buku .


"Tadi teman sekelas aku ada yang begitu. Pas jam pelajaran kedua malah tidur. Ditegur sama guru katanya tadi malam maen game sampai jam satu. Udah mah kurang tidur, badan gak segar, belajar pun jadi berantakan. Rugi kan. Kamu jangan gitu ya!" Padma beralih menuju rak berlawanan karena tertarik mencari buku bergenre science fiction.


"Hm, emang susah sih kalau udah kecanduan nge-game. Makasih loh Padma, kamu udah care sama aku. Hm, bisa nggak selalu ingetin aku? Karena biasanya kalau udah nge-game, lupa makan, lupa salat, lupa belajar. Jarang deh ada yang ngingetin aku. Karena Mami Papi kan ada di Jakarta. Aku di Tasik tinggalnya sama tante."


"Nggak bisa, Kak Almond. Karena aku nggak tahu nomor kamu." sahut Padma tanpa menoleh. Ia berpindah posisi mengamati judul-judul tokoh sejarah.


Almond menarik sudut bibir dengan mata berbinar. "Sini hp-nya kamu mana? Aku akan save nomorku."


Kia sudah selesai memilih buku. Menghampiri Ami yang berada di jajaran rak buku-buku tema psikologi. "Mi, Aku pilih buku ini. Gak apa-apa nih harganya?" Ia menunjukkan buku yang merupakan novel cerita penuh motivasi untuk dirinya. Dengan sinopsis berupa kisah perjuangan seorang santri yang ingin kuliah dalam keadaan ekonomi yang terbatas.


"Santuy aja Kia nggak usah lihat harga. Aku juga udah beres nih beli satu buku." Ami tanpa malu menunjukkan buku yang dipilihnya.


"SEBELUM HARIMU BERSAMANYA. Petunjuk mempersiapkan pernikahan." Kia dengan sengaja mengeja judul buku dengan suara pelan. "Wuahh, Ami bener-bener prepare maksimal nih. Udah siap jadi Nyonya coach Akbar." ujarnya diiringi senyum menggoda dan kerlingan mata.


"Harus dong. Biar maksimal persiapan lahir batin." Ami tersenyum simpul lalu memainkan alisnya. Ia mengajak Kia menghampiri Padma dan Almond yang kini berada di depan meja berisikan display buku new arrival.

__ADS_1


***


Sementara di Jakarta, Akbar baru selesai menghubungi Zaky yang ada di Singapura. Dengan maksud mengkonfirmasi siap datang ke Singapura dan kapan kakaknya Ami itu mempunyai waktu luang. Sayangnya, nomor yang dihubungi sedang tidak aktif.


Akbar bergerak cepat setelah semalam mendapat kabar dari Ami tentang permintaan Zaky. Ia sigap menyanggupi dan langsung meminta nomor kontak.


Dua baris pesan dikirim lewat aplikasi chat ke nomer Zaky.


[Hai, Zaky. Ini Akbar]


[Kabarin kalau nggak sibuk ya. Aku pengen teleponan sama Zaky]


Separuh kebiasaan Zaky sudah Akbar ketahui dari Ami. Jika ponsel tidak aktif, bisa jadi Zaky sedang ada kelas atau ada kesibukan yang tidak ingin diganggu. Namun di Singapura saat ini pastinya sudah jam lima sore. Tidak mungkin Zaky sedang ada kelas. Mungkin ada tugas kelompok atau kesibukan lainnya. Begitu kesimpulan pemikiran Akbar.


Gita masuk usai mengetuk pintu. Langkahnya yang selalu anggun mengarah ke sofa dimana Akbar sedang duduk di sana sambil memangku laptop. Setiap kali akan menghadap Akbar, ia selalu mematut diri. Memastikan penampilannya selalu paripurna.


"Pak, sekretarisnya Pak Boby sudah konfirmasi besok jadi datang jam sepuluh."


"Oke. Berkas untuk meetingnya sudah siap, kan?" Sahut Akbar dengan tatapan masih fokus pada layar laptop. Sepuluh jarinya lincah menari di atas tuts keyboard. Sedang mengetikkan email balasan.


"Sudah, Pak. Oh ya, untuk outfit mau pakai jas warna apa?"


"Pak Boby calon investor potensial lho, pak. So, penampilan Pak Akbar harus perfect. Ya meskipun tanpa memakai jas baru, penampilan Anda selalu perfect." Gita tersenyum sambil membulatkan dua jarinya.


"Aku punya dua jas baru di rumah belum pernah dipakai. Oh ya, Gita. Mulai sekarang kamu nggak lagi punya tugas ngurusin outfit aku. Sudah ada sekretaris pribadi yang akan mengurusnya."


Wajah Gita yang saat masuk begitu semringah serta mata yang berbinar, kini mulai meredup. Meski sudah punya tebakan, ia penasaran ingin bertanya untuk meyakinkan dugaannya itu. "Siapa dia, pak Akbar?"


"Calon istriku."


Gita menelan ludah berusaha bersikap biasa saja. Meski hatinya sakit dan kecewa, ia mengangguk tak mungkin protes . "Minggu depan saya ambil cuti tahunan, pak. Formulirnya udah saya ajukan ke HR tadi pagi." Padahal bisa saja ia minta tanda tangan langsung kepada Akbar. Tapi semuanya harus berjalan sesuai prosedur.


"Oke. Sebelum cuti, pastikan segala tugasmu sudah dialihkan kepada Pongky." Akbar tak akan mencegah meski ada kemungkinan minggu depan dirinya ke Singapura. Karena cuti tahunan itu hak semua pegawai.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Gita keluar dari ruangan Akbar. Mendengkus kesal dan menghempaskan bokong di kursi kerjanya dengan keras. Mengagetkan Pongki yang merupakan wakil sekretarisnya yang sedang mengetik.


"Kenapa mbak Git? Tumben keluar dari ruangan Pak Akbar bete gitu. Biasanya suka senyum-senyum sendiri." ledek Pongky diiringi kekehan.


"Diem lo! Aku lagi pengen makan orang tau."

__ADS_1


Pongky tak lagi mencandai seniornya itu. Melipat bibir menahan senyum karena sudah tahu bagaimana Gita jika sedang marah.


***


"Masih belum deal waktu karena Zaky lagi sibuk menyelesaikan banyak tugas. Jadi aku nunggu aja kabar dari Zaky. Dengan catatan pilihan harinya Jumat, Sabtu, atau Minggu. Gitu, Cutie."


Ami manggut-manggut. Sudah delapan hari berlalu sejak video call dengan Zaky. Dan kini ia mendengarkan langsung info terbaru dari Akbar yang sudah berkomunikasi dengan Zaky.


"Emang sih A Zaky minggu lalu cerita juga. Memang lagi banyak tugas. Kadang sampai malam masih di kampus mengerjakan tugas kelompok dengan teman-temannya. Sabar ya, Kak." Ami tersenyum menatap wajah Akbar yang posisinya sekarang ada di ruang makan. Ia menemani secara virtual, Ayang Panda yang makan malam sendirian hingga selesai. Katanya mama Mila dan papa Darwis sedang pergi ke acara wedding anniversary.


"Don't worry, Cutie. Aku akan selalu sabar menunggu satu tiket terakhir. Yang udah nggak sabarnya sih pengen ituuu." Akbar senyam-senyum sambil menaik turunkan alisnya.


"Pengen itu apa? Yang jelas dong."


"Ada deh."


"Ih, Kak Akbar gak asyik ah. Aku tutup nih." Ancam Ami dengan telunjuk bersiap di depan layar.


"Yakin mau udahan? Katanya pengen kangen-kangenan dulu. Besok kan aku mau ke KL dua hari nggak bisa video call-an." Akbar mengulum senyum melihat wajah Ami yang memberenggut.


"Baiklah. Kali ini Neneng gak akan kepo. Mudah-mudahan ya pas Kakak lagi di KL, terus loncat ke Singapura. Aku udah penasaran kira-kira A Zaky mau ngobrol apa aja nanti."


"I hope so. Ya pastinya ngobrolin tentang hubungan kita dong. Udah, jangan berpikir yang bikin was-was. Aku dan Zaky akan ngopi bareng dan ngobrol santai."


Kegiatan belajar di hari Rabu ini lebih menguras otak untuk berpikir keras dan cerdas. Karena semua mata pelajaran di hari ini serentak mengadakan ulangan. Hampir semua wajah di dalam kelas berhias kerutan di kening dan suasana hening. Murid laki-laki malah rambutnya sebagian berdiri seolah kesetrum listrik saking tak sadar diacak-acak saat mengerjakan soal fisika di jam pelajaran terakhir.


Bunyi bel menjadi tanda waktunya pulang sekaligus waktunya mengumpulkan kertas ulangan. Suara hembusan nafas kasar namun penuh kelegaan terdengar bersahutan. Ami dengan tenang menyerahkan kertas ulangan ke meja guru. Berhasil mengerjakan semua soal pilihan ganda dan essay.


"Mi, aku nggak nebeng ya. Mau naik angkot aja soalnya mau ke rumah uwa dulu. Kita beda arah " Kia berjalan keluar kelas mensejajari langkah Ami.


"Oke deh." Ami menggandeng lengan Kia selama berjalan menyusuri koridor. Hingga berpisah dengan saling melambaikan tangan di parkiran motor.


"Hei, tunggu!"


Ami urung menaiki motornya karena melihat ada seorang perempuan berkaca mata hitam mendekatinya.


"Namamu Rahmi Ramadhania, kan?"


"Iya betul. Maaf mbak siapa ya?" Ami tersenyum ramah menatap perempuan dewasa yang cantik namun tidak dikenalnya itu.

__ADS_1


__ADS_2